“I’m obsessed with you. Utterly, willingly and wonderfully so.”
— Michael Faudet
Color Me Curious

Origami Around
macklin celebrini has autism

Love Begins

oozey mess

ellievsbear
Claire Keane

@theartofmadeline
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
taylor price

blake kathryn
art blog(derogatory)

titsay
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Game of Thrones Daily
official daine visual archive
ojovivo
No title available
Phantogram Three
Monterey Bay Aquarium

seen from Venezuela
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from Canada
seen from Saudi Arabia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany
seen from Brazil
seen from Ecuador

seen from United States

seen from Italy

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Mexico
seen from United States

seen from Ireland

seen from India
@lantunankata-blog
“I’m obsessed with you. Utterly, willingly and wonderfully so.”
— Michael Faudet
2018 is almost over and all I gotta say is what the fuck was that
The most attractive thing you could show someone is effort & the most important thing you could give someone is time.
“When you’re in an abusive relationship, the abuse, in your head, is a blip. It’s something that happens between the good times. You trick yourself with “everyone has problems in their relationship” and assume this is what healthy looks like. You only realise too late it’s not. You realise too late how unhappy you really are. You see, the brain is a beautiful and terrible thing, it is sharp as the end of a knife, whilst staying soft as silk against your cheek. It is a paradox and it holds you hostage, it turns on you when it goes through trauma. It takes time to convince your own mind that you deserve better and what is happening to you is messed up and you must find a way out.”
— Nikita Gill
pasca tidak menggunakan instagram
Sekitar beberapa bulan sebelum tahun 2017 berakhir, saya memutuskan untuk menutup akun instagram. Ada banyak pertimbangan untuk memastikan saya benar-benar tidak ingin menggunakan media sosial tersebut.
Yang pertama, menurut saya dan bagi diri saya sendiri, kurang ada kecocokan antara saya dan medsos itu. Sebab instagram diciptakan untuk foto-foto mendapat tempat utama. Sementara saya bukan orang yang bisa merasa nyaman untuk mengunggah berbagai foto, meskipun saya juga tertarik pada dunia fotografi.
Dulu menggunakan instagram terasa menyenangkan. Sangat bisa diandalkan untuk menunjang kegiatan menulis. Foto jadi sarana kreativitas.
Kemudian ada fitur insta story yang bisa digunakan untuk bebas mengunggah hal-hal menarik bagi kita, bukan? Namun, lama kelamaan, instagram membuat saya sedikit kecanduan. Hal itu membuat produktivitas dalam hal menulis menjadi menurun.
Ditambah, teman-teman tumblr berpindah menggunakan instagram. Migrasi itu membuat tumblr menjadi sepi. Sebelum semakin sepi saat diberlakukannya pemblokiran.
Kedua, instagram membuat perasaan iri dan dengki meningkat. Ini sifatnya subjektif menurut saya pribadi. Tapi perasaan itu akan menghancurkan bagi para penulis. Apalagi tugas utama seorang penulis ada menulis, bukan menjadi populer di media sosial. Kepopuleran adalah bonus dari karya terbaik.
Untuk mencegah hal itu, saya berhenti bermain instagram. Kendati sesungguhnya instagram adalah penunjang terbaik untuk mempromosikan diri, tapi itu tidak bagi diri saya.
Pasca tidak lagi memiliki akun pribadi instagram, saya merasa lebih baik; produktivitas meningkat. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, dan membuat lebih bahagia.
Untuk itu saya bersyukur.
Barangkali saya memang tidak tercipta untuk instagram.
“I remember not wanting to get out of bed, and everyone yelling at me to stop going to sleep so late. But it wasn’t that, I was not tired at all. I was sad, I was so very sad that even getting out of bed seemed pointless to me. It was hard, being so sad that it became a struggle to get up in the mornings.”
— A.M.// sadness really fucking hurts (via tullipsink)
“I talk about you more than I talk about myself. I write about you whenever I have a pen in my hand. I think about your smile when you aren’t with me. And all you do is brush by me in the hall and mutter sorry.”
— I Need To Forget You
“You swore I was a masterpiece, like a piece of priceless art. You loved the mystery and complexity. But you failed to tell me that you were never a big fan of art and that it was too much of a hassle to try and understand it.”
— {G.g}
“I wanted to be an enigma. A complex question people tried to answer, but instead i am a paradox. A contradiction of itself. I wanted to be cold, but I tried to ignite sparks in others souls. I wanted to be a mystery, but I wanted someone to solve me. I wanted to move mountains but, I was afraid of moving a grain of sand. I wanted to be courageous, but backed down when fear showed its face. I wanted to fall in love, but was terrified of heights. I wanted to be heartless, but I couldn’t deny that sometimes I felt like something was shattered in my chest and I couldn’t deny it hurt. Sometimes it felt like there was a drum line pounding 64th notes inside my ribcage that made me lose my breath. And I couldn’t deny that the bliss of having to catch my breath when someone looked at me had the power to hurt much worse. I wanted to stand up and speak my mind but, sat down every time. I wanted to be alone but I didn’t want to be lonely. I wanted to be a poem but, instead I write them. I wanted to be a enigma but, I am a paradox. I may be hard to figure out but no one wants to anyway.”
—
