Yok pergi yok!
One Nice Bug Per Day
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Kiana Khansmith

if i look back, i am lost

❣ Chile in a Photography ❣

titsay

Origami Around
EXPECTATIONS

izzy's playlists!
cherry valley forever
Stranger Things
YOU ARE THE REASON
I'd rather be in outer space 🛸
Sweet Seals For You, Always
Jules of Nature
Keni

Kaledo Art
No title available

blake kathryn
d e v o n
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from Switzerland
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from T1
seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
@izzatnabillah
Yok pergi yok!
I’m gonna do a list for all things i wanna do, if i still have life until.... idk? who knows right?
1. Paragliding
2. Living in a remote island for about 2 weeks or a month?
3. Learning pottery
4. Have my own little forest at my own home, so i can have my own supemarket. And it can be everyone’s supermarket! With a lot of vegetable varities. Well, i wanna grow my own food, raising chicken, cow, fish, goat. Let’s do our own permaculture. (Grow a communal garden will be so great too actually)
5. Do a free health service for everyone around my house, or anywhere actually. I wanna have you know, one day free health service every week, beside my own schedule in hospital. Doing a preventive and promotive action, a curative if we need it. Making a community development.
6. Making a small group of kids, and sharing all things they wanna know. Do a contextual educational program.
7. Graduating from my sign language course, speaking freely use sign language with “teman tuli”
8. Have a deep learning and sharing about Islam, until i have my last breath. Do an iman, islam, ihsan correctly :”)
Pendidikan Kontekstual
Hal yang aneh ketika kita menculik anak-anak dari kondisi aktual dan memaksa mereka untuk belajar dengan konsep pendidikan yang tidak kontekstual. Pendidikan kontekstual, kritis, dialogis yang di harapkan terbentuk setelah adanya praxis-praxis dalam proses penghadiran pengetahuan seolah menjadi bagian yang harus di lewatkan.
Kita memaksa mereka untuk bisa bertahan dalam hidup, tapi apa kita memberikan ruang kepada mereka untuk belajar cara bertahan hidup sesuai dengan kondisi aktual mereka? Mengajarkan hal kepada mereka seolah-seolah mereka adalah objek pembebasan dari kebodohan. Tapi apakah mereka bodoh? Apa itu bodoh? Apa itu pintar?
Kita meminta mereka untuk berpikir kritis, lantas apakah kita tidak harus kritis? Kita meminta mereka untuk berubah, lalu apakah kita pun tidak perlu berubah?
Kampung Kambala
Di tengah hiruk pikuk sibuknya semua orang di ibu kota dengan Covid19, akhir-akhir ini pikiran gue ga bisa lepas dari Kampung Kambala. Sebuah kampung di Papua Barat. 1 jam menggunakan speed boat dari Kota Kaimana. Kampung kecil, pulau terpencil, tempat hidup beberapa keluarga.
Bukan hal yang asing ke absen an dokter di banyak Puskesmas kecil di Papua. Termasuk di Kampung Kambala. Tahun lalu dapat kesempatan untuk berkunjung kesana, bertemu dengan beberapa warga. Dan mendapat sambutan hangat. Gue belum pernah ketemu mereka sebelumnya, tapi ketika rombongan gue datang, mereka memeluk gue seperti saudara dekat yang baru pulang kampung. Hangat.
Hampir 7 bulan kembali ke ibu kota, banyak hal terjadi. Banyak momen hadir. Seneng banget rasanya bisa terus ada di rumah dan meluk orangtua setiap capek di Rumah Sakit. Meskipun karena pandemik ini terpaksa harus keluar rumah lagi. Seneng banget bisa dengan mudahnya datang ke rumah sahabat-sahabat lama, yang dulu kalo kangen cuman bisa video call.
