Entahlah… mengapa ada orang yang sudah tahu salah, tapi tetap memilih menjadi korban di panggung yang ia ciptakan sendiri.
Kau tahu kau melukai, tapi kau tak pernah menundukkan kepala untuk sekadar berkata maaf.
Kau tahu kau yang menutup pintu, namun kau pula yang mengetuknya kembali seolah aku masih berdiri menunggu.
Untuk apa kau membuka blokir yang dulu kau pasang dengan penuh amarah? Untuk apa menelusuri jejak hidupku yang tak lagi menyisakan ruang untukmu?
Apakah kau ingin melihatku jatuh, atau sekadar memeriksa apakah aku masih sendirian dalam kesedihan seperti dulu sering kau hina dan kau khianati?
Padahal kaulah yang pernah menorehkan luka paling dalam, merusak mentalku hingga aku tak mengenali diriku sendiri, menghancurkan seluruh harapanku untuk hidup ketika cahaya masih terasa jauh dari genggaman.
Dan ketahuilah kau hanyalah masa lalu yang tak ingin lagi ku kenang. Silakan introspeksi dirimu, bahagiakan calon suamimu, dan berhentilah memata-matai suami orang lain.
Semoga kau tak bersikap seperti dulu terhadap suamimu nanti, semoga kau benar-benar berubah. Sebab aku pernah mengenalmu sebagai perempuan yang mudah bosan, yang tak pernah mau mengakui kesalahan, dan yang minim empati juga simpati bahkan pada orang yang peduli padamu.
Namun lihatlah kini, Allah telah mengganti setiap luka dengan sesuatu yang lebih indah. Ada seseorang di sisiku MasyaAllah… jauh lebih lembut, lebih tulus, lebih menghargai hadirku daripada dirimu yang hanya bisa datang dan pergi sesuka hati.
Dia Istriku, yang hatinya adalah rumah bagiku, yang matanya tak pernah menuntut aku untuk sempurna, yang genggamannya lebih kuat dari segala perpisahan yang pernah kau ajarkan.
Maka biarlah kau memantau dari kejauhan, jika itu membuatmu berpikir bahwa kau masih punya ruang dalam hidupku. Karena sesungguhnya, yang kau lihat hanya bayangan sedang aku sudah berjalan jauh, menggenggam cinta yang Allah berkahi, dan meninggalkanmu sebagai pelajaran yang tak perlu diulang untuk kedua kalinya.