Joni dan Susi Menuju Supernova, Aku Melemparmu ke Luar Angkasa
Aku tak percaya, cinta bisa hadir sebelum ada tatap muka. Tapi aku percaya, jalin benang-benang kita terhubung sejak awal kita menyapa di dunia maya. Ujung benangmu bertemu dengan ujungku. Perlahan merajut jalin yang tak terlihat.
Pintuku selama ini tersembunyi. Tak pernah ada yang tau. Tak ada yang peduli. Entah bagaimana kamu ada di depan sana, di pintu yang tertutup rapat dan tertutup semak. Dan kubuka pintunya. Ku biarkan kamu masuk dan duduk. Kita menikmati secangkir kopi imajinasi yang disesap perlahan dan pelan seakan waktu tak ada batasnya.
Benang kita terus terjalin dan mulai mengencang seiring kudapati warnamu yang kamu sembunyikan. Benang yang membebat dan mengikat erat. Kulihat bekas merah di kelingkingmu dan kelingkingku. Bebatnya semakin erat, semakin menyakiti.
Jalin yang telah terajut perlu dilepas paksa. Benang yang tak seharusnya terjalin. Harus lepas sebelum kelingking kita berdarah merah.
Kamu berdiri pergi dengan kelingking merah bekas bebat erat benang. Berkali menoleh berharap bisa datang lagi. Namun, kubereskan minummu sebagai tanda tak perlu lagi ada kunjungan berikutnya. Langkahmu mendekati pintu. Satu jengkal lagi kamu akan keluar dengan sisa benang yang dilepas paksa.
Dan kamu pun keluar. Pintu itu kembali kututup rapat dan semoga tak ada siapapun mendapatinya lagi. Biar bekas pada jari kita sembuh perlahan. Setidaknya dia tidak mencekik kita hingga mati.
Selamat tinggal. Ku lempar kau ke luar angkasa. Hidup abadi bersama bintang tak terdeteksi mata. Meski cerita kita tak pernah sempat dicatat semesta.
Ketika teman-teman seumuran sibuk mengurus urusan anak-anak mereka, saya justru sibuk dengan urusan hati. Itu juga tidak berhasil meski sudah diupayakan sedemikian rupa.
Kalo bicara soal rasa sakit, patah hati di usia 30an memiliki rasa sakit yang sama dengan patah hati di usia 20an. Tetap menghadirkan air mata, penyesalan, kemarahan, dan segalanya.
Bedanya, patah hati di usia 30an ini, saya justru sedikit lebih mudah berdamai. Saat mengalami patah hati, paling tidak saya perlu menangis semalaman. Menangis tidak karuan dan menganggap dunia tak lagi patut dijalani. Menangis seakan saya menanggung seluruh beban dunia.
Tapi, keesokan harinya, saya bangun seperti biasa. Tentu kepala pusing akibat menangis, tetapi badan dan otak berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berubah, selain mata sembab. Sisanya, hidup berjalan seperti biasa.
Sekilas rasa sedih muncul ke permukaan. Timbul tenggelam. Tetapi tidak berpengaruh banyak. Air mata bisa saja hadir, tetapi diterima dengan damai. Tak perlu ditahan, tak perlu diabaikan. Apa yang telah terjadi, maka terjadilah.
Usia 30an ini memang hidup kita telah memiliki banyak pembendaharaan emosi dan cara mengatasinya. Tidak lagi meraba-raba dalam ketidaktahuan. Semuanya familiar dan semuanya telah dialami. Karena pernah merasakan dan mengalami, maka jika dialami lagi di usia sekarang ini, tinggal mengikuti panduan saja.
Pada akhirnya, setelah menangis semalaman karena patah hati, paginya saya bangun seperti biasa. Saya gak yakin apakah patah hatinya sembuh secepat kilat, tapi paling tidak saya bisa mengatasinya.
(Ditulis pada 28 Mei 2025 di sebuah warung mie ayam depan Tamini Square)
Belakangan hidup saya lagi dar der dor alias banyak banget kejutannya. Letupan-letupan kecil dari banyak peristiwa ini bikin kepala dan hati tidak karuan. Dan herannya (sekaligus bersyukur), saya masih waras lahir dan batin. Tentu ngeluh, kesel, dan segala bentuk emosi lainnya datang berkunjung silih berganti. Dan semuanya saya terima, tentu dengan ngeluh dan marah sedikit. Hehe.
Kadang saya heran, dari segala dar der dor ini kok bisa saya bertahan? Kok bisa saya gak jadi gila? Entah belum atau memang saya cukup mahir mengatur emosi-emosi tersebut, saya gak punya jawabannya.
Tapi di satu sisi, saya memahami bahwa kemampuan saya bertahan ini tidak hadir begitu saja. Sesuatu yang besar dan berada di luar saya punya andil cukup besar dalam membantu saya bertahan. Entah sihir, entah kuasa Tuhan. Saya percaya dan berterima kasih untuk itu semua.
Dan di hadapan saya kali ini ada semangkuk mie ayam. Ada satu propaganda yang saya percaya bahwa sebajingan apapun hidup, selama masih ada mie ayam, rasanya ada sedikit rasa aman dan kesenangan.
Sehabis ini, saya gak tau dar der dor apa lagi yang akan saya hadapi. Saya juga gak tau apakah mie ayam akan selalu ampuh memberi sedikit ketenangan. Saya lebih gak tau lagi apakah besok, besok, besok, dan besok-besoknya lagi saya masih waras. Semuanya misteri.
