Dalam diam ada pikiranmu yang menerka. Dalam diam ada hatiku yang berkata. Dalam diam ada harapan kita mencegah duka.
$LAYYYTER
Cosimo Galluzzi

Janaina Medeiros
occasionally subtle

@theartofmadeline
NASA

#extradirty

shark vs the universe

pixel skylines

oozey mess
Lint Roller? I Barely Know Her
Xuebing Du
Sweet Seals For You, Always

⁂
Mike Driver
One Nice Bug Per Day
DEAR READER
Claire Keane
RMH
will byers stan first human second
seen from United States

seen from United States

seen from Morocco

seen from Italy

seen from Russia

seen from Spain

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Sweden
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Mexico

seen from France
seen from Spain

seen from United States
@kacaberdebu
Dalam diam ada pikiranmu yang menerka. Dalam diam ada hatiku yang berkata. Dalam diam ada harapan kita mencegah duka.
Kau tahu obat?
Telan saja bulat-bulat pahitnya agar sakitmu sembuh
Aku selesai dengan urusan menyibukkan diri mengobati sakit hati. Kali ini aku tak akan mengobatinya.
Aku bisa lebih berhati-hati ketika aku sakit, kan? Aku menikmati sakitnya dan hati-hati nya
An Empty Heart
“Hujan membuatku berharap, hujan membuatku menanti kemudian”
Ah, rasanya tak sesakit itu ditinggalkan melepas lajang. Hanya sedikit ingin berkata-kata kasar tapi urung kulakukan. Aku benci mengingatnya, tapi kata terakhir yang dia ucapkan adalah “doa terbaik darimu akan kembali kepadamu, La”. Baiknya pikiranku adalah ingin mendapatkan doa terbaik juga dan kasih sayang yang Besar dari Yang Maha Penyayang.
Langit sepertinya sedang senang menggodaku, dengan rintikan hujan yang turun setiap harinya, pada akhir masa study ku. Semua itu berarti, ketika aku sudah tak banyak kegiatan di rumah, keseharianku adalah berada dalam petak 5x4 kamarku dan aku harus berpikir serta menyeleksi apa kegiatan yang aku lakukan. Menyeleksi?
Aku akan membatasi penggunaan sosial media instagram pribadiku dan hanya akan sering membukanya dalam akun resmi yang aku pegang. Mengapa? Begini….
16 Februari 2018 , masih di awal tahun genap yang aku suka angkanya. Bukan karena suatu ramalan atau ke hoki an. Aku memang suka angka genap, apalagi angka delapan yang terlihat tanpa garis putus. Awal tahun yang banyak hujan diturunkan, itu berarti tahun ini juga padi akan di panen berlimpah jika tak ada gangguan alam lain. Awal tahun yang mendebarkan karena siding skripsiku dilaksanakan pada tanggal 02 Februari 2018, pada hari jumat dan aku rasa aku berhasil. Awal tahun yang juga dalam waktu singkat hatiku di buat tertarik dan dipatahkan kasar setelah sebelumnya segalanya berjalan baik-baik saja.
Bulan Agustus 2017, seorang pria baik berkenan mengenalku dan memberitahukan niatnya. Aku biasa saja awalnya, tapi benar saja peribahasa jawa “Within trisno jalaran saka kulino”. Yap, aku berhasil dibuatnya yakin. Aku menyelesaikan pekerjaanku mengubur masa laluku setelah gagal menikah, dan berhasil melupakan. Obrolan kami sering terjadi di instagram. Dia punya selera humor sama sepertiku, dia punya gaya obrolan yang sama denganku, dan aku tak percaya, dia sangat-sangat mirip Ayahku.
Bagaimanapun usaha, kalau Tuhanku berkata bukan dan tidak, ya tak akan terjadi benar pertautan antara kami. Bulan Oktober dia memutuskan mundur dari proses karena suatu ketidak cocokan. Ah, lukaku bagai infeksi yang tak tuntas diberi antibiotik, hingga dosis antibiotiknya harus dinaikkan. Ya, aku lebih gigih lagi menyembuhkan luka itu kini, karena rasa sakitnya bertambah dan meradang. Baru dengannya lukaku yang kemarin sembuh, namun kini dengannya ternyata luka tak jadi sembuh.
Aku mengobati sendiri lagi, segalanya. Segala lukaku dari dulu aku rawat sendiri. Lebih keras aku pada tubuhku agar lukanya lekas sembuh. Hingga bulan Januari 2018, segalanya mulai membaik tanpanya, tanpa kabarnya, tanpa obrolannya, walau teramat sering dia muncul sebagai penonton dari story instagramku. Aku biarkan, walau ada harap juga yang sering muncul, dan berbagai kata andai.
