hahhhhh ambikk kauuu......

Product Placement
Peter Solarz
cherry valley forever

#extradirty

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.
Lint Roller? I Barely Know Her
todays bird

pixel skylines

Janaina Medeiros
Claire Keane
Game of Thrones Daily
One Nice Bug Per Day
Cosmic Funnies
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
dirt enthusiast
No title available
Monterey Bay Aquarium
Mike Driver

seen from Brazil
seen from Bulgaria
seen from Spain
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from Peru
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@laparcipapmelayu
hahhhhh ambikk kauuu......
Kakak Nabila
Nabila Kakak Kandungku
Nabila Kakak Kandungku - Kisah ini saat aku masih 10 tahun, tepat saat itu hari masih siang dan aku baru pindah dari Amerika. Saat aku pulang sekolah seperti biasa kakak aku yang perempuan yang selalu menemani aku karena orang tua aku sibuk dengan bisnisnya. jadi aku selalu bersama dengan kakak aku saat itu usia kakak aku masih 17tahun perawakan badan sangat cantik sekali ukuran dada 36B dan sering menggunakan ‘push-up bra’ agar terlihat lebih besar mungkin kalau ada hidung belang dia bisa dikencani langsung. Ketika aku di jemput pulang dari sekolah aku dengan kakak sungguh sangat akrab layaknya hubungan adik dan kakak yang tanpa batasan.
Saat itu aku masih belum paham tentang seks dan segala jenisnya. Ketika sedang iseng membuka internet tanpa sadar aku membuka halaman yang memuat tentang seks lalu aku membaca sebuah cerita tentang hubungan sedarah antara adik laki-laki dengan kakak kandungnya. Setelah itu, aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan cerita tersebut. Namun, sejak saat itu, aku selalu terangsang ketika melihat kakakku sedang tidur di kasurnya. Kamar kami memang jadi satu karena aku masih takut tidur sendiri, sehingga aku dapat memeluk kakak aku apabila aku sedang merasa takut. Diam-diam aku memperhatikan tubuh kakakku yang begitu mulus tanpa cacat perlahan-lahan aku peluk dia dari belakang dan memegang dadanya, dia masih tetap tertidur pulas. sedikit demi sedikit aku nekat mulai masuk kedalam bra-nya dan mulai meremas-remas perlahan.
Namun seketika itu juga kakakku bangun dan memukul kepala aku “Ngapain kamu hah!!?”
Kontan saja aku kaget dan takut melihat wajah kakakku hingga nyaliku ciut di hadapannya “Eng… A-anu Kak… Anu…” aku tidak bisa jawab apa-apa karena takut dilaporkan ke orangtua kami yang tentu saja bisa panjang urusannya.
“Kamu itu kecil-kecil udah kayak gini… Gedenya mau jadi apa!?” kakak ku membentak dengan suara yang menakutkan.
“M-maaf Kak… A-abis aku tadi baca cerita seks tentang adik dan kakak gitu… Uups…” aku menutup mulut karena sadar telah keceplosan berbicara.
Langsung Kak Nabila menjewer telingaku “Dasar kamu masih kecil baca begitu laporin Papa tau rasa…!!”
Aku langsung memohon agar tidak dilaporkan karena aku takut bila aku dipukul, dan untungnya kakakku mengabulkannya akhirnya tidak dilaporkan ke Papa.
Lalu aku menanyakan kenapa tidak boleh dengan enaknya dia bilang ” kamu blom cukup umur iki… heuuuuuh sini kamu” dengan mudahnya aku di ketok kepalanya lalu aku menangis karena sakit. kakak aku langsung bingung mau bagaimana dan mencoba menenangkan aku. setelah reda aku ingin mencoba minta izin ke kakak aku, “kak boleh pegang lagi gak?” “apa? hmm… boleh deh tapi jangan kemana-mana ya tangannya” seakan mendapat hadiah langsung aku langsung memegang dan meremas-remas dada kakak aku yang berukuran besar itu. aku remas dan menghisap putingnya yang berwarna merah muda dengan agak keras. nafas kakak ku mulai tak beraturan dan terlihat pandangan matanya mulai berubah. tangan ku mulai turun ke celana nya dan mencoba memegang vaginannya terasa lembab dan agak basah. kakak ku diam saja sambil tiduran dan terlihat dia menikmati perlakuan aku. lalu aku mencoba menurunkan celananya berikut celana dalamnya yang berwarna putih dan berrenda. aku melihat pemandangan yang belum pernah melihat pemandangan itu sebelumnya.
vagina yang berwarna merah dan terlihat rapat tapi tidak ada bulunya, sangat bersih dan tercium wangi yang khas sekali. penis ku yang daritadi keras ingin sekali keluar namun aku masih belum berani mengeluarkannya takut marah. “kak boleh di jilat gak?” dia diam saja dan aku langsung menjilatnya, rasanya asin-asin tak jelas namun sangat nikmat aku terus menjilatinya. terlihat kakak ku bergerak-gerak tak karuan hingga akhirnya tiba-tiba kakak ku menjerit agak keras dan vaginanya seperti mengeluarkan cairan yang banyak sekali hingga muka ku basah olehnya. “kakak kenapa?” aku bertanya dengan polosnya ” gak apa-apa ko ki, sini gantian kakak yang ngerasain” lalu dia berbalik menghadap ku dan mencoba menurunkan celana ku. tentu saja aku malu mengingat ukurannya yang menjadi besar dan keras belum lagi aku tidak mau di sunat dulu karena takut. setelah dia agak memaksa lalu celanaku turun dan penisku bebas keluar langsung di sergap oleh mulut kakak ku. aku merasa geli namun enak. aku mulai merasankan lidahnya menjilati lubang kencingku dengan perlahan aku mulai menjerit-jerit kecil karena saking enaknya. tiba-tiba aku merasakan ingin pipis dan aku mencoba menghentikan kakak aku agar berhenti. namun dia tidak menghiraukannya dan malah mempercepat hisapannya. karena tidak kuat lagi maka croot croot croot aku pipis di mulut kakak tapi rasa pipis nya sangat berbeda dari biasanya. rasanya aku seperti terbang ke langit ke 7. “kak maap ya pipis di mulut kakak” dengan polosnya aku berbicara seperti itu “gak apa-apa ko ki, tadi tuh bukan pipis tapi sperma beda loh dah kamu tidur jam 3 ni” kakak ku langsung mengenakanku pakaian dan dia menggunakan kembali celananya. lalu kami tidur.
Pagi itu hari minggu aku bangun jam 9 dan melihat sekeliling ku mencari kakak ku ternyata tidak ada. saat aku turun ke bawah aku melihat kakak ku hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya sambil memasak sarapan pagi. “pagi iki, sana mandi ni air panasnya udah di siapin ntar mandi bareng aja kakak juga belum mandi” aku langsung meloncat kegirangan saat itu. setelah aku masuk kamar mandi aku langsung membuka baju dan celana, terbayang badan mulus kakak ku terlihat di depan mataku itu dan ingin aku menjilati vaginanya lagi karena rasanya yang begitu enak. kakak ku masuk setelah itu dan membuka handuknya. mata ku tak ayal lepas dari badan kakak ku yang putih bersih itu. dadanya yang begitu besar dan vaginannya yang bersih. aku langsung meremas-remas dadanya dan menghisapnya seperti ibu menyusui bayinya. “heeh gak sabaran aja mandi dulu kamu sini di mandiin” aku pun langsung bangun dan mandi badan ku di gosok dan di bersihkan oleh kakak ku penis ku yang setadinya keras di sabuni oleh kakak ku.
Dengan sengaja kakak ku menggosokan ke penis ku dalam waktu lama, dia menaik turunkan tangannya dan mengocok batang penis ku. aku langsung kelonjotan dan rasa nikmat tiu menjalar ke tubuh ku tiba-tiba perasaan tadi malam pun muncul dan aku langsung mengeluarkannya.
‘Croooooot… Crooooot… Crooot…’ sebanyak 3 kali aku mengeluarkannya.
Terlihat warnanya putih bening dan lengket kakak ku pun langsung membersihkan badan ku. setelah itu girilannku yang menyabuni kakak ku, mulai dari perut yang mulus hingga ke dadanya yang besar itu aku meremas-remas dadanya dengan perlahan. kakak ku nafasnya mulai tak teratur penis ku mulai bangun lagi tapi aku tidak memperdulikannya dan terus menyabuni kakak ku. setelah itu aku turun ke selangkahannya dan mulai menyabuninya. aku menggosokan vaginanya dan tiba-tiba kakak ku memegang tangan ku. ‘disitu ya ki terus ki…” aku mulai bingung dan mengikuti kata-kata kakak ku. aku menyabuni vaginanya dan menggesek-gesekan bibir vaginannya. tiba-tiba dia pipis dan rasa hangat mulai terasa di tangan ku. “ki mau gak yang lebih enak dari tadi?” aku menjawab langsung mau dan disuruh aku tiduran di lantai. kakak ku langsung mengurut-ngurut penis ku yang keras tadi dan menempelkannnya pada vaginannya. aku merasakan ada hal lain pada diriku. rasa nikmat mulai terasa pada diriku. kakak ku mulai memasukan penisku kedalam vaginanya. aku merasakan agak sakit karena seperti di jepit oleh sesuatu yang tebal. mula-mula kepala penisku masuk ke dalam vaginanya rasanya aku terlempar ke langit karena saking nikmatnya perlahan-lahan mulai masuk semuanya.
Saat tinggal setengahnya lagi dia langsung menyentak ke bawah dan amblas semuanya. aku merasakan seperti menyobek sesuatu dan merasakan rasa nikmat yang luar biasa. penis ku seperti di urut dan di remas-remas oleh vagima kakak ku itu. kakak ku terlihat seperti mengeluarkan air mata. dari mukanya terlihat seperti menahan sakit. lalu dia mulai menaik turunkan pantatnya perlahan-lahan benar-benar luar biasa pada saat itu tidak bisa digambarkan bagaimana rasanya antara geli hangat nikmat menjadi satu semuanya. lama-lama semakin cepat dan terus menikmatinya tiba-tiba penis ku seperti disiram cairan yang hangat ooh begitu nikmatnya dunia . kakak ku mulai turun dan menyuruhku menghisap dadanya. aku melakukannya dengan penuh nafsu.
Aku merasakan ada yang ingin keluar dari penisku ini. langsung saja aku mengeluarkannya dan menekan langsung penisku dalam-dalam. crooot croot croooooot. sebanyak 6 kali aku mengeluarkan di dalam vagina kakak ku. tiba-tiba kakak ku lemas dan mulai mengatur nafasnya. rasa lelah begitu terasa dalam diriku. semua sendi terasa lepas dari tempatnya. aku mencoba bangkit dan mandi kembali begitu pula kakak ku. setelah selesai kami sarapan dan memulai kembali permainan yang tadi di kamar mandi kami mainkan
Hingga saat ini kakak ku dan aku masih melakukan permainan itu. namun sekarang aku tidak hanya bermain dengan kakak ku saja. aku bermain dengan teman-teman sekolah ku yang juga aku rampas keperawanannya. sungguh pengalaman hidup yang tidak bisa digantikan #kakak kandung
Hanum Part 2
Sambungan dari Hanum Part 1
Point of View Hanum
Setelah peristiwa gelap itu, aku MC tidak masuk kerja selama 3 hari. Aku berasa benar-benar sakit, baik fizikal mahupun mental, malah maruahku juga seakan-akan sudah tidak wujud. Sehari selepas aku pulang dari seminar, aku merasakan vagina dan anal ku masih sakit sehingga tertatih-tatih lagi untuk berjalan untuk ke klinik. Akhirnya hari ini aku kembali ke pejabat.
Sebenarnya aku masih takut masuk kerja, aku tak dapat bayangkan bagaimana kalau bertemu dengan En Jamal. Aku takut dia meminta untuk mengulangi perbuatan itu lagi. Aku tidak ingin peristiwa itu berulang lagi. Aku tahu, dengan memiliki video persetubuhan kami En Jamal pasti akan mengancamku untuk menuruti kemahuannya lagi. Tidak, bukan persetubuhan kami, tapi pemerkosaan yang dia lakukan kepadaku. Aku tak rela menyebutnya sebagai persetubuhan, kerana aku sama sekali tak menginginkannya.
Harus kuakui, malam itu tubuhku menghianatiku. Tubuhku beriaksi dengan setiap sentuhan dari En Jamal. Tapi aku sangat yakin, itu semua terjadi kerana air yang ku minum pada malam itu. Harus ku akui juga nikmat pada malam itu adalah luar biasa namun bila semua itu berakhir, hanya penyesalan dan rasa sakit hati yang kurasakan.
Satu hal yang paling ku takutkan dari perbuatan kami pada malam itu adalah aku mengandungkan anak manusia bertopengkan syaitan itu. Malam itu berkali-kali En Jamal menumpahkan spermanya ke dalam rahimku. Walaupun malam itu memang aku tidak berada dalam masa suburku, namun tapi siapa tahu saja dengan banyaknya sperma En Jamal yang membanjiri rahimku mampu membuat aku mengandung. Aku benar-benar tak sangup jika hamil kerana perbuatannya, walaupun aku dan suami ku Ridhwan memang sangat menginginkan cahaya mata dalam keluarga kami.
Hari ini aku berangkat ke pejabat diantar oleh suamiku. Dia sempat bertanya apakah aku sudah yakin untuk masuk kerja kembali, aku hanya menjawab aku sudah bersedia. Aku juga berjanji akan lebih berhati-hati dengan En Jamal dan cuba menghindarinya. Ridhwan sempat berpesan pada ku supaya untuk menceritakan segalanya kepadanya jika terjadi apa-apa. Aku hanya menganguk bersetuju. Sampai sahaja di pejabat, aku disambut oleh rakan- rakan ku. Mereka berbasa-basi menanyakan aku kenapa MC lama, dan adakah sekarang sudah benar-benar sembuh. Aku jawab sesuai dengan apa yang sudah aku persiapkan dari rumah. Aku yang dari tadi bimbang akan bertemu lagi dengan En Jamal boleh menarik nafas lega kerana En Jamal tidak masuk pejabat sehingga mingu depan disebabkan melawat tapak projek di Sabah.
Hari ini tiada apa yang tidak kuingini berlaku. Selama di pejabat, sering aku memperhatikan teman-teman ku yang perempuan, meneka-neka siapa sebenarnya yang pernah diperdaya oleh En Jamal seperti yang diberitahunya ketika pulang dari seninar tempoh hari. Ternyata aku gagal meneka siapa mangsanya selain aku.
Petang ini Ridhwan menjemputku. Sepanjang perjalanan aku cerita hari ini aku merasa lega kerana En Jamal tiada sehinga minggu depan. Suamiku juga terlihat senang akan hal itu. Sesampainya di rumah, aku menyiapkan makan malam untuk suamiku. Aku senang kerana dia menyukai masakanku. Sebuah kebahagiaan tersendiri melihat suami menyukai apa yang kita masak. Meskipun begitu, di dalam hati aku menjerit, mengutuk diriku yang tak mampu menjaga diri dan kehormatanku sebagai isterinya.
Aku tahu suamiku tak pernah menyalahkanku dalam hal ini, tapi tetap saja perasaan bersalah ini tak mampu dihilangkan begitu sahaja. Aku teringat dengan ucapan suamiku tempoh hari, yang mengatakan untuk membuat perhintungan dengan En Jamal. Aku belum tahu apa yang akan dilakukan oleh suamiku, tapi takut suamiku akan berbuat nekad dan malah membahayakan dirinya sendiri.
Tak terasa beberapa hari ini ku tempohi dengan lancar. Tidak adanya En Jamal di pejabat membuatkan aku bersikap normal tanpa dibuat-buat di depan teman-temanku. Rasa sakit yang kurasakan di bagian intimku juga sudah hilang. Namun Ridhwan masih belum menyentuhku sejak kejadian tempoh hari. Katanya, dia takut aku masih trauma atau sakit. Aku sendiri tidak pasti adakah aku masih mampu melayani suamiku seperti sebelumnya atau belum kerana bimbang aku masih terbayang kejadian malam itu.
Hari Isnin berikutnya En Jamal sudah kembali ke pejabat. Aku sempat bertemu dengannya, namun ekspresi En Jamal kelihatan normal sahaja. Sikapnya kulihat juga tak ada yang berubah, masih seperti En Jamal yang biasanya. Aku juga sempat memperhatikan teman-teman pejabatku yang perempuan saat mereka berinteraksi dengan En Jamal, tapi semua bersikap biasa-biasa saja. Aku jadi tertanya-tanya, adakah ada wanita lain di pejabat ini yang sudah diperangkap oleh En Jamal? Atau itu hanya rekaan En Jamal saja? Atau juga sedang berpura-pura biasa didepannya? Entahlah, aku benar-benar tak tahu.
Selama beberapa hari sejak En Jamal masuk lagi, tidak ada hal apapun yang terjadi. En Jamal benar-benar bersikap biasa. Bahkan tak sekalipun dia mencuba untuk menganguku. Semua yang kami lakukan di pejabat adalah 100% urusan kerja. Aku pernah dipanggil ke biliknya bersendirian, aku fikir dia akan berbuat tidak senonoh padaku,tapi ternyata tidak.
Aku merasa lega dengan keadaan ini, namun merasa jelek dengan sikap pura-pura En Jamal itu. Dia bersikap seperti seorang majikan yang baik dan bijaksana, tapi di sebalik itu dia adalah seorang perogol yang berjaya meratah anak buahnya sendiri.
Beberapa mingu kemudian , sebelum kami pulang kerja pada petang itu En Jamal tiba-tiba keluar biliknya dan mendatangi mejaku. Kebetulan hanya tinggal aku dan temanku yang bernama Azura yang masih ada disitu bersiap untuk pulang. En Jamal membawa beberapa document, kemudian meletakkannya di meja Azura, yang berada di sebelah mejaku.
“Zura, dokumen-dokumen ini tolong kamu periksa besok ya? aku dan Hanum tidak masuk pejabat besok, kami ada urusan di luar.” kata En Jamil bersahaja.
Aku terkejut mendengar ucapan En Jamal kerana sebelumnya dia tidak memberitahu apa-apapun tentang perkara ini. Azurapun juga terlihat terkejut, lalu melihat ke arahku dengan penuh tanda tanya.
“Num, besok aku jemput di rumah kamu jam 8 pagi.” Tanpa menunggu jawapanku, En Jamal terus pergi meninggalkan kami berdua.
Aku masih bingung, dan terlihat Azura juga bingung melihatku. Kami berdua kemudian terdiam sebentar. Lamunanku terhenti saat ada panggilan masuk di handphoneku, ternyata suamiku menalifon dan memberitahu dia sudah di depan pejabat untuk menjemputku. Azura yang biasanya naik LRT ke rumah ku ajak pulang bersama. Aku sering menumpangkan Azura pulang kerana rumah kami sama arah.
Sampai di rumah, aku tak menceritakan hal tadi kepada Ridhwan. Sebenarnya aku sudah berniat untuk cerita, namun setelah kulihat Ridhwan sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga terpaksa menyambung kerjanya dirumah. Ku kurungkan niatku untuk memberi tahunya, aku tak mahu menambah beban pikirannya. Aku sendiri masih bingung membayangkan, apa yang akan terjadi besok hari.
Keesokan harinya, seperti biasa aku bangun lebih awal dari suamiku. Setelah mandi aku siapkan sarapan untuknya, baru dia kubangunkan. Dia masih terlihat mengantuk kerana semalam tido lewat menyiapkan kerjanya. Setelah dia selesai mandi dan bersiap, kami sarapan bersama.
“Sayang, hari ini abang ada meeting pagi. Sayang boleh drive sendiri ke pejabat?” tanya suamiku.
“Oh Ok bang, sayang drive sendiri nanti” Jawab ku.
“Sorry Sayang. Harini mungkin abang balik lewat sebab banyak kerja” Tambah suami ku lagi.
Memang setiap 3 bulan sekali, suamiku akan sibuk dengan kerja audit. Waktunya tidak menentu, kerana itulah kadang-kadang suamiku akan sibuk dan pulang lewat untuk menyiapkan kerjanya. Di hari audit, biasanya memang suamiku akan pulang lewat. Bahkan pernah sekali, jam 3 pagi baru Ridhwan baru sampai rumah.
Namun aku bersyukur kerana tak perlu mencari alasan untuk berangkat sendiri. Aku sebenarnya masih buntu untuk beralasan apa, tidak mungkin aku beritahu yang En Jamal yang akan menjemputku, pasti konsentrasi Ridhwan tergangu di pejabatnya nanti.
Setelah sarapan, tak menunggu lama Ridhwan terus berangkat. Aku mengemas sisa sarapan kami, kemudian aku menukar pakaian. Aku memakai baju kebaya berwarna merah dipadankn tudung sedondon bercorak bunga-bunga dengan make up natural. Entah kemana akan dibawa kemana pun aku aku tak tahu dan aku tak mampu menolaknya. Setelah berpakaian dan berdandan seadanya.
Sekitar jam 8 lebih kudengar bunyi kereta berhenti di depan rumahku. Dari tingkap rumah, ku lihat En Jamal sudah sampai. Dengan dada berdegup kencang aku keluar dari rumah, mengunci pintu lalu masuk ke dalam kereta dan duduk di sebelah En Jamal.
“Sudah siap?” tanyanya.
“Kita nak kemana Encik? Nak buat apaa?” tanya ku untuk kepastian.
“Kita ke rumahku. Nak buat ape? Hanum sudah tahu kan? hahaha..” Jawapnya sambil ketawa.
“Encik.. Saya rayu, hentikan semua ini. Saya tak mahu menghianati suami saya lebih jauh lagi. Cukupla apa yang terjadi pada bulan lepas..”rayu ku sambil mata ku sudah mula berkaca dengan air mata ku.
“Hahahaha Hanum Hanum. Aku tak kan jemu dengan tubuh mu? hermmmm.. kamupun tidak menolak bukan? Buktinya, kamu tidak berangkat ke pejabat terus dan menungu ku. Malah berpakain cantik lagi? Padahal kamu pasti sudah tahu, apa yang aku mahu dari kamu. Atau jangan-jangan, kamunya juga mahu? Kamu ketagih ya dengan penis ku? Hahahaha…” Jawabnya sambil meramas-ramas penisnya dari luar seluarnya.
“Bukan! Saya tiada pilihan bukan?!” ucapku agak dengan tegas. Aku tidak terima dengan jawapannya.
“Hahahaha.. maksudnya kamu tak bodoh. Kamu tahu tiada pilihan lain. Sudah, jom kita ke rumah ku. Aku tak sabar nak ratah tubuh mu.” balas En Jamal sebelum terus memandu.
Aku hanya mampu diam dan pasrah sahaja, kami diam sepanjang kereta itu dipandu kerumahnya. Kereta kami terus dipandu hinga masuk ke sebuah kawasan perumahan elit di KL. Ini kali pertama aku ke rumah En Jamal. Kereta kemudian masuk ke halaman sebuah rumah yang agak terasing dengan rumah yang lain. Kulihat di halaman rumah itu sudah terparkir sebuah kereta mewah. Adakah mungkin itu kereta isteri En Jamal? Tapi kalau isterinnya di rumah, kenapa dia mengajakku ke rumahnya? Bukan ke tempat lain? Ataukah mungkinkah ini kereta orang lain? Kalau ada orang lain, apa maksud En Jamal mengajakku kemari? Adakah dia berniat untuk menyuruhku melayani orang lain juga? bulu roma ku berdiri membayangkannya. Semoga tidak terjadi dan berharap itu adalah kereta En Jamal sendiri.
“Mari sayang, kita turun. ada orang tunggu.” Suara En Jamal mengangu lamunan ku.
“Maksud Encik? Siapa yang menunggu? Apa yang En Jamal mahu sebenarnya? Jangan macam-macam Encik, saya tak mahu!”jerit ku.
“Sudahlah, kamu itu sudah jadi hamba ku sekarang. kamu harus menuruti apa sahaja perintahku, itu saja. Sudah cepat!!!” Jerkah En Jamal kembali.
En Jamal lalu menarik tanganku. Mahu tak mahu aku terpaksa mengikutinya. Aku bertanya-tanya, siapakah yang sedang menunggu kami? Dan apa yang yang akan dilakukan oleh En Jamal kepadaku? Pintu dibuka, aku terkejut melihat siapa yang sedang duduk di ruang tamu. Aku menatap tak percaya ke arah ruang tamu dan En Jamal bergantian. Apa maksudnya semua ini??
Point of View Ridhwan
Hari ini aku terpaksa berbohong kepada isteriku, Hanum. Sebenarnya hari ini aku tidak masuk kerja, tidak ada audit juga. Hari ini aku ada janji untuk bertemu dengan seseorang, yang akan aku kira mampu membantu untuk memberi pelajaran kepada si Jamal celaka itu, jantan tak guna yang sudah memperkosa isteriku.
Hari ini aku mengambil cuti tahunan. Aku tidak memandu ke pejabat, tapi ke arah pingir bandar, tempat aku berjanji bertemu dengan orang itu. Dia ini tak lain adalah teman lamaku. Temanku semasa sekolah dulu, dari sekolah rendah dulu. Sudah lama kami tidak bertemu sejak kami hingga habis SPM, kerana aku melanjutkan pelajaran di selatan Malaysia, sedangkan dia masuk menyertai angota polis. Kami hanya keep in touch melalui media sosial. Namanya Lina.
Pada awalnya aku tidak tahu untuk meminta tolong pada siapa untuk menangani masalah yang sedang dihadapi oleh Hanum. Aku bimbang jika perkara ini direport ke pihak polis, aku tidak mempunyai cukup bukti untuk mendakwa Jamal. Pasti En Jamal akan mengupah perguam yang hebat untuk menepis dakwaan ku. Malah mungkin En Jamal akan menyebarkan video rakaman itu sambil menfitnah isteriku yang mengodanya. Aku buntu hinggalah aku terlihat Lina di news feed media sosial ku. Aku lantas PM Lina untuk mendapatkan no phonenya sebelum aku menelefonnya sebelum mintanya untuk berjumpa pada hari ini. Kami memang berjanji untuk berjumpa di restoren ini. aku terus memesan menu untuk sarapan sebelum Lina sampai 5 minit kemudian. Kami hanya berbual kosong sahaja, sambil menikmati sarapan kami.
Meskipun Lina seusia denganku iaitu 35 tahun, namun dia masih belum berkahwin. Dia kelihatan masih cantik walaupun penampilannya agak kasar. Berambut pendek, berkulit sawo matang dan tubuhnya kelihatan agak berotot. Setelah menghabiskan makanan,akupun menceritakan semuanya kepada Lina, sedetail apa yang diceritakan Hanum kepadaku. Mulai dari bagaimana dia hampir diperkosa 4 lelaki bertopeng hingga Hanum diperdaya olah Jamal, sehingga Hanum sama sekali tidak mampu melawan ketika dia diperkosa.
Aku agak emosi waktu cerita semua itu, dan aku memberitahunya untuk memberi pembalasan kepada si Jamal itu, tapi aku bingung kerana dia mempunyai status yang lebih tinggi malah mempunyai anak buah yang sedia membuat kerja kotornya sedangkan aku tidak punya siapa-siapa. Aku juga jelaskan alasanku kenapa aaku minta bantuan pada Lina. Dia hanya diam mendengarkan cerita ku sambil sekali sekala menganguk faham. Dia tampak tenang, tak ada emosi di wajahnya. Mungkin dia memang sudah biasa mendengar cerita seperti itu.
“Jadi begitu lah ceritanya Lina” ucapku mengakhiri ceritaku dengan nada sugul.
