Our First Ramadan Together!!!
Dari awal awal nikah, aku suka cerita ke Mas Dzikri bahwa dua tahun terakhir, aku membiasakan diri i'tikaf di 10 hari terakhir Ramadan. Betapa tenang dan menyenangkannya i'tikaf, dan keinginanku untuk menjadikannya sebagai tradisi keluarga. Cerita-cerita itu selalu kuakhiri dengan permintaan, "pokoknya aku mau tetep i'tikaf ya, besok! kamu mau nemenin, kaaan?!!" dan sejenisnya.
Request itu selalu diiyakan Mas Dzikri, meskipun ditambah dengan catatan-catatan. "Eh, aku kan, masih kerja... Masa aku berangkatnya dari Bangil?"
Oya, bener juga. Akhirnya kami sepakat, oke i'tikaf, tapi mungkin tidak bisa 10 hari full, karena Mas Dzikri lebih tenang kalau aku di rumah dan kita bisa sahur bareng ketika dia masih harus kerja, lalu lokasinya cari yang di Sidoarjo aja.
Deal!
Obrolan itu jauuuuuh jauh banget sebelum Ramadan, yaa 3-4 bulan sebelumnya, lah. Dan ternyata, ketika Ramadan datang, kondisinya tidak se-ideal yang ada dalam benak kami.
Jangankan bisa i'tikaf bareng, kami buka berdua aja bisa dihitung pake jari, deh😂 Sepanjang Ramadan, Mas Dzikri sering nginep di RS jagain kakaknya. Well, ramadan pertama sebagai istri, tapi rasanya ga istri-istri banget gituu haha.
Baru berasa vibes Ramadan pertama sebagai suami istri tuh pas Abi sakit, deh.
Aku sama Mas Dzikri cuma berdua aja di rumah. Dan di situlah… survival mode dimulai. Deg-degan tiap malam, “besok kita bisa bangun sahur nggak ya??!!” 🤣
Dalam kondisi kayak gini sih aku berterima kasih banget ya dengan adanya warung-warung yang buka dini hari, sungguh memudahkan hidup banget, ga perlu gedebag gedebug masak sahur karena woiii bisa bangun aja udah pencapaian hidup yahh buat kamiiii wkwk. Tiap adzan subuh berkumandang selalu tos, whoaa we survived another dayyy!!!
Belum lagi kita berdua yang sakitnya gantian di paruh kedua Ramadan, even sampai sekarang belum bener-bener pulihh. Yaudah aja gitu, sepanjang bulan puasa isinya ganti-gantian saling rawat satu sama lain huhu :")
Kalau ditilik ke belakang, ada banyak hal yang belum kesampaian dari apa yang kami targetkan. But actually, it's not that bad.
Ramadan kami mungkin ga kayak keluarga muda pada umumnya. Waktu kami bersama ga banyak. Tapi somehow rasanya fulfilling banget.
Banyak banget momen momen di Ramadan ini yang bikin aku bersyukur, alhamdulillah Mas Dzikri yang jadi suamiku huhu.
Nggak papa, insyaAllah masih banyak Ramadan yang akan kita jalani bersamaa! Semoga kami terus saling sayang saling menenangkan dan menyenangkan, selamanya sampai surga. Aaamiiin <3













