Dibawah kucuran shower pagi ini, semua kecamuk ini menjadi punya nama.
Merasa tak berharga.

Love Begins

❣ Chile in a Photography ❣
Monterey Bay Aquarium

tannertan36
One Nice Bug Per Day
Claire Keane
🩵 avery cochrane 🩵
RMH
NASA
Today's Document
almost home
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Discoholic 🪩
Cookie Run:Kingdom Official!
Fai_Ryy
macklin celebrini has autism
I'd rather be in outer space 🛸

Origami Around
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
The Bright Sessions
seen from Brazil
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Rwanda
seen from Türkiye
seen from Philippines
seen from Indonesia
seen from Jamaica

seen from Lebanon
seen from Iraq

seen from Romania

seen from Malaysia
seen from Bangladesh

seen from Brazil

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Finland
seen from Ireland

seen from Malaysia
seen from United States
@jaketbirudongker
Dibawah kucuran shower pagi ini, semua kecamuk ini menjadi punya nama.
Merasa tak berharga.
Alhamdulillah..
10 hari terakhir Ramadhan tahun ini kami sudah ada di Garut. Menikmati kebersamaan dengan keluarga dan saling memotivasi untuk beramal shalih.
Terima kasih Ya Allah.. Atas nikmat sehat pada Mama, Ibu dan Ayah. Atas nikmat suami yang sangat penyayang. Atas nikmat saudara-saudara yang ringan membantu. Atas nikmat anak-anak yang sehat dan ceria. Izinkan aku untuk menjadi sebaik-baik diri untuk peranku atas mereka. Mampukan aku Yaa Rabb.
Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in. Hanya pada-Mu kami menyembah dan hanya pada-Mu kami memohon pertolongan. Tolong kami dalam menjalankan peran kami Yaa Rabb.
Terima kasih Ya Allah.. Atas nikmat ilmu dan segala kecukupan. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur. Izinkanlah kami untuk mendapatkan lailatul qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan. MasyaAllah. Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul afwaa fa’fuanni.
Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
- Garut, Ramadhan 1443 H
Alhamdulillah..
29 tahun, Allah masih percayakan umur bagiku, semoga aku bisa menjadi versi terbaik dari diriku dan merasa cukup dengan segala yang ada padaku.
Untukmu sayangku, terima kasih atas kado manisnya. Having you in my life is such a gently reminder that love is a verb, it demands effort to keep it stay. Let’s grow old together, till jannah insyaAllah.
Untuk kalian sayang-sayangku, terima kasih telah hadir melalui rahimku. Allah percayakan amanah ini di pundakku, maka aku harus yakin bahwa aku mampu mengembannya sebaik yang kubisa. Grow well, my boys.
With all of you, i think i’m full. I love you, alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihat 🖤
Aku lupa caranya berbicara
Aku lupa caranya bertanya
Aku lupa caranya menjadi teman yang bisa asyik ngobrol berjam-jam
.
Untuk kau yang sedang tak bisa ku peluk
Aku yakin doa kita bertemu di langit
.
Semoga Allah ringankan hatimu
Belajarlah dari Asiyah…
Bagaimana ia tetap berpegang teguh pada agama Musa walau suaminya mengaku Tuhan dan berlaku sewenang-wenang.
Belajarlah dari Ibunya Musa…
Bagaimana ia yakin bahwa perintah melarung bayinya ke Sungai Nil adalah dari Allah. Sama sekali ia tak tahu masa depan. Bagaimana ia yakin tentang janji Allah yang akan mengembalikan anaknya ke pelukannya.
Belajarlah dari Maryam…
Bagaimana ia tegar dengan prasangka orang. Ia yang suci tapi diuji oleh Allah dengan sesuatu di luar nalar manusia. Bagaimana ia tetap ikhtiar menggoyangkan pohon kurma di tengah sesusah payahan dengan kandungannya yang kian membesar padahal mudah saja bagi Allah menjatuhkan kurma dari pohonnya.
Belajarlah dari Hajar…
Bagaimana ia tetap bertahan mendampingi tumbuhnya Ismail menjadi seorang yang shalih tanpa suami di sisinya. Tidaklah ia berteriak-teriak tentang tangki cinta yang kering kerontang dari suaminya sehingga ia tak bisa mencintai anaknya.
