The Power of Connection
Ada yang pernah bilang ke saya kalau IPK itu nggak penting buat nyari kerja. Yang pertama orang bakal lihat adalah pengalaman kita (maksudanya lo bisa ngapain), yang kedua adalah ada relasi apa kita dengan orang dalam alias koneksi gitu, lalu kalo kita belum pernah punya pengalaman plus nggak ada koneksi, yang ketiga barulah dilihat IPK kita.
Saya sih baru masuk dunia kerja selama enam bulan ya, well, dalam artian kerja yang beneran gitu, ngantor and lapangan cuy.... kalo dulu kan cuman sekedar guru les dan freelance event. Jadi mungkin saja apa yang saya tulis ini mendapat sanggahan dari para tetua yang sudah menggeluti dunia kerja sekian lama. Whatever, I share my idea though.
Koneksi. Nggak bisa dipungkiri, ya, koneksi itu emang penting. Penting sekali. Saya bisa kerja selama ini karena koneksi. Dan bahkan kerjaan-kerjaan saya dulu karena koneksi. Ups......... bukan berarti saya main belakang ya, saya pun punya quality kok, that’s why mereka mempercayakan some jobs buat saya bukan karena saya ngemis minta kerja.
Dulu pertama kali saya ngelesi itu berkat adik tingkat saya di E nglish Department yang uda saya kenal sejak saya SMA. Namanya Dhani (bukan Danny, ya. Hehe). Jadi Dhani itu kan punya adik rohani yang minta les Bahasa Inggris, kebetulan Dhani uda banyak murid les. Jadilah adik itu ‘ditawarkan’ ke saya. Terus dari adik itu, dia promosiin saya ke salah seorang temennya. Nah salah seorang temennya ‘promosiin’ saya ke temen kosnya. Terus kakak kos nya dia juga jadi pengen les sama saya. Hehehe asiikkk banyak uang :D
Faktor cerewet dan sok kenal juga bisa menambah koneksi kamu. Saya itu orangnya suka ngomong, suka mulai percakapan dengan seseorang yang bahkan saya nggak kenal sekalipun. One day, saya kenal sama seorang penyiar radio, namanya pak Martin. Oke. Ada Dhani dan ada Martin (masih bukan Danny Martin kok). Nah Pak Martin nawarin saya buat ngelesin salah seorang anak yang lagi ‘homeschool’. Anak itu dimentorin sama beberapa guru, dan waktu ‘homeschool’nya kelar semua tutor dikumpulin buat pembagian gaji. Pas itu ada mbak-mbak cantik nan mungil yang juga jadi tentor yang liat saya cas cis cus Inggris dan langsung nawari saya buat jadi Liaison Officer buat salah satu event International yang akan deselenggarain di kota saya, Solo. I said, “SURE!”.
Lalu selesai kerja event, saya ditelpon teman baik saya semasa SMA. Nggak tau kenapa ya, kami itu ya dibilang deket banget juga nggak, tapi setiapnya ketemu pasti bisa langsung quality time. Padahal dia kuliah di Jakarta dan saya di Solo, tapi setiap dia pulang ke Solo pasti kami tetep bisa ketemu walopun sebelumnya nggak sering kabar2an. Dadakan aja gitu. Sama kayak waktu dia SMS saya ngabarin kalo ada job di Bali. Dadakan juga. And I said, “YES!”.
Jadi, so far, the power of connection itu penting ya. Walaupun saya bercerita banyak tentang SAYA, dan connectivity (bahasa Indonesianya ‘konektifitas’ gitu?) saya, it doesn’t mean that I am show off that I am great. No, I am definitely not. Saya percaya bahwa the power of connection itu bukan karena kita berasal dari keluarga pemilik saham sebuah perusahaan, bukan karena kita lulusan kampus ABC, bukan karena kita temannya si anu, tapi karena koneksi kita sama Sang Pencipta, SANG Pendengar, dan Sang Pemberi yang membuat universe menyambungkan sinyal-sinyal buat kita.
No reason to be khawatir dan minder kalau ternyata kamu orang yang pendiam dan nggak gaul kayak saya, kamu bisa ngobrol sama DIA yang mengerti kamu seutuhnya dan mampu merubahkanmu. Stay connected to HIM.
God bless!