Tapi lewat tulisan ini, aku cuma mau mengingatkan jangan lupa berhenti sebentar dan makan mie ayam. Menjalani hidup juga butuh tenaga. Dan mie ayam bisa memberikannya. Hehehe.
Habis ini jangan lupa jalan lagi, ya. Semoga dar der dor berikutnya lebih bisa diatasi dan dihadapi.
Tiba-tiba aku merasa ingin memberikan pelukan kepada semua orang. Aku ingin mereka menyadari bahwa mereka telah menjalani hari dengan baik dan mereka tidak pernah sendiri.
Namun, kemudian aku tersadar bahwa yang juga membutuhkan pelukan itu adalah diriku.
semalam, aku bermimpi dan ada kamu di sana. sayanganya, aku tak paham apakah itu benar kamu ataukah konsep akan dirimu yang selama ini berdiam di kepala.
Saya ingin bercerita tentang kisah apes percintaan saya. Kisah yang dimulai tepat Oktober tahun lalu. Kisah ini menjadi upaya saya untuk mengakhirinya. Saya gak tau apakah dia akan membacanya atau nggak. Tapi begini ceritanya:
Saya bertemu dengannya di bulan Oktober 2023 di dating apps. Kami berkenalan seperti pada umumnya. Kami berkenalan dengan nama panggilan. Obrolan awal kami tentang musik, kebetulan saat kami match saya baru pulang menonton band kesukaan saya. Dari situ obrolan berlangsung hampir setiap hari.
Dia memberikan kesan yang baik. Dia sangat sopan, respect pada saya, dan menyenangkan saat kami ngobrol. Kami selalu menemukan hal-hal untuk dibicarakan.
Karena itulah saya membuka diri padanya. Membuka hal yang jarang saya ungkap ke orang yang saya temui di dating apps.
Dan itu pun mendorongnya untuk juga membuka dirinya. Kami berbagi hal-hal personal yang menurut saya cukup dalam untuk ukuran orang yang baru kenal. Kami saling mengenal.
Karena interaksi itu, saya merasakan sebuah harapan. Harapan pencarian cinta saya akan menemukan titik terang. Dan muncul juga keinginan untuk menjadikan hubungan ini nyata. Meski beberapa kali merasa tidak pantas untuk dia, saya merasa saya harus bersama dia. Dan saya mau dengan dia. Titik.
Tapi kemudian, apa yang kita inginkan kadang bukan apa yang kita butuhkan dan dapatkan. Sebesar apapun harapan saya untuk mewujudkan hubungan yang nyata dengannya, rupanya tak bersambut. Kisah tersebut kandas bahkan sebelum sampai. Kisah cinta itu menjadi kisah cinta yang tak tergapai.
Setelah dia ‘menghilang’, saya sedikit kehilangan arah. Kenapa? Karena artinya, saya harus memulai semua proses dari awal lagi dengan orang baru. Proses yang melelahkan. Proses yang menyebalkan.
Saya cukup sedih karena harapan saya tidak terpenuhi. Hal ini membuat saya mencari-cari, sedikit tidak terima, dan mempertanyakan diri sendiri. Semuanya silih berganti dan membuat saya terpaku di titik ini, kurang lebih sepanjang 2024 ini.
Di satu sisi, saya tidak ingin menyalahkannya karena 'pergi'. Keputusan tentu ada di tangannya. Jika saya kecewa, ya karena saya ekspektasi yang saya buat sendiri.
Dan tepat setahun dari perkenalan saya dengan dia, saya (((akhirnya))) memutuskan untuk berhenti. Saya gak tau kabarnya seperti apa, karena kami tidak bertukar kontak setelahnya. Saya juga gak tau apakah dia sudah menemukan cinta yang ia cari atau seperti apa.
Yang saya tau, saya senang berkenalan dengannya. Memang hanya hitungan bulan saja. Dan memang tidak berlanjut ke mana-mana juga. Tetapi, dia menjadi cerita yang baik untuk dikenang meski tak terjangkau.
Yang saya tau juga, saya sudah merasa cukup untuk bertahan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengurung saya untuk bergerak maju hanya karena kisah ini tidak berlanjut sesuai harapan.
Tapi, saya berharap dia mendapatkan segala yang terbaik di dunia. Saya berharap apa yang dia inginkan mampu ia dapatkan. Saya berharap dengan sepenuh hati, dia berbahagia di mana pun dia berada dan bagaimanapun hidupnya.
Jika suatu saat kami bertemu lagi, saya ingin menyapanya dengan senyum yang hangat. Entah di masa depan maupun di kehidupan berikutnya.
Saya punya sepatu. Saya ingat betul, saya membelinya di tahun 2018 tepat sehari sebelum lebaran. Sejak saat itu, saya mengenakan sepatu itu setiap hari. Untuk kerja. Untuk main.
Pada 2021/2022, sol sepatu itu mulai copot. Saya kira itu wajar, karena sudah dipakai hampir setiap hari selama 3 tahunan. Akhirnya, saya membeli sepatu baru.
Tapi tidak lama, tukang sol lewat rumah dan sol sepatu lama itu pun diperbaiki. Hasilnya, sol sepatu kembali terpasang dan dia kembali saya gunakan sesekali.
