Hana tengah berbincang seru dengan temannya, meski sesekali melirik kebelakang. Kursi jajaran belakang meski bukan yang paling belakang. Seseorang dengan rambut gondrongnya dan tas ransel yang masih melekat dipunggungnya tidur telungkup. Kemeja flanelnya lusuh dan jinsnya sudah robek-robek. Hanya sepatu sneaker yang masih terlihat baru. Hana heran sendiri kenapa lelaki seperti dia yang membuatnya tergila-gila. Hingga mencintainya diam-diam dari tiga tahun lalu ketika awal menyandang status sebagai mahasiwa.
“Doni, tugas bagian kamu sudah beres belum?” Astri gadis dengan kacamata lebar dan celana kodoknya menghampiri dan membangunkan Doni. Doni mengangkat kepalanya beberapa senti dengan tubuh yang masih membungungkuk, untuk kemudian matanya samar-samar mencari sosok Hana. Barulah ia bangun dan menghampiri Hana.
“Hana, tugas bagian aku sudah beres?” tanya Doni memecah keseruan diskusi diantara hana dan kawan-kawannya.
“Iya, sudah beres ko Don.” Jawab Hana.
“Loh ko kamu yang ngerjain Na?”
“Iya gak apa-apa, soalnya aku yang punya bukunya. Doni Ibunya kan lagi dirawat di RSHS.” Ujar Hana dengan polos. Setelah diskusi kelompok dan pembagian tugas, Doni mendekati Hana dan meminta Hana mengerjakan juga bagiannya. Hana simpati, dengan mudahnya memeberikan bantuan.
“Oh iya? Ya sudah final makalah kamu yang beresin ya Na sekalian bikin PPTnya. Kamu kan ada bukunya.” Todong Astri. Hana terdiam, sebuah flasdisk di sodorkan padanya. “Siapin ya, minggu depan bagian kita yang presentasi.” Astri pergi.
“Kamu gak apa-apa Na?” tanya Doni. “Biar aku yang kerjain finalnya deh.” Tawar Doni. “Tapi aku masih harus ke RS. Jaga Ibu.”
“Iya gak apa-apa Don, biar aku yang ngerjain aja. Kamu Baik-baiklah jaga Ibu. Kamu juga harus jaga kesehatan diri kamu sendiri. Kayaknya kamu kurang tidur.” Ujar Hana.
“Makasih banyak Na. Nanti aku antar pulang ya..” Doni kembali kekursinya lagi melanjutkan tidur selama tidak ada dosen. Mengerjakan tugas Doni bukan kali ini saja, sebelum-sebelumnya Doni pun akan memilih satu kelompok dengan Hana.
Hana baru kembali dari kamar mandi untuk mengambil tasnya dikelas bersama Doni yang menunggunya untuk mengantar pulang. Dipintu kelas langkah Hana tertahan ketika samar-samar mendengar suara Astri dan Doni.
“Kamu pacaran sama Hana?” tanya Astri.
“Enggaklah, mana mau aku sama dia. Dia itu pintar tapi gak suka aja yang dia pakai itu gak pernah pantas dibadan dia.” Ucap Doni begitu enteng. Seketika hati Hana hancur, bagaimana kata-kata itu ia dengar langsung keluar dari mulut Doni yang ia pikir selama ini ia tulus berteman dan tidak keberatan dengan fisik dan penampilan Hana.
“Sayang aja kalau gak dimanfaatkan kepintaran dan kerajinannya dia. Kamu perlu juga berteman sama orang yang kayak Hana.” Ujar Doni.
“Terus kamu suka nganterin dia?”
“Soalnya kalau pulang bareng dia, diakan suka ngajak jajan atau makan dulu dan dia yang bayarin.” Ujar Doni lagi.
“Gila kamu don, oportunis banget sih. Udah deh Aku mau pulang.” Ujar Asri. Seketika Hana lari kembali ke toilet dan mencuci mukanya yang tanpa ia sadari menangis begitu saja.
Hana ingat bagaimana masa kecilnya yang sering dibully oleh teman-teman sekolah dan teman dilingkungan sekitar rumahnya karena memiliki tubuh yang gendut, berkulit hitam, dan rambut keriting. Hana tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan minderan karena fisiknya. Beranjak remaja ia baru memiliki kepercayaan diri dan tampil dalam debat bahasa inggris yang lalu mengantarkannya masuk perguruan tinggi negeri tanpa seleksi atau dikenal jalur prestasi. Hana pikir memasuki dunia perguruan tinggi akan memiliki lingkungan yang berbeda dan tidak melihat fisik.