“So, whats your plan?” balasnya ringkas
Aku memberi tahunya aku masih buntu dan tidak cukup bukti untuk melporkan hal ini pada pihak polis. Lina menganguk paham sebelum dia sukarela untuk membantu ku menyiasat kes ini tanpa bantuan rakan-rakannya dahulu. Dia merancang untuk mengitip Jamal sendirian sehingga dapat moment yang sesuai untuk menangkap Jamal ketika dia mencabul isteri ku lagi. Dia juga berpesan kepada ku supaya memerhatikan Hanum kerana bimbang mungkin Hanum sudah mula merahsiakan perkara ini dari aku kerana perasaan malu dan fobia.
Sedar tidak sedar, Sudah pun 4 jam kami berbual di restoren itu. Lina mengajak ku keluar dan berbincang di rumahnya untuk membincangkan detail rancangannya. Setelah selesai berbincang, aku pulang kerumah ku. Hingga 10 malam kami berbincang. Sebelum kami pulang aku mengucapkan terima kasih kepada Lina kerana kesudiannya membantu aku.
Point of View Hanum (10.00am)
Aku benar-benar tidak menyangka hal ini. Setelah pintu rumah En Jamal dibuka, kulihat di ruang tamu duduk seorang lelaki yang pernah ku temu dengannya pada bulan lepas. Lelaki itu tak lain tak bukan adalah Dato Borhan, yang mengangu ku di waktu seminar tapi diselamatkan oleh En Jamal dengan mengaku menjadi suamiku di depannya.
Kulihat Dato Borhan dengan senyum yang menjijikkan ku menyambut kedatanganku. Aku menoleh ke arah En Jamal yang berdiri di sampingku, meminta penjelasan untuk ini semua, tapi dia hanya tersenyum dan mendorongku untuk melangkah masuk. Setelah itu dia kembali menutup pintu rumahnya. Ketika ini aku berada di ruang tamu rumah ini bersama dengan 2 orang lelaki. Perasaanku jadi semakin takut. Aku membayangkan apa yang akan mereka lakukan padaku. Aku dipaksa duduk oleh En Jamal di salah satu kerusi di ruang tamu itu. Dia kemudian masuk ke dalam, membiarkanku hanya berdua saja dengan Dato Borhan.
“Apa kabar Hanum sayang?” Sapanya
“Baik,” jawabku singkat. Aku masih risau dengan adanya Dato Borhan di rumah ini.
“Kamu tak usah tegang begitu, biar penis ku sahaja yang tegang, hahahaha.” Usik Dato Borhan
Aku tak membalas ucapannya. Benar-benar menjijikkan. Sesantai itu dia mengucapkan kata-kata kotor seperti itu kepadaku. Tak lama kemudian En Jamal kembali lagi ke ruang tamu, dia sudah menukar pakaiannya. Dia hanya memakai singlet putih dan boxer sahaja, sama seperti Dato Borhan.
“Mal, pet ko ni belum jinak ya?” Tanya Dato Borhan kepada En Jamal.
“Haha maklumlah Dato, baru sehari aku henjut, belum dilatih lagi. Makanya hari ini kita latih dia puas-puas, bagi dia jinak, haha.” Jawap En Jamal.
Aku benar-benar marah dengan perbualan mereka berdua. Pet? Mereka fikir aku ini binatang? bagi aku mereka berdua itu lebih hina dari binatang. Aku hanyalah korban yang dipaksa untuk melayani nafsu binatang En Jamal, dan mungkin sebentar lagi dengan Dato Borhan juga.
“En Jamal, apa maksud semua ini? Dan kenapa Dato Borhan ada disini?” Tanya ku pada En Jamal.
“Kamu belum cerita Mal?” sahut Dato Borhan.
“Belum, haha. Begini sebenarnya Hanum sayang, Dato ini sebenarnya adalah sahabat ku. Kalau kamu fikir dulu aku yang selamatkan kamu dari dia, itu hanyalah sandiwara kami sahaja. Sama seperti 4 lelaki bertopeng tempoh hari. Semua ini sudah aku rancang, supaya kamu percaya pada aku sayang. Dan sekarang, tiba waktunya untuk kamu melayan berdua, serentak.” Terang En Jamal kepada ku.
“Benar Hanum. Aku dan Jamal adalah sahabat, kami punya hobi yang sama, yaitu menikmati tubuh wanita-wanita cantik bertudung seperti kamu. Kami juga sering bertukar wanita, seperti sekarang, kamu juga harus melayaniku.” Tambah Dato Borhan pula.
Aku hanya mampu diam, lidahku kelu. Pagi tadi aku fikir, aku hanya perlu memenuhi nafsu serakah En Jamal sahaja, namun aku salah. Selama ini aku selalu menjaga diriku, selalu menjaga tubuhku agar hanya suamiku saja yang boleh menyentuhnya. Tapi setelah bulan lepas dipaksa En Jamal, sekarang aku harus melayani orang lain lagi. Dan lepas ini, entah siapa lagi yang harus aku layani?
“Mal, kamu rasa si Hanum ini mampu disondol kita berdua? Dulu kamu cakap kamu seorang sahaja sudah buat dia pengsan.” Soal Dato Borhan pada En Jamal.
“Haha rilex Dato. Kalau dia tak tahan, aku panggil Pet ku yang lain pula. Yang penting hari ini kita puas, haha.” Jawap En Jamal.
Sial mereka berdua ini. Mereka benar-benar menganggap aku, dan wanita lain sebagai Pet mereka. Aku benar-benar marah dengan keadaan ini, tapi aku boleh buat apa? Lari dan menghilangkan diri? Sekarang sahaja sudah mustahil untuk melawan mereka berdua. Belum lagi kalau En Jamal benar-benar menyebarkan video waktu itu. Bagaimana juga perasaan Ridhwan kalau tahu hal ini? Ridhwan, maafkan aku bang, sekali lagi harus menghianatimu, dan pasti aku tidak mampu untuk ceritakan semua ini kepada kamu.
“Baiklah, aku sudah tak tahan ini. Mari sayang kita ke dalam.” Dato Borhan kemudian berdiri menghampiriku. Dia menarik tanganku dan mengajakku ke bagian dalam rumah ini. Akupun hanya bisa menurut tanpa membantah.
Dato Borhan ini, ku kira mungkin berumur dalam 50 an. Badannya juga tinggi besar seperti En Jamal, tapi kulihat perutnya sedikit buncit. Aku terfikir adakah kemaluan lelaki ini juga sebesar punya En Jamal? Kalau sama atau lebih, pasti aku diseksa teruk nanti. Sampai di di ruang tengah, Dato Borhan duduk di sofa, sedangkan aku masih berdiri di depannya. Tak lama kemudian En Jamal menyusul kami. Diapun duduk di samping Dato Borhan. Aku tak tahu apa yang harus dilakukan, sehingga diam saja. Kedua lelaki jahanam itu hanya tersenyum melihatku. Tiba-tiba, Dato Borhan menarik turun boxernya hingga nampaklah batang kemaluannya, walaupun masih tertidur namun sudah terlihat besar. Aku berasa ngeri melihat penis orang tua ini.
“Sini sayang, hisap batang pusaka ku” perintahnya dengan santai.
Aku masih tak bergerak. Masih diam berdiri. Melihatku hanya diam, En Jamal berdiri dan melangkah ke belakangku. Tiba-tiba dia mendorongku hingga terjatuh di tubuh Dato Borhan.
“Hei, dia itu sama seperti aku, tuanmu. Apa yang dia perintah, kamu harus menurut, paham!” En Jamal membentakku dengan kasar, sedangkan Dato Borhan hanya tersenyum saja.
“Sudahlah Jamal, tak perlu kasar pada wanita secantik Hanum. mari sayang, cepat hisap batangku, buat dia keras, kamu suka kan yang keras-keras?” Ucapan dan senyuman Dato Borhan benar-benar menjijikkan buatku. Aku berusaha bangkit, tapi Dato Borhan menahan tubuhku.
“Kalau kamu tak mahu menurut, aku akan lebih kasar daripada Jamal,” bisiknya di telingaku.
Dia kemudian mendorong tubuhku hingga bersimpuh di depannya, di depan kedua kakinya yang sudah terkangkang lebar. Aku masih diam, aku benar-benar tak rela melakukan hal ini.
“Hmmmpphh…” Tiba-tiba saja En Jamal mendorong kepalaku dari belakang, hingga wajahku menyentuh penis Dato Borhan.
“Cepat hisap atau kamu lebih suka dipaksa secara kasar?” Bentakkan En Jamal kembali ku dengar, aku hanya mampu menangis pasrah. Perlahan kugerakkan tanganku, menyentuh batang penis yang masih terkulai lemah itu. Tanganku benar-benar bergetar saat menyentuhnya. Kulirik Dato Borhan, dia tersenyum puas mengetahui aku sudah pasrah dan menyerah.
Perlahan-lahan kugerakkan tanganku, naik turun mengurut batang penis itu hingga perlahan-lahan mulai membesar. Penis itu akhirnya berdiri tegak meskipun aku tahu belum maksima. Aku sedar tadi aku diperintahkan untuk mengulumnya, tapi aku masih tak sangup. Jadi aku masih terus mengocoknya sahaja, dan kocokanku semakin kupercepat.
“Hanum, tadi aku suruh kamu mengocok sahaja? Mari sayang, jilati, masukan ke mulut mu sayang seksi itu,” perintah Dato Borhan.
Dengan ragu-ragu bercampur perasaan takut, aku mulai dekatkan kepalaku menuju ke penis besar itu. Batinku berperang, haruskah aku melakukan ini lagi? Sementara suamiku saja tak pernah mendapat servis seperti ini dariku? Hanya En Jamal yang pernah merasakan mulutku, dan kini, Dato Borhanlah yang akan merasakannya.
Dato Borhan sudah tidak sabar lalu meraih kepalaku dan menariknya, membuat wajahku kembali menyentuh penis itu. Aku memejamkan mataku, dan air mataku tak mampu ku bendung lagi.
“Cepat, atau kamu mau dikasari sahaja?” ucapan Dato Borhan sebenarnya terdengar santai dan lembut, tapi buatku itu adalah perintah tegas yang tak mampu kutolak.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa aku mendekatkan bibirku di penis Dato Borhan. Kucium kepala takuk yang besar itu. Kulirik lagi ke arah Dato Borhan, dia menjulurkan lidahnya, memintaku untuk menjilati penisnya.
Aku menarik nafas dalam-dalam sambil terpejam, menekadkan diriku untuk melakukan ini. Maafkan aku Ridhwan, aku tidak pernah menginginkan hal ini, tapi aku tak punya pilihan untuk menolak. Sekali lagi, maafkan aku bang.
Selanjutnya yang terjadi adalah, lidahku mulai menyapu permukaan kulit penis Dato Borhan. Dari ujung ke pangkal, kujilati semuanya. Setelah itu aku dengan susah payah memasukkan penis besar itu di mulutku. Kuhisap dan kukulum kejantanan Dato Borhan, sesekali lidahku bermain, menjilati kepala penis Dato Borhan yang ada di dalam mulutku.
“Uughh, sedapnyaaaa, hisapan mu bukan seperti orang amatur, hahahaha. teruskan sayang, puaskan aku, aahhh..” Aku tak peduli dengan apa yang dia katakan. Bagiku, aku hanya melakukan semua ini kerana terpaksa, dan juga agar semua ini cepat berakhir.
Untuk beberapa saat aku terus mengulum penis Dato Borhan. Desahannya terus terdengar di telingaku. Lama kelamaan aku dapat merasakan penis yang ada di dalam mulutku ini semakin mengeras, dan aku semakin kesulitan untuk mengulumnya. Tapi aku tak bisa melepaskannya kerana tangan Dato Borhan terus menahanku, bahkan kadang menggerakkannya ketika kepalaku berhenti.
Sekarang aku merasakan kedua tangan Dato Borhan memegang kepalaku. Bukan hanya memegang, tapi dia memaksaku untuk menggerakkan kepalaku lebih cepat dan lebih dalam lagi. Ujung kepala penisnya beberapa kali menyentuh kerongkonganku membuatku tersedak dan ingin muntah. Aku berusaha meronta, apalagi saat kurasakan penis itu mulai berdenyut-denyut. Tenagaku jelas kalah dibanding Dato Borhan. Semakin sering aku tersedak, dan hampir saja aku muntah kerananya. Aku bahkan bisa merasakan air liurku keluar dari sela-sela bibirku saat Dato Borhan menarik kepalaku menjauh, sebelum kemudian mendorong lagi hingga penis itu tertelan kembali jauh ke dalam mulut ku.
“Aahh mulutmu nikmat sayang, aahh aku mau keluaarr..” Aku menjadi panik mendengarnya.
Aku memang pernah dipaksa oleh En Jamal untuk menelan spermanya, dan aku sama sekali tak menyukai rasanya hingga kumuntahkan kembali pada waktu itu, meskipun sebahagian airnya tertelan. Dan kali ini, Dato Borhan sepertinya akan melakukan hal yang sama. Aku semakin berontak, tapi tetap saja tak bisa lepas, hingga saat akhirnya dia menekan kepalaku kuat sekali hingga masuk habis kedalam mulut ku penisnya.
“Aaaaaahhhhh…”
“Hooorrrkkk…”
Lenguhan panjang dari Dato Borhan, di ikuti dengan aku yang hampir muntah, kerana saat itu penisnya mengeluarkan banyak sekali cairan kental yang sangat menjijikkan. Beberapa kali penis Dato Borhan memancutkan spermanya di dalam mulutku. Aku mencoba menahan untuk tidak menelannya, tapi kepalaku terus ditahan hingga aku hampir tidak bernafas. Mahu tak mahu, akupun menelan semua cairan yang ada di dalam mulutku itu. Rasanya benar-benar menjijikkan.
“Uhuuukk uhuuukk…” Aku langsung terbatuk-batuk saat kepalaku dilepas oleh Dato Borhan.
Sisa-sisa sperma yang masih tidak tertelan kuludahkan keluar. Aku terus menangis terisak-isak diperlakukan seperti itu, sedangkan kedua lelaki biadab itu tertawa penuh kepuasan.
Penderitaanku belumlah selesai. Baru sahaja bisa menarik nafas panjang, tubuhku ditarik oleh En Jamal, yang sudah telanjang bulat. Dia juga memintaku untuk mengoral penisnya. Aku cuba ingin melawan tapi belum apa-apa dia sudah memaksakan penisnya untuk masuk ke dalam mulutku.
En Jamal menahan kepalaku, hingga aku tak mampu bergerak. Dia mendiamkan saja penisnya yang belum tegang maksimal itu di dalam mulutku. Waktu itu kugunakan untuk sedikit mengambil nafas lagi. Setelah itu tanpa belas kasihan, penis En Jamal terus menghenjut mulutku. Aku masih belum sempat untuk menghela nafas lagi, dia dengan kasar menyetubuhi mulutku. Aku hanya pasrah, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku.
Ketika itu tubuhku mulai dijamah dari belakang. Itu pasti Dato Borhan. Tangannya dengan nakal meraba kedua payudaraku yang masih tertutup rapi oleh pakaianku. Satu persatu butang kebaya ku dibuka dan diselakkan disamping tanpa melepasnya. Bra yang menutupi kedua payudaraku diangkat ke atas, membuat kedua bukit kembarku itu sekarang bebas dijamahnya.
“Wah tubuh kamu bagus juga Num, dadamu kenyal, montok, haha. Tak salah pilih mangsa kamu Mal,” ucap Dato Borhan terdengar di telingaku.
“Haha, tentu saja. Mana pernah mangsaku mengecewakan, betul kan?” Balas En Jamal
“Baguslah, kita boleh menikmati wanita ini seharian sampai puas, haha.” Dato Borhan ketawa puas.
Aku hanya mampu menangis mendengar mereka bersembang terus menghenjut tubuhku. Tangan Dato Borhan terus meraba dan meremas buah dadaku. Puting susuku juga tak lepas dari jamahannya. Digentel lembut, kadang-kadang ditarik kasar. Malah payudaraku diramas juga dengan kasar. Aku yang kesakitan tak boleh buat apa kerana sekarang masih terus dipaksa mengoral penis En Jamal.
Tiba-tiba kurasakan tubuhku digerakkan oleh Dato Borhan. Dia memaksaku berposisi menonggeng. Aku kini bertahan pada kedua tangan dan lututku, sambil kepalaku yang tertahan terus digerakkan maju mundur oleh En Jamal. Dalam posisi itu, kurasakan kain kebaya ku disingkap ke atas oleh Dato Borhan.
“Plak… Plak… Plak…”
“Eehhhmmpp…”
Beberapa kali pungungku ditampar oleh Dato Borhan. Teriakanku tertahan oleh penis En Jamal yang masih bergerak maju mundur di dalam mulutku. Dato Borhan sepertinya sangat menyukai pungungku. Aku merasakan kedua bongkah pungungku kini semakin panas, mungkin sudah memerah.
Setelah beberapa kali menampari pungungku, kurasakan seluar dalamku ditarik turun oleh Dato Borhan. Aku tak mampu melawan, air mataku yang semakin deras tak terbendung. Aku tak pernah membayangkan akan diperlakukan seperti ini. Apa yang terjadi antara aku dan En Jamal bulan lepas, itu sudah kuanggap yang paling hina yang pernah kualami. Kali ini aku diperlakuan yang lebih hina lagi, tanpa sedikitpun aku mampu melawan.
Tak lama kemudian kurasakan daerah terlarangku mulai diraba oleh Dato Borhan. Jari-jarinya diusap-usap ke bibir vaginaku, hingga membuatku kegelian dan beberapa kali menggelinjang. Sesekali dia juga menusukkan jarinya ke dalam vaginaku, dan itu semakin membuatku menggelinjang. Sampai akhirnya dia menemukan biji di daerah bibir vaginaku, dia gesek-gesek dengan jarinya, membuat tubuhku makin bergerak tak karuan.
Biji kecil klitoris itu adalah kelemahanku. Aku tak pernah mampu menahan jika biji itu sudah dirangsang. Ridhwan selalu membangkitkan gairahku dengan merangsang daerah itu. Dan kini, orang lain yang melakukannya. Dato Borhan lalu menarik jarinya dari daerah telarang ku, tapi tak lama kemudian kurasakan sapuan lidahnya di sepanjang bibir vaginaku. Aku yang terkejut langsung berusaha meronta, tapi kerana masih ditahan oleh En Jamal, rontaan ak jadi sia-sia.
Jilatan lidah Dato Borhan sampai juga di klitorisku. Dijilat dan dihisapinya biji itu hingga membuat tubuhku benar-benar geli. Disaat yang bersamaan, dia masukkan jarinya menusuk lubang vaginaku.
“Eeeemmppphhh…”
Crok… Crok… Crok…
Desahanku tertahan lagi. Bunyi becak jolokan jari Dato Borhan di lubang vaginaku sendiri sampai terdengar olehku. Vaginaku sudah basah. Bukan kerana aku menginginkannya. Tapi aku hanyalah wanita biasa, yang punya kelemahan. Dan sekarang Dato Borhan sedang mengeksplotasi kelemahanku itu.
Cukup lama Dato Borhan melakukan itu, hingga membuatku semakin tak tahan. Akhirnya aku melampiaskan semuanya dengan menghisap lebih dalam dan keras penis En Jamal yang masih ada di mulutku. Aku dipaksa menyerah kalah oleh kedua lelaki itu, hingga akhirnya sebuah desahan panjang yang tertahan mewarnai orgasme pertamaku hari itu. Tubuhku menegang. Mataku terpejam dan mulutku masih menghisap kuat penis En Jamal.
“Uuugghh mantap hisapan mu Num.haha.” Puji En Jamal
Aku tak peduli dengan kata-kata En Jamal. Aku hanya melampiaskan apa yang aku rasakan, itupun kerana dipaksa oleh mereka. Aku mahu menarik kepalaku untuk mengambil nafas dulu, tapi En Jamal masih saja menahan kepalaku. Dia yang sedari tadi dalam posisi berdiri, malah menarikku saat dia berjalan mundur, hingga membuatku merangkak. Aku benar-benar merasa hina, merangkak ke depan dengan sebuah penis masih berada di dalam mulutku.
Akhirnya En Jamal duduk di kursi, dan aku masih tetap tak dilepaskannya. Posisiku masih menungging. Lalu aku dipaksa lagi oleh En Jamal menaik turunkan kepalaku, memberikan servis pada penisnya. Aku sudah pasrah, hanya menurut saja.
Ketika itulah kurasakan Dato Borhan kembali memegang kedua bongkahan pungungku. Kemudian aku merasakan sesuatu menyentuh bibir vaginaku yang masih basah. Aku tahu itu penis Dato Borhan. Sebentar lagi dia akan memasukiku. Sebentar lagi dia akan semakin menghancurkan kehormatanku sebagai isteri Ridhwan. Dan aku, tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikannya.
“Hmmmpphhh…”
Aku hanya bisa mendesah tertahan saat kepala penis yang cukup besar itu memaksa menguak bibir vaginaku. Perlahan-lahan bisa kurasakan penis itu mulai masuk. Tidak dalam, mungkin hanya kepalanya saja. Lalu dia menariknya lagi sedikit, dan mendorongnya sedikit. Mungkin dia sedang membuka jalan agar penisnya mampu masuk semua di dalam vaginaku.
“Hhmm aaarrrkkkk…”
Aku menjerit kuat ketika tiba-tiba dengan kasar dia menghentakkan penisnya ke dalam vaginaku. Kepalaku yang tak lagi dipegang oleh En Jamal, atau mungkin memang dia sengaja melepaskannya, langsung terangkat hingga mulutku terbebas dari penisnya, dan suaraku menjerit dengan nyaringnya.
“Datooooooooo aaaahhhkkk stoppp…”
Tapi Dato Borhan tak mendengarkan permintaanku. Dia terus saja menyetubuhiku dengan kasar, membuat tubuhku tersentak-sentak kedepan.
“Oouhh sempit lagi Mal, padahal sudah kamu pakai dia..sedapnya..”Kata Dato Jamal sambil menghenjutku.
“Haha, memang sudah aku pakai. Tapi sudah sebulan tidak kusentuh dia, pasti sudah mulai sempit lagi kan, haha.” Jawap En Jamal
“Aarkk Datooo aahhh pelaan pelaaannn…”
Kembali pintaku tak didengarnya. Dia masih memperlakukanku dengan kasar. Bahkan beberapa kali tangannya menampar-nampar pungungku lagi. Dia juga meraih payudaraku yang berggantung dan meremasnya dengan kasar. Aku benar-benar merasa kesakitan saat ini. Sementara En Jamal yang berada di depanku tertawa puas melihatku diperkosa dengan kasar begini.
Tidak mahu hanya diam, En Jamal kemudian meraih kepalaku lagi, lalu memaksaku untuk mengoral lagi penisnya. Aku hanya bisa menurut. Rasa sakit yang kurasakan ini kulampiaskan dengan menghisap penis En Jamal kuat-kuat. Tanpa dipegangi lagi kepalaku naik turun dengan sendirinya. Bukan aku ingin memberikan kepuasan pada En Jamal, hanya saja ini kulakukan agar aku dapat mengimbangi rasa sakitku.
Penis Dato Borhan yang besar terus mejolok lubang kemaluanku. Kurasa besarnya hampir sama dengan milik En Jamal, begitu juga dengan panjangnya. Aku benar-benar tersiksa dengan ukuran penis itu.
Cukup lama Dato Borhan memperkosaku dari belakang, dan aku mulai merasakan kalau rasa sakitku mulai berkurang. Namun aku tidak ingin menikmati persetubuhan ini, meskipun vaginaku mulai bereaksi sebaliknya. Vaginaku semakin banjir. Tapi ini bukan kerana menikmati, ini hanya reaksi natural vaginaku untuk memberikan pelincir, agar aku tak lagi kesakitan pujuk hati ku.
“Aaahh aaahh, Mal, perempuan ini sudah mulai menikmati batangku. Pantatnya sudah lencun!!” Teriak Dato Borhan.
“Haha, perempuan mana yang tahan dihenjut, iya kan Hanum sayang?” Jawap En Jamal.
Aku yang masih terus mengulum penis En Jamal menggelengkan kepalaku, menolak untuk membenarkan semua itu. Tidak! Aku tidak menikmatinya. Tidak akan pernah!
Tapi kembali, tubuhku berkhianat. Semakin lama kurasakan sakit di vaginaku mulai menghilang, berganti dengan, geli, bercampur nikmat. Ah tidak, ini bukan nikmat, tapi ini… Aahh tidak, maafkan aku Ridhwan..
Aku terus menangis. Aku sekuat tenaga menjaga agar tak menikmati semua ini. Tapi apakan dayaku, aku hanya perempuan biasa. Diperlakukan seperti ini, lama-lama pertahananku runtuh juga. Vaginaku mulai mengemut kuat, dan aku yakin Dato Borhan merasakan itu. Terbukti, dia semakin mempercepat goyangannya, yang membuatku tak mampu lagi bertahan, hingga melepaskan penis En Jamal dari mulutku.
“Aaah Datoooo.. sudaaahh.. aahh pelaan.. aku… aahh aku mahu…. aaahhhh…”
Sebuah desahan panjang akhirnya tak mampu kutahan saat kurasakan gelombang dahsyat menerpaku. Aku kembali orgasme, saat disetubuhi oleh lelaki lain yang bukan suamiku. Tubuhku beberapa kali mengejang. Mataku tertutup dan mulutku terbuka lebar. Nafasku sudah tak beraturan. Aku kalah, benar-benar kalah.
“Haha Hanum sayang OK? Nikmat kan di henjut Dato? Ini baru permulaan sayang, nanti ada yang lebih nikmat lagi.” Kata En Jamal.
Kembali aku tak menjawab ucapan En Jamal. Aku masih terdiam, menikmati sisa-sisa orgasme ku. Iya, aku menikmatinya pada akhirnya. Entahlah, hatiku tak ingin mengakuinya, tapi tubuhku berkata lain.
Setelah membiarkanku menikmati orgasmeku, Dato Borhan menarik lepas penisnya, meninggalkan kekosongan di dalam vaginaku. Tapi itu tak bertahan lama. Tubuhku ditarik oleh En Jamal hingga kini posisiku mendudukinya. Dia melepaskan kebaya, bra, kain dan panties ku. Aku sudah telanjang kini, hanya menyisakan tudung yang masih terpasang di kepalaku, yang entah sudah seperti apa keadaan ku sekarang. Aku tahu En Jamal tak akan melepaskannya sekarang. Dia pernah beritahu, lebih bernafsu menyetubuhku yang memakai tudung. Aku juga sudah tidak punya tenaga lagi, kerana itu aku membiarkannya saja.
Setelah aku telanjang, En Jamal memposisikan penisnya ke bibir vaginaku. Kerana memang sudah basah, dan sudah terbuka oleh penis Dato Borhan tadi, kini penis En Jamal dengan cukup mudah masuk ke dalam vaginaku.
“Uuugghh sudah enciiikkkkk, Hanum penatttt…” Rayu ku
“Penat? Belum sayang, kamu belum boleh penat. Ini masih pagi, kita akan teruskan sampai sampai petamg, hahaha.” jawab En Jamal
Sampai petang? Gila! Melayan dua orang ini sampai petang? Mati lah aku? Baru sekali sahaja aku sudah secpenat ini, apalagi sampai petang?
“Cepat, gerakan pungung mu sayang, naik turun, seperti di bilik hotel dulu” perintah En Jamal.
Aku tak punya pilihan lain kecuali menurutinya. Aku tahu, menolak pun hanya dibalas dengan lebih kasar dan menyakitkan lagi. Aku tak mahu dikasari, tak mahu disakiti lagi. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku gerakkan tubuhku naik turun. Aku tumpukan kedua tanganku di bahu En Jamal. Dia kedua tangannya pula bermain di kedua buah dadaku, yang sudah terbuka kerana tudungku disingkap ke belakang.
