Jeda
Saat aku bertanya ‘mengapa’, Bukan ‘karena’ jawaban yang kamu berikan
Ada sekelumit pertimbangan yang jatuh dengan sadarnya dari hatimu Ada istilah yang aku tak paham Ada segudang tanya yang membuatku sadar, bahwa kau tak pernah mencoba Ada bingung yang mendera, karena ku hanya tahu bahwa aku menginginkanmu, bukan alasanmu
Tak mudah mengelola pikiran di saat kau menjawab tak sesuai harapanku Hanya terlintas, “apa lagi salahku?”, setelah sekian tahun berlalu
Jeda, Kata yang tak pernah aku inginkan
Tapi kau, ingin kita tak lagi ada Menghapus semua sapaan hangat yang pernah kau berikan Meninggalkan catatan-catatan kosong, yang isinya sudah dihapus halus dengan karet keras Membantah segala hal, bahwa kita tak pernah punya rasa yang sama Mengurung hati, dan tak pernah bertanya bagaimana hatiku setelah kita berbicara
Aku tak membual bahwa aku kehilangan Padahal, kau janji tak akan pernah meninggalkan
Rasanya, aku yang buta Aku yang begitu gila karena janji yang cuma sebatas angan-angan
Rasanya, aku mulai kehilangan akal Aku selalu merasa bersalah setiap kali mengungkapkan Aku selalu bertanya, “Apakah ini semua terlalu cepat sampai kau tak siap?” “Apakah hanya hatiku yang menggebu dan perasaan cinta yang sesaat?” “Apakah aku yang terlalu penasaran hingga menjerumuskan diri sangat dalam?” “Apakah aku yang tak tahu diri hingga menyatakannya berulang?”
Tapi, ternyata tidak
Aku yang terlalu menyalahkan diri sendiri, dan kau saja yang tak mau peduli
Sampai suatu hari aku bertanya, “Sudah siapkah aku untuk menaruh hati? Memaksakan rasa yang menolak, menerobos hati yang mungkin akan meninggalkan memar?”
Pertanyaan itu datang lagi “Apakah kau yang tak siap dan aku yang terlalu cepat? Atau memang kita yang tak pernah punya kesempatan?”
Jeda ini tak berarti jika nantinya aku mendapatimu berubah Tak berarti Tak ada lagi
-nims