Belajarlah dari perempuan-perempuan beriman… Bagaimana tiap mereka diuji dan betapa mulianya mereka dengan keimanannya… Belajarlah, kamu dan mereka punya satu Pencipta yang sama, yang kasih sayangnya meliputi seluruh alam semesta..
Allah… yaa muqollibal quluub tsabbit qalbi ‘ala diinik…
Toilet Training
Aku sengaja tidak menghitung sudah toilet training hari ke berapa untuk menghindari stres yang tidak perlu. Aku memulai proses ini saat merasa diri sudah siap dan bekalku dirasa cukup. Hal pertama yang kami lakukan adalah pipis di siang hari, aku tidak memakaikannya popok setelah mandi pagi, berusaha tetap tenang saat ia kaget ada pipis yang merembes ke paha dan menetes ke lantai, serta aku biasakan dia untuk membersihkan diri ke toilet setelah pipis. Ia sekarang sudah pandai merasakan sensasi ingin pipis dan mengajakku ke toilet. Aman, alhamdulillah. Pe-er bagi kami sekarang adalah pup!
Malam ini, selepas shalat isya, aku melihatnya gelisah. Kukira dia mengantuk dan sedang mencari posisi yang nyaman untuk tidur, maka kubiarkan saja. Lalu ia bangkit berdiri dan bilang ingin pup. Aku persilakan ia jongkok dan pup di popok saja, tapi ia menolak. Ia bergegas menuju potty yang ada di depan toilet. Ia memintaku membuka celana sekaligus popoknya, tampaknya belakangan ini ia sudah mulai paham rasa tak nyaman pup dan pipis di popok. Drama pun di mulai.
Nampaknya ia tahu bahwa ia harus pup di potty, sekaligus bingung bagaimana caranya. Sedari pagi memang beberapa kali ia bilang ingin pup tapi urung setelah aku dudukkan di potty, katanya pupnya hilang! Hahaha. Beberapa hari ini, setelah ia menyadari bahwa pup di popok tidak nyaman, ia mengalami konstipasi, mungkin sudah 3 hari ia tidak pup. Malam ini ia menangis kesakitan mungkin karena konstipasinya itu. Aku temani ia, aku peluk dan berusaha tetap tenang. Ia mengeluh sakit lalu turun dari pottynya, awalnya aku ingin menahannya agar terus duduk di potty, tapi aku memilih untuk membiarkannya turun dan ia bersimpuh di depanku. Aku terus memeluknya dan berkata bahwa mungkin sakitnya akan hilang kalau pupnya dikeluarkan, ayo coba lagi duduk di potty yuk. Akhirnya dia mau duduk kembali di potty, aku menawarinya tanganku, “Aa mau sambil pegang tangan Bunda?” Ia pun memegang tanganku sambil mulai mengejan. Aku terus afirmasi saat ia terlihat kesakitan, lalu kemudian ia berkata “keluar, belakang!”. Oh, sepertinya dia mulai mengerti mekanismenya. Berlanjutlah proses setelahnya dengan tenang, sampai akhirnya ia bersorak “horee, dede bisa pup!” Alhamdulillaah…
Terlihat sekali wajahnya menjadi lega dan sebuah senyum kepuasan tampak dari wajahnya yang lucu. Ia lanjut mengoceh apa saja, menandakan ia mulai tenang. Aku memintanya untuk memberi tahuku jika ia telah selesai, sambil tetap aku temani ia mengoceh. Menceritakan halaman-halaman buku Goyi dan Pipi “Saatnya pup di toilet” menghiasi obrolan kami. Sampai akhirnya ia bilang sudah selesai dan bangkit untuk membersihkan diri. Berakhirlah drama malam ini dengan seruan riangnya, “dadah, puuup!”.
Alhamdulillaah…
It is his first potty experience, and I’m very proud of him. Congratulation, babe! ❤️
Mudah-mudahan proses toilet training ini Allah ridhoi sampai lulus nanti. Bismillah…
Tentang siapa yang lebih dicintai, anak atau pasangan?
Ada yang berkata bahwa pasanganlah yang harusnya lebih dicintai, karena berkat ialah kita dapat memiliki keturunan, saat tua nanti pun anak-anak akan mandiri sehingga tinggal berdua saja dengan pasangan.
Ada lebih banyak yang berkata bahwa anaklah yang lebih dicintai, karena bagaimanapun anak adalah darah daging kita, hubungan darah sampai kapanpun tidak akan pernah putus.