Saat itu tiba-tiba kurasakan ada yang menyentuh pungung ku. Aku menoleh ke belakang. Dato Borhan, tampak tersenyum melihatku. Aku lirik ke bawah. Astaga, aku lupa, dia kan belum orgasme. Dan sekarang tangannya meraba pungungku, jarinya mengarah ke lubang belakangku. Apa yang dia mahu? Jangan-jangan….
“Kita main sama-sama ya sayang, hehe.” Sapa Dato Borhan.
“Datoooo jangan disitu datoo, saya tak mahu..” racau ku.
Aku hendak menarik tubuhku menjauh, tapi ditahan En Jamal dari bawah. Dia memeluk tubuhku erat sekali, membuatku menghentikan gerakkan pungungku. Saat itu Dato Borhan mengarahkan kepala penisnya ke lubang anal ku. Aku benar-benar takut. Meskipun lubang itu sudah dirobek oleh En Jamal, tapi melakukan ini serentak, diperkosa depan belakang, adalah perkara yang harus aku jauhi.
Bayang-bayang rasa sakit yang teramat sangat membuatku mencoba meronta dengan keras. Tapi tak menghasilkan apa-apa kerana kuatnya En Jamal memelukku. Dato Borhan sendiri mulai meludahi tangannya sendiri, lalu diusapkan ke lubang belakangku. Jarinya bahkan dipaksa masuk, untuk membuatnya lebar, membuka jalan. Tidak cukup 1 jari, sekarang 2 jari Dato Borhan dimasukkan untuk menjolok-jolok lubang anusku.
Dato Borhan menarik kedua jarinya. Tapi aku bukannya lega, tapi semakin takut. Kulihat lagi ke belakang, Dato Borhan kembali mendekatkan kepala penisnya di bibir anusku. Dia mulai memaksanya untuk masuk. Sementara aku menggigit bibirku sendiri, menahan rasa sakit yang mulai kurasakan.
“Aaarrkkk Datoooo, sakiiiiittt…”
Kepala penis itu sudah masuk, dan sakitnya luar biasa. Kembali aku mencoba meronta, tapi tubuhku dipegangi dengan sangat kuat, terlalu kuat.
Blesss…
“Aaaaaaaarrrrkkkkkhhhh…”
Aku menjerit sekeras-kerasnya saat tiba-tiba Dato Borhan menghentak penisnya di lubang anusku yang sempit dan kering. Pinggangnya sampai menyentuh bongkahan pungung ku, Ertinya penisnya masuk semuanya. Ini benar-benar sakit, lebih sakit daripada saat lubang itu dirobek oleh En Jamal.
Kedua lelaki biadab itu masih diam tak bergerak. Mereka seperti sedang menikmati kemutan kedua lubangku. Dato Borhan pastinya menikmati betapa sempitnya lubang anusku. Sedangkan En Jamal juga merasakan lubang vaginaku semakin menyempit kerana aku yang kesakitan.
Aku sendiri, merasakan tubuhku terbelah. Entah melecet atau seperti apa di dalam, tapi yang pasti ini sakit sekali. Pandanganku menjadi samar. Ingin rasanya aku pengsan sahaja, agar tak lagi merasakan sakit ini.
Setelah beberapa saat, mungkin hampir semenit lamanya terdiam, Dato Borhan mulai bergerak maju mundur. Liang anusku yang masih kering itu membuatku kembali merasakan sakit yang teramat. Tapi sebelum aku sempat berteriak lagi, En Jamal sudah langsung menyambar bibirku. Dia menciumiku dengan buas. Akupun membalasnya tak kalah buas. Sekali lagi, bukan aku ingin melayani atau memuaskannya, hanya sebagai pelampiasan dari rasa sakitku.
En Jamal sendiri kemudian mulai bergerak dari bawah, tapi dia bergerak lebih pelan daripada Dato Borhan. Kedua tangan En Jamal juga mulai meramas payudaraku dengan lembut, sambil terus menciumi bibirku. Lidah kami bertemu, saling mengait satu sama lain. Sedangkan Dato Borhan yang terus bergerak memperkosa liang anusku, tangannya mulai meramas bontoyku yang montok. Tidak lagi dia menamparnya, hanya meramas sahaja.
Cukup lama kami dalam posisi ini. Meskipun sudah agak berkurang, tapi tetap saja masih terasa sakit di lubang anusku. Aku sudah tak mencium En Jamal lagi. Aku merebahkan kepalaku di samping kepalanya. Bibirku terus mengeluarkan rintihan, yang mungkin bagi En Jamal malah terdengar sebagai alunan yang indah.
Sampai akhirnya aku merasakan gerakan Dato Borhan dan En Jamal mulai semakin cepat. Keduanya juga mulai melenguh, tanda begitu menikmati kedua lubangku itu. Aku sendiri masih terus merintih dari tadi. Campuran antara kenikmatan yang diberikan En Jamal di lubang vaginaku, dan rasa sakit yang masih terasa di lubang anusku.
Aku tahu mereka sudah akan orgasme, dan aku tahu mereka tak akan mencabut penisnya dari kedua lubangku. Akupun membantu mereka dengan menggerakkan otot-otot di dinding kedua lubangku itu untuk meremas penis mereka. Aku ingin semua ini cepat selesai, agar segera selesai juga rasa sakitku.
“Aaahh gilaa, aku tak tahan lagi, lubang perempuan ini sedapppp…”
“Aku juga Dato, pantatnya masih ketat, aku tak tahan…”
Kudengar keduanya mulai meracau. Aku sendiri, jujur aku juga sudah mulai dekat dengan orgasmeku. Titik-titik tertentu di dalam vaginaku berkali-kali tersentuh oleh penis En Jamal, dan itu membuat pertahananku rasanya tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Meskipun anusku masih terasa sakit, tapi aku juga merasakan nikmatnya.
Gerakan mereka berdua semakin cepat dan cenderung kasar. Aku semakin mengencangkan otot di kedua lubangku, meskipun akibatnya kembali aku harus menerima rasa sakit di anusku. En Jamal kemudian meremas kedua buah dadaku dengan kasar, begitu juga dengan Dato Borhan di kedua bongkahan pungungku.
“Aku keluaaaaaaarrrr… Aaaaahhhhh…”
“Aaaaaahhhhhh…”
Desahan dan rintihan kami bertiga terdengar bersamaan. Bersama dengan itu aku merasakan kedua lubangku disiram oleh cairan hangat mereka. Aku sendiri tak mampu bertahan, akupun orgasme bersama dengan kedua pemerkosaku itu.
Entah berapa banyak cairan sperma yang masuk ke dalam rahim dan anusku, yang kurasakan hanya hangat saja di dalam sana. Tubuhku yang sempat menegang beberapa kali, langsung tumbang menimpa tubuh En Jamal.
Nafas kami bertiga tehengah-hengah, terutama aku, yang ditutuh oleh kedua lelaki ini. Mereka juga tak mencabut penisnya terus, masih mendiamkan dulu untuk beberapa saat. Baru kemudian Dato Borhan menarik lepas penisnya, disusul En Jamal tak lama kemudian. Aku merasakan kedua lubangku terbuka lebar, dan cairan sperma mereka cukup banyak mengalir keluar.
En Jamal mengangkat tubuhku dan menidurkan di sampingnya. Penampilanku sudah entah seperti apa, aku sudah tak peduli lagi. Aku hanya memejamkan mataku, dan air mataku juga masih mengalir membasahi pipiku. Tubuhku rasanya remuk, lemas, hingga aku tak sanggup bergerak lagi.
Tapi itu hanya awal dari penderitaanku hari itu. Setelah membiarkanku beristirahat selama beberapa minit, mereka kemudian mengunakan tubuhku lagi habis-habisan. Kadang bergantian, kadang aku dipakai depan belakang, hingga rasanya aku sudah mau pengsan saja. Mereka memancutkan spermanya ke sekujur tubuhku, hingga tudungku yang belum dilepas ikut basah juga oleh sperma mereka.
“Sudaaah, Hanum udah nggak sanggup lagii..”
Aku hanya bisa merintih saat kulihat Dato Borhan kembali menjamah tubuhku. Entah bagaimana lelaki ini masih begitu kuat. Kulihat penisnya juga sudah tegang lagi. Padahal dia sudah berkali-kali menyetubuhiku hari ini. Aku sempat melirik jam, sudah jam hampir 2 petang, ertinya sudah lebih dari 4 jam aku berada disini dan diperkosa oleh mereka. Aku hanya pasrah saat penis Dato Borhan dengan mudahnya memasuki lubang vaginaku. Aku sudah tak punya tenaga lagi untuk melawannya. Aku biarkan saja dia berbuat apapun pada tubuhku. Saat itu samar-samar ku dengan loceng rumah ini berbunyi. Aku menoleh, kulihat En Jamal dengan santainya, masih dalam keadaan telanjang bulat berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
“Afternoon tuan,” kudengar suara seorang perempuan. Kalau aku tidak salah, itu adalah suara Azura. Kenapa Azura kesini? Disuruh En Jamal?
Dan ternyata benar, tak lama kemudian kulihat Azura berjalan kemari ditarik tangannya oleh En Jamal. Dia begitu terkejut melihatku, begitu juga aku. Barulah ku tahu rupanya Zura juga sudah terperangkap dengan helah En Jamal.
“En Jamal, ini apa?” tanya Azura.
En Jamal tak menjawabnya, tapi langsung memeluk tubuh Azura. Kulihat tak ada perlawanan dari Azura. Kerana mungkin dia sama sepertiku, sudah menjadi hamba seks En Jamal. Azura hanya diam saja ketika dia ditelanjangi. Baju kurungnya satu persatu lepas dari tubuhnya, begitu juga dengan pakaian dalamnya. Dia sekarang sama sepertiku, hanya menyisakan tudung di kepalanya saja. Walaupun Zura lebih kurus dari ku, ukuran dada dan bontotnya tidak kalah dengan ku menghasikan posture tubuh yang lebih sexy.
Tanpa banyak bicara, En Jamal menyeret Azura dan dibaringkan di sampingku. Zura sempat menatapku dengan tatapan pasrah, begitu juga denganku. Sepertinya En Jamal tidak ingin menungu lama, tidak ingin pemanasan dulu dengan Azura, terus dihenjutnya sekuat hati penisnya kedalam vagina azura.
“Aaahh encikkkk… masih keriiing…” Kudengar Azura menjerit dan tubuhnya mengejang.
“Ah diam kamu..” En Jamal langsung saja menghentak-hentakkan penisnya di vagina Azura.
Tubuhnya melonjak-lonjak membuat kedua buah dadanya bergerak naik turun. Dato Borhan rupanya tak mau kalah, dia yang tadinya menyetubuhiku dengan lembut, tiba-tiba berubah kasar. Azura masih terus merintih dan menjerit, tapi tak melakukan perlawanan. Sedangkan aku, bahkan untuk merintih saja sudah terlalu lemas, sudah tidak ada tenaga lagi.
Beberapa menit disetubuhi seperti itu, kurasakan Dato Borhan menarik lepas penisnya. Aku membuka mataku, melihat apa yang dia lakukan. Ternyata dia bertukar dengan En Jamal. Dia ganti menyetubuhi Azura, sedangkan En Jamal menyetubuhiku.
“Halo Azura sayang, udah lama tak jolok pantat mu, haha.” Aku terkejut mendengar ucapan Dato Borhan. Bererti ini bukan pertama kalinya dia menyetubuhi Azura?
Kedua lelaki itu terus menerus menyetubuhi kami. Mereka beberapa kali bergantian. Azurapun kulihat beberapa kali vaginanya disembur oleh sperma En Jamal dan Dato Borhan, sama sepertiku.
Jam sudah menunjukan 5 petang, aku sudah benar-benar lemas, sama sekali tak ada tenaga lagi, dibiarkan terbaring begitu saja. Sekarang ini Dato Borhan dan En Jamal sedang menyetubuhi Azura depan belakang. En Jamal berada di bawah dengan penisnya di vagina Azura, sedangkan Dato Borhan di atas dengan penisnya di anus Azura.
Kulihat Azura terus menerus merintih dan mendesah, tapi sepertinya dia tidak terlalu kesakitan seperti aku tadi. Mungkin kerana dia pernah merasakan yang seperti itu, berbeza dengan aku yang baru tadi pagi dihenjut depan belakang seperti itu.
Beberapa minit lamanya mereka dalam posisi itu, sampai akhirnya badan En Jamal dan Dato Borhan mengejang, diikuti tak lama kemudian oleh Azura. Ketiganya orgasme. Setelah itu mereka tampak beristirehat. Aku benar-benar berharap, acara gila ini selesai sampai disini. Sudah petang, aku ingin segera pulang. Meskipun aku tahu Ridhwan pulang lewat, tapi aku ingin segera pergi dari rumah terkutuk ini. Dan untungnya, harapanku ini terkabul.
“Zura, kamu hantar Hanum pulang boleh?” Tanya En jamal
“Iya encik, boleh” jawap Azura, meskipun nafasnya masih lelah.
“baikla, pakai pakaianmu semula, bantu Hanum juga dan terus hantar dia pulang.” Arah En Jamal
“Baik Encik” jawab Zura.
Azura terlihat begitu menurut pada En Jamal. Dia segera memakai pakaiannya, tanpa membersihkan dulu bekas sperma di tubuhnya. Setelah itu dia membantuku yang masih lemas untuk berpakaian. Dia juga tak membersihkan kesan-kesan yang menempel di tubuhku. Setelah aku selesai dipakaikan pakaian, Azura kemudian memapahku keluar rumah. Ternyata hari ini Zura membawa kereta, entah kereta siapa, kerana setahuku Azura tak memiliki kereta. Tapi aku tak ambil kesah, yang penting aku mahu segera sampai rumah.
Sepanjang perjalanan kami sama sekali tak ada yang disembangkan. Aku masih terlalu penat. Tak lama kemudian, aku sudah sampai di rumah. Azura kembali membantuku turun dari kereta dan memapahku masuk ke dalam rumah.
“Mau mandi sekali Num?” Tanya Zura
Aku hanya mengangguk. Azura hanya tersenyum, lalu membawaku ke bilik mandi. Disana dia menelanjangiku, dan menelanjangi dirinya sendiri. Kami mandi bersama. Bukan, lebih tepatnya, dia memandikanku sambil dia juga mandi sendiri. Agak aneh juga rasanya. Aku hanya pernah mandi berdua dengan Ridhwan saja, dan sekarang dengan orang lain, tapi sama-sama wanita. Setelah mandi, Azura membawaku ke bilik. Dia mengambilkan pakaianku dan memakaikannya.
“Num, aku pinjem baju kamu ya? Aku tak bawak baju ganti.”
“Iya Zura, silakan. Tapi mungkin longar buat kamu.”
Selesai Azura berpakaian, dia duduk di sampingku yang terbaring di ranjang.
“Kamu mau makan? Aku belikan makanan ya?”
Aku hanya mengangguk. Azura kemudian keluar dari bilik, entah apa yang dia lakukan. Agak lama dia berada di luar, kemudian masuk lagi. Dia membawaku ke meja makan, ternyata sudah tersedia makanan di sana. Kalau kulihat itu adalah menu makanan dari warung yang tak jauh dari rumahku.
Setelah selesai makan, dia mengemas pingan mangkuk pula. Sebenarnya sudah kularang, tapi dia berdegil, jadi aku biarkan saja. Setelah itu kamu duduk di ruang tamu. Setelah makan ini aku merasa sudah kembali bertenaga, tak lemas seperti sebelumnya.
“Zura..”
“Iya, kenapa Num?”
“Hmm, kamu tadi, kenapa kamu ke rumah En Jamal?”
Dia tak menjawab, tapi mengambil handphonenya, tak lama kemudian memberikannya kepadaku. Kulihat disitu ada chat dari En Jamal kepadanya.
‘Zura, kamu cepat ke rumahku sekarang. Si Hanum sudah larat tu. Aku dengan Dato ini.’
Begitu isi pesannya.
“Kamu sudah biasa Zura?”
“Iya Num. Yang aku tahu, En Jamal sama Dato Borhan itu suka bertukar wanita. Kalau dulu, aku dibawa En Jamal ke rumahnya Dato Borhan diluar kota. Disana aku juga dihenjut habis-habisan oleh mereka, seperti kamu tadi. Bezanya waktu itu, ada perempuan Dato Borhan juga.”
“Ooh begitu.. Hmm, tapi, sampai bila ya kita jadi hamba mereka Zura? Aku takut, mereka bakal hal yang lebih gila dari ini.”
“Entahlah Num. Tapi aku juga berharap kita lepas dari mereka berdua suatu hari nanti.”
“Aminnn.”
“Ok la Num. Kamu rehat sahaja, kamu pasti masih penat. Aku mau pulang dulu. Oh iya, baju kotor kita tadi sudah kurendam, nanti cucikan sekali ya?”
“Iya, nanti aku cucikan. Terimaa kasih ya Zura.”
Setelah Azura pulang, akupun menuju ke bilik ku. Jam sudahpun 9 malam Ridhwan masih belum pulang. Aku ingin berehat sahaja, aku benar-benar lelah hari ini. Maafkan aku Ridhwan, tidak menyambutmu pulang malam ini, maafkan juga tidak masak makan malam buat kamu, semoga kamu sudah makan di pejabat. Dan maafkan aku juga, kerana hari ini aku kembali harus dipaksa melayani orang lain, dan aku tidak akan menceritakan ini semua kepada kamu. Maaf.
bersambung..
Ilustrasi Azura
Ilustrasi hanum diperkosa
Ilustrasi zura disetubuhi
Part 3 sambungan
LLayan
Selera Kampung
Sejak aku ditukarkan ke sekolah di sebuah kampong yang terletak di pedalaman semenanjung, hidup ku semakin berubah hari demi hari. Aku merupakan seorang guru matematik yang baru keluar dari maktab. Sememangnya aku adalah lelaki yang perwatakan menarik, sederhana dan mudah menghormati orang-orang kampong. Maka tidak hairanlah boleh dikatakan semua orang kampong cukup suka kepada ku.
Kampung yang terletak jauh dari bandar dan boleh dikatakan agak ceruk juga di tempati lebih kurang 100 keluarga. Kedudukan antara rumah adalah jauh dan dipisahkan oleh kebun getah. Manakala jalan penghubung hanyalah jalan tar kecil yang hanya muat-muat untuk sebuah kenderaan sahaja. Manakala sekolah tempat aku mengajar pula menjadi tempat pelajar-pelajar dari kampung ini dan juga lagi dua buah kampung bersebelahan menuntut ilmu. Begitulah sedikit penerangan tentang kampung yang ku diami sekarang.
Aku tinggal di sebuah rumah kampung yang disewakan oleh salah seorang penduduk kampung yang berhijrah ke Bandar. Kuarters guru-guru tidak dapat menampung lagi jumlah guru-guru kerana projek pembinaan kuarters yang lebih besar masih dalam pembinaan. Walau pun rumah yang aku sewa tidak secantik mana, hanya rumah kampung beratapkan asbestos dan berdindingkan papan. Namun aku selesa mendiaminya meskipun seorang diri.
Seperti yang telah aku sebutkan sebelum ini tentang perwatakan aku dan juga hubungan ku yang baik dengan orang kampung, maka ramai orang kampung yang datang meminta berbagai bantuan dengan menjadikan aku sumber rujukan mereka dalam berbagai hal. Kelebihan aku yang mahir dalam komputer memberikan mereka semua peluang untuk merujuk aku dalam berbagai masalah komputer dan sekali gus mengajar anak-anak mereka supaya pandai mengendalikan komputer.
Selama bertahun aku menetap di kampung tersebut, selera nafsu ku juga semakin berubah. Minat ku kepada isteri-isteri orang yang matang dan montok semakin meluap-luap. Kebanyakkan suri rumah yang menetap di kampung tersebut memiliki tubuh yang montok. Maka sudah tentu masing-masing memiliki struktur tubuh yang gebu seperti tetek yang besar, malah ada yang melayut, perut yang gebu, peha yang montok serta bontot yang bulat dan besar. Tidak ketinggalan juga ramai antaranya yang kelihatan tonggek. Sudah tentu saban hari aku menelan air liur melihat punggung mereka yang bulat itu melenggok-lenggok dan bergegar di dalam kain batik sewaktu ke kedai atau ke rumah ku bagi bertanyakan berbagai pandangan berkaitan ilmiah dan kehidupan. Memang malu dan sukar untuk aku katakan, namun hakikat sebenarnya adalah aku sudah pun menikmati beberapa isteri orang sepanjang aku mengajar di sini.
Semuanya bermula dari keberanian ku mengorat kak Timah, isteri abang Azhar. Kak Timah datang ke rumah ku pada petang minggu itu bagi bertanyakan kepada ku cara untuk menutup akaun arwah emaknya yang meninggal dunia bertahun dahulu. Sepanjang kak Timah berbual di ruang tamu rumah, mata ku seakan sukar untuk melepaskan dari menatap wajahnya yang bagi ku sungguh menawan meski pun usianya ketika itu sudah hampir mencecah 45 tahun.
Teteknya yang kelihatan sedikit melayut di dalam baju kurung kedahnya nampak seperti sedap untuk di hisap. Pehanya yang montok itu kelihatan montok dan sungguh menggoda di dalam kain batiknya yang lusuh. Sepanjang aku berbual dengannya, tidak habis-habis aku membayangkan alangkah nikmatnya jika peha montok itu mengangkang untuk ku sumbat batang ku di celah nonoknya. Sepanjang kami berbual, sempat juga aku selitkan sedikit unsur-unsur lucah. Ternyata kak Timah juga suka, malah dia juga turut memberi respon dengan kata-kata lucah walau pun dalam bentuk sindiran. Kemudian kak Timah meminta diri untuk pulang dan sebaik dia berdiri dari sofa rotan ku, mata ku segera mencari bontotnya. Berkali-kali aku menelan air liur melihat bontotnya yang berkain batik lusuh itu.
Dah lah bontot besar, lebar pulak tu. Bila berjalan ke pintu bontotnya melenggok dan bergegar. Aku yang geram pun dengan selambanya menampar bontotnya sampai dapat ku lihat ianya bergegar. Kak Timah tak marah pun, dia sekadar menjeling dan senyum. Paling mengejutkan adalah dia mengatakan adakah aku gatal dan aku menjawab sememangnya aku gatal melihat bontot yang cantik miliknya itu. Kak Timah berhenti di muka pintu dan dengan membelakangi ku dia melentikkan bontotnya. Terbeliak mata ku melihat bontotnya yang lebar itu kelihatan semacam makin sendat dalam kain batik lusuh itu. Aku tepuk bontotnya sekali lagi dan dia nampaknya membiarkan. Melihatkan kak Timah seakan menyukai dengan perbuatan nakal ku, aku memberanikan diri meraba bontotnya yang nyata tidak memakai seluar dalam.
Aku tunduk menciumi bontotnya dan kak Timah menonggekkan bontotnya. Aku semakin stim dan aku tarik tangan kak Timah kembali ke ruang tamu. Aku minta kak Timah berdiri berpaut pada dinding dan aku pun kembali mencium dan menghidu bontotnya yang besar lebar itu sepuas hati ku. Menonggek kak Timah berdiri membiarkan bontot lebarnya aku cium dan ku puja dengan bernafsu. Aku menyangkung di belakang kak Timah. Batang aku yang keras dalam seluar aku rocoh-rocoh. Sememangnya aku mengidamkan bontot perempuan yang lebar dan bulat seperti milik kak Timah itu. Kak Timah aku lihat menoleh kepada ku dengan tudung yang masih di kepalanya. Dia senyum melihat aku menggomol bontotnya.
Aku berdiri pula dan aku rapatkan batang aku di bontot kak Timah yang bulat. Sungguh sedap dan lembut rasanya. Tangan ku meraba-raba bontot kak Timah. Daging empuknya yang lebar dan berlemak aku ramas penuh nafsu. Kak Timah melentikkan tubuhnya. Dia seperti menyerahkan seluruh bontotnya yang berkain batik lusuh kepada ku. Aku memang bernafsu betul ketika itu.
Bontot bini orang kampung yang besar dan montok itu membuatkan aku sungguh tak tahan. Aku keluarkan batang aku dan aku lancap di belakang kak Timah. Sambil melancap aku tengok bontot kak Timah. Aku ramas bontot empuknya. Kak Timah menoleh lagi dan dia tersenyum lebar melihatkan aku melancap di bontotnya. Kak Timah menarik batang ku rapat ke daging empuk bontotnya. Kain batik lusuhnya aku rasa sungguh lembut dan licin disentuh batang ku. Aku menghimpit batang ku ke bontot empuknya.
Aku cium kepala kak Timah yang bertudung itu. Aku hembuskan nafas berahi ku di telinganya. Tubuh gebu bini orang itu seakan menggeliat hingga bontot montoknya rapat menyentuh batang ku yang keras. Aku gila betul kepada bontotnya. Kak Timah rapatkan batang ku di celah bontotnya. Sekali lagi aku merasakan bontot empuknya yang sedap di dalam kain batik lusuh yang lembut itu menghimpit batang ku. Tubuh kak Timah turun naik membuatkan bontot empuknya turun naik menghimpit batang ku.
Sedap sungguh rasanya ketika itu. Kak Timah pun melentik-lentikkan bontotnya seakan mahu melanyak batang ku di bontotnya. Memang betul-betul nikmat aku dilancap bontot kak Timah. Batang ku menempel di bontot kak Timah menikmati lenggokkan daging empuknya yang berlemak. Aku semakin tak tahan lagi. Kanan kiri pinggul berlemak kak Timah aku ramas-ramas.
Aku tarik pinggul empuknya hingga bontotnya rapat menghenyak batang ku. Aku tekan batang ku dan ku sorong tarik batang ku di atas bontot lebar yang empuk milik bini orang kampung itu. Aku stim teramat sangat melihat bontot besar yang berkain batik. Aku tak tahan. Akhirnya air mani ku terpancut-pancut keluar. Bontot kak Timah yang berkain batik lusuh dihujani pancutan demi pancutan air mani.
Kak Timah menoleh dan melihat muka ku yang nyata sedang dilanda keghairahan melepaskan air mani di atas bontotnya. Kak Timah melentikkan bontotnya seakan meminta ku melepaskan air mani ku sepuasnya. Dia hanya tersenyum membiarkan bontot lebar yang besar itu di limpahi air mani lelaki yang bukan suaminya. Aku peluk kak Timah. Tubuh montok yang berlemak itu aku peluk dalam keberahian melepaskan air mani yang membasahi kain batik lusuh di bontotnya. Tetek kak Timah aku ramas geram bersama geramnya aku menekan batang ku yang sedang memancutkan air mani di bontot kak Timah.
Kak Timah pun pulang ke rumah bersama air mani ku yang masih membasahi kain batiknya. Malah, dia membiarkan cairan kental keputihan itu meleleh di bontotnya. Aku berdiri di pintu memerhatikan bontot besarnya yang melenggok dan bergegar di dalam kain batik yang basah dengan air mani ku.
Perbuatan ku bersama kak Timah tidak berakhir di situ. Sekali-sekala, kak Timah datang ke rumah ku dan kami akan bermesra-mesra hingga air mani ku membasahi kain batiknya. Kadang kala aku tidak melancap di bontotnya, tetapi kak Timah melancapkan batang ku dengan menggoncangkan batang ku menggunakan tangannya yang dibaluti kain batik lusuhnya yang lembut.
Namun, lumrah manusia, diberi betis nak peha. Akhirnya kak Timah berzina juga dengan ku. Persetubuhan yang kami lakukan memang sungguh menikmatkan. Dapat juga aku merasa tubuh montok bini orang kampung yang berbontot besar dan montok itu.
Walau pun kami tidak pernah bersetubuh telanjang, hanya dengan menyelak baju dan kain batiknya sahaja sudah cukup membuatkan persetubuhan kami hangat. Kak Timah tahu aku meminatinya kerana bontotnya. Akhirnya dapat juga ku nikmati dubur kak Timah dan membenihkan lubang najisnya yang empuk berlemak itu. Pertama kali aku melakukannya, air mani ku keluar tidak sampai seminit.
