Tiada yang paling memahami hati selain diri sendiri.
One Nice Bug Per Day

Product Placement
KIROKAZE
cherry valley forever
Keni
macklin celebrini has autism
🪼
tumblr dot com
noise dept.

shark vs the universe
Sweet Seals For You, Always
art blog(derogatory)
Show & Tell
YOU ARE THE REASON
Interview Vampire Daily
RMH

PR's Tumblrdome
Phantogram Three
I'd rather be in outer space 🛸

roma★
seen from Brazil
seen from Malaysia

seen from Austria
seen from United States
seen from Argentina
seen from Argentina
seen from Italy
seen from United States

seen from Australia

seen from Venezuela
seen from United States
seen from Thailand
seen from Argentina
seen from Argentina

seen from Venezuela

seen from Indonesia
seen from Philippines
seen from Venezuela
seen from United States

seen from United States
@kanakubilangjugaapa
Tiada yang paling memahami hati selain diri sendiri.
Saat ini cara terbaik untuk menjaga adalah dengan membatasi diri. Berusaha untuk tidak begitu peduli. Bukan berarti benci. Hanya berusaha mengingatkan diriku bahwa tak semua orang memahami cara berterima kasih. Maka jangan berlebihan dalam mencurahkan apapun yang kamu miliki. Secukupnya saja. Jika tidak bisa, jangan memaksakan diri.
Plg, 22 April 2025 || Sebuah Pengingat
It's my 11 year anniversary on Tumblr 🥳
paling ingat banget dulu kalo ditanya umurnya berapa, jawabnya 23. Nah sekarang sudah 32, alhamdulillah.
Bukan pertama kalinya aku menunggu "kehadiran" dari yang aku inginkan.
Aku sudah pernah melewati masa itu, tak ada salahnya bersabar lagi kali ini.
Alhamdulillah, kehadiran yg dinanti telah ada. Allah Maha Baik
Ramadhan telah tiba, selamat menunaikan ibadah puasa.
Kapan kamu memulai tumblr?
Silakan di reblog ya teman-teman, sekalian bernostalgia sedikit.
Saya memulai tumblr awal 2010, itu sudah SEBELAS TAHUN yang lalu, saya masih semester 2 kuliah. Dan pernah ikut meetup tumblr paling pertama, waktu itu di Bandung dgn artis tumblrnya mas Yunus Kuntawi Aji. Dan pertemanan yang terbuat pada masa itu, masih bertahan sampai hari ini. Luar biasa memang platform media satu ini.
Aku memulai tumblr oktober 2012, saat itu aku masih kuliah semester 3. Tak banyak yg kutulis, seringnya membaca tulisan orang lain. Setelah lama kutinggalkan, aku membuat akun kedua tahun 2014 dan aktif menulis sejak itu. Mengikuti proyek menulis yg membawa aku bertemu kawan baru.
Masih ada aja ya orang yang selalu mengungkit masa lalu dikehidupan sekarang. Kapan majunya kalo mikirin yang itu-itu saja?
Banyak yang harus dilakukan dari sekarang sampai besok dan nanti. Apa iya masih terjebak dimasa lalu? Saranku, lari! Lari yang jauh, buat suasana baru, ciptakan kenyamanan.
Heran, kok bisa-bisanya ya
Bukan pertama kalinya aku menunggu "kehadiran" dari yang aku inginkan.
Aku sudah pernah melewati masa itu, tak ada salahnya bersabar lagi kali ini.
لعلَّ البلاء الذي لا تُحبُّه، يقودك إلى قدرٍ جميلٍ لم تكُن تحلُم به. 💜
Translation: "Perhaps the misfortune that you do not like, leads you to a beautiful destiny that you never dreamed of."
Pertama kulihat, perhatianku selalu kesana.
Lama tak jumpa, tak tahu apa kabarnya.
Kini jauh dari pandangan, entah kapan aku kembali.
Klabat, akankah kita bertemu lagi?
Kisah Julaibib RA (Copas)
Dicopas dari Grup WhatsApp YILead. Dilihat dari tata bahasanha, sepertinya tulisan ini dari Ust Salim A. Fillah.
****
Kisah julaibib rodhiallahu ‘anhu
Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.
Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya.
Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia.
Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.
Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya.
Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas.
Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak.
Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib:
”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”
Demikianlah Julaibib.
Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi.
Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad.
Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam.
Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”
”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”
Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya.
Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib.
Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama.
”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”
Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.
Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.
”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”
”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya.
”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”
”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”
”Julaibib?” Nyaris terpekik ayah sang gadis.
”Ya. Untuk Julaibib.”
”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat.
”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”
”Dengan Julaibib?” isterinya berseru.
”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran…”
Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun.
”Siapakah yang meminta?”
Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.
”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.”
Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini:
“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata…” (QS Al Ahzab [33]: 36)
Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah:
”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah…”
DOA YANG INDAH…
Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya.
Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.
Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib.
Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka.
Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala.
Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.
Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.
Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi.
Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya.
Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu.
Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga.
”Ya Allah”, lirih Sang Nabi
”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”
Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak!
Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak.
Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.
Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita.
Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat.
Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaati-Nya.
Maka benarlah doa Sang Nabi. Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya.
Kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama.
Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya.
Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya.
Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.
Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya.
Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran:
“Apakah kalian kehilangan seseorang?”
“Tidak, Ya Rasulallah!”
Serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang…?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.
“Tidak Ya Rasullallah!”
Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.
Rasulullah menghela nafasnya…
“Tetapi aku kehilangan Julaibib…” kata beliau.
Para shahabat tersadar.
“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.
Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. BeliauShallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi.
Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia.
Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib.
Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit:
“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”
Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?
***
:’(
Aku baru pertama kalinya tau tentang kisah Julaibib melalui buku ini, sedikit kisahnya ada di awal halaman.
Saat membaca, rasanya hati terasa sakit dan air mata tak mampu ku kendalikan.
Dan ya, aku cemburu.
Dengan menerima orang masuk dalam hidupmu, itu berarti sekaligus menerima segala masalah dalam hidupnya menjadi bagian yang kamu pikirkan juga. Pun masalahmu, akan dia pikirkan juga. Menjadi berbagi. Tidak berat dengan kamu pikir sendiri.
Disaat aku udah mulai mengurangi beban pikiran, datang lagi masalah lain yang gak mau ketinggalan buat dipikirin. Diberi masalah yang belum selesai tapi udah ada masalah baru.
Permukaan air yang tenang tadi udah mulai kacau lagi.
Aku bingung mana yang paling penting dan harus didahulukan.
Aku berusaha tenang dan memikirkan kembali dengan baik-baik.
Sampai sekarang belum kutemukan pintu keluarnya.
Aku hanya harus yakin, semua ini pasti bisa terlewati tanpa menyakiti siapapun.
Omongan nitijin gak ada habisnya, yg muji ada, yg nyinyir banyak. yg kuat yg bertahan, bagus juga kalo omongannya dilawan pake rasen chidori 💥⚡ https://www.instagram.com/p/B4y18VznaNKqjfWSaQFpsC0DZTKl56w142zO6M0/?igshid=1pgbnfh9uap22
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
Aku mengalami dilema ini ditahun lalu, beberapa hari sebelum bulan Ramadan tiba. Saat jam istirahat kerja, aku duduk memikirkan umur yang sudah 25 tahun, tapi belum juga memiliki pasangan hidup untuk merencanakan sebuah pernikahan. Aku mulai berhitung saat itu, karna sudah pertengahan tahun tapi belum juga bertemu seseorang yang kurasa "klik" dengan hatiku. Belum lagi melalui masa pendekatannya, masa untuk menilai dirinya, untuk mengenalkan dan mendekatkannya dengan keluarga, untuk menetapkan pilihan padanya, dan untuk mempersiapkan segala pernak pernik pernikahan. Kapan aku akan menemukan dia? Pikirku terus-terusan. Tapi, dibulan Ramadan itulah seakan Allah memberikan jawaban atas doaku, Allah pertemukan aku dengan dia yang selama beberapa tahun kita tidak pernah bertegur sapa lagi. Kami mencoba untuk memulai dan menciptakan obrolan biasa layaknya teman yang kehilangan kabar untuk waktu yang cukup lama. Tidak banyak basa basi, kamipun sepakat melewati hari-hari berdua, disusul komitmen kita untuk hidup bersama 🧡