Game of Thrones Daily

roma★
Color Me Curious

ellievsbear
RMH

Game Changer & Make Some Noise
macklin celebrini has autism
ojovivo
The Stonewall Inn
NASA
One Nice Bug Per Day
Doug Jones

gracie abrams
YOU ARE THE REASON
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Today's Document
Misplaced Lens Cap
tumblr dot com
official daine visual archive
seen from Uruguay
seen from Nicaragua

seen from Austria

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Norway

seen from Spain

seen from Panama
seen from United States

seen from Belgium

seen from Türkiye
seen from Ukraine

seen from United States
seen from Belgium

seen from Greece
seen from Singapore

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
@lafrichdrips-blog
benci berontak
sibukkan saja dengan berkedip
nafas sendu tak tahu malu
mawar merona apa tak manis ?
ciptakan saja dengan kulit kau iris
merah tak usah marah
toh dirasa pun amis
tak rugi mengapa sungkan berbagi
kau masam begitu mau di tabur ragi ?
hingga tak karuan kau pamer pamer gigi
hingga terengah engah kau enggan kalah
nafasmu semu
berontakmu kelu
hanya itu itu saja melulu
sudah lah
biarkan saja kalah
tak usah terus kau marah
kepala mu terlampau merah
seperti mawar atau darah ?
manis kah atau amis ?
cuci kaki tidur saja
besok belajar lagi bersahaja
kata berdalih mata beralih
menysusun dan menyebar benih
entah ini pedih kuliti semakin perih
mata memanas kepala mendidih
jiwa dan jika ada tolong kesini
kian nanar tak acuh kian menyebar
awan berdalih kultuskan saja mentari
dedaunan sejuk berderik
kabari saja udara apa yang terjadi
kepala sudah semakin tunduk karena terik
sejenak saja tolong jangan usik
malam ayo datang mohon segera
siang berang tak henti membenci
tolong lelahkan tolong kalahkan
kicau emosi tak henti mencaci
ada apa ?
gelisah menyapa memohon kembali
bersama kaki yang sedia menari
bibir yang sedia berseri
hati yang sedia mencari
datanglah lagi kumohon wahai peri
pernah menatap lalu menghilang
tanpa lelah percaya
tanpa menyerah teraniaya
buang saja hingga tak berdaya
mereka memuja malam dimana mentari tak ada
bukan takut terang hanya menuai kata
ekspresi yang tersingkap mengada
tentang sesuatu yang disana
yang kini tengah mereda
datanglah lagi kesini
dendam hanya fana
sayang hakiki berpelana
cinta mengakuisisi beretorika
siksa saja jangan kau bunuh
takut jika suatu saat kau butuh
kelak jika kau mengaduh
kelak jika tak tanguh
datanglah lagi kesini
dendam akan selalu diam
memeluk lutut
bersedih lagi
tampaknya tak akan ada usai
nampaknya hanya sejenak terurai
dan kembali lagi seperti saat dimulai
peran tak ada dan tanpa rasa
cinta hanya kata
rasanya masing masing buta
hanya ego yang menata
tolong tenang sejenak ini tengah petang
tolong diam sejenak ini tengah muram
apa yang bisa dilakukan
tanpa mengaduh ini perih mengelu
mengakar dan dirikan altar
tempat depresi mengalun menjalar
jiwa jiwa bersemayam menguap bersama dupa
emosi terjebak dalam duka
mengapa tak mengerti
apa tak terperi
tolong berhenti
darah ini rasanya mati
nyonya baik yang disana
ingin menawan tak bisa senyum
mulutnya terikat simpul
hanya mampu menatap sayu
wahai nyonya apa ini ?
toples kaca indah mengada
seakan tak pernah habis meraba
apakah ini bola mata ?
nyonya baik ? yang disana
hati lekas kerut lalu gagu berkata
sudah, susah bicara tak usah mencoba
nyonya baik ? yang disana
alangkah baik disana saja
ijinkan diri lari mengejar peri
bukan ngeri sungguh tak apa
nyonya baik ?
disana saja
tolong, disana saja
PUTIH
beranjak memaki diri
malam berlalu tak acuh akan bising
menyapu bersih kotoran jiwa yang terasing
hati putih tetap hitam tak berpaling...
menjiwai seakan penting
mencintai seakan selalu beriring
roman sosok yang riakkan denting
berhenti seakan terasing
hati putih tetap hitam tak berpaling...
dimana letak empati yang benamkan cita
dimana letak toleransi yang dikobarkan kata
hanya tersisa duka yang begitu merana
hanya tergenang air mata yang sisakan kecewa
hentikan tolong mundur
diam sejenak tolong ikuti jalur
biarkan mata sisihkan dirinya sejenak
sambut cahaya yang kian bias beranjak
esok tak ada biarkan hari ini untuk kecewa
hingga kelak lupa hanyut terbawa
biar jatuh ke tanah
biar rentan oleh luka
biar menguap oleh biasa
biar sakit tak lagi neraka
basa mengukir kesah
menutup kerah
serapah pada alternatif arah
hening
ini dingin
genggam saja jika perlu
tak usah hiraukan angin
biar hangat menyengat
semakin dekat
menyatu dalam pekat
berat
tertatih menuntun
tak apa tak akan mengapa
tak akan seberapa
tak akan menjadi apa
karena ada di sini menyambut di dalamnya