Ianya gara-gara terlalu ghairah kerana mendapat apa yang selama ini aku idamkan. Setakat air mani ku memenuhi lubang nonoknya sudah menjadi perkara biasa. Malah, seorang bayi turut terhasil dari perbuatan sumbang kami berdua.
Kak Timah yang sentiasa sudi melayan nafsu ku dan curang kepada suaminya semakin hangat di atas ranjang. Dia semakin bijak mengetahui apakah keinginan ku dalam permainan nafsu. Bontotnya yang aku idam-idamkan dan selalu ku puji dan stim kepadanya menjadi medan persetubuhan yang paling kerap aku nikmati. Malah sekiranya masa tidak mengizinkan atau kami kesuntukan masa, tetapi tetap inginkan persetubuhan, kak Timah tahu bagaimana hendak melakukannya.
Dia akan hisap batang ku dulu dan kemudian dia akan menonggeng di mana-mana saja yang sempat dan tersembunyi, selak kain batiknya dan aku pun jolok duburnya. Pernah kami melakukannya di majlis gotong royong di balairaya. Kami sempat melencong di dalam kebun pisang. Pokok pisang kebun Haji Jamil menjadi tempat kak Timah berpaut sementara aku menikmati lubang bontot lebarnya yang sedap dan berlemak itu. Bergegar lemak-lemak yang melebarkan dan membesarkan bontot bini orang tu. Memang sedap. Tak hairanlah setiap kali main bontot memang tak pernah pancut luar. Sedap sangat lepas dalam.
Selain kak Timah aku juga dah merasa tubuh montok dan gebu milik kak Esah. Bini orang yang selalu gersang itu aku nikmati tubuhnya sewaktu aku dalam perjalanan ke rumah ketua kampung melalui jalan pintas yang melalui kebun-kebun. Kak Esah kira sudah berumur juga. Di dalam lingkungan 50-an. Anak-anaknya juga sudah besar-besar dan ada yang lebih tua dari ku. Suami kak Esah terperap di rumah lantaran sakit angin ahmar. Jadi hanya kak Esah dan anak-anaknya yang mencari rezeki dengan membuka kedai makan di tepi jalan besar yang dibuka setiap malam hingga awal pagi.
Biar aku cerita macam mana tubuh gempal kak Esah yang montok tu aku nikmati. Sewaktu aku melalui denai yang merupakan salah satu jalan pintas, aku terserempak dengan kak Esah yang juga sedang melalui jalan yang sama dan juga hendak pergi ke rumah ketua kampung. Jadi kita orang pun berjalan bersama-sama perlahan-lahan sambil berborak-borak. Sewaktu tiba di denai yang kecil, aku biarkan kak Esah jalan dahulu di depan sementara aku mengikutnya di belakang. Semasa tu lah aku tengok bontot kak Esah yang berkain batik tu nampak licin tanpa seluar dalam. Bontotnya yang besar dan nyata sungguh berlemak lebar itu membuatkan aku geram. Melenggok-lenggok bersama pehanya yang besar. Sambil aku mengikutnya aku merocoh batang aku yang keras dalam seluar sambil mata aku tak henti menontot lenggokan bontot kak Esah. Kak Esah cakap apa pun aku tak perasan sampaikan dia menoleh ke belakang tengok aku sebab aku tak ambil endah apa yang dia katakan. Aku sedar kak Esah menoleh kepada aku yang sedang khusyuk pegang batang dan tengok bontot dia. Aku tengok muka kak Esah, dia senyum je kat aku. Lepas tu aku pun senyum balik kat dia dan akhirnya kita orang pun tiba kat rumah ketua kampung.
Selepas selesai urusan, aku dan kak Esah berjalan balik ke rumah bersama-sama. Kemudian kak Esah tanya aku satu soalan killer. Dia tanya kenapa masa dalam perjalanan pergi tadi dia nampak aku pegang batang aku sambil tengok bontot dia. Aku pun dengan selamba je bagi tau yang aku stim sangat kat bontot dia yang besar tu dan melenggok-lenggok dalam kain batik tu. Kak Esah senyum je dan dia pun kata patutlah masa kat rumah ketua kampung mata aku asyik tengok peha dia je. Memang betul pun, masa aku kat rumah ketua kampung, kak Esah duduk depan aku. Mata aku asyik memandang pehanya yang gebu dan lebar dalam kain batik tu. Aku berkali-kali menelan air liur dan bayangkan betapa bestnya kalau peha besar tu terkangkang menerima rodokan batang aku di cipapnya. Masa ketua kampung pergi ambilkan borang asrama untuk anak kak Esah, aku lagilah tak boleh tahan sebab kak Esah duduk silangkan kakinya. Jadi pehanya nampak lagi sendat dalam kain batik tu. Aku tau kak Esah tengok aku, jadi dengan selamba aku raba-raba batang aku yang keras dalam seluar.
Lepas dah melalui denai kecil, aku pun berjalan beriringan dengan kak Esah. Aku tengok depan belakang kiri kanan. Line clear. Aku pun mula cucuk jarum. Aku raba bontot kak Esah. Rasa lembut je bontot lebar dia yang berlemak tu. Dari tepi aku nampak bontot dia menonggek pulak. Makin stim pulak aku. Kak Esah biarkan je. Dia senyum je. Aku yang tau dia ni mesti boleh makan punya pun tarik tangan dia masuk kat belukar tepi denai tu. Kak Esah biar je aku tarik dia sampai agak dalam sikit dari denai tu, aku pun sandarkan kak Esah kat sepohon pokok yang redup. Aku peluk kak Esah dan kucup bibir bini orang yang berumur dan montok tu. Kak Esah nampaknya membalas. Memang dia pun suka kat aku rupanya.
Kami berdiri berpelukan dan berciuman. Tubuh montok kak Esah yang bertudung, berbaju kemeja singkat dan berkain batik itu aku peluk semahunya. Seluruh pelusuk tubuh bini orang yang berlemak itu aku raba dan ramas sesedapnya. Batang aku yang makin stim dalam seluar kak Esah pegang.
Dia buka seluar aku dan dia pegang serta mula melancapkan batang aku sampai aku jadi makin stim yang teramat sangat. Aku minta kak Esak hisap batang aku. Kak Esah pun menyangkung dan menghisap batang aku keluar masuk mulutnya. Aku tengok kepala kak Esah yang bertudung tu bergerak depan belakang hisap batang anak muda yang berpuluh tahun muda darinya. Bontot kak Esah yang lebar tu nampak sendat dalam kain batiknya masa dia menyangkung macam tu. Aku paut kepala kak Esah dan aku jolok mulut kak laju-laju. Kak Esah biarkan aku rodok kepala dia yang bertudung tu
Selepas itu, aku minta kak Esah duduk atas rumput yang bersih dan kering. Kak Esah macam faham apa yang aku nak buat. Dia pun mengangkang dan menunggu aku membuka kain batiknya. Aku usap peha kak Esah dan aku selak kain batiknya. Cipap kak Esah yang kehitaman tu aku nampak dah berkilat dengan lendir. Nampak sangat makcik kita sorang ni dah stim sangat. . Aku pun apa lagi, terus terjun dalam lubang cipapnya yang dah longgar gila tu. Aku hayun sesedap rasa. Walau pun dah longgar sebab dah berderet budak yang dia beranakkan, tapi masih syok dengan kelembutan daging dalamnya dan licin dengan air cipapnya. Kena pulak tu kak Esah kemut memang sedap. Rasa macam ada mulut satu lagi tengah hisap batang aku kat bawah. Lazat, memang lazat.
Kak Esah terkangkang dengan kain batiknya yang terselak. Tudungnya yang semakin kusut menampakkan bahawa dia semakin hilang kawalan diri. Aku menjolok cipap longgar perempuan berumur yang bertubuh montok dan berlemak itu semahu-mahunya. Bunyi lucah dari cipapnya yang berlendir dengan air nafsu sungguh memberahikan. Tudung kak Esah sedikit kusut. Lemak yang membuncitkan perut kak Esah membuai-buai setiap kali aku menghenjut batang ku keluar masuk bagaikan belon yang berisi air. Nafsu ku semakin tidak keruan dan aku semakin seronok menyetubuhi wanita matang itu.
Kak Esah memeluk ku dan menarik tubuh ku rapat kepadanya. Dia berbisik bertanyakan adakah sedap menyontot tubuh gemuknya. Aku memberi respon dengan mengatakan ianya sungguh melazatkan. Kak Esah mendesah nikmat dan menyuarakan kesedapannya di jolok batang ku. Suara kak Esah semakin tersekat-sekat. Kak Esah semakin kuat memeluk ku dan akhirnya tubuhnya terangkat-angkat membuatkan tubuh ku yang lebih slim darinya turut terangkat. Jelas dia sudah mencapai kepuasan batinnya.
Bau peluh kak Esah semakin semerbak menusuk hidung ku. Aku bangun dari menindih tubuhnya. Aku minta kak Esah menonggeng di atas tanah yang beralaskan rumput. Kak Esah menonggeng dan aku lihat kain batik di bontotnya basah dengan air nafsunya. Aku selak kainnya dan aku ramas daging bontot kak Esah yang berlemak. Aku sumbat batang ku ke dalam lubang cipap kak Esah. Aku celup batang aku sekali dua hingga ke pangkal dan aku keluarkan kembali. Aku ludah simpulan lubang dubur kak Esah yang berwarna gelap itu.
Aku kuak belahan bontotnya yang berlemak itu bagi membolehkan air liur ku masuk ke dalam duburnya. Aku halakan kepala batang ku ke simpulan dubur empuk bini orang yang berumur itu dan aku tekan sedikit demi sedikit hingga tenggelam kepala batang ku. Kak Esah merengek dan bertanya kepada ku adakah boleh melakukan persetubuhan melalui jalan najis itu.
Aku memberitahunya bahawa sudah tentu boleh dan sememangnya aku bernafsu kepadanya gara-gara bontotnya. Kak Esah memberitahu ku bahawa dia tidak pernah di liwat dan agak takut untuk melakukannya. Aku memujuk kak Esah agar tenang dan biarkan aku saja yang bertungkus lumus. Aku minta kak Esah berikan saja duburnya untuk ku nikmati. Kak Esah agak gugup, namun dia membenarkan.
Aku tekan batang ku hingga seluruhnya masuk ke dalam dubur kak Esah. Melentik tubuh gebunya mungkin sebab pedih sebab pertama kali duburnya di liwat. Aku hayun batang aku di lubang najisnya yang sempit itu. Sungguh sedap rasanya meliwat dubur perempuan berumur yang berlemak itu. Kain batik kak Esah aku selak lagi hingga seluruh bontotnya yang putih dan lebar itu menampakkan gegarannya. Bagaikan belon berisi air, bontot berlemak kak Esah berayun ketika aku menghayun batang ku. Setiap kali batang ku menujah dubur empuk berselulit perempuan kampung itu, semakin sedap ku rasa. Aku menghayun bagai nak gila. Kak Esah merengek tak henti-henti.
Melentik bontot kak Esah dijolok batang aku. Aku hilang kawalan. Bontot berlemak yang lebar itu semakin membuatkan aku ghairah. Aku jolok bontot tonggek bini orang itu semakin laju. Kak Esah mengerang semakin kuat. Akhirnya aku benamkan batang ku dalam-dalam dan ku lepaskan air mani yang berkhasiat dan subur ke dalam dubur kak Esah.
Kak Esah merengek sewaktu dia merasakan air mani terpancut-pancut dari batang ku yang tersumbat sedalam-dalamnya di dalam duburnya. Aku perah seluruh air mani ku agar keluar memenuhi lubang bontot bini orang yang kegersangan itu. Selepas puas memenuhkan lubang bontotnya, aku tarik batang ku keluar. Serentak itu, tanpa aku duga kak Esah mengeluarkan gas aslinya dari lubang bontotnya yang ternganga.
Berkali-kali kak Esah terkentut-kentut hingga anginnya dapat ku rasa kuat menghembus batang ku yang sudah terkeluar dari duburnya. Kemudian mengalirlah benih ku keluar dari duburnya setelah ianya sesat tidak menjumpai lubuk peranakan yang boleh dibuntingkannya, sebaliknya hanya najis-najis yang bakal diberakkan sahaja yang dijumpainya.
Kak Esah tersipu-sipu malu. Dia berdiri dan membetulkan tudung serta kain batiknya. Ketika itu kak Esah memanggilku dan mengangkat kainnya. Kak Esah menunjukkan sesuatu kepada ku. Dari kainnya yang diangkat, aku lihat air mani ku mengalir turun dari duburnya ke peha dan betisnya. Kak Esah kata air mani ku banyak dan dia kata aku seakan-akan kencing di dalam duburnya.
Dengan kepedihan, kak Esah berjalan semacam terkangkang pulang ke rumahnya. Sewaktu kami berpisah mengikut haluan masing-masing, aku terdengar bunyi air mani ku tercirit-cirit dari lubang bontotnya. Kak Esah ketawa kecil sambil berlalu dari situ. Aku melihat kain batik kak Esah basah dari bontot hingga ke bawah. Aku tersenyum sendiri. Tak sangka, sedap juga emak orang yang dah kira berumur tu. Paling kelakar adalah sempat juga dia kentut kepada ku. Memang aku tak dapat lupakan kak Esah. Setiap kali terkentut, tiap kali itulah aku akan teringat kepada kak Esah.
Selepas affair dengan kak Esah, aku menjalinkan pula hubungan sulit dengan Kak Sue. Dia ni bini orang juga. Lakinya bekerja bawa lori di pekan dan balik 3 hari sekali. Anaknya pun dah besar-besar dan paling sulong sebaya aku dan masih belajar di unversiti. Aku mula main dengan kak Sue semasa kak Sue datang ke rumah aku minta tolong buatkan surat untuk urusan tanahnya. Aku pun sambil buat surat sambil cucuk jarum. Kak Sue ni orangnya biasa-biasa je, tak semontok kak Esah dan Kak Timah, gebu-gebu je lah. Tapi bontot dia membuatkan aku macam nak bawak dia lari dan kawin kat Siam. Dahlah lebar, tonggek pulak tu. Aku yang stim sangat kat dia pun selamba je bangun dari kerusi komputer. Dia punya terlopong tengok aku sampai lalat pun boleh masuk. Nak tahu kenapa. Sebab masa aku bangun tu batang aku tegak menongkat kain pelikat. Kak Sue senyum je kat aku. Aku pun senyum juga kat dia.
Lepas tu aku offer dia pegang batang aku. Kak Sue ni pun berani juga nak cuba. Dia pun pegang. Biasalah, alang-alang dah pegang, aku minta dia lancapkan sekali. Kak Sue pun lancapkan dan aku pun tanggalkan kain pelikat dan baju aku sampai aku telanjang depan kak Sue.
Kak Sue pun hisap batang aku lepas aku minta dan seterusnya persetubuhan pun bermula. Aku main dengan kak Sue tak pernah ikut depan. Walau jolok cipap sekali pun, tak pernah ikut depan. Mesti menonggeng sebab aku syok gila dengan bontot dia yang lebar dan tonggek tu. Dah lah pinggang dia slim. Aku beruntung sebab kak Sue dah selalu kena liwat laki dia. Jadi tak ada masalah masa aku jolok bontot dia pertama kali. Memancut air mani aku dalam bontot dia. Kak Sue ni pun jenis suka pakai kain batik ke hulu hilir. Jadi memang senang sangat nak main dengan dia kat mana-mana pun.
Pernah sekali tu aku dah gian gila dengan bontot tonggek dia tu, aku main dengan dia kat belakang reban ayam rumah dia. Masa tu aku sengaja datang ke rumah dia. Tengok-tengok dia tengah berkemban sidai baju kat ampaian. Aku pun ngorat ajak main. Dia pun ok je.
Tapi masa tu mak dia ada dalam rumah. Anak-anak dia pun ada juga. Jadi dia pun ajak aku pergi belakang rumah dan kat belakang reban pun jadi. Aku selak kain batik kemban dia dan jolok cipap dia dari belakang. Bila nak terpancut je, aku cabut batang aku dan aku jolok bontot dia. Aku rodok dubur tonggek kat Sue kuat-kuat sampai dia menjerit kecil. Lepas tu macam biasalah, aku kencingkan mani aku dalam bontot dia.
Tu je lah… sampai sekarang aku masih menikmati tubuh empuk mereka. Dari apa yang aku tahu, masing-masing kata puas main dengan lelaki muda. Sebab lelaki dah berumur ni dah tak pandang sangat perempuan montok-montok dan gebu-gebu macam mereka. Lelaki muda je yang boleh bagi mereka kepuasan batin walau pun lubang masing-masing dah longgar. Lebih-lebih lagi lubang bontot yang ada sebilangannya yang sebelum itu tak pernah kena liwat, akhirnya di liwat juga.
Bagi mereka, walau pun tak sedap pada mulanya, tapi bila dah selalu kena, sedap gila rasanya hingga menimbulkan kerinduan dan ketagihan pada duburnya untuk diliwat. Malah, itu jugalah satu-satunya lubang yang masih sempit dan sedap ditubuh mereka yang boleh dinikmati dengan penuh nikmat untuk lelaki muda yang memberikan mereka kepuasan batin. Jadi tak hairanlah dia orang semua malas nak jaga badan. Lagi besar bontot dia orang lagi dia orang suka sebab dia orang tahu ada orang yang menghargai.
SAYANG ANAK ANAK IBU
Aku adalah seorang ibu kepada tiga orang anak, ketiga-tiga anakku adalah lelaki iaitu Izra berumur 15 tahun, Izani berumur 13 tahun dan yang bongsu bernama Izie berumur 11 tahun. Namaku Yusna berumur 34 tahun, bekerja di sebuah bank sebagai akauntan dan suamiku Hamzah berumur 39 tahun bekerja di pembantu pengurus di sebuah pelantar minyak. Suamiku hanya bekerja dua minggu dalam sebulan dan dua minggu lagi adalah hari cutinya kerana tempat kerjanya tengah-tengah laut. Selepas melahirkan Izie, salur peranakanku telah di tutup kerana suamiku tidak mahu mempunyai anak lagi. Pada suatu hari itu, aku tidak dapat ke tempat kerja kerana keretaku rosak dan setelah anak-nakku ke sekolah, aku menalifon bengkel kereta yang tidak jauh dari rumahku meminta mereka membaiki keretaku di rumah. Setelah datang ke rumahku dan selepas memeriksa kerosakan keretaku itu, keretaku terpaksa di bawa kebengkelnya untuk di baiki. Petang nanti keretaku akan di hantar kembali ke rumahku setelah siap di baiki. Aku terpaksa mengambil cuti pada hari itu dan kerana kebosanan tinggal seorang di rumah, aku mengambil keputusan untuk tidur kerana malam tadi aku tidak dapar tidur secukupnya. Malam tadi nafsuku terangsang kuat kerana sebelum suamiku berangkat ke tempat kerjanya, aku tidak dapat bersetubuh dengan suamiku disebabkan aku masih dalam hari haidku. Aku yang baru bersih dari haidku merasa nafsuku sungguh terangsang membuatkan aku tidak dapat tidur lena. Aku asyik terbayangkan persetubuhanku dengan suamiku, alangkah indahnya jika suamiku ada di sisi namun suamiku akan pulang dua minggu lagi. Walaupun aku sudah mempunyai tiga orang anak, nafsuku masih kuat dan masih memerlukan satu persetubuhan yang memuaskan. Sedang aku lena di buai mimpi, tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara anak-anakku yang baru pulang dari sekolah. Pada mulanya aku ingin memarahi mereka kerana membuat bising tetapi tidak jadi setelah mendengar percakapan mereka. Anak-anakku tidak tahu aku tidak bekerja hari itu, aku menganmati percakapan anakku yang mencurigakan perasaanku itu. “Abang… pasang la vcd tu, Izie nak tengok ni…” Kata Izie. “Sabar la… kita makan dulu, buat apa nak cepat-cepat… ibukan tiada…” Jawab Izra. “Abang nak makan, abang pergi la… kita orang nak tengok dulu…” Kata Izani pula. “Baiklah… jom kita tengok…” Jawab Izra lagi. Aku mula mendengar cerita yang mereka tonton kerana suara dari tv itu agak jalas kedengaran. Aku mendengar bunyi yang selalu keluar dari mulutku ketika aku bersetubuh dengan suamiku. Aku bangun lalu membuka pintu bilikku perlahan-lahan dan alangkah terkejutnya aku apabila melihat cerita yang di tonton anak-anakku. Cerita yang mereka tonton adalah cerita lucah, aku dapat melihatnya kerana tv itu mengadap bilikku. Aku juga dapat melihat Izra sedang mengusap bonjolan batangnya di dalam seluar manakala Izani dan Izie memandang tv tanpa berkelip. Aku tidak dapat bersabar lagi dengan perangai buruk mereka. “Izra… Izani… Izie… apa cerita yang kamu tengok ni…” Marahku setelah keluar dari bilikku, Izra cepat-cepat menutup tv lalu mengeluarkan vcd itu dari lalu di sorok di belakangnya. Aku terus meluru ke arah Izra dan terus merampas vcd itu dari tanganya. Mereka tertunduk dengan muka yang ketakutan, walaupun aku merasa kasihan melihat anak-anak kesanyanganku ketika itu, tetapi aku tidak dapart bersabar lagi. “Kamu bertiga ni apa nak jadi… cerita tidak senonoh itu yang kamu tengok… bukannya mahu membaca buku… kamu siap la nanti… ibu akan bagitahu ayah kamu…” Bebelku panjang lebar, Izra dan Izani ttetap tertunduk tidak memandangku. “Maafkan Izie ibu… jangan bagitahu ayah…” Rayu Izie sambil menangis teresak-esak membuatkan marahku hampir hilang. Izie adalah anak yang manja, Izie paling rapat denganku dan selalu bermanja denganku. “Tahu takut… buat salah tak takut..” Marahku lagi tetapi nada suaraku reda sedikit. “Ibu… maafkam Izra… Izra janji tak buat lagi…” Izra berkata perlahan. “Izani pun sama ibu…” Kata Izani pula. “Baiklah… kali ini ibu maafkan… kalau buat lagi ibu akan bagitahu ayah… faham…” Perasaan marahku kini bertukar menjadi perasaan kasihan melihat ketakutan mereka. Itulah kelemahanku, aku tidak boleh melihat anak-anakku bersedih. “Faham ibu…” Jawab mereka serentak. “Sudah… pergi mandi, lepastu makan dan siapkan kerja sekolah. Ulangkaji pelajaran… jangan ingat nak main saja…” Kataku tegas. Mereka bangun dan terus ke bilik mereka, mereka bertiga tidur sebilik kerana rumahku hanya mempunyai tiga bilik sahaja. Bilik depan adalah bilikku manakala bilik tengah adalah bilik mereka bertida dan satu bilik lagi iaitu bilik belakang di jadikan stor. Setelah anak-anakku menhilang, aku masuk bilik kembali lalu menyimpan vcd itu di dalam laci meja solekku. Malam itu setelah makan malam, ketiga anak-anakku terus masuk tidur ke dalam bilik mereka walaupun masih awal. Tidak seperti biasanya kerana mereka akan menonton tv dahulu sambil berbual dengaku sebelum masuk tidur. Mungkin kerana mereka merasa bersalah dan takut aku memarahi mereka, awal-awal lagi mereka sudah masuk tidur. Malam itu juga aku tidak dapat melelapkan mataku kerana memikirkan perangai buruk anak-anakku dan ditambah pula dengan nafsuku yang masih lagi terangsang. Puas aku cuba melelapkan mataku, tetapi mataku tetap tidak merasa mengantuk dan aku merasa tidak tentu arah kerana nafsuku membuak-buak terangsang. Aku mula teringatkan cerita lucah yang di tonton anak-anakku tadi. Aku bangun lalu menganbil vcd itu dari laci meja solehku lalu melihatnya. Aku melihat gambar yang di tampal di vcd itu, gambar itu menunjukkan dua orang lelaki yang masih remaja sedang bersetubuh serentak dengan seorang wanita yang sudah berumur. Setelah melihat gambar yang ada di vcd itu, nafsuku semakin kuat terangsang dan aku perasaan untuk mengetahui jalan ceritanya membuatkan aku merasa ingin menontonya. Aku keluar dari bilikku dan terus ke bilik anakku untuk memastikan mereka sudah tertidur. Perlahan-lahan aku membuka pintu bilik mereka dan aku melihat mereka sedang nyeyak tidur. Jam di dinding menunjukkan sudah pukul 12.20 pagi, aku kembali ke biliku lalu mengambil vcd itu dan terus ke ruang tamu. Aku memasang tv serta vcd player lalu duduk untuk menonton cerita lucah itu. Inilah kali pertama aku menonton cerita lucah seumur hidupku, selama ini aku hanya mendengar dari mulut kawan-kawanku sahaja. Cerita itu menayangkan dua orang remaja bersetubuh dengan gurunya di dalam sebuah hotel. Apabila melihat aksi persetubuhan itu, nafsuku tidak tertahan lagi. Semakin lama menonton aku tidak dapat mengawal nafsuku lagi dan tanpa aku sedari, tanganku kini berada di celah kangkangku lalu menggosok-gosok cipapku dari luar kain batik yang aku pakai. Seperti selalu, malam itu aku tidak memakai seluar dalam serta tidak memakai coli kerana memang kebiasaanku tidur tanpai memakai pakaian dalam. Aku merasa cipapku mula basah, nafsuku yang terangsang kuat membuatkan aku terus baringkan tubuhku di atas carpet di ruang tamu rumahku. Aku mula menyelakkan kain batikku keatas dan terus mengusap cipapku dan sebelah tanganku lagi meramas-ramas buah dadaku yang sudah menegang. Aku memasukkan dua batang jariku ke dalam cipapku lalu aku gerakkan keluar masuk, ketika atu aku sangat memerlukan batang lelaki untuk menujah cipapku yang berair dengan banyak itu. Kerana diriku sudah dikawal nafsu, aku tidak peduli lagi jika ada batang siapa sekarang, janji batang itu dapat memenuhi cipapku untuk memuaskan nafsuku yang tidak tertahan lagi. Adengan di vcd itu menunjukkan dua remaja sedang menyetubuhi seorang perempuan yang sudah berumur, aku mula membayangkan perempuan itu adalah aku dan dua remaja itu pula adalah anak-anakku. Bayangan itu membuatkan nafsuku bertambah terangsang lagi dan tujahan dua jariku di dalam cipapku semakin laju. Aku membayangkan diriku sekarang sedang di setubuhi anakku sendiri dengan mataku yang terpejam. Kerana kesedapan, aku mengerang dan mengeluh agak kuat, aku tidak peduli lagi keadaan rumahku ketika itu. Tiba-tiba aku merasa pehaku disentuh orang, dengan kelam-kabut aku membuka mata dan terus menurunkan kain batikku yang terselak ke pinggangku itu. Alangkah terperanjatnya aku apabila melihat Izra dan Izani sedang menyentuh pehaku yang putih dan gebu itu. Aku terkedu dan tidak dapat berkata-kata, Izra dengan rakus memegang hujung kain batikku dan terus menyelak ke atas semula. Aku yang masih terangsang itu bagaikan terpukau kerana bayanganku kini benar-benar berlaku di depan mataku. Kerana itu aku membiarkan sahaja Izra dan Izani meraba-raba pehaku dengan penuh bernafsu. Izani menolak tubuhku terbaring di atas carpet dan Izra pula mula merapatkan kepalanya ke celah pangkal pehaku dan terus menjilat pehaku itu dengan rakus. Aku tersentak apabila kurasakan lidah Izra menyentuh celah rekahaan bibir cipapku yang sudah basah itu. Izani pula sedang meramas-ramas kedua buah dadaku berkali-kali dengan agak kuat namun ramasan itu sungguh nikmat. Izani cuba menarik baju t-shirtku keatas dan aku yang seolah-olah mahu diperlakukan begitu mengangkat