Lalu aku teringat suami dan anakku. Tak sanggup rasanya aku memilih mana yang harus lebih aku cintai, dua-duanya berharga. Aku ingin cinta yang tak melebihi cintaku pada Sang Maha Cinta, cinta yang membuatku menyayangi suami dan anakku dengan tulus, cinta yang menimbulkan gairah untuk melakukan kebaikan, cinta yang bermuara pada kebahagiaan di syurga.
Suamiku, anakku, aku mencintaimu karena Allah.
Untuk yang katanya sedang memantaskan diri, semoga selalu Allah jaga niatnya.
Aku yang baru masuk tahun keempat pernikahan ini ingin menyampaikan beberapa hal yang luput dibicarakan oleh akun-akun kompor “nikmatnya pacaran setelah halal”. Bukan, bukan aku tidak setuju dengan propagandanya, aku tetap berpendapat nikah jauuuhh lebih baik daripada pacaran, beda. Tapi hey, ada hal mendasar dari fenomena pacaran, aqidah yang rapuh. Jadi daripada nyuruh nikah, ada baiknya hal mendasar itulah yang perlu disoroti dan diperjuangkan bersama.
Menikah bukan segalanya. Nikah bukan tujuan, tapi jalan. Akad nikah bukan akhir perjuangan, masih akan sangat banyak perjuangan setelahnya. Itu pun jika Allah menakdirkan usia yang cukup.
Tapi kan kalau nikah ngadepinnya berdua? Terdengar romantis yaa. Tapi ternyata ga selalu. Trust me. Hehehe. Dua orang dengan pola pikir dan latar belakang pengasuhan yang berbeda, apakah akan selalu seiya sekata? Gesekan-gesekan kecil tentu akan ada, nangis-nangis karena salah paham juga akan hadir, belum lagi ujian dari orang di luar pasangan. Sangat kompleks.
Maka doamu janganlah berhenti pada “dipertemukan” saja, persiapanmu jangan hanya untuk dia seorang saja.
Satu tujuanmu, harus selalu satu, Allah.
Luruskan aqidah, karena itulah hidupmu. Segalanya adalah tentang Allah, bukan siapa pasanganmu kelak. Selalu ingat kisah Asiyah dan Maryam yang tetap mulia karena keimanan.
Allahlah muara semua lafadz doamu, bukan caption media sosial.
Bayangkan, seseorang yang sangat kita cintai, mengatakan sesuatu yang tidak bisa kita terima, sesuatu yang menyakitkan.
Ia mengaku Tuhan, ia berlaku sewenang-wenang dengan tidak memberi upah pada para pekerja, ia pun mengubur bayi laki-laki hidup-hidup karena ketakutan akan direbutnya kekuasaan. Bayangkan ia menyiksamu dengan kejam karena kamu beriman pada Dzat Yang Maha Kejam.
Sakit.. terbayang sekali pasti sakit..
Lihatlah, dengarlah kisah Asiyah yang sabar menghadapi suami yang dicintainya berubah menjadi musuh Allah. Perlakuan yang ia terima, tak lantas melunturkan iman, ia terus berdoa agar dibangunkan tempat terbaik di sisi Allah.
Belajarlah, bahwa keimananmu tidak tergantung dari siapa suami yang menjadi imammu, imanmu adalah tentang dirimu dan Tuhanmu. Mintalah hidayah selalu, untukmu dan untuk suamimu.
Sekelumit yang Ia Baca
“Perempuan yang baik tidak akan keberatan diajak melarat”, ucap sang Ibu.
“Iya sih Mah, tapi laki-laki yang baik tidak akan tega mengajak istrinya melarat”, balas sang anak.
Itulah sekelumit percakapan dalam novel “Sabtu Bersama Bapak” karya Aditya Mulya yang dikutip olehnya pada akun social media “path” yang hits pada masanya.
Ada banyak part yang saya pribadi suka dari novel ini, tapi kali ini saya bukan hendak menuliskan kesukaan saya pada novel ini, melainkan refleksi terkait apa yang suami saya lakukan pada saya.
