Selamat Hari Ibu, Aku (end part)
Mungkin saja setelah ini, hidupmu juga akan baik-baik saja.
Kau hanya menggertakku, mengancamku bahwa hidupmu mungkin akan sisa beberapa hari lagi.
Seperti yang kau sampaikan skenariomu yang pertama, kamu gagal melubangi perahumu (?) perahu apa(?), Kamu gagal terjun dari tebing karena ada yang menarik tanganmu tapi kamu tidak tau wujudnya, sedang lebih masuk akal 1+1 =2.
Entah trauma masa kecilmu sedalam apa sampai rasa sakitku yang disebabkan kamu, kamu tidak pernah peduli.
Iya, jika 1-2-3 hari.
Lebih dari 2000 hari kamu selalu memberiku cerita bualan dan pasti masih akan terus berlanjut, selalu dengan pola yang sama. Melakukan kesalahan lalu aku tau kesalahanmu itu, kemudian kamu meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi. Entah dengan memelukku, membelikanku makanan yang kusuka, mengajakku ketempat yang ingin kukunjungi. Dan berharap setelah itu aku memaafkanmu, melupakan semua kesalahanmu?
Aku mengunci rapat-rapat mulutku juga tanganku untuk tidak berbicara dan bercerita kepada siapapun. Bahkan teman terdekatku. Sedalam apa trauma masa kecilmu? Apakah sesesak dan sesakit aku mengetahui semua fakta-fakta yang tidak pernah ingin aku cari itu?
"Aku minta maaf" kata itu baru kau ucap setelah semua bukti ada padaku. Orangtua juga orang-orang terdekatku melihatnya secara langsung. Jadi aku pastikan itu bukan sebuah rekayasa. Padahal sebelumnya kamu masih bersikeras tidak pernah ada hubungan sama siapapun. Kamu pembohong.
Masih sanggup kah untuk memulai kebohongan lagi dan lagi? Cukup ya. Sekarang aku ingin melepasmu. Pergilah. Karena bagimu aku tidak pernah ada artinya, karena bagimu aku hanya status di KTP, karena bagimu aku perempuan baik yang lemah, mudah memaafkan dan mudah sekali untuk dimanfaatkan. Kumohon pergilah yang jauh, jangan pernah muncul dihidupku.
Aku masih bisa menjelaskan kepada Dhia, anakku mengapa ayahnya tidak ada dirumah lagi. Mengapa ayahnya tidak tidur dikamar lagi. Mengapa motor kesukaan ayahnya tidak ada lagi. Dan semua baju-baju ayahnya sudah tidak ada didalam lemari yang sama.
Cukup sakit dadaku mendengar semua pertanyaan itu. Tapi aku selalu berdoa bahwa semoga ini akhir dari segala rasa sakitku. Setelahnya aku akan hidup dengan bahagia sampai Dhia, anakku lupa bahwa pusat dunia sedang tidak baik-baik saja. Sampai Dhia, anakku tau bahwa tanpa sosok ayahnya, ibunya akan memberikan semua yang dia butuhkan, pelukan, ciuman, tempatnya bercerita. Bahwa ibunya, akan tetap memasakkan masakan enak untuknya, membelikan mainan dan membacakan buku favoritnya.
Semoga kasih sayangmu tidak kurang-kurang ya nak. Jika kurang mintalah, mintalah kepada Allah untuk menghadirkan seseorang yang bisa melengkapi hidup kita. Ibu juga akan meminta kebaikan dan kebahagiaan kita untuk hari-hari setelah badai kita nanti berhenti.
Tidak apa kan? Jika nanti ibu yang membesarkanmu sendiri?
Tidak apa kan? Jika nanti yang mengantar dan menjemputmu masih ibu?
Tidak apa kan? Jika yang menemanimu jalan-jalan, bermain gim kesukaanmu, mengajarimu naik sepedah masih ibu saja?
Semoga kita kuat, semoga Allah mudahkan segala hal-hal yang lebih baik datang kepada kita suatu hari nanti.