tubuhku untuk memudahkan Izani menanggalkan bajuku itu. Setelah bajuku terlepas dari tubuhku, terdedahlah kedua buah dadaku dengan puting yang sudah tegang itu di depan Izani. Izani dengan rakus terus menghisap puting buah dadaku sambil diramas-ramasnya. Segalanya berlaku tanpa sebarang kata-kata dariku mahu pun dari ke dua anakku itu dan jilatan lidah Izra semakin dalam menujah rekahaan cipapku. Kepalaku terdongak ke atas apabila Izra menjilat sambil menggigit lembut kelentitku yang sudah mengembang itu.. “Erggghh… Izra….” Erangan kenikmatan mula keluar dari mulutku apabila keletitku di jilat oleh anakku sendiri. Izani masih tetap meramas kedua buah dadaku membuatkan aku mula berada di alam khayalan. Tanpa disuruh aku mengangkangkan lagi kakiku agar Izra mudah mengerjakan cipapku dan Izra mula menurunkan jilatan lidahnya di antara cipap dan duburku. Jilatani lidah Izra menjalar turun ke bawah lagi dan lidahnya kini menyapu bibir duburku lalu di jilatnya. Kenikmatan begini tidak pernah aku alami sehingga punggungku terangkat sedikit menahan kegelian bercampur nikmat di bibir duburku. Kakiku yang terkangkang luas itu menyenangkan lagi Izra menjilat bibir duburku. Izani yang dari tadi menghisap buah dadaku kini berdiri lalu melondehkan seluarnya dan tersembullah batangnya yang tidak berapa besar itu di depan mukaku. Izani menyuakan batangnya ke mulutku sehingga tersentuh bibirku lalu di tekan masuk ke dalam mulutku yang terbuka itu. Izra mula menolak tubuhku menjadi meniarap, mukaku tetap menghadap ke arah Izani yang sedang meujahkan batangnya ke dalam mulutku. Izra menganggkat punggungku ke atas supaya punggungku itu tertonggek tinggi sedikit lalu menjilat kembali lubang duburku dan lidahnya kini di tekan masuk ke dalam lubang duburku. Sambil menjilat lubang duburku, Izra memasukkan dua batang jarinya ke dalam cipapku. Aku merasa sungguh nikmat sambil menggerakkan punggungku kedepan dan belakang manakala mulutku semakin laju menghisap batang Izani. Aku menghisap sehingga kepangkal batangnya dan Izani pula memegan kepalaku melajukan lagi gerakkan kepalaku itu. “Izra… ibu tidak tahan lagi… masukkan batang Izra sekarang…” Aku meminta Izra memasukkan batangnya ke dalam cipapku kerana aku tidak dapat bertahan lagi dengan rangsangan yang aku alami sekarang ini. Tanpa menjawab atau tanpa berkata-kata, Izra terus bangun lalu menanggalkan pakaiannya dan berlutut di belakang tubuhku. Izra menaikkan lagi punggungku sehingga kedudukanku menonggeng dalam keadaan merangkak. Izra meletakkan kepala batangnya di bibir cipapku dan mula menolak masuk ke dalam cipapku. “Ahhhh…” Aku mengerang kenikmatan ketika batang Izra yang agak besar itu masuk ke dalam cipapku, walaupun batangnya tidak sebesar batang suamiku tetapi aku tetap merasa kenikmatannya. Batang Izra lebih besar dari batang Izani yang berada di dalam mulutku dan Izra semakin laju menujah cipapku dari belakang. “Perlahan… perlahan sikit… nanti cepat keluarrrr… eeegggrh…” Tanpa disedari kata-kata itu keluar dari mulutku dan mungkin kerana tidak berpengalaman, Izra tetap menujah cipapku dengan laju. Tiba-tiba Izra merapatkan batangnya sehingga terbenam rapat kepangkal dan aku merasa ada semburan hangat dalam cipapku. Aku tahu Izra sudah sampai ke puncak klimaksnya tetapi aku masih belum merasa puas lagi. Setelah Izra jatuh terduduk di atas lantai, aku terus berbaring lalu menarik tangan Izani agar menindihi tubuhku untuk menggantikan abangnya yang sudah tewas itu. Izani dengan segera merangkak ke atas tubuhku dan menggangkangkan kakiku supaya Izani berada di celah kangkangku. Aku memegan batang Izani lalu aku memasukkan ke dalam cipapku dan Izani pula terus menekan batangnya masuk. Aku mengemutkan cipapku sambil menikmati tujahan batang Izani di dalam cipapku dan aku kini sudah hampir ke puncak klimaksku. Tubuhku mula mengejang dan aku terus menarik pinggang Izani rapat ke tubuhku agar batangnya masuk lebih dalam. Serentak dengan itu, aku sampai ke puncak klimaksku dengan tubuhku tersentak-sentak. Izani yang tidak tertahan dengan kemutan kuat cipapku di batangnya semakin laju menujah batangnya ke dalam cipapku. Selepas beberapa tujahan, Izani mula memancutkan air maninya ke dalam cipapku sambil memeluk kuat tubuhku. Aku yang sudah dapat memuaskan nafsuku mula tersedar dari kesilapanku kerana merelakan Izra dan Izani menyetubuhiku terus menolak tubuh Izani yang masih menindihi tubuhku. “Apa yang kamu berdua lakukan pada ibu…” Aku memarahi mereka dengan suara yang tidak terlalu kuat kerana aku takut di dengari Izie yang sedang tidur di biliknya. Aku terus mengambil bajuku lalu memakainya dan membetulkan kain batikku yang terselak di perutku. Izra dan Izani berlari masuk ke dalam bilik mereka meninggalkan aku yang mula merasa bersalah serta menyesal kerana membiarkan kedua anakku itu menyetubuhiku. Aku masuk ke dalam bilikku dengan fikiran yang bercelaru tetapi perasaan puas juga dirasaiku. Walaupun menyesal dengan apa yang terjadi, aku merasa sungguh puas dan nafsuku sekarang sudah reda. Malam itu aku tertidur dengan perasaan menyesal dan dengan perasaan yang penuh kepuasan. Keesokkan harinya aku terjaga dari tidur agak lewat, ketiga anak-anakku sudah ke sekolah dan aku terus bersiap-siap untuk ke tempat kerja. Hari itu aku merasa sungguh ceria dan bersemangat kerana nafsuku sudah terpuas walaupun masih merasa menyesal. Petang itu aku pulang dengan perasaan malu serta berdebar-debar, aku malu untuk berhadapan dengan Izra dan Izani. Sampai di rumah, aku membuka pintu lalu memerhatikan sekeliling ruang tamu rumahku. Aku melihat anak-anakku tiada di ruang tamu itu lalu aku terus masuk ke dalam bilikku. “Ibu… bila ibu sampai…?” Tiba-tiba Izie menyapaku dari muka pintu bilikku kerana aku lupa menutupnya. “Baru sekejap…” Jawabku sambil menanggalkan tudung yang aku pakai, Izie berdiri di situ agak lama memerhatikanku lalu masuk ke dalam bilikku. Izie menghampiriku lalu memeluk tubuhku dengan agak kasar dan menolakku rapat ke dinding. “Izie… apa ni…” Marahku sambil menolak tubuh kecilnya dari terus memelukku. “Kenapa ibu marah… abang boleh peluk ibu, kenapa Izie tak boleh…?” Tanya Izie dengan agak kuat. “Bila pula abang peluk ibu…?” Tanyaku pula berpura-pura tidak tahu. “Ala ibu… Izie dah tahu apa kita buat malam tadi…” Tiba-tiba Izra muncul di ikuti Izani dan mereka berdua mula menghampiriku. “Apa kamu cakap ni… jangan buat ibu marah…?” Ugutku, Izie dengan pantas memeluk kembali tubuhku yang masih berdiri di tepi dinding bilikku. Aku cuba menolak tubuh Izie yang memeluk kemas tubuhku dan aku agak terperanjat apabila Izra memegang tangan kananku manakala Izani pula memegang tangan kiriku lalu di rapatkan ke dinding. Tubuhku di pusing mendakap dinding membelakangkan anak-anakku dan aku memejamkan mata apabila merasa kain baju kurungku disingkap ke atas. “Apa kamu lakukan pada ibu ni…” Marahku, namun aku tidak terdaya melakukan apa-apa kerana tenaga mereka bertiga lebih kuat dari tenagaku. Aku mula merasa ada tangan-tangan anakku yang sedang meramas-ramas punggungku dari kainku yang tersingkap itu. Buah dadaku juga di ramas-ramas oleh anakku membuatkan rontaanku semakin lemah kerana diriku mula dirangsang nafsu. Walaupun dalam keterpaksaan, aku mula merasa kenikmatan menyelubugi tubuhku dan aku mula menbiarkan sahaja anak-anakku meraba-raba tubuhku. Keadaan menjadi sunyi sepi, aku memejamkan mataku menikmatai ramasan serta rabaan enam tangan di tubuhku. Seluruh tubuhku di raba dan punggung serta buah dadaku diramas serentak. Aku tidak pernah dilakukan begini, kenikmatan yang aku rasakan sungguh berbeza dari bersetubuh bersama suamiku dan aku menikmati denga rangsangan nafsuku yang membuak-buak. Tubuhku tidak lagi dipeluk Izie, tanganku juga sudah bebas dari pegangan Izra dan Izani. Aku kini berdiri dengan penuh kerelaan kerana kenikmatan yang melanda diriku membuatkan aku pasrah. Aku dapat merasakan seluar dalamku di tarik kebawah dan ramasan tangan anakku semakin kuat mencengkam daging pejal di punggungku. Aku tidak tahu tangan itu milik siapa kerana seluruh tubuhku dipenuhi tangan anak-anakku. Pinggangku di tarik kebelakang sambil tanganku masih menahan dinding menjadikan aku separuh menonggeng. Kain baju kurungku yang di selak itu diletakkan pada pinggangku dan aku terasa daging punggungku di jilat serta di gigit lebih dari seorang anakku. Buah dadaku masih menjadi mangsa ramasan ganas anakku dan dari luarbaju kurungku, aku dapat melihat tangan Izie dan Izani merayap menyelinap masuk ke dalam baju kurungku lalu terus ke bawah coliku. Buah dadaku semakin ganas di ramas Izie dan Izani membuatkan buah dadaku itu menjadi tegang. Alur punggungku hingga ke pangkal cipapku di basahi dengan air liur Izra yang kini berada di belakang punggungku. Aku terkemut-kemut sambil menolak punggungku kebelakang agar jilatan Izra sampai ke bibir cipapku. Daging punggungku dikuak dengan agak ganas dan bibir duburku menjadi mangsa jilatan lidah Izra, aku tidak tahu dimana mereka belajar untuk meragsangku sehingga membuatkan aku semakin khayal. Aku tersedar dari khayalanku apabila tubuhku di pusingkan manakala tanganku pula di angkat ke atas oleh Izani dan Izie terus menanggalkan baju kurungku. Aku dapat melihat Izra sedang membuka pengait kain baju kurungku lalu kain itu jatuh ke lantai, kini aku berdiri dalam keadaan bogel dan hanya mendiamkan diri sahaja. Izra menarik tanganku agar bergerak ke atas katil, aku yang diirngi Izani dan Izie hanya menuruti sahaja tarikan tangan Izra lalu dibaringkan telentang tubuhku di atas katil. Izra menggangkangkan kakiku seluas-luasnya dan terus menjilat cipapku, Izani pula sedang berdiri membuka seluarnya Izie kini sedang menghisap buah dadaku. Izie menhisap sambil meramas buah dada dan punggungku dengan ganas di ramas Izra yang sedang menjilat cipapku. “Arrrhhhggghhh… mmmmm…” Tanpa sedar aku mengerang dengan mata terpejam kerana merasa sungguh nikmat dan apabila aku membuka mataku, aku melihat Izani menghulurkan batangnya ke mukaku. Izani terus menujahkan batangnya masuk ke dalam mulutku yang terngangga itu, Izani mula mengerakkan batangnya keluar masuk ke dalam mulutku. Aku merasa sungguh nikmati dengan hisapan serta ramasan Izie di buah dadaku, cipapku yang dijilat Izra terkemut-kemut dan mulutku pula dipenuhi dengan batang Izani membuatkan aku tidak sedar bilakah ketiga anakku itu sudah berbogel. Izra mula menindihi tubuhku lalu menujahkan batangnya masuk ke dalam cipapku dengan ganas sementara Izie masih sibuk meramas buah dadaku dan Izani pula sedang menujah ganas mulutku. “Abang… bagi Izani pulak… Izani dah tak tahan ni…” Kata Izani pada abangnya Izra. Izra mencabut batangnya dari cipapku lalu menonggengkan tubuhku, Izani datang ke belakang punggungku lalu terus menujah cipapku dari arah belakang. Aku kini sedang menghisap batang Izie pula dan Izra mula menjilat serta meramas buah dadaku.Tak lama kemudian, Izani merebahkan tubuhnya lalu menarik tubuhku ke atas tubuhnya dan memasukkan batangnya ke dalam cipapku dari bawah. Aku mencapai puncak klimaksku yang panjang ketika Izani memecut laju menyetubuhiku ketika aku berada di atas tubuhnya. “Izie… sekarang pergi masukkan batang kau kat sini…” Arah Izra pada Izie sambil memasukkan sebang jarinya ke dalam lubang duburku sambil di gerakkan keluar masuk jarinya itu. Aku yang mendengar Izra mengarahkan Izie memasukkan batangnya ke dalam duburku hanya diam sahaja seolah merelakan pula duburku di tujah Izie. Izie dengan cepat ke balakang punggungku lalu batangnya yang tidak beberapa besar itu terus dipacakkan ke duburku. Aku membetulkan batang Izie agar mudah masuk ke lubang duburku. Sekarang Izie dan Izani melakukan tujahan serentak di cipapku serta di duburku, aku hampir menjerit kesedapan tetapi suaraku tidak keluar kerana di sumbat oleh batang Izra. Oleh kerana tidak tahan dengan kemutan yang kuat di dubur, Izie telah memancutkan air maninya di dalam duburku. Setelah batangnya dicabut keluar, Izra terus memasukkan batangnya kedalam duburku. Aku yang sedang menikmati tujahan batang Izra di duburku serta tujahan batang Izani di dalam cipapku menggerakkan punggungku seiring dengan tujahan mereka. Aku sekali lagi telah hampir mencapai puncak klimaksku yang kedua. Aku kemutkan lubang dubur serta cipapku serentak dan Izani tidak dapat bertahan lagi apabila otot cipapku mengemut batangnya lalu memancutkan air maninya di dalam cipapku. Izra masih laju menujah duburku yang mengemut ketat itu dan akhirnya Izra pun memancutkan air maninya ke dalam duburku setelah menujah dengan agak kuat. Aku tertiarap di atas katiku dengan ketiga anakku yang terbaring lemah disisiku. Begitulah kehidupanku bersama ketiga anak-anankku sehingga kini, aku merasa sungguh puas bersetubuh serentak dengan mereka dan aku tidak lagi mencapai kepuasanku ketika bersetubuh dengan suamiku.
Dahaga Kasih
Aku terbaca tentang ruangan ini semasa aku masih di luar negara. Malah sekarang pun aku masih disini dan menanti untuk pulang beberapa bulan lagi. Teringat aku kisah-kisah dulu yang ingin juga aku ceritakan. Apa salahnya di kongsi bersama kan. Semua orang bercerita yang masing-masing gagah…entah la aku tak tahu hal saiz orang lain cuma aku ni darah campuran sebelah Arab, Singh dan Melayu. So ladies you just imagine okay.
Beberapa tahun dulu sewaktu aku di Kuala Lumpur , ada staff perempuan baru yang jadi receptionist di tempat kerja aku. Di sebabkan aku salah seorang senior management staff. So dia panggil aku Encik Dan la..tapi aku ni tak suka sangat orang panggil aku macam tu…cukup la dengan nama. Yang canggihnya dia ni potongan badan dia….wow…yang dalam seluar tu tak diam jadinya…kat office ni office boy semua pasang jerat. Aku pun fikir jugak dapat bagus ni. Dia ni someone wife dalam linkungan 26.
Selepas 6 bulan bekerja dia dapat promotion jadi PA aku.Satu hari dia datang office aku untuk discussion pasal last minute project submision.That day dia pakai blouse terbuka kat dada. Masa dia tunduk nak exlain kat aku nampak semua buah dada dia ..pakai bra lace yang nipis…nipple kemerahan …my dick get so stiff and because of my dick size I feel so painfull……….tak tahan masa ni…rasanya dia tahu aku nampak buah dada dia…dia buat tak kisah aje….sepanjang perbincangan tu dick aku ni asyik keras aje…dah kemana pergi otak aku entah le…..
Kami habis jam 8 malam so aku ajak dia dinner dulu sebelum balik. Okay saja…..masa dinner tu dia cerita la..dia dah kawin anak seorang ..hsband main luar..sebab dia jumpa panties perempuan lain dalam kereta husband. Dah banyak kali dah…….aku ni lagi la teringin nak rasa……entah bila ya……Habis dinner bila nak balik dia bagi tahu tertinggal purse kat office. Tak apalah aku kata..kita singgah ambil on the way back..
Sampai kat office gelap aje…mana ada orang jam 11 malam. Nak masuk tak boleh..tapi aku ada password dan kunci . Mau tak mahu terpaksa teman kan dia…dah tu hujan pulak lebat masa tu. Dari parking lot ke office basah habis. Masuk dalam office merayau cari suis tapi tak boleh jugak sebab black out…dalam gelap ni teraba-raba ke meja dia.cerita sensasi artis
I dah jumpa Dan my purse, kata Wati
Okay..let go …balas ku
Bila dia berjalan ke arah aku tiba-tiba dia terlanggar aku dan kami terjatuh atas lantai…..secara spontan aku terpeluk dia dilantai dan muka dia tersembam ke muka ku…….
Emmmm…..sorry kata ku..
That okay…..balas wati……
Waktu nak bangun tu aku peluk dia sebab dalam gelap ….and my hand was holding her ass…..opsss ..sorry wati…I feel nice …wati kata.. Hmmm ..dalam hati kata why not I try to kiss her So Aku cium bibir dia…lidah menghisap setiap titisan air liur dari bibir wati…menerjah kedalam mulut dan menjilat setiap inci lelangit …… Hug..hummm…..ahhhhhhhhhhh….keluhan keluar dari mulut wati……nafsu terlalu tinggi ku kira waktu tu…..baju yang basah sebab hujan pun dah jadi kering oleh bahang nafsu…… Dari mulut aku hisap telinga wati..ke leher dan ke dadanya…
Do it to me Dan….I want to tear each part of you……
Satu persatu aku tanggalkan butang blouse Wati…….breast dia masih dalam bra lace …..aku unhook bra Wati…dan mula menghisap putting nya..susah benar sebab tenggelam…..aku sedut dan hisap macam bayi kecil …aku mula menggigit-gigit keceil putting Wati….Setipa bahagian tetek wati aku jilat……aku turun kebagian perut….dan jilat semula ke bahagian tetek Wati……Her breast is so firm about 34…..My dick ni punya la keras…macam nak pecah seluar……..
Dalam hati memang nak fuck this Wati tonight……let her remember me…..forever…..
Wati dah kuat bunyi suara nya……..Dan..please…suck it more….more…I want to come …..coming…ing……gosh….dammm good…….wati coming sewaktu aku asyik menyoyot dan meramas buah dadanya….
Shall we continue tempat lain seba aku tak selesa di office ni…
She said…my place…..my parent is not arround and my husband didn’t stay with me anymore now……bisik wati….
Kami cepat-cepat berpakaian dan terus ke rumah wati…..dalam kereta kami diam saja……sampai kawasan rumah dia…gosh…..her parent much be rich….punya besar rumah……
Masuk saja dalam…wati tutup pintu and we start to kiss each other…..wati terus melucutkan setiap pakainannya…cuma yang tinggal panties G-String…aku ni bila tengok G-String lagi la keras menggila……..berahi……she take off all my cloth and leave only my Calvin Klien Boxer……trill kata Wati……
We atarted to kiss ech other……Wati baring di ruang tamu……aku mula mencium dan menjilat setiap bahagian Wati..dari hujung rambut..aku belai dan cium di hujung dahi ……hidung wati aku jilat dan cium……terus ke telinga…aku hembus perlahan-lahan…meremeng bulu roma wati
AHHHHHH…….EMMMMMMMMM……I’m wet honey……
Bantal-bantal kecil yang di pegang Wati..di ramas…bagai nak hancur rasanya bantal tu……kalau di ramas batang ku entah macamana rasanya…..
Aku kembali mecium Wati…..puas rasanya berciuman dan melihat reaksi wajahnya…….di ofice kan gelap..ini cerah…..nampak segalanya…….muka wati layu..aku menhisap lidah Wati dan entah berapa banyak air liur wati dalm mulut aku……. Ahhhhhhhhh….kuat bebar suara Wati….semakin kuat semakin bernafsu aku….
Aku kembali ke buah dadanya..indah..subur….dan masih enggelam putingnya…..aneh….jarang di pakai rupanya…..seluruh buah dada Wati penuh dengan air liur ku…..aku menggigit lembut daging pejal buah dadanya…..aku sedut dan entah berapa banyak tanda merah di buah dadanya aku sendiri tak tahu……
Aku mula turun keperut dan menjilat bahagian pusatnya……..Wati merenget manja dan tak senang duduk jadinya….. seterusnya…aku turun ke bahagian pussy wati…..basah meleleh…G-String panties…banyak mana sangatla dapat menutup kesemuanya…..aku jilat dan menyelinap masuk lidah ku di celah panties dan menyentuh bulu-bulu halus Wati……
Take me Dan……I beg you……I’m so horny…………please……..fuck me …..cerita sensasi artis Aku masih menghisap dan menjilat kemaluan Wati dari luar dan celah panties….terkejang Wati sekejap…dah coming la tu…..
Mula menurun ke bahagian paha dan membelai dengan hujung lidah……aku hisap dan terus menjilat…tereangkat-angkat kepala wati dari atas carpet di ruang tamunya…….lidah aku terus turun ke bahagian buku lali dan aku masukan lidah di celah-celah jari kakinya……
OOOOOO….my God……I never feel like this……You are damm good……aku masih mahu explore setiap bahagian Wati……don’t have to rush ……let enjoy it Wati……..Setiap kali aku jilat jari kakinya…berdenyut-denyut ku lihat pussy Wati….. Turn arround Wati…..
Bila Wati berpusing menirap……aku semakin bernafsu…Wati cuba memengang zakar ku…..be patient honey…you will touch it later…I want you to let you have the pleasure first……..jawab ku..
Please Dan..I dah tak tahan ni…….let me see you dick…..
Aku buat tak kisah ..dan kembali mengusap punggung wati…bulat . pejal..dan paling ghairah …panties dicelah punggung Wati…sebab tu aku suka G-string….. gigitan kecil dan ramasan pada ass Wati ku lakukan…..aku usap dan menjilat alur punggung Wati …menggigil nya …….
Dah hampir 1 jam oral sex ….entah berapa kali wati klimak entah la…mata dah kuyu angat…bila tengah stim bayangkanlah muka mana….. Aku pusing dan wati menolak ku ke lantai…..boxer ku ti rentapnya..dan tersembul dick aku… Dan………….gosh…really tick and huge…..urat dick you sampai timbul ye…….bisik Wati di telinga……
Wati mula menghisap…..di jilat bahagian kepala zakar…dengan rakus dia kerjakan kepala zakarku…lidah nya menyucuk hujung akar…terangkat aku dan bagai nak terpancut mani ke dalam mulut………sikit demi sedikit kepala Wati turun kebawah hibgga separuh zakar aku dah masuk ke dalam mulutnya..air liur meleleh keluar dari mulut…….tanpa membuan masa Wati memainkan sebahagian zakarku dengan tangannya….kesan air liur tadi melicinkan pergerakan…….zakarku terlalu tegang dan keras tapi aku masih boleh menahan mani dari keluar…itulah kelebihan yang aku ada……
Berdenyut-denyut zakarku……
Emmm…..Dan…I boleh rasa dick you semakin menegang……….wati terus pula menhisap telur ku…..wow……….melayang badan ni……..
You want my dick now……..aku bersuara…..
Do it..pump..it…stick it…….I’m yours baby………..
Wati kembali menelentang…….terkankang……..melelih air mazi keluar melimpah…….Wati pegang kepala zakarku dan memainkan di hujung kelentitnya……. Agggggggg……………..fushhhhh….kuat benar bunyi keluar dari mulut Wati….
Sedang wati memainkan di hujung pussy….tiba..tiba……zuppp..aku terus tekan masukan dick aku…separuh masuk…dan Wati………. OOHHHHHHHH…yes…….damm good…huge babyyyy……………melopong mulut wati… Aku mula pump in and out……more honey..more…….akhirnya aku tekan kesemuanya masuk …ooo..oh..oh…..so deep …..harder ..harder…………
Aku mula tari kembali keluar….tinggal hanya hujung akar dan terus tekan kembali……..nasib baik rumah wati kosong…kalau tidak mau satu rumah dengar suaranya……bau air pussy wati menaikan lagi nafsu ku…….semakin di tekan semakin banyak air yang keluar……basah bulu wati…dah tu pussy nya masih ketat….aku respect dia ni punya barang………….
Wati meluruskan kakinya dan mengepit zakarku…….sedap betul…terasa tembamnya pussy dia…….kami bercuiman semela manakala zakar masih lagi terbenan keluar masukk……..sambil bercium tangan ku tak lepas merapa setiap bahagian tubuh Wati dan bermain di breast ……aku turunkan tangan ku kebawah…sambil menekan keluar masuk tanganku berain di kelentit wati….aku ambil tangannya dan bermain bersama …….
Dammm you…so good…I’m…coming………dan aku terus menhentak kuat………… Oohhhhhhhhh…………
Aku masih belum sampai…………dah dua jam begini…masih kuat berdayung kami berdua…….. Turn your back babe…….
Wati menirap dan meluruskan badannya……..aku mainkan dick aku di celah pehanya dan terus masukan ke pussynya dari belakang…..menjerit kuat…………more baby more…….
Bila aku pump dari belakang nikmatnya makin sedap sebab Wati mengemut dengan lebih kuat lagi……sambil menhentak aku pegang ass wati dan terus menunggangnya dari belakang……….
Ummm..um……ummmmmmmmm…………
Bergoyang badan wati…….kelihatan buah dadanya juga turut bergoyang……aku mula meramas dari belakang……sambil buluku bergesel di bahagian punggungnya…………….it nice…..honey………….I’m cominggggggg………………ooooooooooooooo
Wati kembali menelentang,…..aku kembali memasukan zakarku dari hadapan…….sampai kembang dan terbuka luar faraj wati di kerjakan……..aku masukan kembali kedalam faraj …….zakarku kembali menegang di dalam pussy Wati…
Wah…you can still go on Da…Yes baby balasku..
Zakar yang mula menurun kembali menegang di dalam pussy wati……Aku ankat kepala wati dengan tangan dan biarkan di dadaku…..separuh badannya terangkat dan aku kembali menerjag faraj wati…hampir setengah jam…aku rasa dah nak klimaks……
Aku semakin menekan …….suara kami derdua jelas kedengaran….ohh…umm….yeees..yeahhh usssh…..
I will shoot inside you baby……..yes..dan do ..it………..nowwwwww…….
Aku benamkan dan terus memancutkan semuanya dedalam faraj wati…………Ohhhhhh go are good honey kataku….you tooo…..
Aku lihat jam dah 4 pagi waktu tu…..nasib baik esok hari sabtu tak kerja…..