Meski sol sepatunya tidak lagi bermasalah, tampilan sepatu itu sudah usang. Tentu karena dia sudah lama. Tapi, kalau soal kenyamanan, sepatu itu masih sangat nyaman digunakan.
Saya akhirnya memakainya sekali-kali. Ketika beberapa sepatu baru saya ada yang sudah rusak, sepatu lama itu justru yang paling bertahan. Ia hanya usang dan kurang enak dipandang.
Beberapa hari lalu, saya kehujanan. Sepatu yang biasa saya gunakan kebasahan. Saya pun menggunakan sepatu lama itu lagi. Saya kembali pada kenyamanan yang selama ini. Dan rasanya menyenangkan.
Hal ini membuat saya berpikir dan menunjukkan bahwa saya adalah orang yang tidak begitu menyukai hal-hal baru. Jika saya sudah nyaman dengan satu hal, maka saya akan bertahan dengannya. Saya mungkin mencoba hal baru, tetapi saya 'terikat' pada hal-hal lama yang lebih nyaman menurut saya.
Tapi apakah ini tanda saya seorang yang setia? Saya rasa tidak. Saya hanya orang yang takut keluar dari zona nyaman. Lagipula di usia sekarang ini, kenyamanan adalah hal yang utama, bukan?
Ke mana mata kita harus memandang di dunia yang carut marut ini? Tidak ada jawaban yang tepat untuk menjawabnya.
Kamu bisa memandang sesuatu yang jauh di antar berantah.
Kamu juga bisa memandang sesuatu yang dekat dan terjangkau.
Memandang seluruhnya tentu menjadi lebih baik, karena benang merah persoalannya pun saling terkait.
Pandanglah ke mana matamu dan mata hatimu memandang.
Tetapi, jangan menutup matamu.
Jangan buang pandanganmu.
Jangan tutup hatimu.
Bagaimana kita harus bersuara di dunia yang carut marut ini?
Ada banyak pilihan tersedia.
Kamu bisa mengungkapkannya dengan riuh.
Kamu juga bisa menyuarakannya dalam diam.
Ada banyak tempat untukmu bersuara.
Di dalam dunia yang maya, maupun dunia nyata.
Semuanya bisa kamu lakukan sesuai keinginan.
Tetapi, jangan menutup mulutmu.
Jangan tutup mulut terhadap ketidakadilan yang terjadi.
Jangan tutup hatimu.
Namun, jika kamu tak mau memandang ke mana-mana,
kamu tak perlu merasa mereka yang memandang ke mana-mana adalah pendosa.
Tidak perlu mencibir meski menurutmu pandangan mereka tidak akan menyelesaikan apapun dari carut marut dunia.
Ke mana mata kita harus memandang?
Ku harap kamu tahu jawabannya.
Makan siang kami masih tersisa sedikit. Dua gelas lemonade pun tinggal sedikit. Matahari mulai turun diiringi semilir angin sore.
Taman sore itu cukup ramai. Ada pasangan yang asik bercengkrama sambil berpegangan tangan. Ada pula keluarga yang asik bermain dan tertawa.
"Have you ever fall in love with me?" tanya Darian. Aku memandang ke arahnya. Ada kekagetan hadir bersamaan pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu. "Random ya pertanyaannya? Hehehe."
"Mayan deh. Hehehe."
"Tapi jawab dong."
"I am."
"Sampe sekarang?"
"Iya. I'm still like you. Bedanya diubah aja fokusnya."
"Gimana tuh maksudnya?"
"Dulu, gue suka sama lo dan pernah berharap kita jadi partner. Sekarang, gue suka sama lo dan berharap kita bisa berteman baik sampai tua meski gak harus bareng-bareng sebagai pasangan."
"Kenapa? Apa alasannya?"
"Hm apa ya?" Aku berusaha merangkai kata dengan baik untuk menyampaikan apa yang pernah kurasakan kepadanya. "Awalnya karena kita seagama. I mean, ya kalopun bakal serius bakal lebih gampang aja. Hehehe.
"Setelah kenal dan kita banyak ngobrol, gue seneng ngobrol sama lo. We can talk about everthing. Film nyambung, musik masuk, ngomongin apa yang rame di medsos bisa. Ya cocok aja rasanya."
"Sejak kapan fokusnya beda? Tadi kan lo bilang, lo suka gue sampe sekarang tapi fokusnya beda. Kapan? Kenapa?"
"Sejak kapannya gak tau pasti sih. Kayak suatu ketika gue sadar kalo gue terus yang bertanya dan berupaya memulai pembicaraan. Gue nggak nyalahin lo ya. Tapi dulu gue ngerasa gitu. Setiap gue tanya ya lo tetep jawab, tapi lo nggak pernah bertanya balik atau nanya ke gue duluan. Karena buat gue hubungan seharusnya timbal balik, tapi gue nggak ngerasa gitu dengan lo. Jadi ya gue sadar kayaknya yang pengen cuma gue doang. Ya lama-lama kita jadi nggak ngobrol aja. Nggak ada masalah apa-apa.
"Dan kemudian lo punya pacar. Terus gue pindah ke sini dan punya kehidupan sendiri. And here we are now. Sekarang tentu gue masih suka sama lo sebagai teman. Ya kalo gue nggak suka mah waktu lo ngabarin mau ke sini bakal gue diemin sih. Hehehe. "
"Bagaimana dengan lo? Have you ever in love with me?" Aku tersenyum menatapnya.