Whoever wrote this, I just wanna thank you that this sums up my life for 18 years of living — or maybe forever. Thank you, just thank you.
Bertanggung jawab mencintai bukan seharusnya penuh asumsi, kodratnya yakni menyatakan yang pasti.
“Kala dirimu kecewa pada dunia. Kala hatimu patah oleh manusia. Maka lihatlah senja. Kau akan sadar pada siapa seharusnya kau gantungkan harap dan labuhkan cinta”
— @sundarirespati x @creativemuslim
“4 hal yang susah diingat dan (biasanya) sering lupa: 1. Mengingat Mati 2. Menghindari Sakit 3. Mensyukuri Nikmat 4. Menghargai Manusia”
—
Jangan Jadikan Aku Istrimu, Jika..
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain.
Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatuhkan talak padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa
Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku.
Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.
Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.
Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.
Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku.
Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.
Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.
Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu.
Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.
Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.
Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga.
Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.
Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.
Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.
Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.
Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.
Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana.
Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.
Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku.
Ada beberapa senti perbedaan antara menjaga kata-kata untuk tidak menyakiti, dan kejujuran.
“You know you’ve found the one when they know you and understand you better than anyone else; maybe better than you know and understand yourself. And they love you so much that you can just feel it, and you start to love yourself a little more. They’re patient with you, and they stand by you when no one else would. You feel like you’re home when you’re with them. You feel complete and happy and safe. That’s when you know you’ve found your soulmate.”
— Something my brother said a few years ago, and I think about it a lot.
Sleepy labs
here’s all the gang!
“I want a life with you. I want to fast forward this part, right here, when we are living out our separate lives miles from each other. I don’t want our worlds to only collide by text or to touch your face through a computer screen, tracing the outline of your jaw and imagining the softness of your hair beneath my fingers. I do not wish for dates set weeks from now and checking them off on my phone and going to sleep each night, grateful another day has disappeared. No, quite simply my love I want our universes to be so tangled, so intricately wrapped that missing you will only be an option when sleep finds me. I want a life with you, a home with you, a bed and the same four walls. I want to brush my lips across yours as I leave for work in the morning, knowing that we will be together when night falls. I want to kick off my shoes and have you rub my feet and tell you about my day, about my horrible boss and rude clients and for you to say all of the right things at the right time, just like you always do. I want late night runs to the grocery store for popcorn and candy before we climb into our matching onesies and binge watch The Walking Dead and to then lie awake deep into the night, discussing how we would survive zombie apocalypse—you laughing at my terrible survival instincts before pulling me close into your chest and telling me “I’ve got your back.” Because you always have. I want those quiet mornings when we’re both working hard, not speaking but existing in the same space, taking it in turns to make tea and coffee and I want those days when our passion consumes us and we tear apart the entire house, like young lovers again lost to each other without a care in the world. I want D.I.Y with you, building flat pack furniture and arguing over the stupid instructions before collapsing into fits of laughter and cracking open the wine. I want to feel your hand at the small of my back as we throw our first house gathering, each of us filtering into the room to speak to our friends but always catching each other’s eyes and smiling knowing that we have made it, we are here, this is ours. So please, let us skip this part, press fast forward, let us return to each other and build our life together. I want all of those in-between bits, the mundane every day bits when we will get annoyed at each other for leaving the milk out or not washing the dishes straight away or finding socks at the foot of the bed. I want us to talk about chores, what we need from the shop and which family event we need to attend this month. I want that small pleasure at a simple life with you because my love, no day is ordinary with you, no day will need anything other than your existence, your smile, your gentle touch. And maybe I am silly for wanting to rush it, maybe I am forgetting that the distance is romantic in its own way, maybe I should be making the most of this last year of studying before I dive into my writing career but really, truly, I just want you, no more, no less. Only you, and us. And our life together.”
— Rose Goodman Via Thought Catalog