Pagi jam 7 aku bangun …dan pulang ke apartment ku……Wati kata nak datang ke apartmentku malam nanti…………….
Why not …..I will take your ass this time balasku… I never do that… Me too watii Okay we try honey……………
Hubungan aku dengan Wati berjalan hanpir 3 tahun…..kadang-kadang di office pun jagi…dia datang tak pakai panties…..sambil bekerja aku seluk dalam skitnya…..kadang-kadang aku fuck dia dengan hanya menyelak skirt yang di pakai waktu lunch kat office……nice to try something different…..
cerita sensasi artis – Ada sekali tu aku uck dia masa dia salin baju di shooping complex……….gosh….what a lady…….. I still have some story bout her and few ithers…aku teringin nak cuba dengan mature lady …ramai kata mature ni lebih banyak experince …so anybody out there…I want to be your student…………..of course this will only between us…sex not feelings okay………
For the young and lovely ladies…lets try to explore more ……you can e-mail me [email protected]
Sorry I’m not a good writer………….if I have more support from you there I’ll share more of my stories………about Pam …my apartment mate Chinese lady with big tits…….datin Nelly yang make dalam bath tub di hotel…….sampai nak patah dick aku di kerjakannya……atau pun pensyarah aku di U dulu……sebab mabuk masa keluar dengan aku ke disko …
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Penangan Janda
Nurbainon atau biasanya orang kampung panggil Banon sudah 5 tahun hidup menjanda. Lakinya mati dalam kemalangan dengan basikal ketika berjalan kaki ke tempat kerja. Anaknya yang 3 orang tu masih bersekolah. Paling tua baru tingkatan 2, yang kedua pula baru darjah 5 dan yang bongsu pula darjah 4. Ketiga-tiga anaknya perempuan. Demi menampung perbelanjaan hariannya, Banon telah bekerja sebagai pembantu gerai makan mak Leha di simpang masuk kampung di sebuah daerah di Johor itu. Walau pun gajinya tak seberapa, jadilah asalkan dapat menampung mereka sekeluarga. Kalau terkurang duit, maknya iaitu hajah Saodah yang tinggal di kawasan pekan akan datang menghulurkan bantuan. Bukan Banon tak nak tinggal dengan maknya, tapi dia sebenarnya lebih suka tinggal berdikari bersama anak-anaknya. Lagi pun dia tak nak menyusahkan maknya. Maknya faham dengan perangai degil anaknya tu. Banon bukannya tak lawa, orangnya cantik dan bodinya pun ada umphh! Kalau nak dikira cutting dan solid molid memang out la kiranya, tapi ada bahagian-bahagian pada tubuhnya yang mampu buat lelaki tak boleh tahan dengannya. Umurnya yang dah melangkah 45 tahun dah boleh dikira tua kalau perempuan, tapi sebenarnya Banon masih boleh bagi penangan atas katil yang hebat. Perutnya yang membuncit sebab tak jaga badan nampak sungguh seksi. Kalau pakai baju ketat sikit, memang jelas ketara bodi dia yang melentik tu. Punggungnya tonggek tak usah cakap dah. Baru pakai baju kurung yang sendat sikit dah meleleh air liur orang kampung. Itu belum lagi pakai skirt yang ketat-ketat atau pun kebaya balut sarung nangka. Silap-silap pak imam pun boleh balik melancap kat tepi jalan pasal stim dengan bontot Banon yang tonggek dan lebar tu. Peha dia memang gebu. Ditambah pulak dengan cara jalannya yang menonggek ala-ala itik serama dan ada sikit-sikit bersepah jalannya, memang stim betul kalau tengok janda nih. Sejak Banon kerja kat kedai makan mak Leha, memang ramai pelanggan datang terutamanya lelaki la. Semuanya semata-mata nak menjamu mata tengok janda seksi tu. Ada jugak sorang dua yang cuba kenen-kenen tapi Banon ni buat biasa-biasa je, sebab dia dah biasa dengan usikan nakal lelaki-lelaki yang cuba nak ambik kesempatan kepadanya. Namun pada satu hari ni, ada seorang anak muda yang memang dah stim gila dengan si janda beranak tiga ni pergilah makan kat kedai makan mak Leha. Masa tu tak ramai pelanggan yang datang. Jadi anak muda ni, Jusoh namanya pun duduklah dekat meja yang dekat dengan tempat Banon keluar masuk dari dapur ke ruang makan. biar senang sikit nak tackle Banon. Masa Banon ambik order, Jusoh buat-buat alim kucing. Buat-buat baik la konon. Pijak semut pun tak mati. Nak teh O ais limau katanya. Bila ditanya nak makan apa, jawabnya.. “Saya tak selera makan la sebab teringatkan awak..” jawab Jusoh selamba ala-ala romeo. Banon cuma senyum je. Lepas tu dia tinggalkan Jusoh yang tersengih macam kerang busuk. Mata Jusoh gelojoh melahap punggung Banon yang sendat dengan skirt hitam itu. Blouse kuning yang dipakai Banon agak singkat sampai nampak garisan seluar dalam pada kain skirt hitamnya. Sejurus kemudian Banon datang dengan air minuman yang dipesan oleh Jusoh. Sebaik gelas diletak di atas meja, Jusoh segera mengorat Banon. “Banon dah makan?” tanya Jusoh sambil control macho. “Dah… Betul ke Jusoh tak nak makan?” tanya Banon. “Kalau makan kat rumah awak nak juga, kalau kat sini belum selera lagi la Banon..” kata Jusoh mula mengada-ngada. “Datanglah rumah saya kalau nak makan kat rumah saya..” kata Banon. “Boleh ye? Bila?” tanya Jusoh tak sabar. “Datanglah esok. Bukan ke esok Jumaat, saya cuti. ” kata Banon. “Err.. Pukul berapa?” tanya Jusoh lagi tak sabar-sabar. “Awak call saya dulu lah.. ” kata Banon. “Apa nombor handphone awak ye?” kata Jusoh sambil cepat je tangannya mengeluarkan handphonenya dari dalam poket seluarnya. “0127XXXXXX” kata Banon. Jusoh segera menyimpan nombor handphone Banon ke dalam handphonenya dan Banon pun segera ke meja makan lain untuk mengambil order dari pelanggan yang baru masuk ke kedai. Mata Jusoh bersinar-sinar dengan penuh harapan. Harapannya untuk merasa tubuh mungil janda beranak tiga yang seksi itu mungkin akan tercapai. Dari mejanya, matanya terpaku melihat punggung Banon meliuk-liuk dalam kainnya. Perut Banon yang buncit nampak begitu sedap sekali jika dapat dipegang. “Ah… sabar… sabar… esok mesti dapat…” kata hati Jusoh. ……………………………………………………… Esoknya seperti yang dijanji pada malam tadinya, Jusoh datang pada waktu yang dijanjikan. Malam tadinya dia dan Banon bermain sms sampai lewat malam. Sikit-sikit jusoh masuk jarum dan nampaknya ada respond dari janda beranak tiga ni. Perbualan-perbualan lucah pun sikit-sikit menjadi tajuk mereka berborak. Tepat jam 6.30 pagi, Jusoh dan menyangkung di tepi tingkap bilik Banon. Dalam gelap-gelap tu dia duduk di celah-celah pasu bunga sambil membaling batu-batu kecil ke tingkap kayu bilik Banon. Perlahan-lahan tingkap bilik Banon terbuka dan cahaya lampu bilik Banon pun menyinari ruang luar rumah. Banon lihat Jusoh dan menunggunya seperti dijanjikan. Segera Banon ke dapur membuka pintu belakang perlahan-lahan, takut anak-anaknya terjaga dari tidur. Jusoh pun masuk dan Banon membawanya masuk ke dalam bilik. “Mana anak-anak awak ?” bisik Jusoh kepada Banon. “Tengah tidur, awak duduk dulu, saya nak kejutkan dia orang pergi sekolah. Kejap lagi saya datang balik.” arah Banon dan Jusoh pun duduk di tepi katil menantikan Banon. Dari dalam bilik, Jusoh dengar suara Banon mengejutkan anak-anaknya bangun dari tidur. Macam-macam karenah nampaknya anak-anaknya. Dari suara Banon, Jusoh tahu anak-anaknya liat nak bangun tidur. Sambil tu mata Jusoh memerhati ruang bilik tidur Banon. Mata Jusoh terlihat bakul baju basuhan dan dia segera bangun dan menyelongkar segala isinya. Tangan Jusoh berjaya mendapat sesuatu. Seluar dalam Banon yang dikumpul untuk dicuci kelihatan masih bersih. Jusoh cium seluar dalam Banon. Bau badan dan bau pepek Banon menyerap ke dalam hidungnya. Jusoh serta merta stim. Dia membelek-belek seluar dalam Banon. “Mak oii… besarnya seluar dalam dia… Lagi besar dari seluar dalam aku? Memang power nampaknya bontot janda ni..” kata hati Jusoh sendirian. Jusoh segera menyimpan seluar dalam Banon ke dalam koceknya apabila dia menyedari pintu bilik perlahan-lahan dibuka dari luar. Kelihatan Banon masuk dan terus duduk di sebelah Jusoh. Mereka saling berpandangan sambil tersenyum. “Kita nak buat apa ni?” tanya Banon berbisik kepada Jusoh. “Bukan ke saya nak makan awak… Oppsss…. nak makan kat rumah awak…” kata Jusoh. “Eeiii… gatal…. ” kata Banon sambil jarinya mencubit manja peha Jusoh. Jusoh segera menangkap tangan Banon dan dia terus memegang jari jemari Banon dengan lembut. Banon tersipu-sipu malu. Tiba-tiba kedengaran suara anak Banon memanggil namanya dari luar bilik. Banon segera bangun menuju ke pintu. Jusoh seperti terpukau melihat punggung Banon yang meliuk-liuk dibaluti kain batik merah yang ketat. Baju t hijaunya kelihatan terselak ke pinggang mendedahkan punggung tonggeknya yang lebar. Perlahan-lahan Jusoh mengurut koneknya di dalam seluar. Banon berdiri di pintu dan membuka sedikit pintunya. Kedengaran suara anaknya menanyakan baju sekolahnya. Banon mengarahkan anaknya mengambil baju sekolah yang sidah siap digosok di ampaian bilik anaknya. Kemudian Banon menutup pintu dan kembali duduk di sebelah Jusoh. “Bontot awak power betul la Banon… ” kata Jusoh sambil tangannya mula meraba-raba punggung Banon. “Ee… tak malu ek?” kata Banon perlahan-lahan sambil sekali lagi mencubit peha Jusoh. “Saya nak bagi anak-anak saya duit sekolah, awak tunggu sini kejap ye… ” bisik Banon. “Banon… nah ambik ni… ” kata Jusoh sambil mengeluarkan dompetnya dan menghulurkan tiga keping duit RM5 kepada Banon. “Untuk apa ni?” tanya Banon. “Untuk anak-anak awak.. takpe ambik je… saya ikhlas..” kata Jusoh. “Terima kasih..” kata Banon sambil tersenyum dan terus menuju ke pintu bilik. Jusoh sempat menepuk punggung Banon hingga jelas ianya bergegar dibalik kain batik yang ketat itu. Banon menoleh kepada Jusoh sambil tersenyum lalu keluar dari bilik mendapatkan anak-anaknya. Seketika kemudian Banon masuk kembali ke dalam bilik mendapatkan Jusoh. Dia duduk di sebelah Jusoh. Mata Banon terlihat adanya bonjolan di seluar Jusoh. Banon tahu apakah itu namun dia sengaja ingin menguji Jusoh. “Apa yang terbonjol tu?” tanya Banon buat-buat tak tahu. “Ohh.. Ini namanya burung nak terlepas… Banon nak tengok?” kata Jusoh. “Awak tak malu eh.. ” kata Banon. “Tak… Nah… ” terus sahaja Jusoh membuka zip seluarnya dan menarik keluar koneknya. “TOINGGGG!!!!” terpacak bagai spring konek Jusoh yang dah berkilat kepala takuknya. “Eeeee…. Awak ni tak malu laa…. ” Kata Banon sambil ketawa kecil. Jusoh dengan selamba menarik tangan Banon supaya memegang koneknya. Banon pun memegang konek yang dah lama tak dinikmati itu. Jusoh bagaikan menarik nafas lega disaat tangan Banon mengocok koneknya yang keras itu. Banon sendiri semakin terangsang nafsu jandanya. Konek Jusoh yang keras dipegangnya dan dirocohnya hingga kelihatan air jernih mula terbit dari lubang kencingnya. Berkali-kali janda beranak tiga itu menelan air liurnya sendiri. Jusoh pula tak boleh handle tengok koneknya dirocoh janda itu. “Banon… takkan nak lancapkan je kot…” kata Jusoh kepada Banon. “Awak nak saya buat apa?” tanya Banon. “Hisap la sayangg… ” kata Jusoh mengada-ngada. Banon pun turun dari katil dan berlutut di antara kaki Jusoh. Lidah janda beranak tiga itu pun menjilat kepala takuk konek Jusoh. Jusoh menggeliat geli. Banon ketawa kecil dengan telatah Jusoh. Kemudian dia mula menghisap kepala takuk Jusoh dan menyonyot macam budak-budak hisap puting. Dah lama betul dia tak hisap konek. Nafsu jandanya cepat je naik. Banon pun terus hisap konek Jusoh sampai ke pangkal. Konek Jusoh hilang dalam mulut Banon. Kemudian muncul kembali dan hilang kembali dalam mulut Banon. Jusoh betul-betul tak boleh tahan dengan hisapan mulut Banon. Rambut Banon yang kerinting halus di belainya dengan lembut. Muka Banon yang cantik dan bertahi lalat di pipi kanannya bagaikan bidadari sedang menghisap konek. Memang dia betul-betul stim gila. “Banon… saya tak boleh tahan.. Cukup sayang… ” kata Jusoh. Banon buat selamba. Dia tak hiraukan permintaan Jusoh. Dia nak Jusoh terpancut-pancut. Dia nak Jusoh tahu bahawa dia memang hebat menghisap konek lelaki. Dia nak Jusoh tahu dia memang perlukan konek lelaki. “Banon… tolong sayangg… Banon.. Ohhh.. Ohhhh… AHHHHHH!!!” “CRUUTTTTT!!!! CRUTTTTTT!!! CRUUUTTTTT!!!” Memancut air mani Jusoh di dalam mulut Banon. Janda beranak tiga itu terus menghisap konek Jusoh keluar masuk. Air mani Jusoh dirasakan memancut kuat memenuhi rongga mulutnya. Pekat dan banyak. Banon menelan air mani Jusoh sedikit demi sedikit, namun sebahagian lagi berciciran jatuh dari celah bibirnya ke kain batiknya. “Slurrppp… Srupppp.. Ohhff… Emmphhh… Oouuffff….” Mulut Banon yang dipenuhi konek dan air mani bersuara penuh nafsu. “Banon…. Ohhh… Banon… Ohhhhhh… sedapnya Banon…” Jusoh mengerang sedap. Banon pun menarik kepalanya membuatkan konek Jusoh keluar dari mulutnya. Berciciran air mani Jusoh meleleh keluar dari mulut Banon. Memang banyak hingga semuanya meleleh jatuh membasahi kain batik di pehanya. Jusoh sungguh teruja dengan kelakuan Banon yang sungguh lucah itu. Selama ini dia main dengan Rathi, perempuan hindu merangkap bini tokeinya pun tak selucah itu. Jusoh terbaring di atas katil sementara Banon pun keluar dari bilik menuju ke bilik air. Sambil berbaring, Jusoh terfikir apalah nasib janda beranak tiga tu. Lawa-lawa pun tak ada orang berani nak datang meminang. Jusoh bertekad, dia nak masuk meminang Banon. Walau pun umurnya terlalu jauh jaraknya tetapi dia tidak peduli itu semua. Jusoh nekad. Pasti.. dan pasti….
USTAZAH ASKAR 2
Wau nmpk nya ada lelaki bertuah meratah dia
Perghhh. Gersang teruk mukaa
Untuk mana-mana yang gersang
Hi. Admin sebenarnya nak buat group 18xxx kat wechat. So sape yang sudi, boleh lah reblog n send id korang okeyy
Sape nak join lagi? Admin nak add contact wechat ni
Boleh join lagi ni geng
Untuk mana-mana yang gersang
Hi. Admin sebenarnya nak buat group 18xxx kat wechat. So sape yang sudi, boleh lah reblog n send id korang okeyy
Sape nak join lagi? Admin nak add contact wechat ni
Untuk mana-mana yang gersang
Hi. Admin sebenarnya nak buat group 18xxx kat wechat. So sape yang sudi, boleh lah reblog n send id korang okeyy
Sape nak join lagi? Admin nak add contact wechat ni
Untuk mana-mana yang gersang
Hi. Admin sebenarnya nak buat group 18xxx kat wechat. So sape yang sudi, boleh lah reblog n send id korang okeyy
Yang mana nak share video porno, pic2 nakal semua tuh, boleh lah masuk dalam group Telegram ni. Jom semua. Sebarkan okeyy
Badan yang amat menggiurkan 😍🤤
MENOLONG MELOLONG...
‘Abang . Masuklah’ pelawa biras aku Saodah yang gempal, bini adik ipar aku Seman. Aku memanggil dia Odah saja. Orangnya berkulit cerah, tinggi lebih kurang 4 ½ kaki sahaja tetapi mempunyai tetek yang amat besar iaitu saiz 42D. Berumur 48 tahun dan mempunyai anak seramai 5 orang. Yang sulong berumur 26 tahun dan yang bongsu 3 tahun. Suaminya aku panggil Man, yang bekerja sebagai jurukimpal di KTM. Untuk menyara isteri dan 5 orang anaknya, ipar aku ini akan berkerja lebih masa dan setiap hari pulang lewat secepat2nya jam 10 malam. Yang menyedihnya ipar aku ni mati pucuk dan walaupun telah berusaha berubat dimerata tempat, tapi tidak pulih sehingga ini. Perkara ini diberitahu oleh bini dia pada aku 2 tahun yang lalu. Maka aku lah yang membawa ipar aku ini untuk berubat kalau luar kawasan KL kerana dia tiada kenderaan. Akhirnya dia putus asa dan tidak lagi mahu berubat. ‘Man kau kena terus berubat nanti camna dengan bini kau. Kesian dia yang masih muda, tambah lagi ody dia dah lah macam tu. Abang takut nanti ada orang yang kacau dia. Maklum lah dia masih muda’ nasihat aku kepada ipar aku. ‘Takpa lah abang. Apa2 Man serah kepada abang sahaja. Kalau dia nak pi bersiar2 abang tolong lah bawa kerana Man bukan ada kereta’. Adik ipar aku ini amat telus dan pernah meminta aku teman bini dia dan kalau bini dia terlalu gian untuk dikongkek, dia akan bagitahu aku untuk memuaskan nafsu bininya. Mereka tinggal di flat Bangsar, sewaan KTM. Tujuan ipar ku berkata demikian supaya tiada orang lain ambil kesempatan atas bini nya. Lagipun aku lah yang membantu mereka ketika kesempitan wang. ‘Dosa tu Man. Hang kena tanya Odah dulu, nanti apa kata dia pula. Lepas tu bagitau abang. Abang takut hang menyesal nanti’.
‘Man tak kisah abang. Abang tak tau, Odah ni kuat setim. La ni yang Man boleh buat cuma jolok burit dia dengan jari saja dan ramas2 tetek besar dia. Pasal tu tetek dia jadi terlalu besar sekarang, dah naik jadi saiz 43D. Kalau dia setim sangat tak boleh kontrol, dia ambil pisang tanduk jolok puki dia sampai dia puas. Man takut orang lain, jolok burit dia abang’. Pada orang lain yang dapat lebih baik abang yang puaskan dia. Man dah bagitau Odah dan dia rela kalau abang yang henjut burit dia’ Terkejut aku mendengar kata2 ipar aku ini. Sebab itu lah agaknya tetek bini dia betambah besar hingga jdi saiz 43 D. Satu masa nanti aku akan jadikan tetek bini dia jadi 45D pula. Kesian aku pada ipar aku ini. Tapi sebenarnya aku sejak lama dulu lagi memang teringin sangat dengan bini dia kerana geram tetek nya yang terlalu besar disamping bontot yang lebar besar. Aku bertekat nanti untuk menggomol, meramas tetek besar Odah, henjut burit miang dia dan termasuk mengongkek lubang bontot dia. Biar dia puas dan aku bayangkan Odah akan meraung kesedapan. Peluang ini tak akan ku lepaskan. 'Man tak ada kat umah. Dia kerja katanya pulang jam 11 malam nanti’ kata Odah. Abang masuklah. Nanti Odah buat air’
'Saja abang mai sini nak tengok Odah. Dah lama tak jumpa’ kata aku.
’ Aiiiiiih…..baru 2 hari dulu dah mai, kata dah lama tak jumpa. Abang ni nak mai tengok Odah atau rindu nak tengok tetek Odah yang besar ni. Tu nak ramas dan hisap la tu. Hi……hi…..hi….. Macam Odah tak tau. Odah pun rindu jugak kat batang abang yang panjang tu.