Tapi pengen lagi rasanya pergi dulu, ke Kampung Kambala. 1 tahun lagi aja.
Update tanaman sayang🕊
Tomat, ini perjuangan keras awal ngebesarinnya. Tapi ternyata setelah mulai agak tinggi, dia mudah untuk tumbuh terus, bahkan kadang ga terbendung haha. Ini dia mulai berbuah, seneng banget pertama kali liatnya, gue pandangin terus buahnya. Ngebatin, ‘Ya ampun udah tumbuh besar aja kamu nak’ hahahaha. Seneng banget!
Terong, dia berjuangnya barengan nih sama tomat. Kaya temen seangkatan. Tapi memang ternyata untuk gue, membantu terong tumbuh lebih harus banyak do’a kayanya haha. Ini seneng banget loh, daunnya mulai tumbuh besar besar. Mudah-mudahan setelah ini tumbuh nya makin subur yaa!
Telang! Ini dia sengaja gue letakan dekat tiang, berharap dia akan merambat ke tiangnya. Tanaman yang ga rewel sebenernya, asal diperhatiin aja pagi sore🙃
Okra! Ya ampun ini mereka hebat banget tumbuhnya dari awal loh, sekarang udah gue pindahin ke pot yang lebih besar lagi. Jadi si okra ini, pertama gue semai beberapa hari kemudian langsung tumbuh panjang-panjang batangnya. Dan semua benih yang gue semai numbuh. Itu yang bikin tambah sayang, ya ampuun :”)
Panen kangkung yang keduaaa! Ini tumbuhan super sih menurut gue. Lo tebar aja numbuh dia pasti, yakin deh. Paling berdikari. Dan paling seneng gue semai ulang hahaha
Baby set crochet for Malika and Pouch Bag crochet for Azelia👾
Salah satu short course yang dadah-dadah semenjak balik lagi ke ibu kota, Bisindo✨
Selama ini gue percaya komunikasi adalah salah satu core dalam menjalin hubungan yang baik. Sayangnya masih ada teman-teman disekitar kita yang merasa termarginalkan terkait dengan komunikasi ini. Misalnya, teman-teman dengan beda bahasa atau teman-teman yang tinggal di lokasi 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar)
Sadar ga sadar kita punya andil dalam rasa termarginalkan dan keinferioritasan yang mereka punya. Padahal banyak hal hebat yang bisa kita nikmati dan pelajari dari mereka.
Ini salah satu cara gue untuk mencoba menjadi orang yang inklusif, mempelajari bagaimana mereka berkomunikasi. Dengan harapan bisa punya lebih banyak teman, jadi punya lebih banyak presepsi dan preferensi dalam hidup. Melihat dinamika sosial, tidak hanya dari kacamata gue yang selama ini hidup dengan banya privilese, tapi dari banyak kacamata hidup yang lain🕊
Asri, seorang perempuan Jakarta yang memutuskan untuk pergi ke Desa, membangun kehidupan berkelanjutan bersama suami dan anaknya ;)
Berbicara tentang Slowliving yang membuat gue berangan kembali, indahnya hidup jauh dari hiruk pikuk kapitalis he.
Tekstur kalis dari adonan donat kentang yang selama ini gue cari. Kuncinya sabar memang🙃
Dari dulu baru setengah kalis udah gue tinggal hahaha sebel
Selama ini sama sekali ga pernah menargetkan kapan harus buat crochet, kalau sudah buat kapan harus selesai. Sama sekali ga ada rentang waktu. Karena untuk gue pribadi, crochet-ing bagian dari healing. Healing dan Relaxing. Dan ketika ada target, gue rasa semua itu akan berubah makna hahaha.
Pun setelah dibuat, sampai saat ini setiap crochet buatan gue selalu gue berikan ke orang lain. Bahkan gue ga punya crochet buatan sendiri hahaha. Ini menyenangkan banget! Karena gue bisa melakukan sesuatu yang gue suka dalam waktu yang bersamaan, kayak sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui.
Makin besar, jadi makin sadar kalau rezeki ga harus selalu dalam bentuk materi :)
Beberapa hari yang lalu setelah rapid test yang ke-3 dan mendapatkan hasil negatif. Gue kembali ke rumah 2 hari, iya karena pas banget dapet libur jaga nya 2 hari haha.