Hana menarik nafas, mencuci mukanya dan mengatkan dirinya untuk menghampiri Doni dikelas.
“Don, aku gak enak badan. Kayaknya mau langsung pulang ke kosan.” Ujar Hana.
“Kamu sakit Na? Makan dulu dong, baru pulang ya..”
“Atau kalau kamu ada perlu, aku bisa pulang naik angkot aja Don.” Ujar Hana.
“Ya sudah aku antar kamu pulang ya..” Ujar Doni. ***
Bandung lebih dingin dari biasanya dimusim kemarau ini. Terminal ledeng dimalam hari lebih sepi. Beberapa tenda kaki lima berjejeran di trotoar kampus, meskipun lewat tengah malam beberapa tenda mulai dirapihkan. Hana, Ara, dan Arlen berada disalah satu tenda kaki lima itu. Lebih tepatnya di tenda bubur kacang hijau.
“Kebiasaan deh lapar lewat tengah malam. Makin gendut deh gue. Aku mau susu aja deh.” Ujar Hana.
“Iya nih si Ara. Heran, Ara makan banyak dan gak beraturan tapi gak gemuk-gemuk. Cacingan apa kamu?” Timpal Arlen.
“Bukan cacingan, ini naga yang hidup diperut aku. Mang, susu hiji. Burcang tilu, nu make ketan hiji.” Pesan Ara.
“Aku kan gak makan Ra.” Ujar Hana.
“Dua mangkok jang aku.” Ara membuka toples roti dan mengambil beberapa potong roti. ”Sugan menghindari Mahmud teu make tenaga?” Ara penuh emosi. “aku sebel ya, kenapa sih orang PDKT itu klasik banget. Ngingetin makanlah, ngingetin solat lah. Please dong yang namanya manusia kalau lapar pasti makan, ya kali karena gak diingetin dia gak makan-makan sampai mati gitu?” Ara penuh emosi. “terus ya, ngingetin shalat. Ya kali suara adzan gak cukup jadi pengingat? Gini loh, kamu muslim? Sudah dewasa? Harusnya gak perlu diingetin juga sadar sendiri begitu masuk waktu shalat. Heran. Mereka tuh gak kreatif dikit ngingetin kentut kek? Atau ngupil gitu?”
“Heum.. Ra btw Mahmud siapa lagi?” tanya Hana heran “bukannya minggu kemarin si Rayan anak geografi itu? Mahmud siapa lagi Ra? Duh bener-bener ni anak, tiap minggu ada yang baru mulu.”
“Bukan yang baru Na, dia tuh tahun lalu jadi panitia satu divisi bareng aku. Anak Fisika.” Ara langung menyambar mangkok bubur kacang yang baru datang.
“Bismillah Ra.” Arlen mengingatkan Ara yang begitu bersemangat menyantap bubur kacang dua mangkok dengan tambahan beberapa potong roti sebesar batako. “Eh, aku kayaknya akhir bulan mau pergi liburan Bromo bareng Galih.”
“Ada yang bakal jadian nih kayaknya.” Ara
“Selamat deh, sama dedek gemes. Jangan lupa lu persiapan UAS sama siap-siap buat magang dan skripsi.” Hana.
“Iya dia dedek gemes. Sebenernya gimana ya, tapi dia tuh suka bela-belain datang ke Bandung dari Tangerang.” Ujar Arlen “kalau aku sama dia, kan bentar lagi aku lulus kuliah dia gak bisa langsung diajakin kawin.” Seketika Ara dan Hana tertawa.
“Sabar aja. Tungguin aja sih gak jauh juga kali jarak kamu sama Galih.” Ujar Ara. “btw Na, aku turut berduka soal Doni ya.. Gak nyangka.” “Iya, aku santai aja sih Ra. Soalnya udah biasa juga kali. Mana ada sih cowo yang mau sama perempuan jelek kayak aku.” Hana mengaduk susunya. “Enggaklah Na, kamu itu gak jelek. Lagian gak semua laki-laki menilai perempuan dari penampilannya. Kamu kan pintar dan kreatif. Masa iya, gak ada cowo yang gak mau sama kamu belum nemu aja. Iya gak Len?”
“Aku kayaknya mau daftar relawan BIPA deh. Yang bantu bule-bule buat ngelancarin bahasa Indonesianya.” Ujar Hana.
“Bagus. Aku dukung!” Ujar Ara.
“Aku juga dukung.” Tambah Arlen.***