Namun ketika aku mulai terbiasa tanpanya, lukaku semakin membaik, dia datang lagi. Entah bagaimana aku memaafkan segala darinya. Berbagai obrolan kami buka, berbagai candaan kami lontarkan. Aku heran ada apa, mengapa ia? Apa dia menyesal? Mengganjal memang, tapi aku wanita yang sangat sangat perasa. Ah, mugkin juga terlalu GR. Semua berjalan biasa saja sampai pada tanggal 16 Februari 2018, Undangan pernikahannya tersenyum lebar di beranda utama instagramku. Aku menatapnya sangat lama. Background hitam dengan hiasan bunga merah muda. Manis, aku suka tapi tidak dengan hatiku. Aku tak menangis, aku tak bisa menangis, ada yang mengganjal tapi aku tak bisa dan tak ingin menangis.
Entah berapa banyak istighfar aku ucapkan hari itu. Mugkin semuanya terasa mengawang, tapi pekerjaan desainku bisa aku selesaikan. Aku tak kehilangan nafsu makan walau hatiku berdebar sangat kencang. Usai shalat maghrib, Dia membuatku haru dan barulah keluar pertanyaanku pada-Nya “Allah, Engkau tak akan membiarkanku sendiri, kan?”
Begitulah
Aku akan belajar mencintaimu, walau aku belum sekalipun mengenal dan melihatmu
Mencintai tanpa tahu siapa nanti kamu
Aku tak berhak menulis kata bijak cinta atau roman picisannya agar kalian tahu seperti apa cinta yang perlu disambut dengan tenang.
Akupun masih belum tahu rasanya
Menangislah Jika Itu Menenangkan
Perkara hati adalah perkara yang tak mudah diprediksi. Seorang lelaki gagah pun bisa saja tiba-tiba menangis karena kehilangan. Seorang lelaki parlente pun bisa saja berkali-kali menangis karena ditinggalkan. Rupanya hati tak pernah bergantung pada rupa, predikat, pekerjaan, kekayaan, dan kedudukan. Hati adalah alam sendiri yang bisa bahagia dan sedih semaunya.
Menangislah dan jangan berhenti jika itu menenangkanmu meski hanya untuk sesaat. Menangislah dan resapi jika itu mengurangi dukamu meski tak lama. Tangisan bukan tanda kelemahan. Menangis adalah tanda hatimu masih hidup meskipun redup, tanda masih bisa berharap dan membuat pilihan dalam hidup. Bersyukurlah karena rindu nan sendu itu berhasil membuatmu menangis, bahkan berkali-kali. Hatimu lembut. Jangan salah, yang menangis hari ini belum tentu akan terus hidup dalam sedu-sedan di masa depan.
Jika kamu adalah orang yang kehilangan, ditinggalkan, atau telah menyia-nyiakan kesempatan atas sebongkah hati manusia, sekalipun susah tapi bersyukurlah saja. Bersyukur karena kamu hanya kehilangan manusia, bukan kehilangan Allah. Bersyukur karena kamu hanya ditinggalkan manusia, bukan ditinggalkan Allah. Bersyukur karena Allah tak pernah berpaling dan selalu memberi kesempatan yang sangat luas sekalipun kamu terlalu sering menyia-nyiakan-Nya.
Jangan kamu tolak rasa sedih dan sendu itu. Kamu bisa jadikan itu energi untuk melawan balik. Bukan balas dendam, tapi untuk melanjutkan hidup dengan versi terbaik dari dirimu. Pengalaman pahitnya kehilangan adalah pengalaman yang berharga, yang mengajarkan kamu untuk menjadi pribadi lebih baik yang menghargai sesuatu dan kesempatan yang kamu punya.
Well, kehilangan memang berat. Tapi kita adalah orang-orang yang percaya. Yang percaya bahwa takdir itu ada, yang percaya bahwa jodoh itu ada. Saat kehilangan terasa begitu berat, bayangkan saja bahwa kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang akan menyerahkan hati sepenuhnya untukmu. Jangan jadikan dia yang di masa depan itu menjadi sia-sia untuk yang kesekian kalinya, karena kamu berkewajiban memberikan hatimu padanya tanpa ada luka segores pun.
Barangkali kamu hanya butuh waktu untuk kembali pulih. Nikmati saja jika memang harus menangis. Al-Qur’an adalah obat dan penawar, cobalah sembuhkan hatimu dengan membacanya perlahan. Aku tak tahu kapan kamu akan pulih, tapi setidaknya percayalah bahwa Al-Qur’an adalah penawar hati yang luka. Tangismu itu akan lebih bernilai jika diiringi bacaan Al-Qur’an meskipun sambil terbata.