"Not really." Kami berdua pun diam. "Karena gue sendiri gak yakin sama apa yang gue mau. Kalo ditanya apa gue nyaman dengan hubungan kita dulu, gue jawab iya. Tapi begitu lebih kenal, gue makin gak yakin. Gue ngeliat lo sebagai cewek yang tangguh. Lo tau apa yang lo sedang dan ingin lo lakuin di hidup lo. Somehow itu bikin gue ngeri, walaupun itu sangat baik. Tapi pada akhirnya terlalu banyak orang yang ada, fokus gue terpecah dan ya begitulah."
Darian pun merebahkan tubuhnya di rerumputan dan aku memandang jauh ke danau yang tenang.
"Lo pernah berpikir gak kita bakal ngobrolin hal kayak gini? Aneh tapi gak tau kenapa menurut gue ini penting dan cukup melegakan."
"I think we can talk about it because now we know who we are. Kita udah cukup dewasa untuk menyikapi percakapan kayak gini."
"Bisa jadi."
"Do you belive in another life? Another universe in this world?" tanyaku pada Darian.
"Maybe."
"Gue rasa, di universe yang berbeda kita adalah sepasang kekasih yang sedang duduk di taman kayak pasangan di situ. Berbahagia dan saling sayang." ujar ku sambil menunjuk sepasang kekasih yang duduk tak jauh dari tempat kami.
"Bisa jadi. Gue harap kita di universe yang berbeda berbahagia dengan pilihan kita ya."
Aku memandang Darian dan kami bertukar senyum. Aku pun merebahkan tubuhku di rumput.
Kadang aku bertanya-tanya di dalam kepala, mengapa hal-hal yang diinginkan tidak teraih? Kenapa hal-hal yang diinginkan sulit digapai? Apakah keinginan-keinginan itu terlalu tinggi, terlalu sulit, atau terlalu abstrak? Karena ku pikir, aku telah membuat keinginan yang paling sederhana, paling mudah, dan paling realistis.
Tapi kemudian, aku yang lain yang juga tinggal di dalam kepala menjawab semua tanya-tanya itu. Katanya, ada faktor waktu di mana setiap keinginan memiliki lini masa-nya masing-masing. Ada yang terwujud dalam sekali harap. Ada yang tak terwujud meski sudah diusahakan sekian lama. Semuanya sudah ada ada aturan waktunya dan tak bisa dipaksakan agar bisa sesuai keinginan.
Katanya juga, ada faktor usaha. Kita berpikir kita sudah berusaha keras. Kita berpikir kita sudah mengupayakan segala hal. Tetapi, seringkali kita keliru. Usaha keras belum tentu usaha yang tepat. Kita perlu menelusuri kembali harap dan segala usahanya. Jika tak membawa hasil, mungkin memang usaha itu tidak tepat pada mulanya.
Atau mungkin, katanya, memang keinginan itu bukan yang baik untuk kita. Sesederhana apapun harap jika tidak ada dalam catatan hidupmu, maka ia tak akan pernah ada. Sekeras apapun usahamu. Sesabar apapun kamu menunggu.
Tapi, katanya lagi, jangan berhenti berharap. Jangan berhenti berusaha. Nanti yang memang tepat akan terwujud, baik melalui cara yang kita pikirkan ataupun cara yang tak terduga.
Dari kami bertiga, aku satu-satunya yang paling berbeda. Yang paling tidak betah bertahan terlalu lama. Dan selalu ingin berkelana.
Lalu mengapa kamu masih di sini dan tak pernah pergi?
Aku takut begitu aku pergi, aku tidak akan pernah kembali lagi. Entah karena mati atau memang aku sengaja melupakan jalan pulang. Aku akan bertahan, setidaknya untuk saat ini.
Tapi kamu bisa saja pergi, kan? Tidak ada yang menahanmu.
Tapi untuk pergi dibutuhkan alasan yang kuat. Ada tiga situasi yang memungkinkanku untuk bisa pergi, pekerjaan, menikah, atau memang aku sudah tak lagi dianggap anak. Sayangnya ketiga hal itu tidak menunjukkan tanda-tanda. Maka aku tidak punya alasan yang kuat untuk pergi dan direlakan.
Bagaimana dengan aku?
Kamu?
Ya, aku. Apakah aku bisa membuatmu bertahan? Ataukah aku yang akan menjadi alasanmu untuk pergi?
Entah. Aku berharap ke mana pun aku pergi, kamu menjadi alasan untukku kembali. Kamu menjadi tempatku untuk pulang. Dan juga menjadi teman berkelana selamanya. Semoga.
Kamu gak apa-apa? tanyanya lemah.
Aku hanya tersenyum lirih. Kalau ku jawab iya, kamu pasti tahu itu bohong. Tapi jika ku jawab tidak, ini terasa berlebihan.
Aku tahu. Tapi kamu perlu tahu, ini tidak berlebihan.
Keheningan melingkupi kami. Aku tak berusaha menjawab. Ia pun tak berusaha melanjutkan. Kami berdua sama-sama tak tahu bagaimana menjalin percakapan yang membuat kami sama-sama nyaman. Dalam keheningan itu, aku berusaha keras menahan tangis. Aku pun tahu, ia tengah menahan diri untuk kembali berbicara. Ku pikir, ia takut untuk memulai.
Bisakah kamu berbicara sesuatu? tanyaku. Aku benci keheningan ini.