Orangnya chubby sikit, berkulit cerah, tinggi 4’ 8" dan memiliki tetek yang sungguh besar bersaiz 43D. Masa dia mula mula berkahwin dengan adik ipar aku dulu, saiz teteknya besar juga tapi taklah macam sekarang. Untuk melindungi tetek besarnya maka kerapkali dia memakai baju bersaiz besar atau baju kelawar. Tetapi baju baju tersebut tidak dapat melindungi teteknya yang terlalu besar macam gunung itu. Dia kini berumur 46 tahun. Mempunyai anak seramai 5 orang, yang sulung berumur 21 tahun dan bongsu 3 tahun. Itu adalah saiz coli yang aku beli untuk dia setahun yang sudah. Tapi kini aku tengok teteknya macam bertambah besar lagi. Suami dia Rahman 50 tahun, saorang tukang kimpal dengan KTM. Akibat mengalami penyakit kencing manis yang teruk maka sebelah kakinya dari pangkal lutut terpaksalah dipotong. Disebabkan penyakit itu juga, dia mengalami mati pucuk sejak 3 tahun lalu. Puas aku bawa dia berubat dimerata tempat bertahun tahun samada secara traditional atau moden dan sehingga dia tidak lagi mahu meneruskan nya, “Hang kena terus berubat Man nanti camna dengan bini hang. Hang kata dulu Odah kuat sex nanti camna. Abang takut nanti orang lain ambil kesempatan pada dia pulak. Orang jantan memang suka badan macam bini hang, terutama tetek dia yang besar gajah tu. Jadi sekarang hang nak puaskan dia, hang buat macam mana. Berapa lama sekali hang main dengan dia?” tanya aku kepada adik ipar aku. Dalam kes macam ni. aku dengan dia memang tidak berselindung. “ Tak mau dah abang, dah tak larat. Masa terbuang, duit banyak abis tapi tak jugak baik. Man ni bukan banyak duit. Memang Man risau takut jiran-jiran tahu Man mati pucuk dan depa ambik kesempatan ats diri Odah pulak. Odah pulak tu kerap sangat nak main, kadang-kadang seminggu sampai 3 kali. Bila dia nak dan Man sama setim, Man cuma jolok dengan jari dan jilat burit dia sampai lubang burit dia mengemut. Man kena lah uli dan ramas tetek besar dia lama-lama bagi dia puas. Kadang kadang dia jolok burit dia dengan pisang besar” terang adik ipar aku. “Ohhhhhhhh……..macam tu. Abang kesian lah kat hang dan Odah tapi nak buat macam mana. Nak bantu Odah pun, dia bukan bini abang. Tu sebabnya abang tengok tetek dia bertambah besar sekarang. Berapa saiz tetek dia Man?” kata aku. Tak disangka-sangka adik ipar aku tanya aku. “Abang tak teringin ke dengan Saodah? Tetek dia la ni dah jadi 44D. Pada dia buat tak senonoh dengan orang lain, biarlah dia dengan abang saja. Man tak kisah, sekurang-kurangnya jiran-jiran pun tak tahu dan tak heboh nanti” Aku memang terkejut besar. Tak sangka pulak adik ipar aku sanggup berkata demikian. Aku sememang nya ghairah sangat dengan biras aku ini terutamanya tetek dia yang amat besar itu. Jadi inilah peluang keemasan aku untuk menguli dan merenyam tetek besar dia dan yang pasti tentu cipap apam tembam dia akan kerjakan sepuas-puasnya. “ Tu hang kena tanya Saodah dulu. Nanti dia tak mau susah jadinya” kata aku. “ Man dah lama bincang dengan Odah pasal ini. Dia kata dia serah saja pada Man kalau Man izin. Mula hari ni abang buat lah apa yang patut kat Saodah. Tak apa Man tak marah.” kata adik ipar aku. Peristiwa tersebut berlaku lebih kurang 1 ½ tahun dulu. Sejak itu cipap tembam biras aku ni telah aku henjut setiap minggu, kadang-kadang dalam satu hari tu aku menutuh puki nya sampai 5 kali. Paling dia suka duduk mengangkang atas aku supaya batang besar panjang aku dapat masuk abis hingga ke pangkal puki nya. Batang aku pun bukan lah panjang sangat cuma 7" saja. “Abang dah minum ke belum ni. Tah tah makan pun belum lagi tak? Ni baru pukul 9.45 pagi” kata biras aku. “ Tak mau la. Tengok Odah pun dah terus kenyang. Abang nak minum susu dan makan apam Odah leh tak, Abang letih le nak gi baring sekejap” kata ku samil mencium pipi dan meramas tetek besar nya. “ Alahhhhhhhh…….Odah pun dah lama tunggu ni, nak makan lemang abang. Dah banyak kali Odah makan pun tapi tak juga kenyang-kenyang. Odah nak makan lagi tapi bukan dengan mulut tapi dengan cipap Odah yang merenyam ni. Puki gatal Odah macam tak boleh terima batang lemang besar abang. Macam nak terkoyak burit Odah, penuh sendat bila aang tojoh. Lepas abang cabut batang abang, lubang puki Odah selalu ternganga luas sampai 4 - 5 minit. Tapi Odah cukop puas dapat klimak banyak kali ” jawapan gatal dari biras aku. Samil berjalan ke bilik, aku tak lepas-lepas ramas tetek dia sambil mengusap alur pantat temam nya. Kerana dia tahu aku akan datang ke flat dia pagi tu, Odah memakai T-Shirt nipis yang sendat tanpa seluar dalam. “ Eeeeeiiiiiiiiiiiii……….tambah besar lagi tetek sayang ni. Dua tahun dulu Raman kata dah saiz 44D. Nampak macam lagi besar je.” kata ku sambil meramas tetek besar dia dan seterusnya membuka cangkok belakangnya. Sambil itu kain nya aku tanggalkan. Dia juga menanggalkan baju dan seluar panjang dan dalam aku. “ Eeelehhhhhhhhhhh………..buat-buat tak tau, saja nak tanya. Dua ari sudah kan sayang belikan Odah coli saiz 45D. Abangggggggg ……….. Odah takut la, lemang abang terlalu besar sangat dan macam lebih panjang ari ni. Sayang pergi urut bagi panjang dan besar lagi ye. Ari ni tambah senak dan lagi koyak la puki Odah lepas ni. Odah takut tak boleh masuk nanti ” Aku terus baring dan Saodah terus naik celapak posisi 69. Permulaan memang itu kegemaran kami kerana Odah boleh merocoh dan menghisap batang aku sambil aku pula dapat menjilat alor pukinya yang merenyam dan menghisap julur kelentit nya. “Sayang, memang besar butuh abang ari ni sampai mulut Odah tak boleh masuk. Macam mana nak masuk dalam burit Odah nanti. Boleh masuk dan muat tak Sayanggggggg” gelinjang biras aku. Memang besar dah jadi 4" lilitan dan panjangnya pula dah mencecah 9 “. Sebenarnya memang biras puki gatal aku lagi suka kalau batang aku bertambah besar. Malah sebelum ini pun bila batang aku berada dalan puki nya, memang amat sendat betul. Apabila di tarik keluar, isi kulit cipapnya seakan-akan mengikut keluar bersama. Tak rugi aku membayar dukun batin Siam sebanyak RM2,000 untuk itu. Tak sampai 5 minit, Odah bertukar posisi. Dia bangun dan melabuhkan cipap tembam licin nya atas mulut aku untuk terus di hisap. Mulut ku pulak terus menghisap tetek besarnya dan mengguli tetek nya. Odah dah mula mengerang kesedapan dan mencarut tak tentu arah akibat terlalu setim kerana kelentit panjang nya aku hisap tak henti-henti dan banyak air melimpah ke mulut ku. Tiba-tiba dia kejang dan mencapai klamik nya yang pertama. Tetek besarnya terus terhempap kedada aku. Matanya kuyu dan kepalanya diletak atas muka aku. Aku terus jolokkan 3 batang jari aku dalam cipapnya dan terasa kemutan yang kuat dan air puki nya meleleh keluar. Setelah beberap minit Odah turun dari badan aku dan melentang terkangkang atas tilam sebelah aku. Aku bangun dan meniarap dicelah kangkang nya dan menjilat alur burit nya serta menghisap lagi kelentit panjang nya. Saodah sudah mula meracau dan mencarut lagi kerana dah mula setim semula. “Sssaayangggggggg…..Odah tak nak butuk besar abang takut puki Odah koyakkkkkkkkkkk. Batang abaaaanggggggggggg panjang sangat takut masuk kat apam Odah nanti dia keluar kot mulut Odah pulakkkkkkk. Tapi Odah nak juga abang henjut apan tembam Odah sampai koyak walaupun tak muat ” katanya sambil membeli batang besar panjang aku. “Sayang tutuhlah apam tembam Odah banyak-banyak kali ari sampai Odah tak boleh bangun dan tak boleh berjalan. Apam Odah dah 2 hari tak kena tibai batang abanggg.” Rengetan nya untuk membuatkan aku jadi lebih ghairah. Memang betul cakap lakinya dulu yang bini dia ni memang kuat sek. Aku suruh biras ku sendiri ambil batang aku dan masukkan sendiri dalam apam tembam nya yang basah lencun, Dia kata tak mau, takut puki nya koyak nanti. Memang mengada-ngada dan gatal sangat biras aku ni. Aku terus memegang batang gajah aku dan melurut serta mengetuk-ngetukkan alur pintu puki miang biras aku ini. Aku cuba memasukkan batang aku dalam cipanya nya tapi hanya sebahagian kepala nya saja yang boleh masuk. “ Sayangggggggggggg………lubang burit Odah tak boleh muatlah batang sayanggggg. tapi abang jolok jugak biar koyak rabak lubang puki Odah yang gatal sangat ni, pasal Odah nak rasa jugak. Abangggggggg………..Ramas tetek besar Odah kuat-kuat dan hisap sampai keluar susu……..Biar tetek Odah jadi tambah besar, kan abang suka macam tu. Lepas abang tutuh burit miang Odah nanti, abang jolok pula celah tetek Odah yang besar gajah ni. Biar batang abang pancut penuh tetek Odah” Memang merenyam betul biras aku ni. “ Aaddooiiiiiiiiiii. abangggggggggg,,,,,,, batang abang dah mula masuk dalam puki Odah. Sendat sangatlahhhhhhhh abanggggggggg. Pelan pelan banggggggggggggg, penuh sendat sangat, lubang burit Odah dah tak boleh kembang lagi. Lubang dah abis kembanggggggg….banggggg……..adoiiiiiiiiiiiihhh papi abang jolok biar masuk jugak. sedap abangggggggg..tapi sakit………burit Odah koyakkkkkkkkkkkkkk banggggggggggg.” Kepala biras aku bergoyang kiri kanan sebab sakit dan sedap. Akhirnya seluruh batang besar aku masuk penuh habis dalam puki gatal biras aku ini. Aku sendiri pun rasa sendat sangat dan susah untuk disorong tarik. Isi cipap nya ikut terkeluar dengan batang besar aku dan akan masuk semula apabila aku menjolok masuk semula. Tidak sampai 3 minit cipap biras aku kemut semula tapi tidak berapa rasa sebab atang aku terlalu besar. “Sayangggggggggggg………Odah nak kemut lagi. Ahhhhhhhhhhh……..aaaaaahhhhhhhhh,,,,,,aaahhhhhhh… Burit Odahhhhhh mengemuttttttttttttt niiiiiiiii ……..abanggggggg atang sayang besar tak boleh keluar dah melekat dalam cipap Odahhhhhhh. Sayang jangan pancut lagi biar puki Odah mengemut dua kali lagi baru abang pancuttttttt” Aku rasa seluruh badan biras aku bergegar kuat termasuk tetek besarnya. Teteknya juga turut menjadi bertambah besar sebab klamik tersebut. Aku menaeik keluar batang aku secara amat perlahan kerana terlalu sendat. Keluar saja batang aku dari burit nya, terlopong luas nampak sampai bahagian dalam pukinya. “Nasib baik boleh keluar dan tak melekat batang gergasi sayanggggggg dalam puki Odah. Tapi sedap sangat walaupun sakit. Odah rasa botol kicap pun lagi kecik dari batang sayangggggg. Sayang tengok lubang puki Odah masih tak boleh tutup sampai la ni. Kalau tidak terpaksa pergi klinik buat opreation.” Selepas biras aku tenang, aku main semula menguli dan mengisap tetek gunung nya. Kemudian menjilat alur puki nya yang lencun kali ketiga serta menghisap kentitit panjang Odah. Cara ini cepat menaikkan berahi biras aku. Tak sampai 3 minit biras ku setim semula. Aku terus masukkan semula batang besar ku kedalam apam nya. Itupun masih susah nak masuk. Walaupun biras aku mula bercakap mencarut berahi semula, aku buat tak peduli sahaja kerana aku betul-betul menghenjut apam nya semahu mahu nya. Biras ku mengerang sakit kesedapan dan aku tahu tak berapa lama lagi dia akan mengemut semula. “Sayangggggggggg………….ketat penuh apam Odahhhhhhhhhhh………nak kemut lagiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Cepat bangggggggggggggg pancut sekali dalam urit gatal Odah biar buncit mengandungggggganak abang. Raman tak akan marah….Biar burit bini tetek besar dia koyak……tutuk laju lju abanggggggggggg……..ahhhhhhhhhhhhh” “Odahhhhhhhhhh……abang pun nak pancut niiiiiiiiiiiiii dalam burit apam tembam Odahhhhhhhh…….Aghhhhhhhhhhh” “Pancut sayangggggggggggg dalam puki gatal Odahhhhh. Odahh pun nak kemut niiiiiiiiiiiiiiiiii..Aghhhhhhhhhhhhhhhh” Serentak itu aku pancut dengan banyak nya air mani aku dalam burit Saodah dan tiada setitik pun yang keluar dari dalam cipapnya kerana dihalang oleh batang besar ku yang sendat dalam buritnya. Pada hari itu aku menghenjur biras tetek besar aku sebanyak 5 kali. Hanya pukul 4 petang baru aku pulang ke pejabat, dan ke rumah pada malamnya. Dalam setiap permainan seks kami, aku merakamkan dalam hp aku untuk di upload dalam komputer aku nanti. Di lain masa aku akan ceritakan pula, aku menutuh burit biras aku semasa membawa dia keluar outstation diluar KL seperti di Melaka, Penang, Ipoh dan lain-lain tempat. Biasanya apabila membawa biras aku keluar dari KL dia akan membawa bersama anaknya yang berumur 3 tahun supaya orang akan menganggapkan kami suami ister dan suaminya memang mengizinkan aku bawa keluar bini miang nya. Kini bontot bini adik ipar ku menjadi bertambah kembang dan besar. Satu masa nanti aku akan menghenjutkan pula lubang bontok berlemaknya.
Dah 6 hari aku tidak pergi ke flat biras aku kerana pergi outstation. Sudah pati biras aku yang kuat sex itu amat merenyam sekali untuk dihenjut lubang puki nya yang sentiasa gatal.Maka balik sahaja outstation, pukul 9 pagi aku terus ke flatnya di Bangsar. Seperti biasa biras aku telah sedia menunggu dengan pakaian baju kelawarnya. Wajahnya ku lihat begitu ceria sekali. Maklumlah dah seminggu lubang puki gatalnya tak dirodok dengan batang besar aku. “Sayang nampak berseri lah ari ni. Abang tengok bontot sayang macam bertambah besar je dan kenapa abang tengok sayang berjalan agak mengangkang tadi? Sayang rindu abang ke? Laki sayang tak cakap apa-apa ke tentang perubahan diri dan badan sayang selama dah 6 bulan kita bersama? tanya aku pada biras aku Saodah. “Mestilah Odah berseri sebab sekejap lagi burit Odah akan dapat batang besar abang. Ni pun Odah dah tak sabar lagi nak kulom batang abang. Abang pun dah tentu gian sangat nak hisap tetek besar Odah ni kan?” jawab biras ku dengan manja. Aku terus picit dan meramas tetek besar biras aku yang kini sudah menjadi 45D. Lepas itu aku mengusap lurah cipap apam nya yang amat tembam itu. Dia pula membuka tali panggang seluar aku dan memasuk tangan nya kedalam sambil mengurut batang besar aku. “Abang pergi mengurut untuk besar batang lagi ye? Odah rasa macam lebih besar dari dulu je. Nanti bertambah bengkak dan koyaklah lubang burit Odah. Dah seminggu tak kena jolok batang abang pun Odah rasa macam lubang burit Odah masih kembang dan ternganga tak boleh tutup rapat. Tu yang abang tengok Odah berjalan macam mengengkang tu.” jawab Saodah biras sexy ku. Memang badan dia bertambah gemuk, nampak jekas bontotnya bertambah besar lebar. “Laki sayang, Man tak cakap apa-apa ke kat sayang” tanya ku lagi. Saodah menjawab, “Memang dia tahu, siap check satu badan Odah. Dia masuk jari dia dalam lubang burit Odah dan terkejut kerana katanya lubang Odah dah jadi luas sangat. Dia kata dia masuk 3 batang jari dia pun dah rasa longgar tak sedap lagi. Dia kata batang abang mesti amat besar kalau tidak macam mana lubang burit Odah boleh jadi bertambah luas dan apam Odah pun menjadi terlalu tembam membengkak. Kesian jugak Odah dengan dia tapi sapa suruh dia bagi Odah kat abang. Sekarang dia lebih main menguli dan meramas tetek Odah lama-lama. Dia kata lagi, tak sakit ke lubang burit Odah sampai membengkak begitu. Odah bagitau dia mula2 memang sakit tapi sekarang rasa sedap sangat. Odah takut tetek Odah nanti jadi bertambah besar, tak larat nak bawa berjalan. Tapi Odah tahu abang mesti suka amat kalau tetek Odah jadi bertambah besar lagi kan? kata biras aku sambil menyondolkan kedua-dua belah tetek nya kemuka dan mulut aku. “Abang bagi Odah hisap batang abang dulu” Aku terus melondeh seluar dan baju aku dan terus berdiri bogel dan melucutkan baju kelawar Saodah dan melemparkan nya ke tengah ruang tamu. Biras aku tidak memakai coli dan seluar dalam. Aku tanya kenapa, dia kata coli dia dah tak muat lagi, kalau pakai pun sebahagian besar teteknya akan berlambak keluar. Seluar dalam nya pun dah terlalu ketat dan kalau pakai jugak bahagian depan seluar nya akan masuk di lurah apam tembam nya dan bila berjalan akan mengesel kelentit nya. Nanti dia akan setim sangat dan burit nya akan mengemut basah. Jadi lebih baik dia tak pakai langsung coli dan seluar dalam nya. Tertelan air lur aku mendengar nya. Kalau cam ni senang Odah menjolok masuk jari Odah dalam lubang burit Odah. “ Ari tu coli Odah saiz 45D kan? Sekarang tah-tah dah jadi 46D tak?” kata ku dan aku mengesakki ini tentu kerja laki dia yang mati pucuk tu. Sebab tak dapat henjut puki bini dia, maka dia lepas geram menggentil dan meramas tetek besar bini dia. “Dua ari sudah Odah ajak Kak Yati teman Odah pergi kedai untuk beli coli tapi tak ada saiz. Penjual tu ukur tetek Odah dan katanya saiz yang sesuai adalah 47D, kena beli yang biasa. Tapi Odah tahu abang mesti tak suka jenis macam tu. Kan abang suruh Odah pakai yang jenis Half-Cup sahaja. Punggong Odah pun sekarang dah naik jadi 38 inci berbanding dulu 34 inci saja. Ni semua kerana batang butuh abang yang besar tu le? jawab biras gatal ku. Dia kini terus menjilat cuba mengulum batang aku. “Banggggggg………….batang sayang dah tak bolih masuk dalam mulut Odah lagiiiiiiiii. Kepala butuh abang pun tak bo;eh masukkkkkkkkkkkk ni. Camna bangggggggg. Jangan nanti lubang puki Odah pun tak muat. Kalau masuk juga bertambah koyak dan luas lagi lah lubang burit Odah. Kesian Man, habis rabak lah lubang puki bini dia ari niiiiii………..banggggggg cuba abang masuk dalam lubang burit Odah, boleh muat tak? Banggggggg…..Odah dah tak tahan niiiii……..dah berair sangat lubang puki Odah niiiiiiiiiiii……..banggggggggg…dah pancutttttttttttt” kata Saodah gelinjang miang. Aku tahu kalau biras aku bercakap sedemikian makna nya cipap nya memang cukup basah lencun dan cipap dia pasti akan mengemut; Aku cepat-cepat memasukkan kesemua 5 jari aku kedalam lunag puki nya dan terasa lubang puki nya mengemu kuat degan seluruh badann nya bergetar. Biasanya dalam satu-satu permainan, cipap biras aku akan mengemut tak kurang dari 5 kali. Kemudian nya dia akan layu tak bermaya dan akan terlelap tidur tak sedar sehingga 10 atau 15 minit. Masa itu lah kadang2 aku akan memasukkan genggam penumbuk ke dalam lubang puki gatalnya.
Ada satu ketika dulu aku menggunakan sebiji botol air mineral dan dipasangkan condom pada botol tersebut dan dilumuri dengan minyak rambut Code 18 anak nya sebagai pelicir. Memang susah untuk memasukkan nya degan botol ukuran lilit 8 inci itu berbanding 5 inci saiz lilit batang aku. Yang paling ghairah nya ialah apabila botol itu di sorong masuk dan keluae dari dalam lubang pukinya. Lubang puki nya amat sendat seperti tak bolih mengembang lagi dan apbila disorong masuk, semua isi puki nya turut masuk bersama kedalam. Apabila ditarik keluar hampir kesemua isi pukinya saolah-olah melekat kuat pada botol tersebut dan akan mengikut keluar bersama. Ketika itu biji kelentit nya yang panjang akan mejadi menegak. Aku akan menghisap kelentit nya semahu-mahunya dan apabila puas aku aku meletakkan batang pelir besar aku di kedua-dua celah tetek besarnya. Dengan mengepit kedua-dua belah tetek besarnya mengguna kedua-dua belah tangan aku, aku menujah tetek nya sehingga memancut penuh di dalam tetek besar hya. Sebahagian air ku memancut hingga membasahi leher dan muka nya. Selepas mengemut kali pertama sambil berdiri, aku cuba masukan batang aku dalam apam tembam biras aku. Walau pun dicuba beberapa kali tetap tak boleh masuk juga. “Kan Odah dah cakap tadi batang besar abang tentu tak muat masuk dalam lubang burit Odah. Kenapa abang pergi tambah urut jadi besar lagi. Rabak lah camni lubang puki Odah. Kesian laki Odah lubang burit miang bini dia bertambah bengkak dan luas lagi lepas ni. Mari Odah baring atas katil bagi abang senang henjut biar melekat terus dalam burit Odah” kata manja gatal biras aku. Dia berbaring dan mengangkang luas paha nya. Dia menguakkan tundun tembam nya dngan kedua-dua belah tangan nya supaya menjadi seluas-luas nya. Aku menetuk2 pintu puki nya yang terbuka luas dan mengusap batang besar aku dialur puki dan kelentitnya. Setelah membuat beberapa kali, biras aku dah mula meracau semula yang menunjukkan dia akan mencapai klimek nya kali ketiga. Biras aku ni pantang kelentitnya tergesel dia akan klimek dengan cepat. Tak hairan lah, pakai sekuar dalam sendat pun apabila kelentit nya bergesel semasa berjalan, lubang puki nya akan mengemut sambil berjalan. Memang di amat kuat sex nya seperti kata suami nya dulu. “Banggggggg………kenapa gesel kelentit Odahhhhhhhhhhhh…………dah nak mengemut lagiiiiiiiii niiiiii………..abangggggggggggg……………….arghhhhhhh…… puki Odah mengemut lagi bannnnnnnnnnnng” Aku cepat-cepat menekan kepala batang pelir ku menutup lubang puki nya. Tangan aku terus meramas dan menguli tetek brsar nya dengan semahu-mahu nya. Rasa macam nak tertanggal tetek besarnya aku kerjakan. Kemutan ketiga ini terasa pada kepala butuh aku walaupun batang nya belum lagi masuk dalam lubang puki gatal nya. Seluruh badan nya termasuk tetek besarnya berdenyut kuat. Aku terus menekan batang aku kedalam cipapnya yang masih terkangkang luas. Aku lihat bibir cipap nya mengembang ketahap terbesar. Aku terus tekan dan sedikit demi sedikit batang ku membolosi lubang puki nya. Amat ketat dan sendat sekali saolah-olah lubang pukinya tidak boleh membesar lagi. Itu pun nasi baik air pukinya ada terlalu banyak selepas dia baru mengemut tadi. Dalam suara keletihan biras aku berkata, “Kenapa sendat sangat ni bangggggggg……………adoiiiiiiiiiii…………macam nak pecah koyak lubang puki Odahhhhhhh………tak boleh bergerak langsung. Nasib baik punggong Odah besar lebar, kalau tak mati Odah. Tapi sedap bangggggggg……biar bengkak koyak pun takpa Odah puas dapat batang abang. Biar padan muka laki Odah, burit bini dia kena bulun batang besar sampai koyak bengkak tak buleh berjalan dua tiga hari. Jolok pelan-pelan banggggggggg takut burit Odah berdarah. Tapi batang abangggg terasa macam melekat dalam burit Odahhhhhhhhhh…………cabut pelan-prlan banggggggg” merayu biras aku. Memang aku nampak bila aku tarik keluar batang aku dari lubang puki nya, nampak isi pukinya ikut keluar bersama dan apabila dijolok masuk, semua isi puki nya termasuk biji kelentit nya turut ikut masuk bersama. Biras ku mengerang kuat mungkin sakit atau sedap. Selepas menyorong keluar masuk dalam lubang puki ketat gatal nya, biras aku mula meracau semula yang menandakan dia akan klimek sekali lagi kali keempat. Tak sah kalau dia tak mengemut 5 kali apabila lubang puki nya di rodok. “Banggg sedapnya batang besar abanggggggg, Sendat dan ketat sungguh, mesti Odah tak boleh bangun dan berjalan betul dua tiga hari niiiiiii……..tapi puas bangggggggg…….batang abanggggggggggg melekat dalam lubang puki Odahhhhhhhhhhhhh………puki Odah tak boleh bergerak banggggggggggg…………..burit Odahnanti jadi tambah luassssssssssss………bengkakl sendat batang besar abangggggggggggg. Aaadoiiiiiiiiiiiiiiii bangggggggg sedapppppppp puki Odah penuh dengan batang abanggggggggg. Panjang pulak tu rasa macam masuk sampai dalam perut Odahhhhh, jangan sampai keluar kat lubang punggong Odah pulakkkkkkkkkkk…….Abang Odah nak kemut lagiiiiiiiiiiiii niiiiiiiiiiiiii………banggggggggggg” Dia memeluk aku dengan erat, kakinya dibelitkan kuat kepinggangdan serentak itu terus mengemut puki nya kuat sekali lagi, kali keempat. Seperti biasa seluruh badan nya begetar kuat dan aku terus menguli dan meramas dan menarik tetek besarnya semahu-mahu nya seolah-olah mahu mencabut tetek nya dari badan tembam dia. Kalau laki dia tengok bini dia masa aku tengah menutuh puki bini dia dan kegairahan lubang puki bini sendat dengan batang besar aku, boleh jadi dia mahu pengsan agak nya. Aku belum lagi memancut air biang aku kedalam puki miang biras aku. Biasa nya aku akan pancut sebanyak-banyak air berahi aku dalam cipap biras aku ini bila dia akan mencapai klimek kali yang kelima nanti. Tapi akau tahu biras aku akan mencapai klimek ke5 nya tak sampai 4 minit nanti. Tanpa mencabut batang aku dari cipap biras aku, lubang pukinya terus aku henjut semahu-mahu aku. Walaupun masih ketat tapi dengan bantuan air pukiya yang melimpah sehingga ke cadar katil, batang aku masih sendat dalam lubang buritnya. Aku berhenti sekejap menghejut dan menarik keluar batang ku dari lubang puki nya. “Sayang……sayang duduk atas abang pulak, Biar abang melentang dibawah nanti dapat abang uli, ramas dan hisap tetek brsar sayangggggg. Biar tetek besar sayang jadi lebih besar dan biar abang hisap puting besar panjang sayang sampai keluar air susu samil Odah pula henjut batang abang. Biar Odah sayang pula rasa duduk atas” kata ku memujuk biras aku. “Tak mau le nanti batang panjang abang masuk dalam sangat dalam lubang burit Oadahhhhhh. Dah lah lubang burit Odah macam dah terkoyak, bertambah luas nanti jadi senak pulak ila masuk terlalu dalam. Nanti mata Odah jadi putih dan terus Odah pengsan. Odah takut nanti batang besar panjang abang trus melekat kat dalam lubang burit Odah tak boleh caut lagiiiiiiii.” gurau gatal biras aku. Sememang nya itu lah kehendak dia supaya apabila dia klimek nanti dia akan hempap badan tembam dia atas badan aku sambil batang besar panjang aku tersendat melekat dalam lubang puki gatalnya. Dia terus merangkakk naik dan mengcangkong supaya lubang puki nya betul betul berada atas batang aku. Aku membantunya dengan mengoyak luas lubang puki nya supaya senang batang besar aku terus masuk dalam lubang burit gatal nya. Masalah utamanya cara begini, biasanya biras aku akan terus mengemut apabila batang ku hanya beberapa kali sahaja setelah dihenjut dengan cipap apam tembam nya. “Aduhhhhhhhhh banggggg ketatnya……burit Odah dah kembang luas bangggggg……..Abangggggg Odah nak terus hempap lubang puki Odah atas batang abangggggg sekali gus biar batang besar panjng abang terus terbenam masuk dalam lubang burit Odahhhhhhh……..biar lubang puki Odah koyak rabak terus, Biar batang panjang abang cucuk masuk sampai dalam perut Odahhhhhhh………Abanggg jilat dan hisap tetek besar Odah kuat-kuat. Lepas tu abang uli, ramas dan tarik tetek besar gajah melayut Odah sampai dia sampai tercabutttttt banggggggggg. Abanggggg Odah dah nak hempap lubang gatal Odah sekaranggggggg niiiii bangggggggg” ghirah biras ku. Serentak itu dia terus melabuhkan dan menghempapkan kuat punggong besar dengan lubang puki nya betul-betul atas batang ku. Batang besar dan panjang aku terus meluncur masuk hingga habis kepangkal telurku. Semasa meluru masuk, aku rasa macam batang aku mengesel saluran yang amat sempit dan terus melekat pada dinding puki biras aku. Sejak dulu aku memang tak masuk abis batang ku dalam apam biras aku takut dia senak dan menembusi lubang peranakan nya. Mata biras ku terbeliak putih kerana batang ku terlalu panjang melepasi lubang puki nya.
Terbeliak putih mata biras aku setelah dia melabuhkan lubang cipap dia terus mendesup masuk batang panjang dan amat besar aku sehingga hingga terhentak batu merian pukinya. Lubang pukinya mengembang terluas tetapi batang ku dirasanya amat sendat seperti tidak boleh bergerak langsung lubang puki nya. “Aaddoiiiiiiii bangggggggg sakit sangat. Odah rasa cipap Odah dah koyakkkkk sakit pedih sangat niiiiiiiiiiii. Odah tak mau duduk atas lagiiiiiiiiiiii” rintih biras aku. Kesian biras aku, dan aku pasti lubang burit dia pasti terkoyak sebab aku pun terasa batang besar aku bergesel ketat sekali semasa mendesup masuk dalam lubang cipapnya. Sudah pasti sekurang-kurangnya 1 minggu dia tidak akan dapat bersetubuh lagi dengan aku dan mungkin untuk berjalan seperti biasa pun agak susah. “Sayang jangan cabut nanti rasa lebih sakit sebab cipap Odah cengkam ketat sendat dengan batang abang. Takut selaput kulit bahagian dalam apam sayang melecek dan jadi lagi sakit. Sayang turun baring perlahan-lahan, biar batang abang terus dalam lubang burit Odah. Nanti abang cubang cabut pelan-pelan dari lubang Odah” pujuk ku. Tapi itu mungkin salah aku juga kerana sebelum batang aku melabuh lubang puki nya, aku telah melumurkan batang besar panjang aku dengan kemian Sarawak, yang terkenal akan mengesat dan melekat pada dinding bahagian dalam cipap jika disapu pada batang pelir sebelum bersetubuh. Biras aku menuruti kata ku dan perlahan-lahan berbaring dengan batang ku masih melekat dalam cipapnya. “ Sakit nya bangggggggg……batang abang melekat dalam lubang Odah. Kalau terus melekat macamana banggggggggg. Odah takut jadi macam anjing kalau beracuk batang pelir nya akan melekat lama, kadang-kadang sampai setengah jam dalam lubang burit anjing betina. Bila batang dia kecut aru boleh cabut . Biar lah batang abang duduk dalam cipap Odah lama-lama kat situ.” kata biras ku. Dalam sakit pun dia boleh bergurau lagi. “Tapi kalau abang pancut cepat dalam cipap sayang, batang abang boleh senang keluar kerana lubang Odah dah jadi licin dan kita tak payah tunggu lama sampai setengah jam. Kalau sampai lama tu, lubang puki Odah akan melopong lama apabila batang abang keluar nanti” pujuk ku pada Saodah.
“Ye lahhhhhhh banggggggg. Abang buatlah yang patut sampai abang pancut cepat tapi tutuh lah burit Odah pela-pelan ye sayanggggg. Sungguh pun sakit tapi sedap sangat macam burit Odah melekat terus dangan batang abang dan batang abang pun keras sungguh. Tak pernah Odah rasa ketat macam ni” kata biras ku sambil kedua-dua belah tangan ku mengusap dan menguli tetek besarnya. Dan aku pasti dengan cara ini biras miang aku akan cepat teransang dan akan lupa terus sakit cipapnya dan pada masa itu aku boleh menghayun semula batang aku dalam cipapnya Telahan aku memang tepat, tak sampai 10 minit menggomol dan menghisap tetek besarnya disampng mencium leher dan lidah nya, biras aku sudah mula teransang dam mula menggigit manja dan menghisap lidan aku serakus-rakusnya. Bunyi nafasnya juga telah mulai kencang dan tersekat-sekat dan menyuruh aku naik celapak atas badan nya. “Banggg naik atas Odah bangggg…..henjut pantat Odah bangggg……Odah rasa basah Odah banyak dangat keluarrrrrr tapi tersekat dengan butuh besar abangg tu. Batang besar abang melekat sedap sangat dalam apam Odah” dia bertambah mendengus dan mengayak sendiri bontot lebarnya. “Kan apam Odah sakit, janganlah sayang ayak punggong sayang kuat-kuat sangat. Abang takut apam sayang nanti lagi koyak dan lagi sakitttt. Nanti Odah susah nak berjalan” sengaja kata untuk menguji kegairahannya. “Takpa bang sakit pun tapi sedap sangat. Biar apam Odah koyak rabak dan Odah tak boleh jalan, biar Man jaga bini dia yang kena lanyak paling teruk ari ni. Batang abang besar keras macam buluh lemang, batang Man tidak boleh pakai dah 4 tahun, buat apa. Aaduuiiioooooooo sedap henjut lubang Odah sekarang banggggggg biar abang pancut dalam lubang burit Odah sampai banjirrrrrrr bangggggggggggg” serentak itu biras aku mengayak punggomg dia dengan laju, terlupa sakitnya.
