Satu pesan singkat hinggap di telepon genggamku yg katanya pintar.
"Satu cita-citaku di kelas ini," katanya, "aku ingin buat ica jadi nakal".
Begitulah yg beliau bilang, pada hari pertama kelas itu, setelah aku memperkenalkan diri dihadapan 6 teman kelasku yang lain. Hari Itu adalah hari-hari akhir bulan November 2016, usiaku sudah menginjak 23 tahun. Usia yg tidak muda lagi, mengingat aku ingin mati pada usia 56 tahun.
Ya! Beliau pernah bertanya padaku di kelas yg lain.
"Ica, usia berapa kamu ingin mati?" Tanyanya sebagai pembuka kelas.
"56" Kujawab spontan, berpikir, tapi tidak banyak menghitung.
Oh, tidak beda jauh, pikirku. Namun setelah kelas itu mulai dan membahas perihal waktu di dunia dan segala macamnya, ketika hampir berakhir, aku baru sadar, betapa jauh jika jawaban kami dibandingkan.
Namun lalu aku ingat, penilaiannya tentangku yg tidak pernah nakal. Nakal disini mungkin karena aku yg terlalu membosankan kala itu. Aku yg terlalu teratur, manut, patuh, dan sangat takut berbuat salah barang sedikit. Sehingga beliau ingin membuatku nakal.
Hari-hari berjalan, kami bertujuh memulai kelas dengan sangat semangat dan antusias. Beberapa hal terjadi, seringnya karena aku yang lama sekali saat di test oral atau aku yang lama sekali paham langkah menjawab soal. Selama itu pula, semua tuturnya, lakunya, membuat kami belajar. Ada satu hari dari hampir setiap hari dimana kami belajar sambil diselingi makan.
"Ca, jilbabmu bagus, sini aku mau numpang ngelap" dan beliau membasuh mulutnya yang penuh bekas makanan dengan jilbabku. "Ih jangan ma'am, ini punya indi." Jawabku seraya pasrah karena sudah ditarik-tarik kerudungnya untuk mengelap mulutnya.
"Oh bagus kalau begitu, sini lagi, nih tanganku masih kotor" hahahaa semua tertawa dan mengikutinya. Alhasil jilbab pinjaman jadi kotor. Lalu dia bilang "loh, bukan punyamu kan? Gakpapa toh?" Ahahahaha kita semua tertawa bersama.
Dihari lain, aku melakukan hal yang sama padanya. Aku menghampirinya di kelas alih bahasa, dengan dua orang murid dihadapannya yg juga temanku satu asrama. "Ma'am lagi apaa siih? Bagus kerudungnya, sini aku pake lap mulut yaa" dan semuanya tertawa. Diluar dugaan beliau malah teriak-teriak "horeeee, ica jadi nakal heey" beliau berteriak di kelas itu, kelas bawah pohon yang letaknya ditengah-tengah sekolah kami yang reyot itu. Sepatutnya semua kelas terganggu dengan teriakannya, duh ma'am.
Berbulan-bulan setelah pulang dari kampung itu,
Aku berkesempatan menjenguk teman kecilku. Dan kami bernostalgia tentang hal-hal konyol yang kami jalani dulu bersama-sama. Kami adalah lima sekawan, dimana aku adalah yang tertua. Kami semua tertawa mengenang hal-hal bodoh Itu. Dan aku baru ingat, betapa nakal dan culasnya aku kecil dulu.
"Teh inget gak? Pernah nyuruh kita jilat kaki Teteh?" Kata Riris dan Dila. "Iya, iya inget. Dan kalian teh malah mau aja lagi ih aku kaget. Kan aku bercanda", jawabku tak tau malu. " iya teh, soalnya riris bilang hayu dil, lumayan", kenang mereka.
Aku jadi ingat dimana itu terjadi, pakaian apa yang kami pakai, sedang apa kami, dan begini ceritanya. Kita ditengah-tengah keheningan dan kebosanan kala itu, lalu aku nyeletuk
"Eh kalian, jilat nih kaki aku, aku kasih 3000. Mau gak?"
Riris dan Dila bertatap-tatapan, "hayu dil, lumayan" hasut Riris pada Dila. Dila terlihat tidak yakin. Aku malah terkejut tiada dua, "kok mau sih?", pikirku. Mereka seharusnya tidak akan mau tentu saja, aku hanya asal bicara saat itu. Aku segera menimpali "eh, tapi kakiku bekas dari kamar mandi loh, bekas injak tai juga" karangku buru-buru supaya mereka urung. Dan akhirnya tidak jadi, untung saja.
Cerita-cerita lainnya berlanjut, tentang aku yg selalu bikin nangis salah satu dari mereka, tentang aku yg selalu mengajak mereka main setiap hari sampai orangtua kami pusing, dan aku juga yg selalu mereka cari dan ikuti kemanapun.
Bersyukurnya aku punya mereka, yang hingga saat ini kami masih bertegur sapa, menanyai kabar, mengunjungi, dan main sesekali ditengah kesibukan kami yg berbeda-beda. Dan akhirnya pada kesempatan bernostalgia itu juga aku bilang "maaf ya, dulu aku jahat bgt, aku gak pernah maksud buat gitu, cuma bercanda kok, gak sampai hati, gak ada niat, hhe maaf ya jangan dendam ya." Mereka lalu ketawa, "ya gakpapa teh, kalau teteh gak gitu, kita gak ada cerita sekarang".
Ma'am, tuh aku pernah nakal. Dulu sekali, aku adalah anak yang nakal sekali. Dipikiranku cuma main, hingga aku ingat aku pernah membenci malam, aku takut gelap. Karena aku tidak bisa bermain, bertemu teman-temanku, dan membuat lagi ulah.
Mungkin masa itu sudah berlalu, nakalku sudah habis. Tapi setidaknya aku pernah, aku jadi ingat.
Dan ma'am, pertemuan denganmu membuatku tidak sama lagi seperti aku yg dulu. Aku yg sebelum bertemu denganmu, atau saat bertemu denganmu. Dan Itu membuatku senang. Terimakasih ma'am, sehat selalu, ya.
"Gak mau. Aku masih idup nek". Itu jawabnya ketika aku membalas pesan dan berkata ingin peluk juga menanyai kabarnya. Syukurlah ma'am, satu do'aku terkabul. Tetaplah begitu. Begitu nyentrik, begitu rendah hati untuk ukuran seorang direktris institusi yang menyapa duluan muridnya melalui SMS. Jangan lupa sama aku, ya ma'am. Aku yg beberapa bulan ini tidak berani untuk menyapamu lebih dulu.