Hari ke-3 - Uang adalah segalanya (?)
Aku tidak memungkiri bahwa hidup itu harus realistis. Semua butuh uang. Girls, kita ga bisa makan pakai cinta doang. Dan boys, kalian juga harus siap memenuhi nafkah wanita yang akan menjadi istri kalian.
Tapi tidak semua orang ditakdirkan kaya dari lahir, kemudian menikah dengan pria kaya juga. Ada pasangan yang membutuhkan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan materiil mereka.
Aku dan Paksi, kami bertemu saat kondisi keuangan kami tidak baik. Saat itu kami masih kuliah. Tidak seperti anak kuliah jaman now yang kalau pacaran ke mall, kami boro2 ke mall, naik motor keliling ringroad Jogja aja udah seneng. Abis itu makan di burjo. Bahkan Paksi, selama kuliah dia mencari uang sendiri untuk membayar biaya kuliahnya. Untung waktu itu UGM belum mahal ya.
Untuk makan merayakan hari ulangtahun kami saja kami perlu menabung. Jaman dulu, makan habis 70.000 aja udah mewaaaaaaah banget buat kami. Kalaupun Ke mall, ga ada yang dibelanjain, cuma numpang ngadem aja, duduk duduk di lobby, nanti kalau udah laper kita keluar mall buat makan di burjo. Karna kita mall nya di Jogja, tarif parkir motor masih flat, jadi masih ringan.
Di usia 25 tahun, kami tergolong cukup berani untuk menikah. Bagaimana tidak? Aku dan suami baru kerja tidak sampai 2 tahun. Secara materiil, apa yang kami sudah punya? Tidak adaaa. Dari awal kami cuma fokus menabung untuk menikah, untuk perayaan. Boro2 mikirin furnitur, mobil, rumah, biaya nikah cukup aja sudah bersyukur.
Memasuki tahun kedua pernikahan, hal nekat lain yang kami lakukan adalah, membeli rumah. Padahal saat itu, baru beberapa bulan aku pindah dan bekerja di Jakarta. Ga dipungkiri, memang ada sedikit bantuan DP dari orangtua. (I love you papa mama ❤️). Dan rumah yang kami beli juga tidak sampai 400 juta. Tapi lokasinya memang jauh sih hahahaha. Gaji kami apakah besar? Tidaaaak sama sekali tidaaaak. Serius, kami cuma nekat aja.
3 bulan setelah DP tahap ketiga selesai, lagi2 Irin dan Paksi cukup berani untuk renovasi rumah. Sebenernya bukan renovasi ya, cuma nambah tralis, pagar, nyemen halaman, nutup dapur, ngubinin garasi, tinggiin tembok, dll. Dan bodohnya aku di waktu yang bersamaan, kami membeli beberapa furnitur. Kenapa bodoh? Karena pengeluaran renovasi yang melebihi budget (aku agak bodoh untuk perhitungan ini). Anw total Biaya semua kalau tidak salah membengkak 65 jutaan, dimana perkiraanku hanya 45 jutaan. Duit dari mana ini dalam waktu 3 bulan? Aku sampai memberanikan diri hutang ke mama papaku. Dan setelah itu tabungan kami tipiis sekali. Saking tipisnya, aku membatalkan rencana ke jogja untuk menghadiri nikahan mantan teman kerjaku,dimana sebelumnya aku sudah janji 😭. Maaf ya ma friend :'(
Tahun ketiga pernikahan, setelah semua hutang ke mama papa lunas dan kami menabung lagi, lagi-lagi aku dan Paksi memberanikan diri untuk membeli mobil. Ini adalah mobil papa mamaku yang sewaktu di jogja aku pakai terus. Meski mereka adalah mama papaku, bukan berarti kami didiskon gede ya, apalagi dikasih cuma2. Kami beli, dengan harga yang sama seperti harga mobil bekas serinya di pasaran. Harganya dibawah tipis 100 juta, plus bayar pajak dan ganti sarung jok. Aku tidak bayar lunas jelas, sehingga yang didiskon hanyalah waktu bayar cicilan yang cincailaah, kata emak gw:
"lu lunasin kapan2, tapi paling lama 1 tahun ya."
Dan sesungguhnya sampai sekarang, meski cicilan mobil sudah lunas, masih banyak barang yang kami inginkan belum terbeli. Kami juga berniat untuk renovasi rumah lagi dan sedang menabung. Kami bukan orang kaya, dan tidak berasal dari keluarga kaya. Jika ada hal yang kami inginkan, kami menabung. Semua yang kami miliki pun tidak mewah ataupun mahal. Tapi ini yang paling baik yang diberikan untuk kami saat ini. Kelak perjuangan ini akan kami ceritakan untuk anak cucu kami.
Untuk siapapun di luar sana, aku tahu dunia itu kejam. Ia mengajarkan kita bahwa uang merupakan segalanya. Namun satu2nya cara untuk mematahkannya adalah, dengan bersyukur. ❤️