2016 adalah puncak dari pertanyaan-pertanyaan saya tentangnya. Mengapa ia tidak kunjung tiba, apalagi yang ia tunggu untuk melamar, apakah saya adalah orang yang tepat menurutnya, apakah ia sudah ada calon yang lain, apakah sudah tidak ada kesempatan lagi bagi kami untuk bersama? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya saya simpan dan tidak pernah diutarakan. Karena kami hanya teman.
2016 adalah tahun saya akhirnya mengikhlaskan dia, teman yang seringkali terbersit dalam doa, mengisi ruang khayal saya tentang siapa kelak suami saya. Pada tahun ini saya membaca tulisannya yang ditujukan pada saya, bahwa untuk apa berusaha mendekatkan apa yang tidak ditakdirkan dekat dan untuk apa berusaha menjauhkan apa yang tidak ditakdirkan jauh, jalani saya peran saat ini tanpa berusaha mendekat ataupun menjauh. Ia menyadarkan saya tentang batas seorang manusia, sekuat apapun kita menjauh, jika takdir kita dekat maka akan ada saja skenario Allah yang mendekatkan kita. Pun sekuat tenaga kita mendekat, jika Allah tidak menakdirkan kita bersama maka akan ada saja skenario Allah yang akan memisahkan.
Ternyata pada tahun itu juga, ia sedang menikmati kesendiriannya, menikmati perannya sebagai anak sekaligus kakak di keluarganya. Pada tahun itu ia sedang meyakinkan diri bahwa ia bisa menghidupi seseorang kelak di masa depannya. "Kalau saya sudah pede dengan diri saya, maka saya bisa pede sama perempuan”, sekelumit kalimat dari novel yang sama mungkin sedang ia resapi saat itu.
Rupanya, takdir Allah mempertemukan kami di tahun selanjutnya. 2017 kami menikah dan rasa-rasanya sampai saat ini ia tidak pernah membiarkan saya kesusahan, memang bukan mewah yang ia berikan, tapi cukup. Segala puji bagi Allah yang memberinya kemampuan untuk melindungi dan menafkahiku dengan baik.
Tentang rumah yang ia berikan, tidak besar, juga masih berstatus rumah dinas, tapi ini cukup untuk kami berlindung dari terik dan hujan. Rumah yang nyaman walaupun seringkali dilanda berantakan di beberapa sudut. Rumah yang memberi kami cukup ruang untuk memiliki mihrab tempat kami shalat dan bermunajat. Rumah yang cukup luas untuk anak kami berlari-larian. Rumah yang teduh dengan berbagai tanaman dan halaman yang luas. Rumah yang cukup dan semoga menjadikan kami orang-orang yang bersyukur.
Tentang nafkah yang ia berikan, tidak berlimpah, tapi cukup. Di awal pernikahan ia membekali aku dengan kelas-kelas financial wisdom. Kami pun bersama-sama berlajar tentang investasi dan sedikit demi sedikit mengaplikasikannya, mudah-mudahan istiqomah, untuk tujuan finansial yang baik dan bermanfaat. Bukan hanya harta yang ia berikan, tapi ilmu. Bukan hanya tentang hal-hal materil, tapi nafkah berupa kasih sayang, waktu luang dan bimbingan serta pengingat untuk tetap dalam jalan taqwa adalah hal berharga yang harus selalu kuingat. Ternyata ia sudah mempersiapkannya dengan baik.
---
Terima kasih suamiku, semoga aku termasuk istri yang selalu merasa cukup atas segala usahamu. Mari terus bertumbuh bersama!
Sederhana yang Kami Rindukan
Denting sendok yang beradu dengan piring terdengar begitu merdu hari-hari belakangan ini. Seperti saat makan siang tadi, 3 piring tandas dilahap masing-masing tuannya, nikmat sekali kami makan bersama walaupun dengan menu yang sederhana: ayam dan sayur sop.
Aku yang memasak lauk dan nasinya, ditemani senda gurau suami dan anakku yang bermain di ruang sebelah. Sesekali juga terdengar mereka seru membaca buku. Sungguh sesuatu yang sangat berharga untuk kami, terlebih setelah sebulan lamanya kami terpisah, menjalani takdir Allah di tempat yang berbeda.
Berjemur setiap pagi pun akhir-akhir ini menjadi lebih seru. Ada suamiku yang menemani anakku memberi makan kucing, atau sekedar berlari-lari kecil di halaman. Sementara aku menyiram dan menyiangi rumput liar di pot-pot tanamanku. Sesekali kami berhenti demi melihat truk tangki LNG yang lewat. Sederhana sekali nampaknya, tapi sungguh inilah yang kami tunggu-tunggu, berkumpul kembali dalam keadaan sehat wal’afiat.