Jangan berhenti memikirkan masa depan. Masa lalu adalah bagian dari dirimu yang tak akan hilang, tapi kamu tak lagi hidup di situ. Dimensi tempatmu hidup adalah hari ini yang terus berjalan maju. Akan banyak sekali tempat yang kamu singgahi dan orang yang kamu temukan. Aku adalah orang yang sangat percaya, bahwa kelak kamu akan menemukan seseorang yang menjadi tempat pulangmu, yang akan membuatmu bersyukur memilikinya, dan yang akan menghapus penyesalanmu yang telah lalu.
Allah tak pernah meninggalkanmu, Sahabatku.
“Do not lose hope. Nor be sad.” (Surah Ali Imran: 139)
— Taufik Aulia
#Repost from @kammiunas with @regram.app ... . Selamat pagi, mahasiswa yang berbahagia dengan almamaternya. Pendahulu bilang, kau yang lantang menyampaikan suara-suara penuh asa. Pendahulu bilang, kau adalah jembatan kokoh antara kami dan sang kuasa. Pendahulu bilang, kau begitu peka dengan alam semesta. . Selamat siang, mahasiswa yang berbahagia dengan indeks prestasinya. Hari ini kami gagal menyapa dan memelukmu. Kenapa kau begitu takzim duduk di ruang kelas? Tidakkah kau melihat kami dibalik tembok tebal bernama universitas? . Selamat ma- Ah, sudahlah. Sepertinya kau sibuk mengejar posisi strategis, tidak peduli dengan kami yang menangis. Kenapa pula kami berharap kebebasan pada manusia yang mengurung dirinya sendiri. Kenapa pula kami berharap kemerdekaan pada manusia yang menindas pikirannya sendiri. . Selamat berjuang, mahasiswa sayang. Semoga kau segera pulang pada kenyataan. . . . #kammi #aksi #kesatuanaksimahasiswamuslimindonesia #reformasi #reformasi1998 #20tahunreformasi #mahasiswa #unas1949 #suaramahasiswa #sumpahmahasiswaindonesia #terkubur #diam . @kammiupdate @kammi.pusat @kammiunas . (***Dan semua kawan yang gak bisa di tag satu persatu) (di Stasiun Besar Jatinegara)
Maaf aku egois, tapi benar juga bahwa hatiku terlalu berharga kalau harus selalu mengaguminu.
Aku yang sedang enggan menulis atau aku yang kehilangan perasaan sehingga tak bisa menulis?
Aku tak terlalu suka menebak sekarang. Tentang siapa yang akan datang dan siapa yang mau
Malam, selalu malam dengan keluhan. Dan aku akan mengeluh di sini mulai kini, karena hanya ada satu orang yang kukenal di tempat ini. Itupun pasti dia tak akan peduli apa yang kutulis.
Aku, wanita hampir matang dalam segi umur tapi tak cukup matang untuk mengungkapkan dan mengkomplain berbagai ketidak senangan. Aku, mungkin sudah dirancang dengan sifat "manutan".
Seringkali mendapat perlakuan kurang menyenangkan tapi aku tak bisa berbuat apapun. Seringkali ingin mengeluh tapi yang diajak mengeluh mengkomplainku dengan mengatakan "banyak ngeluh". Seringkali ingin menentang tapi diri menolak pertentangan. Seringkali berupaya menghindar namun hanya membuang waktu dan tenaga.
Jadi, ada berbagai runtutan kenangan yang wajib dihapus. Ada berlembar cerita lalu yang harus di muntahkan sendiri. Ada bermacam pengalaman yang di seleksi untuk di hancurkan dari ingatan.
Dan aku tak tahu menulis apa sekarang....
Katamu, sebuah kata cinta tak cukup membuktikan cinta. Dan kau melakukannya dengan apik. Hingga, walau tak sekalipun aku pernah temuimu, namun sepeninggalmu dihatiku masih kamu
Sekarang aku tahu meredakannya. Setiap orang pasti akan merasa cinta, tapi jarang orang bisa meredam gebunya.
Sadar diri sadar hati. Begitu dulu saja
Sembuhkan aku
Dari ketakutan melupakannya
Dari kerelaan disakitinya
Sembuhkan aku
Dari kegilaan mengaguminya
Dari kealpaan mengharapkannya
Lagi
Lagi lagi
Sembuhkan aku
Dari hati yang meradang merindu
Dari rindu yang meradang padanya
Dari pengharapan yang telah dipatahkannya
Dari patahan yang baru aku rasa sakitnya
Dari sakit yang telah hilang anestesinya
Dari anestesi yang mengelabui perasaan padanya
Dari dia, yang menggenggam hatiku lalu melepaskannya seketika
12-12-17