lantang bergema mengetuk di lingkupnya
senyum yang mengisi hati untuk bangkit meraihnya
tanpa meski yang berdalih di baliknya
apapun
tanpa harap pun
bulan merebah
sinarnya cahayakan sepi
pohon berdoa padanya
bawalah cinta ini di permukaannya
di sela sela ratapannya
di jutaan cerita tentangnya
biarkan sepi menggangunya
dalam irama awan sendu kelabu
kaki jangkrik beradu
renyah iringi daun mengaduh
bersama lupakan yang ada
kata kini hanya ungkapan rasa
sama rata mengaduh penuh ria
hingga senyum timbul riang
pecahkan duka lalu sirna
akhiri petang dengan sayang
bersama bintang menanti siang
number
rindu bangkitkan dirinya
segala rupa kata meski
tak ada pilihan
batin tertahan
beranjak dan melepas
meski segenggam tangan
mungkin seutuh lengan
namun mewakili angan
seperti berlian
dan pelangi di ujung awan
semoga tak apa jika mengerti
itu pasti
iya... dia pasti
hadirnya wakili hati
menjangkau angka
rumit yang gesit
dan segala serpihan kata jika
tak takut meski harus sulit
iya...
dia...
Haru
menepi di satu sisi
berdiam disana memeluk hening
dingin
menusuk rusuk
perih merasuk
berhenti menjauh
jangan berjarak
akhirnya siksa
sakit muncul memaksa
tolong malam
lelapkan hingga tenggelam
jika terluka lebih baik lupa
namun enggan ini segan
pecandu yang ketakutan
jika dosisnya menghilang
pemuja yang tertekan
jika cintanya beralasan
tak butuh relasi sialan
bila
mengutuk dan tertutup
padahal sejenak terbuka
mengapa takut tak pergi saja
tak perlu
biar bebas mendengki
lepas memaki
lantang mencintai
bila saja terjadi
tolonglah saat ini
saatnya masih bisa terisi
entah jika nanti
mungkin tak ada lagi
mungkin pergi dengan cacat memori
namun
jika bertemu dalam mata
biarkan saja
namun entah
siapa yang tahu
diam dan menelan segala kata
mungkin lebih berarti dibanding berbicara
waktu yang berputar
tempat yang mengitar
lingaran terbentuk dan kini menjadi akar
entah apa yang diatas
memandang ragu
terjatuh dan hilang bukan mau
tersandung malu
gusar sendu beradu
memaki awan yang begitu teduh
mengapa tak biarkan mentari berontak
agar emosi ini berteriak
mohon terjadi
kini yakin telah hadir telak
mohon...
JAUH
tempatkan awan bersama nya
teduhkannya dari terik yang teriak
beriak menyalak menang telak
jangan biarkan air itu jatuh
jagalah senyumnya
materi yang mengisi bahagianya
jumpai tawa lupakan sendunya
terangi matanya dengan teduh
peran berarti hingga nanti
tertutup lupa yang mungkin sedia ada
beralaskan arah yang mengada
ini tentang apa ?
mengapa tak ada aku ?
apa yang didapat dari pasif ?
ketika semua nyata begitu aktif
aku menatap lalu tertunduk
bernafas lalu menggebu
aku hilang
debu pasir halau menyilang
tenang
jika perlu bersimbah
tolong jangan patah arang
DINGIN
hanya berbayang
tak kunjung biarkan itu menjauh
latah rasanya
keruh ini begitu pekat
tolong sampaikan agar melekat
menatap semakin dekat
ijinkan agar rapat
tak ingin bermalang
maupun berakhir dalam kenang
lagu yang mendayu mencair sebagai memori
mengalun dalam kisah antar sisi
entah
waktu nyatakan dirinya dalam puisi
yang laun nampak beralun
hingga sampai dan pasi
membentak dengan intuisi
segala yang ada menjadi dan mengairi
lalu membeku rapat mengunci
tak bisa lepas
mengisi ruang, sesak
GAGU
ragu untuk menatap
mata ini sayu begitu malu
karena persepsi nampaknya percaya
tatapan ciptakan semua begitu nyata
dosa biarlah terkubur
yang terindah ditampilkan dengan gugup
tolong berkenan agar tetap lama
hanya detik yang ciptakan gelisah ini sirna
andai hanya dua
beriringan tanpa yang lain
habiskan waktu ceritakan ilusi
urai elegi rangkai persepsi
hanya kata yang ingin ungkapkan
apapun yang dapat mengalihkan
mata antusias yang begitu berbinar
raga mungkin gelap yang menantikannya
terangi kosong ini
Serpihan Akrilik
aku hanya lukisan yang tak pernah usai
cat berserakan membentuk pola tak beraturan
terlalu konsisten untuk menjadi abstrak
terlalu surealis untuk menjadi realis
menjangkau keinginan untuk tegas
hanya saja dunia begitu pegas
melingkar dengan arogan
menghina begitu pedas
benci untuk di duga
dan sisihkan ironis di setiap akhir begitu saja
memeluk lutut lagi
mendengki dalam serapah
meracau lagi
awan begitu diam dalam mendungnya yang sendukan suasana
menutup wajah lagi
menahan kesah
meracau lagi
karena logika hanyalah lingkaran buntu filsafat
yang mungkin benar namun sesaat
yang candukan sedih kian erat
mencekik dan tenggelam dalam duka pekat
menjamu matahari dalam senggama gelap
karena mata enggan terbuka
terlalu malu hadapi peradaban
terlalu kaku hadapi keramahan
terlalu klise hadapi kesempurnaan
memeluk lutut lagi
mendengki dalam serapah
meracau lagi