Sesampainya di rumah, nyokap bilang gue boleh pakai pot pot panjang di samping kandang kucing untuk menanam beberapa sayur. Mungkin nyokap mulai melihat keseriusan gue di dunia nanam menanam ini hahaha.
Siang itu, gue ke toko tanaman beli media tanam dan beberapa benih karena sudah habis. Dan gue kalap, hahaha! Gue kalap memilih benih yang mau gue coba tanam. Akhirnya berakhir pada, pakcoy, selada, seledri, kale, okra dan oyong. Gue juga membawa pulang bibit bunga telang yang sebelumnya sudah gue pesan dan dikirim ke kosan.
Sebenernya penasaran banget sama tanaman okra! Karena liat reviewnya, dia bisa dibuat makanan dan minuman. Tumbuh ya okra ku sayang pengen liat hahaha. Yang lain juga tumbuh yaaaa!!
Sebelum memulai perbenihan dan persemaian, paginya gue coba memindahkan tanaman tomat gue ke pot yang lebih besar dan diberikan topangan. Caranya yaaa gitu lah ya pokoknya haha. Sayang banget sama tomat ini, bener-bener tanaman yang tumbuh hebat dari sejak di semai :)
Hampir selesai semuanya, tiba-tiba oma keluar dan minta untuk tanaman buah naga yang dikasih sama orang di pindahkan ke tanah saja. Gue bilang, ayok kita kerjain sekarang aja mumpung tangan masih kotor. Lalu tadaaa, jadilah kita megang pacul haha. Tumbuh ya yaang💛
Gue memulai semuanya dikosan dengan membersihkan bekas kulit telur yang gue punya untuk dijadikan semai tray beberapa benih yang sempat gue pesan.
Kebetulan kemarin wardah bilang, dia dapat salah satu olshop yang jual benih dengan harga murah, hanya seribu hahaha. Bagaimana gue tidak tergoda. Ketika paket nya datang, gue memesan 1 paket sayuran, dan beberapa benih bunga yang dari dulu gue sukaa. Ketika paket nya datang, dan coba gue resapi lagi, sepertinya gue kurang cocok dengan paket sayuran. Karena sudah sepaket, benih yang diberikan pun ga banyak. Berharap banget dari yang sedikit ini, bisa ada yang bertahan dan tumbuh besaaaar. Mungkin gue lebih cocok dengan benih yang banyak hehe, jadi ketika trial and error, gue masih punya banyak benih extra.
Meski sekarang gue mulai berpikir juga, ketika menanam bahan pangan, alangkah baiknya jika kita tidak hanya berharap pada hasilnya, bahwa mereka adalah pangan yang bisa kita makan dengan cuma-cuma nantinya, tapi bahwa dia juga makhluk hidup yang butuh hidup layak dan di sayang. Hahaha gemes ga sih! Gue senyum senyum sendiri🙃
Beberapa hari kemudian, sampai Edible Garden Starter Pack dari Sebumi.id. Ga bisa bohong, they packaged it well. Dan gue tersanjung. Entah kenapa gemes banget sama isinya bahkan bungkusnyaa. Meski menurut gue, untuk ukuran peralatan tanaman terbilang mahal ya, tapi ketika tau sebagian nya akan diberikan sebagai donasi untuk membantu Covid19 ini, jadi ikhlas haha.
Hari ini pulang jaga malam, gue sengaja belum ngapa-ngapain, supaya sekalian kotor haha. Gue mencoba memasukan media tanam ke semua tempat yang ada dan menamai nya satu persatuu.
Setelah itu mencoba mencari lokasi dengan paparan sinar matahari yang lumayan dikosan hehehe. Dan, tadaaaaa
Gue letakan di teras depan ajaaa. Tumbuh ya sayaaaang!!
And anyway, i was cleaning my egg shells last sunday. They’re gonna be my semai tray, for another seeds coming. Some plants on your kosan yard, won’t hurt right😋
Gue kira Ramadhan tahun ini akan sedikit berbeda. Setidaknya ada di rumah untuk sahur pertama. Hahaha kayak dejavu! Lagi-lagi begini kita🤪
Yaaa sahur pertama bersama keluarga hanya perayaan, bukan itu inti dari Ramadhan. Selamat Ramadhan! Semoga kita bisa menang di Ramadhan tahun ini!
Listen to Rasa, Izzat Nabillah, 2020 by izzatn #np on #SoundCloud