Ia menunjukkan ekspresi tak nyaman.
Aku tahu ada banyak hal yang ingin kamu katakan. Katakanlah.
Aku berharap kamu tidak perlu khawatir dengan sakit ini. Semua akan berlalu dan kamu akan mampu melaluinya.
Aku tahu. Tapi ini sangat tidak nyaman. Aku berharap aku dapat melihat lubangnya, sehingga aku tahu bagaimana aku bisa mengobati dan mengatasinya. Ini terlalu absurd untuk ku atasi.
Tapi, kamu pernah mengalami ini, bukan? Kamu berhasil melaluinya.
Iya, aku paham, aku mulai kesal.
Karena kamu tidak bisa memutar waktu. Kita hanya bisa menerima.
Seharusnya aku tidak membiarkannya.
Justru kamu harus melaluinya.
Aku menatapnya sinis dan penuh kekesalan. Dia akan selalu membantah semua perkataanku.
Kamu tidak sepatutnya menghindarinya terus menerus. Bukankah sendiri yang menginginkannya?
Iya. Tapi ini absurd. Terlalu tidak masuk di akal.
Tidak semua perlu masuk akal. Bahkan yang hanya sekelebat dapat memberikan kesan yang membekas. Setidaknya kamu telah berusaha. Kamu telah melawan ketakutanmu. Kamu telah mencoba. Kita tidak bisa mengatur hasil seperti yang kita ingin. Tapi paling tidak itu, kita sudah berusaha.
Kamu tidak paham rasanya. Aku tahu, kamu ingin menertawakan ketololanku ini kan?
Tidak, ia mengatakannya dengan serius. Saat awal, aku merasa turut senang ia datang. Aku pun senang kamu terbuka dan menerima. Aku senang kamu kembali merasa. Aku senang kamu melawan ketakutanmu. Aku pun tahu rasa yang kamu rasakan sekarang. Harap yang tak sesuai realita. Tapi sekali lagi ku katakan, kamu telah berusaha. Kamu telah mencoba. Aku turut terluka, tapi tak ingin kamu menderita sendirian.
Aku merasakan ketulusannya. Terima kasih.
Ambillah waktu yang kamu butuhkan. Aku harap itu tak lama dan itu tak membuatmu kehilangan dirimu. Nanti kita coba lagi. Kita usaha lagi, bersama-sama.
Kami kembali diam. Yang tak ku duga, kami sangat berbeda dan seringkali tak sejalan, tetapi kami saling mengerti. Dan dalam kondisi seperti ini, hanya dia yang mampu menenangkan.
Setelah ini, kita usahakan lagi ya?!
Aku mengangguk dan tersenyum. Semua pasti dapat kita lalui bersama.
Siapa di sini yang sebelum tidur suka merangkai skenario kehidupan? SAYA! Siapa di sini yang suka ngebayangin hidup yang berbeda dari yang dijalani saat ini? SAYA!
Mungkin itulah dunia paralel atau yang biasa jadi tema di film-film, multiverses/multi-semesta. Kalau di film, biasanya tokoh utama berupaya kembali ke masa lalu dan mengubah beberapa momen dalam hidup. Atau juga si tokoh utama 'loncat' menembus ruang dan waktu lalu sampailah ke semesta yang lain. Dan BOOM! Tindakan mereka tersebut pun menggoncang tatanan dan ekstremnya tatanan tersebut rusak.
Lalu apa hubungannya multi-semesta di film dengan rangkaian skenario hidup yang suka dibuat sebelum tidur? Hm saya pikir keduanya sama. Ketika kita membuat skenario lain terkait hidup kita, skenario tersebut sebenarnya sudah terjadi di semesta yang lain. Ya, dia bukan lagi sekadar imajinasi kosong, tetapi benar-benar terjadi.
Jadi kalau misalnya saya sedang membuat skenario di mana bapak saya masih hidup dan kami merayakan natal setiap tahunnya dengan bahagia, ya bisa jadi skenario itu terjadi di semesta yang berbeda.
Atau jika saya membayangkan jika bapak saya masih hidup, hidup kami membaik, saya bisa kuliah ke luar negeri, saya bisa keliling dunia, dan beliau bangga dengan saya, ya bisa jadi skenario itu terjadi di semesta yang berbeda.
Atau skenario lainnya, bukan bapak saya yang meninggal di hari natal, tetapi saya, tentu hidup akan berbeda dan itu bisa saja terjadi di semesta yang berbeda.
Tapi dengan menonton film-film bertemakan multi-semesta ini saya jadi belajar satu hal. Mengubah sesuatu di masa lalu, memang akan membawa masa kini dan masa depan yang berbeda, termasuk diri kita. Berbeda di sini bisa berarti baik ataupun buruk. We never know.
Beberapa skenario dibuat dengan akhir yang bahagia, tetapi saya tidak yakin sendiri apakah itu benar-benar bahagia yang dicari. Apakah prosesnya akan mudah? Penuh ketidakpastian. Dan sebagai orang yang sering mengalami kesulitan beradaptasi, skenario-skenario semesta yang lain itu justru agak mengerikan dan asing.
Meski begitu saya tetap menyukai membuat skenario-skenario itu. Karena itu seperti membaca dongeng sebelum tidur yang membantu saya terlelap.
Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menjalani hidup saya saat ini sebaik yang saya bisa. Tentu tidak sebaik dan seindah skenario-skenario yang saya buat, tetapi rasanya ini yang paling aman. Karena berada di masa yang ini, ada di titik ini, saya menerima banyak hal. Tentu saya melepaskan banyak hal pula dan segala prosesnya tidak pernah mudah, tetapi saya merasa lebih mampu menjalani semesta ini.
Akhir kata, saya berharap diri saya di skenario yang berbeda mampu menjalani hidup dengan baik, sehat dan berbahagia. Hm malam ini saya mau membuat skenario jika saya bertemu diri saya dari skenario yang berbeda di Christmas-Society. HAHAHAH
we seemed to be perfect together, because we never really together
Ia berjalan perlahan menuju altar sambil tersenyum. Ia mengenakan gaun putih gading yang sederhana, seperti yang ia impikan selama ini. Tangan kirinya menggenggam sebuket bunga lili dengan warna yang mirip dengan gaunnya. Rias wajahnya tampak sederhana, tetapi membuatnya terlihat lebih cantik daripada biasa.
Ia berjalan perlahan menuju altar. Tatapannya menyapu ruangan dengan senyum yang terus mengembang. Lalu mata kami bertemu. Kami saling tersenyum. Tanpa kata, aku yakin ia paham dengan apa yang ku sampaikan. Ia pun mengangguk masih dengan tersenyum. Lalu melanjutkan langkahnya menuju altar, menuju prosesi sakral dengan orang yang ia pilih.
Kami kenal sejak kuliah. Dunia maya mempertemukan kami. Hobi yang sama membuat kami bersama. Kebersamaan tanpa nama.
Kami sama-sama melalui kesulitan masa muda. Berbagi keluh kesah dan cerita. Berbagi mimpi dan derita.
Pada masa itu, kami sama naifnya memandang hidup. Sepakat bersama meski tak perlu memberinya nama. Terlalu yakin dunia akan terus selamanya berpihak pada kami.
Begitu lulus kuliah, kami pun berpisah. Sekeras apapun kami berusaha untuk terus selalu bersama, sekeras itu pula gelombang yang berusaha melepaskan.
Aku yang memutuskan pergi. Tapi itu pun tak bisa dibilang pergi, karena kami tak pernah memutuskan menetapkan diri. Ia pun tak begitu memusingkan.
Hidup terus berjalan sebagaimana mestinya, meski kami tak lagi bersama. Namun, entah kenapa selalu ada masa untuk kami selalu kembali bersama. Kadang singkat, kadang bertahan lama. Namun, kami tetap tak memutuskan untuk memberi nama kebersamaan itu.
Suatu sore, ia bilang ia ada di kota dan meminta untuk bertemu empat mata. Aku pun datang.
Ia menyodorkan sebuah undangan. Aku mau memberikannya secara langsung ke kamu, katanya. Aku tertegun.
Aku pun meraih undangan itu dan membacanya. Namanya tertulis di sana dengan seorang pria yang tak begitu ku kenal. Ia memang sempat bercerita, tapi tak ku gubris terlalu lama.
Jadi kamu duluan yang akan nikah? aku melontarkan pertanyaan retoris tanpa berani menatap matanya.
Begitulah, jawabnya santai.
Setelahnya tak ada obrolan yang berarti. Aku tak tahu bagaimana harus menata hati setelah mendapat kabarnya.
Malamnya kami berpisah. Aku memberanikan diri untuk menatap matanya.
We seemed to be perfect together, katanya sambil terus menatap mataku. Aku ingin sekali melempar pandangku jauh entah ke mana saja, tetapi matanya menahanku untuk terus membalas tatapnya. Yeah, we seemed to be perfect together, because we were never really together.
Aku hanya mengangguk tanpa memberikan reaksi lainnya.
Dan saat memandangnya berjalan menuju altar, dengan gaun yang ia impikan dan sebuket bunga lili serta senyum yang sumringah, aku memahami apa yang ia ungkapkan malam itu.
Kami yang tak pernah benar-benar bersama memang tampak sempurna. Bersama dalam suka dan duka. Berbagi cerita dan derita. Merajut mimpi, tetapi semua dilakukan sendiri.
Berkali-kali orang mengira kami sepasang kekasih, tetapi kami hanya bersama dalam hubungan yang tak bernama. Kami bersama karena memang harus bersama. Mengisi satu sama lain dan tak perlu memberi label apapun pada apa yang sedang kami jalani.
Karena begitu kami memberikan label pada diri, ketika itu pula kami runtuh tak lagi menyatu. Kami tak akan menjadi utuh dan padu. Cerita dan derita perlahan akan menjadi hambar. Mimpi akan menjadi semu dan perlahan berlalu. Sebagaimana katanya, kami tampak sempurna bersama, karena kami tidak benar-benar bersama.
Di sebuah studio musik, TAWA sedang menyelesaikan album kedua mereka. Mereka sebenarnya tidak menyangka, band yang awalnya tidak serius mereka kerjakan justru mampu melahirkan album kedua.
“Dari mana lu baru nyampe?” Tanya Gio sang produser.
“Biasalah. Lembur.”
“Dia mah sibuk pacaran bukan kerja,” ledek Ilma.
“Bacot! Udah deh lo pada ngumpul sini.”
Mereka pun memulai rapat peluncuran album kedua TAWA. Mereka berencana untuk mengadakan sesi dengar dengan media dan akan melakukan beberapa tur.