Alhamdulillaah alhamdulillaah...
Segala puji kami panjatkan pada-Mu, Yaa Rabb. Jangan biarkan kami menjadi golongan orang-orang yang terlena oleh duka karena ujian-Mu. Jadikanlah kami orang-orang yang selalu berbaik sangka atas suratan takdir-Mu. Teguhkanlah hati kami dalam iman dan syukur atas semua kasih sayang-Mu. Terima kasih, Allah ❤️
Bontang, 7 Februari 2021. Setelah aku dan suami tertawa geli karena ia memujiku cantik, padahal aku belum mandi ehehehe.
Menyapih (Part 4)
Seingatku, sudah seminggu lebih anakku tidak menyusu malam hari, baik saat akan tidur maupun saat terbangun tengah malam. Alhamdulillaah... alhamdulillah... Semoga proses menyapih ini baik untukku dan untuk anakku, semoga Allah ridho.
Malam ini, rencananya kami akan berangkat menuju bandara, insyaAllah kami menuju Bontang untuk berkumpul kembali dengan suami. Setelah semua takdir Allah yang menimpa kami, yang insyaAllah membuat kami naik kelas, akhirnya kami bisa berkumpul kembali, insyaAllah. Lindungilah kami dalam perjalanan Yaa Rabb.
Malam ini, sebelum tidur, seperti biasa kami video call. Ada yang terasa spesial, anakku mau dikelonin Ayahnya by video call, tidak ingin video callnya dimatikan. Maka anakku menatap ayahnya melalui layar hp, mendengarkan rapalan shalawatku sembari aku tepuk-tepuk mengantarkannya tidur. Ekspresi anakku begitu membuatku terenyuh, nampaknya ia rindu sekali dikelonin Ayahnya setelah sebulan lamanya, tetapi ia masih bingung tentang perasaan apa yang ia alami ini. MasyaAllah sayangku, melihatmu tumbuh membuatku terharu, betapa Allah telah menitipkan amanah yang luar biasa. Tumbuh baik ya sayangku, semoga Allah lindungi keluarga kecil kita dan mampukan kami menjadi orang tua yang baik untukmu.
We love you, anakku ❤️
Garut, 30 Januari 2021, anak shalihku lulus ASI 2 tahun, masyaAllah tabarakallah.
“Ayam.... kakan...” (Ayam sedang makan)
“Nyanya... brem brem... emban” (banyak burung terbang)
“Iyah.. iyah... ciyan... tatuh...” (iya... iyaa.. kasihan jatuh) *sambil ngasih makan ikan, maksudnya kasihan pakannya jatuh ke kolam
Ah anakku, riang gembira kau memberi makan ikan, ayam dan merpati di halaman rumah ini. Tahukan kamu dunia di luar sana? Rabu 13 Januari 2021, Presiden menerima suntikan vaksin yang pertama, disusul 2 minggu setelahnya 27 Januari 2021 beliau menerima vaksin dosis kedua. Itu berita besar bagi negara kita Nak. Semoga ini menjadi awal terurainya keruwetan pandemi. Tidak banyak yang tau bahwa diantara keduanya kita kehilangan orang hebat, Nak. Rabu pagi 20 Januari 2021, Abah kembali kepada Pemiliknya, Nak. Abahmu, papanya bunda, orang yang mengajari banyak sekali kebaikan pada kita.
Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun...
Kita boleh bersedih Nak, tapi yang jangan sampai kita lupa bahwa tanda cinta kita adalah ikhlas dan selalu mendoakan Abah. Semoga kita istiqomah dalam mendoakannya. Abahmu orang baik Nak, mudah-mudahan Allah melapangkan kuburnya dan menerima segala amal ibadahnya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
We love you, Abah. But Allah’s Rahmat is the biggest over all.
Menyapih (Part 3)
Malam ini, jam 00.26, setengah jam lalu adalah perjuangan.
Anakku tidur tanpa menyusu jam 10.30 di atas sajadah. Lantas aku pindahkan ke kasur. Nyenyak.