“Coba deh Der lo kontak si Raya.” Ujar Gio memberi usulan.
“Raya?” Adera berusaha mengingat orang yang dimaksud. Sementara Alam bangun dari duduknya dan menuju toilet.
Begitu Alam keluar dari toilet, Adera sedang menelepon seseorang.
“Halo Raya, apa kabar?” Sapa Adera.
“Raya, Mulya nih.” Teriak Mulya.
“Halo Mas Dera. Hoi Mul. Lagi pada ngumpul?” Sahut Raya ramah.
“Iya nih. Btw ganggu nggak?”
“Nggak kok. Santai. Kenapa?”
“Mau nanya lo masih kerja di media kan ya, Ray?”
Alam menyimpan rasa penasarannya sambil mencuri dengar percakapan itu.
“Udah nggak. Udah hampir setahun gue resign.”
“Yah lo di mana sekarang?”
“Gue di Jogja sekarang, Mas Dera. Bantu jadi asisten dosen. Hehehe.”
“Anjay. Cakep dah lo, Ray.” Sahut Mulya.
“Ngeledek lo bapak dosen.” Balas Raya diikuti tawa.
“Iya tadinya kita mau minta tolong, siapa tau lo bisa bantu TAWA mau bikin hearing session di kantor lo.”
“Mau gue hubungin ke sana? Gue bridging dulu gitu. Kayaknya sih bisa ya.”
“Beneran?”
“Gue coba dulu. Paling besok gue kabarin ke lo ya, Mas Der.”
“Siappp Raya yang sekarang jadi asisten dosen.”
“Ray,” panggil Ilma, “Kalo kita ke Jogja dateng lo ya?”
“Siap. Kabar-kabar aja.”
Telepon itu pun selesai. Meeting pun berlanjut, tetapi Alam sibuk dengan pikirannya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Alam nebeng mobil Ilma.
“Lo udah nggak kontakan sama Raya?” Tanya Ilma.
“Nggak,” jawab Alam singkat. “Kenapa emang?”
“Soalnya lo keliatan kaget pas denger dia di Jogja sekarang.”
“Oh iya. Terakhir ketemu juga udah lama banget gue sama dia.”
Lalu keduanya saling diam.
“Lo gapapa kan Lam?” Tanya Ilma tiba-tiba.
“Gapapa Lah. Emang kenapa?”
“Gue pernah ngira lo sama Raya deket.”
“Hahaha kok bisa?” Jawab Alam kikuk.
“Gatau feeling aja. Kayak setiap ketemu Raya di gigs, lo sama dia kayak nyambung.”
“Dia anaknya asik sih emang.”
“Iya sih.”
“Temenan doang. Ketemu juga pas bareng-bareng kalian.”
“Terus lo sama Arafa gimana? Kapan nikahnya sik? Lama ya.”
“Dia belum kelar tesis.”
“Masih di Inggris dia?”
“Masih. Paling ya dua tiga bulan lagi balik.”
Perjalanan mereka pun berlanjut dengan percakapan ringan soal pekerjaan dan kehidupan mereka.
Album kedua TAWA pun dirilis. TAWA berencana melakukan tur keliling Jawa dan Bali. Dan kini mereka singgah di Jogja.
Malam itu, Raya datang seorang diri. Ia menyapa Adera dan beberapa orang yang ia kenal. Lalu muncullah Alam bersama Mulya dan Ilma. Satu per satu mereka saling menyapa.
Alam dan Raya sama-sama tak menduga mereka akan bertemu kembali. Keduanya terlihat irit interaksi seakan ada jarak lebar yang membentang.
Konser berjalan lancar. Ketika venue mulai sepi, Raya berpamitan untuk pulang.
Paginya. Setengah berlari, Raya menuju gedung B dari parkiran. Entah mengapa pagi itu ia bangun kesiangan.
Begitu bangun, Raya merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Entah sedih, entah senang, entah perasaan apa lagi.
Sepulang dari konser TAWA kemarin, Raya tak bisa tidur. Ia baru bisa tidur pukul 3 pagi dan bangun jam 8. Tak sempat sarapan, ia langsung berlari ke kampus.
Jam makan siang, Raya berjalan pelan di belakang rombongan teman-temannya. Lalu langkahnya terhenti, melihat sosok yang ia kenal, Alam.
Raya pun menghampiri Alam.
“Hai,” sapa Alam sambil meringis. “Mau makan siang ya?”
“Iya.” Jawab Raya.
“Mbak Raya, yuk?” Panggil salah satu temannya.
“Duluan aja Mbak. Ada temen ku dulu.” Jawab Raya.
Keduanya pun duduk di salah satu kursi di pendopo kampus Raya.
“Yang lain ke mana?” Tanya Raya sambil minum es kopi yang dibawa Alam.
“Mencar. Ada yang di hotel. Ada yang nyari oleh-oleh. Dan ada yang di sini.” Jawab Alam.
Raya tersenyum kecil. “Kapan berangkat ke Bandung?”
“Nanti malem. Mau ikut?”
“Hahaha emang ada bangku kosong?”
“Dera aja suruh naik kereta.”
Keduanya pun tertawa.
“Gue mau ngasih tau lo sesuatu.” Ujar Alam.
“Apa?”
Alam pun mengeluarkan ponselnya dan memberikan sebelah earbuds nya kepada Raya.
“Dengerin.”