Pukul 12 ia terbangun, ingin menyusu, aku coba alihkan dengan usap-usap, tepuk-tepuk, minum, ganti popok, dan isi gelas kosong. Ia berteriak-teriak “tidak mau!! tidak mauuu!!!!” saat melihatku menawarkan gelas berisi air. Beberapa waktu lalu, minum dari gelas yg ia isi sendiri berhasil ‘mengenyangkan’ dan membuatnya tidur kembali. Tapi malam ini, tadi, ia berseru marah saat mengisi air, ia isi gelas sampai luber, terus ia isi sambil berseru-seru marah, menggoyang-goyangkan gelas hingga air tumpah ke lantai mengenai kakinya dan kakiku. Ubun-ubunku mendidih, dorongan untuk marah sangat besar, seharian ini aku lelah, pikirku, sekarang di tengah malam seperti ini aku harus menghadapi anak yg tantrum? Gabisa!!!
Tapi sesuatu menghentikanku. Entah apa. Di tengah tangisan marah anakku, aku memilih menggendongnya, mendekapnya, bershalawat. Tangisannya mereda, berganti tangisanku, membuatku mengucap shalawat dengan sangat terbata.
Tangisku pecah, lalu anakku pun ikut menangis. Tangis kami bersahutan dalam dekapan, dan aku tak tahu bagaimana mengakhirinya. Tangisku makin kencang ketika mengingat aku tadi sempat hendak marah pada anakku.
Entah berapa lama, tangis kami mereda. Aku ucapkan kata maaf di telinga anakku, aku mengakui ketidaktahuanku akan cara yang lebih baik, maafkan bunda yg juga sedang belajar. Tangis anakku kembali pecah, aku pun ikut menangis, menyadari betapa anakku tahu maksudku. Tolong kami Ya Allah.....
Tangisan kami kembali reda, ternyata anakku sudah kembali tertidur. Kuciumi ia, kuletakkan kembali ia di bantalnya.
Anakku, entah bagaimana cara yang benar, aku hanya tau ini perjuangan kita, mari lalui bersama ya Nak. Semoga Allah kuatkan.
Bontang, 20 Januari 2021, setelah Ayah pelantikan dan meeting hingga larut malam.
Menyapih (Part 2)
Sudah beberapa malam anakku berhasil tidur tanpa nenen, termasuk malam ini. Ku tengok jam, hey, jam 11 malam. Lebih 2 jam dari jam tidur biasanya.
Setelah berbagai pengantar tidur tidak berhasil, hanya gendong sambil dengar murotal saja yg berhasil membuatnya lebih tenang, tapi tetap tidak tidur juga. Aku memilih membiarkannya memainkan kotak make-up. Mungkin memang belum mengantuk, pikirku. Sampai akhirnya ia menarik-narik bajuku, meminta keluar kamar, menyalakan AC, membawa bantal dan tidur di ruang tengah.
Sambil melihatnya tertidur pulas, aku mengingat-ngingat... Malam-malam terakhir kami adalah malam yang berat. Hanya berdua di rumah, fisik alhamdulillah sehat, tapi hati seringkali khawatir. Aku menyerah pada perpanjangan screen time, pada nenen sebelum tidur malam, pada rumah yg berantakan. Menyapih ini sepertinya tidak berprogress banyak, karena aku rapuh.
Bukan saja anakku yg butuh dikuatkan ternyata. Aku, ibunya, lebih-lebih butuh sekali dikuatkan.
Dan ingatlah, pada siapa kau meminta kekuatan? Resapi lagi Al-Fathihahmu, Gin.
Bontang, 15 januari 2021, tengah malam.
Virus ini mengajarkanku satu hal,
Bahwa tak ada tempat aman untuk berlindung,
Sekalipun di rumah sendiri.
Virus ini ciptaan Allah,
Harusnya virus kecil ini saja sudah cukup untuk membuat sadar bahwa,
Cuma Allah satu-satunya tempat berlindung.
Tidak ada yang lain, sama sekali.
Sadarlah wahai diri, hanya dengan mengingat Allah diri akan tenang.
Virus ini masuk tubuh seseorang sudah pasti atas izin Allah.
Tidak ada lagi alasan lain semua ini terjadi, melainkan Allah ingin kau lebih mendekat.
Allah ingin kau menangis, meminta dan berharap hanya pada-Nya, bukan dokter, bukan obat, bukan pula pada vaksin.
Allah, selalu Allah.