Terdengar suara denting piano. Lalu suara Alam.
“Jika boleh pagi tak datang, aku ingin duduk di sampingmu tenang.
Bersarang dalam pusaran di mana ragu telah menghilang.
Ternyata pagi pun datang. Membawa terang, tetapi meninggalkan kenang.
Ku harap kau bisa ikutku pulang, bukan menjadi hantu dalam ingatan.
Kita yang sempat hinggap dalam bayang, pernah hidup dalam senang.
Terbanglah terbang. Selamanya kau kukenang.”
Lagu itu pun berhenti. Keduanya saling berpandangan.
“Itu balasan buat surat yang waktu itu lo kasih,” ujar Alam sambil memandang Raya. “Gue nggak berani masukin ke album, karena lo belum denger ini. Lo harus jadi yang pertama dengar karena ini emang buat lo.”
“Bagus.” Ujar Raya lirih.
Keduanya kembali diam. Tak ada yang berani mulai bicara. Tak juga bergerak untuk saling menatap mata. Lalu lalang orang dan suara kendaraan dari kejauhan menjadi pengisi ruang sunyi yang hadir di antara keduanya.
“Gue juga mau ngasih ini,” Alam menyodorkan kotak CD. “Gue nggak pintar menulis. Takutnya jadi cringe atau malah lo nggak paham apa yang gue maksud. Jadi, selain lagu tadi, gue bikin beberapa lagu. Nanti didengerin ya kalo lagi luang.”
Raya pun meraih CD yang diberikan Alam. Raya mendapati cincin di jari manis Alam. Raya menduga Alam sudah menikah dengan kekasihnya. Tetapi, Raya enggan untuk bertanya memastikan rasa penasarannya.
Raya pun memilih untuk terus menghindari tatapan Alam. Ia menyibukkan pandangannya dengan memandangi mika bening yang menjadi pelindung CD dari Alam. CD itu tertulis “Alam Raya”.
“Gue pergi dulu ya, Raya,” ujar Alam lirih. “Makasi banyak.”
Keduanya pun berdiri berhadapan. Raya mau tak mau pun memandang Alam. Mata keduanya bertemu dan bertaut. Kedua pasangan mata itu menyiratkan kerinduan, kebahagiaan, dan juga kesedihan. Lalu keduanya tersenyum.
Ojek online yang dipesan Alam pun datang. Alam pun pergi dan Raya masih terpaku di tempatnya. Ia merasa sesak dan lega sekaligus. Perasaan yang tak menyenangkan, namun ia merasa tenang.
Malamnya, Raya pun mendengarkan CD pemberian Alam. Terdapat 4 rekaman dalam CD tersebut.
Pada rekaman pertama berisikan suara Alam.
“Hai Raya! Semoga mixtape ini bisa sampai ke kamu dan kamu dengarkan. Apapun situasinya. Apapun keadaannya. Ku harap pesanku sampai ke kamu.
Mixtape ini berisikan satu rekaman suaraku. Aku merasa aku perlu memulainya dengan rekaman ini. Jadi meski aku nggak bisa langsung ngomong ke kamu, kamu bisa memahamiku. Memahami kita.
Dan juga tiga lagu. Satu lagu sebagai balasan buat suratmu waktu itu. Dua lainnya buah karya yang aku nggak tau bagus atau nggak, tapi ku harap dari dua lagu ini kita jadi semakin paham dengan kita.
Aku buat mixtape ini di kamar. Hanya modal piano tua dan gitar lawas milik bapak. Dari ketiga lagu, prosesnya nggak sulit. Secara teknis, tapi ternyata sulit secara perasaan. Tapi akhirnya selesai juga dan bisa kamu dengarkan.
Selamat mendengarkan ya, Raya. Selamat menikmati Alam Raya.
I wish nothing but your happiness. Thank you for being there. I might never have said those words, but I know you know it.”
Jeda beberapa detik, lalu rekaman berlanjut pada lagu pertama yakni lagu yang Alam dan Raya dengarkan pada siang tadi. Alam memberikan judul “Pagi Tiba”.
Lalu lagu kedua berjudul “Alam Raya”.
Di bawah langit yang sama kita bertemu muka
Sejak itu dunia berotasi pada kita
Kau dan aku bersama
Berada di Alam Raya
Ku kira ini bukan cinta
Hanya saja kita paham ada rasa yang berbeda
Katamu kita tak berpisah
Hanya saja hidup kita kembali bergerak ke arah yang berbeda
Tak banyak harapku untuk kita
Cukup kau bahagia di sana
Cukup kau kenang aku pernah ada
Di Alam Raya milik kita
Pada lagu ketiga, kini Alam memainkan gitarnya. Lagu itu berjudul “Cukup Kau Ada”.
Tak bersama
Karena waktu bisa saja salah
Tak bersama
Karena keadaan tak bisa dipaksakan
Cukup kau ada
Di sana, di tempatnya sekarang dan di hatiku
Tenang
Cukup kau ada
Tak perlu lagi kuminta yang lainnya
Cukup kau ada
Malam telah larut. Raya masih memutar CD pemberian Alam. Ia berjanji pada dirinya sendiri, esok pagi semua akan berbeda. Ia akan merelakan Alam, sebagaimana mestinya. Ia akan melepaskan Alam, sebagaimana seharusnya.
christmas' journal @kriskroskres - Tumblr Blog | Tumgag