Aku tahu dia akan mengemut sekejap lagi. Aku juga terus menhenjut lubang pukinya mula-mula perlahan dan lajukan sedikit kemudian mula menghenjut laju kerana aku juga akan menmancut tidak lama lagi kerana telah hampir satu jam bsersetuuh dengan biras aku ni. Setiap kali batang aku keluar, isi dalam apam nya pasti akan terkeluar sama dan akan masuk semula apabila batang aku dijolok masuk. “Bangggggggggggggggggg cepat Odahhhhhhh dak nak pancut niiiiiiiiiiiiii……..henjut kuatt banggggggg …. bangggggggggggg” serentak itu seluruh badan dan tetek besar nya bergetar hebat dengan kedua kakinta keras terkejung. “ Sayangggggggggggg puki gatal abang pun dah dah pancut niiiiiiiiiiiii Odahhhhhhhhhhhhh” aku melepaskan dendam ku dengan memancut air mani paling banyak dan lama dalam lubang puki biras aku. Mungkin dia akan mengandung nanti kerana dia masih ada haid. Kami pepelukan erat bersama. Selepas cipap biras aku berhenti mengemut aku cabut batang aku cepat-cepat kerana takut melekat semula dalam lubang puki nya. Sebaik sahaja dicabut, melimpah air mani ku keluar dari dalam cipapnya dan kelihatan sedikit darah keluar bersama. “Jangan tidur sayangg, mari kita pergi mandi bersama sekarang dan cepat cuci apam sayang kerana sayang kata kawan sayang nak datang jumpa sayang jam 11 nanti. Ini dah sepuluh setengah. Sayang boleh bangun dan jalan tak” tanya ku sambil membantu dia bangun. “Boleh banggg tapi letih dan mengantuk sangat. Abang pimpim Odah ya” “Ok sayang” dan kami sama-sama pergi mandi berbogel dan selepas siap makan minum bersama sedikit dan apaila selesai duduk bersama disofa ruang tamu dengan biras aku melentuk kepalanya atas dada aku dan tangan nya atas bonjol seluar aku. samil berkata “Niiiiiii batang abang ni jahat laaaaaaaaaa, sampai rabak apam Odah. Seminggu abang tak boleh pakai lagi. Kan susah, tapi abang jangan susah ada apam lain Odah rasa lagi besar dan tembam daripada Odah punya abang akan dapat.
Kalau abang tak percaya abang tunggulah nanti. Tapi kalau abang suka dia, semasa berancuk, abang tutuh puki dia rabak betul-betul biar lebiih teruk jadinya daripada abang buat kat cipap Odah. Odah percaya abang gerenti suka dengan dia bial abang tengok dia nanti. Sekurang-kurang bolehlah Odah rehat sampai lubang apam Odah baik betul-betul” terkejut aku mendengarnya. “Siapa dia Odah dan siapa pulak yang nak datang jumpaa Odah sekejap lagi ni” tanya ku. Belum sempat biras aku menjawa, tiba-tiba terdengar orang memberi salam dekat muka pintu rumah yang separuh terbuka. Agak terkejut kami berdua kerana kepala Saodah masih didada aku dan tangan nya masih mengusap seluar ku. “Aiiisshhhhhhhh Kak Yati, masuklah” bingkas bangun biras aku tetapi nampak sakit untuk membuka grill pintu. “ Masukk masuk Kak Yati, tu abang Ramli pun ada tu. Dia datang pagi tadi nak tengok Odah agaknya. Dia kalau tak mai sini tak sah lah Kak Yati. Nak uat macam mana dah amanah laki Odah, Abang Man suruh abang ipar Odah ni kerap=kerap ziarah Odah” kata biras aku kepada tamunya sambil menarik tangan nya masuk kedalam dan duduk di kerusi sebelah aku, sambil menghulur tangannya bersalam dengan aku. Wajah dan saiz badan nya tak tumpah macam Syarifah Aini, cantik betul berwajah cerah berkulit halus. Saodah memperkenalkan aku panjang lebar kepada Kak Yati. Dia memduduki unit flat sendiri berselang 6 pintu dari rumah biras aku. “Duduk dulu akak nanti Odah buat air” kata Saodah “Tak payah Odah akak baru saja lepas minum kat umah tadi. Kenapa akak tengok kau berjalan macam orang baru lepas bersalin saja ni, perlahan dan mengengkang je? Kau jatuh kat bilik air ke? Pagi-pagi tadi akak tengok kau ok je. Encik tolong lah pimpin Odah tu kesian akak tengok, macam nak jatuh je. Ni akak datang ni tak menganggu Odah dengan Encik ke. Kalau Odah tak sihat dan nak tidur kerana letih sangat, biar lah kak balik dulu, biar abang ipar kau tolong jaga kau. Akak tahu apa ynag terjadi tadi kerana akak datang agak awal tadi tapi terdengar suara Odah mengerang.
Akak ingatkan Odah sakit jadi akak mengendap lah kat celah tingkap Nako bilik tidur kamu tu. Akak nampak semuanya. Akak pun tak tahan semasa tengok dan akak terus balik baring dakap batal peluk. Dari dulu lagi akak dah syak Odah ada affair dengan abang ipar Odah kerana akak tengok tetek Odah bertambah besar sangat dan punggong Odah pun dah besar hampir akak punya ” kata Kak Yati macam perli saje. Aku terus bangun dan meminpin biras aku, sebelah tangan memeluk pinggang dan sebelah lagi memeluk bahunya utuk dibawa duduk semula. Biras ku selamba saja saolah-olah sengaja hendak menunjuk kepada jirannya. “Jeles la akak tengok kamu berdua ni. Romantik macam laki bini. Memang Odah ni dah jadi bini best abang sekerang ni kan? Beruntung betul kau ni Odah dapat abang ipar macam ni yang ambil berat tentang diri kau. Kalau akak pun akak jaga betul-betul abang ipar yang macam ni. Kau nak harap laki kau pon dia kerja balik lewat malam. Encik tidor saja kat sini teman Saodah sampai dia baik betul nanti. Kesian akak” kata-kata semacam perli dari Kak Yati. Dalam hati aku, kalau aku dapat perempuan secantik ini yang sebijik macam Syarifah Aini, aku akan kerjakan lubang nonok nya sampai rabak macam disuruh oleh biras aku tadi dan tetek besar nya akan aku gomol dan hisap sepuas-puasnya. “Kak Yati jangan risau lee kat Odah. Nanti akak pun dapat macam Odah dapat. Kalau Kak Yati tak percaya cuba tanya abang Ramli nihhh.” kata biras aku sambil sengaja memaut badan aku semasa dia hendak duduk dan sengaja menolak aku supaya duduk bersebelahan Kak Yati. Kak Yati mencubit punggung Saodah sambil sengaja menguis tangan nya bagi terkena tetek besar biras aku. Saodah pula mengambil tangan aku meletakkan atas paha besar Kak Yati yang sengaja membiarkan tangan ku atas ribanya. “ "Saodah, akak nak balik dulu lah ni.Dah lama kita borak ni. Tima kasih la Encik sebab sudi juga sembang dengan akak. Kalau Encik sudi datang lah rumah saya, bukan jauh, 6 pintu saja dari sini. Datang sorang-sorang pun takpa akak tak kisah” kata Kak Yati “Napa nak balik cepat-cepat ni akak, nak sambung peluk antal ke? Tak payah susah-susah nanti kejap lagi Odah suruh abang Ramli pergi rumah akak” kata biras ku yang tahu sangat kehendak Kak Yati. Dia pernah beritahu biras aku yang dia tahu perhubungan kami berdua melihat dari perbahan sikap dan bentuk kesuburan badan biras aku. Kalau boleh dia pun nak juga sepertimana biras aku dapat. “Akak tak kisah kalau Encik Ramli sudi datang umah akak kerana akak duduk pun sorang-sorang saja. Kalu encik ada boleh juga kita borak-borak” kata KakYati riang “Lepas abis borak dengan abang, buat apa pulak akak” sindir biras aku “Macam yang kau buat leeee kan Encik. Ok le akak balik dulu, akak tunggu Encik kat umah, 10 minit nanti Encik datang yeeeeee” kata Kak Yati. “Dah tak sempat sangat ke akak nak merasa” sampok biras aku. Kak Yati bergegas pulang
“Abang pi le cepat umah Kak Yati tu. Dia tu merenyam sangat nampak tadi. Kalau abang gomol dia nanti, jangan lupa apa yang Odah pesan tadi. Tetek dia leih besr pada Odah punya jadi abang hisap dan ramas betul2 sampai jadi tambah besar sampai coli dia sekarang tak boleh pakai lagi dan bila dia berjalan nanti sampai bongkok. berat tetek. Apam dia abang lanyak betul2 biar sampai bengkak gelembong” kata biras aku dan kata dia hendak tidur sekejap. Nanti kalau dia bangun cepat dia akan ke rumah Kak Yati yang di panggil Mami. Aku kata pada Odah dia mesti datang supaya aku taklah malu dan segan sangat dengan Mami. “Kalau abang segan, takpa lah biar Odah ikut sekali. Odah pun nak juga tengok macamana gelagat Mami nanti. Nanti bila abang henjut apam tembam dia, biar Odah ramas dan gomol tetek besar dia, sebab dia selalu je picit tetek Odah kalau Odah pi atau dia mari sini” Odah tak letih ke? Kan tadi kata nak tidur dan kan apam Odah tu masih sakit lagiiiiiiiii.“ kata ku. "Takpa, Odah saja nak pergi tengok saja tapi abang jangan lanyak burit Odah kat rumah Mami pula. Aang kerjakan saja apam Mami sepuas2 nya nanti”. Kami pun terus ke rumah Mami dan Saodah memberi salam. “Aiiiiiiiiiii Odah pun ada sama, macam tak percayakan abang ipar je. Kan tadi dah dilayan cukup buat apa datang sama. Kesian Mami tengok sepatutnya Odah tidur saja kat umah tu” sindir Mami. “Odah memang tak nak datang tapi abang paksa katanya dia malu dengan Mami. Sambil tu leh juga borak-borak dengan Mami dan nak tengok Mami dengan abang pulak. Tadi kan Mami mengendap Odah tengah main dengan abang” kata Saodah. “Ok Mami tak kisah tapi abang tengok letih je, kesian abang” kata Mami. “Abang datang ni nak suruh Mami urut badan dia kerana letih sangat. Mami boleh tolong tak seba Odah terlalu letih lah. Kesian kat abang ni, jadi Mami mesti kena urut satu badan dia” sengaja celah biras ku walaupun aku tak pula kata nak suruh Mami urut aku. Kami sama2 duduk atas sfa di rumah Mami, aku tengah2 Mami sebelah kanan dan Odah sebelah kiri. Biras ku dengan selamba mengambil tangan aku dan diletakkan ke bahu Mami dan menarih muka Mami yang tembam cerah menyandar ke dada aku. Aku tanya Mami” Mami ok ke? Takut nanti abang tercium pipi Mami nanti sebab aang tak oleh tahan tengok muka Mami yang tembam ni. Dah lah rupa sebiji macam Syarifah Aini” kata ku. “Kalau Saodah bagi greenlight, Mami tak kisah pun apa abang nak buat pada Mami. Terpulang tapi jangan Saodah iri hati pula, maklumlah abang dia punya nanti silap2 haribulan mengandong kau Saodah. Tengok perut dan punggong kau sekarang bertambah buncit dan kembang. mami tengok apam kau tadi bertambah kembong” kkata Mami manja. Aku mengambil kesempatan mencium pipi Mami dan berkata sedap dan menyuruh aku mengulangi nya lagi. Sambil mencium aku mengusap-ngusap tetek gergasi Mami yang ternyata terlalu besar dan lembut. “Tadi kata nak mengurut. Mari masuk bilik Mami, abang baring atas katil biar Mami urut.” kata Mami terus menarik tangan aku ke ilik nya. Aku mengikut bodoh saja tinggal Saodah sorang-sorang kat sofa. “Odah tak ikut masuk sekali ke?” tanya Mami pada biras ku. “Takpa……… Mami masuk dengan abang dulu nanti Odah masuk kemudian. Tolong buka baju dan seluar abang, nanti Mami tak puas urut pula” kata Saodah memrli Kak Yati. Sampai dalam bilik aku tanggal semua pakaian ku kecuali seluar dalam tapi Mami suruh aku tanggal juga. Tertanggal sahaja seluar dalam ku, batang besar memang dari tadi amat keras, terus tegak membengkak. “EEEiiiiiiiiiiiiii………esar dan panjang nya. Tak hairan lah Odah apam Odah membengkak gelembong dan berjalan pun macam mengengkang je. Kalau camni lubang Mami pun boleh koyak kalau masuk” kata Mami geram sambil membelai dan mengocok batang besar ku. “Tak best lah Mami, malu lah kalau abang saja yang bogel Mami pun kena bogel juga lah” kata ku sambil mengusap tetek nya yang masih berbaju. Aku juga menggosok-ngosok apam tembam Mami, Mami diam sahaja dan menyuruh aku meniarap atas katil nya dan mula mengurut belakang aku. Tiba2 biras ku masuk dan berkata kepada Kak Yati kenapa mengurut tanpa buka pakaian. Kat rumah urut pun kena buka pakaian. Biras ku terus mendesak Mami supaya buka pakaiannya dan tanpa banyak soal Mami melucutkan semua pakaian nya. Nafas aku amat sesak apabial menengok tetek Mami yang besarnya hampir 1 ½ lebih besar daripada tetek biras aku. Punggung amat besar dan perut sedikit buncit. Apam nya amat tembam dan nampak biji kelentit nya terkeluar agak panjang. Saodah menyuruh Mami mengurut belakang aku menggunakan tetek gergasinya bukan dengan tangan. Dengan cara itu abang akan terasa lebih nyaman. Yang pelik nya Mami mengikut saja saranan biras ku ini tanpa bantah. Aku merasa amat ghairah diperlakukan demikian dan terus memusingkan badan ku supaya terlentang. Dengan cara ini aku boleh nampak tetek besar Mami. Mami mengurut badan ku semula dengan duduk sebelah badan ku. Aku meminta Mami supaya naik duduk celapak atas paha aku supaya lebih selesa mengurut. “Macamana nak urut abang niiiiiiiiii……….batang abang asik menjolok perut dan tetek Mami je. Mami takut lah batang abang ni terlalu besar dan panjang sangat. Mami nak hisap dan jilat batang abang laaaaaaaaaa” kata Mami tang aku rasa lubang burit nya dah mula berair basah atas paha aku. “Hisaplah Mami biar puas, Mami pun kan dah lama tak merasa batang dalam luang puki Mami kan. Batang aruah laki Mami dulu besar dan panjang tak? tanya ku samil aku meramas dan menghisap teteknya. Mami pula sambil menjilat batang ku sesekali dia menghala dan menggesek-gesekkan kepala batang pelir ku ke kelentit panjangnya di alur apam tembamnya’ Air pukinya kini bertambah banyak keluar membasahi kedua-dua paha ku. Saodah pula mungkin terlalu berahi menengok keadaan kami terus juga berbogel dan meramas ramas tetek nya sendiri.
Ku lihat baki air mani aku masih menitik dari dalam lubang puki Saodah yang masih melopong dan ternganga. Dia duduk sebelah aku dan menjolok dua batang jarinya kedalam cipap Mami. Selepas melakukan jolokan bebepa kali, aku lihat birasku memasukkan kesemua lima batang jari nya kedalam lubang cipap Mami. Mami meraung kesedapan tapi tangan nya masih menggegam batang pelir ku. Saodah mengeluarkan jari2 nya dari lubang apam sahabatnya dan menarik tangan Mami dari memegang batang aku dan menyuruh Mami mengangkat punggung besar labuhnya supaya bertinggung betul2 atas batang keras aku. Batang besar aku seterusnya digesel dan digosok-gosokkan dicelah alur pantat bibir mengenai kelentit panjangnya. Air cipapnya sekarang keluar macam air memasahi paha dan tilamnya. Mami meraung lebih kuat dan amat mendesah, maklumlah dah hampir 3 tahun puki nya tak merasa batang. Mami terus melabuhkan punggung nya atas batang besar ku yang tegak tegang “Batang laki Mami dulu separuh saja besar dan panjang nya jika dibandingkan dengan batang abang. Walaupun dimasuk habis dalam burit Mami tapi tak sampai kepangkal burit Mami kerana Mami rasa lubang burit masih ada yang kosong. Tapi kalau batang abang niiiii boleh buat lubang puki Mami sendat dan sampai kepangkal rahim. Takut juga nati Mami boleh termengandong. Batang panjang dan besar aku terus mendusup masuk habis hingga ke pangkal rahim Mami. Terasa kepa la butuh aku tersentak ke lubang peranakkan Mami. Walaupun apam Mami besar tapi lubangnya agak sempit mungkin kerana batang bekas suamimya agak kecil dan pendek berbanding aku. Mami terus mendomba punggungnya turun naik dan sesekali mengayaknya. “Abangggggggg Mami dah tak tahan niiiiiiii dah nak keluarrrrr air. Hisap tetek Mami kuat-kuat bangggggggggg. Odak ramas dan uli tetek Mami sebelah lagi kuat2………….Arghhhhhhhhhhhhh dah keluarrrrrrrrrrrrrrr. Sendat sangat batang butuhhhh abangggggg tak macam laki Mami dulu. Abangggggg Mammi nak butuh abang tiap-tiap ari, biar sampai longgar macam puki Odah juga,,,,,,,,,,,aaahhhhhhhh” jerit Mami. Serentak itu air pukinya mencurah keluar dan seluruh badan termasuk tetek gergasinya bergetar kuat. Saodah terus mengguli tetek Mami dan Mami pula meramas tetek besar Saodah sekuat hatinya macam nak ditanggalkan tetek biras aku. Aku membalikkan badan Mami dan menepamkan lubang puki nya dengan laju disamping menyruh biras ku berbaring telentang disebelah kami.
Akhirnya aku juga tidak terdaya menahan nafsuku terhadap Mami yang sebiji macam Syarifah Aini, terus memancut air berahiku dengan banyak sekali dalam cipap Mami. Sekali lagi cipap Mami terus mengemut memerah air jantan ku dan dia tertiarap atas badan ku. Seketika kemudian Saodah menyuruh Mami turun dari badan ku dan sebaik sahaja Mami turun, air ghairah ku mencurah keluar dari lubang pukinya. Biras ku terus celapak naik atas aku dan terus melabuhkan puki nya yang masih ternganga atas batang ku yang masih tegang. Batang aku terus laju masuk dalam lubang pukinya dan dia terus mengaduh sakit kerana buritnya masih koyak baru tadi. “Addduuuuuuuuuuh bang sakit puki Odah tapi sedappppp. Odah pun dah nak kemut juga niiiiiiiiiiiii” Kini giliran Mami pula meramas-ramas tetek Saodah denagn rakusnya.Lubang cipap Saodah mengemut kuat dan seluruh badanya juga bergegar kuat dengan kaki nya keras kejung. Setelah semua selesai Saodah turun dari badan aku dan terbaring terlentang keletihan. Begitu juga dengan Mami. Aku merapati lubang puki Mami dan mula menyedut dan menjilat lubang apamnya sambil menyedut kelentit panjang Mami dengan menghayalkan aku tengah menjilat apam Syarifah A,,,,,.Melihat aku buat demikian, Mami pula menyuruh Saodah meninggung pukinya atas kepala nya untuk dijalat puki biras ku pula. Masing-masing dua betina sundal ini akhirnya puas dikerjakan batang besar aku. Sebelum aku dan biras aku meninggalkan rumah Mami aku berkata akan datang kita sama-sama main dirumah birasku pula dan membisik pada Mami aku geram sangat dengan punggong besar lebarnya dan hendak merasa lubang jubur dia pula di lain kali. Mami tersenyum macam setuju je. Aku terpaksa memimpin birasku balik kerumah nya kerana aku rasa lubang pukinya terus bertambah rabak sebentar tadi.
Sedih jugak aku dengan laki Saodah iaitu adik ipar ku, yang telah dimasukkan ke Hospital Besar KL sejak 2 minggu lalu kerana penyakit kencing manisnya telah mencapai tahap paling kritikal. Enam bulan sebelum ini, kaki kanan nya telah dipotong sehingga ke paras lutut. Kini sudah dua minggu terpaksa ditahan di Wad ICU kerana gangguan penafasan akibat dari penyakit kencing manisnya dan terpaksa bergantung pada tabung oxygen. Maka setiap hari lewat petang aku akan menjengoknya dan lepas itu akan menghantar balik isteri dia selepas jam 7 malam. Tapi biras aku macam biasa saja macam tak risau dengan keadaan suaminya. Biasanya sebelum hantar dia pulang kami makan diluar terlebih dahulu dan kadangkala kami tidur sahaja dibilik hotel di Jalan Pahang dan dia akan beritahu anak2 nya yang dia tidur dihospital jaga bapa mereka. “Sayanggggg, Man tengah sakit sekarang jadi kita hentikan lah dulu mainan kita. Kalau kita dua-dua sama-sama berahi sangat kita ringan2 saja le. Sedih dan kesian lah abang tengok Man adik ipar abang tu” kata ku. “Ok. tapi macamana kalau Odah teringin sangat nak batang abang. Sekarang ni pun Odah rasa dah nak batang besar abang. Dia sakit, apa kita boleh buat?” kata biras ku sambil memeluk ku sebaik sahaja kami berada dalam bilik hotel. “Kan apam Odah masih lagi bengkak, macamana abang nak tutuh burit sayang nanti bertambah bengkak, pedih dan koyak. Abang rasa biar apam sayang baik dulu baru kita main semula nanti. Abang tengok bontot sayang bertambah besar dan lebar sekarang ni. Kan Mami pun kata macam tu” kata ku sambil menepok dan meramas bontot besar berlemak bieas aku. “Apa maksud abang niiiiiiiii. Abang nak jolok lubang bontot Odah pulak ke? Odah tak mau le sebab tak biasa buat camtu, takut lubang bontot Odah pula nanti koyak rabak oleh batang abang yang besar panjang tu. Main depan takpa walaupun sakit tapi main lubang jubur Odah tak boleh. Tak mau tapi kalau abang setakat nak tepuk, gigit atau ramas bontot besar Odah takpa, boleh tapi jangan lebih2 tau” kata Saodah sambil mencium pipi aku. Dalam hati kecil aku berkata, aku kenal sangat dengan seks nya yang terlampau, pasti aku akan dapat mencucuk batang aku dalam lubang bontot berlemak kau sekejap nanti. Sambil itu aku singkapkan kain nya dan melurut turun seluar dalam nya dan meramas-ramas bontok besar berlemak nya. Saodah memuka bajunya dan berdiri bogel depan ku. Aku juga melucutkan semua pakaian ku dan memimpin biras ku ke katil dan menyuruhnya membongkok dengan kedua-dua tangannya menungkat pada tilam katil. “Sayanggggggg abang nak tengok dan nak ramas dan cium bontot besar Odah le. Abang memang geram sangat dengan bontot lebar sayang ni sejak dulu lagi” aku terus mengusap, meramas dan menggigit manja daging lembut berlemaknya.
Sambil itu tangan ku mengusap apam temam nya sambil jari-jari ku menjolok lubang burit nya yang mula basah dan sesekali menguis dan menggentel kelentit panjangnya. Merenget sakan lah biras miang aku ni dan menggoyang-goyangkan bontot besarnya. Untuk menambah ghairan biras aku, kelentit nya aku hisap dan menarik dengan mulut aku sambil menyucuk menyurung tarik jari ku keluar masuk dalam lubang cipapnya. Bertambah gelinjang biras aku dan semasa menyedut kelentit nya aku mengambil peluang menyucuk jari ku yang basah licin kedalam lubang bontotnya. Mungkin kerana terlalu ghairah, biras aku tak sedar yang lubang punggong lebarnya telah dimasukki jari ku yang disurung tarik. Setelah itu aku menjilat pula seluruh bontot besar nya dan menjilat lubang bontotnya pula. Jari aku tak lepas-lepas menjolok dan mengentel kelentitnya supaya dia teransang dan lupa lubang bontotnya dijolok jari ku. Dan sebelah lagi tangan ku, aku memegang batang pelir besar ku untuk menyapu alur puki nya hingga ke lubang bontotnya. Untuk melicinkan batang aku, aku sumbat separuh kedalam cipapnya dan menarik keluar semula. Aku buat sedemikian beberapa kali biar batang ku betul2 basah licin. “Abangggggg,,,,jangan masuk separuh saja, masuk terus dan tekan sampai abis batang abang dalam puki Odahhhh. Dah tak tahan sangat nii nak mengemut……. tak tahan niiiiiiii” renget Saodah, Serentak itu Odah yang masih berdiri membongkok menghentak bontot lebar nya kebelakang dan batang ku meluru masuk habis kedalam lubang puki biras aku. Sebaik batang ku terhenti dilubang peranakkan nya, Odah mengemut kuat dengan kaki nya agak terkangkang terketar-ketar. Tengah Odah khayal mengemut cipap nya, aku mencabut batang pelir aku dan terus menggosok-gosokkan nya dicelah-celah alur lubang bontot lebar berlemak nya dan menekan kelubang punggong nya. Mungkin kerana terlalu basah dan amat licin, dengan satu jolokkan yang kuat batang aku melolos masuk habis kedalam lubang bontot biras aku. Menjerit sakan biras aku tapi apakan daya lubangnya telah dibolos sepenuhnya oleh batang besar aku. “ Aaaduuuuuihhhhhhh bangggggggg sakitnya. Kan tadi Odah dah cakap jangan masuk batang besar panjang abang dalam lubang punggong Odah. Nasib baik punggong Odah besar lebar kalau tak lubang ni pun koyak juga, Tapi sedap pulaaakkkkk” marah manja biras aku. “Jadi, Odah nak suruh abang cabut keluar kah batang abang dari lubang bontot Odah” tanya ku sambil masih memaut pinggang berlemak biras aku. “Dah masuk sampai habis, buat apa nak cabut keluar lagi. Abang teruskan saja lah henjut lubang punggong Odah tapi pelan-pelan yaaaa sayangggggg. Odah nak rasa pula macamana lubang bontot Odah mengemut bila abang menembak nanti. Sedap lah bangg” kata Saodah. Aku terus menghenjut bontot biras aku mulanya perlahan tetapi lama kelamaan semakin laju setelah Odah boleh menerimanya. Rasa lubang bontot nya leih sedap daripada lubang urit biras aku kerana lebih lembut dan licin berlemak. Sebelah tangan ku mengusap dan menjolok lubang pantat Odah yang basah lencun selepas dia banjir tadi. Jariku pula tak henti-henti mengentel kelentit panjang bengkak biras aku. Terjerit jerit biras aku kerana kesedapan yang amat sangat. Tiba-tiba aku terpandang sebatang jagong yang terletak tepi katil kami, yang baru kami beli tadi yang sudah dikopek kulitnya dan isinya disalut dengan magerin. Jagong ini adalah lebih besar dan lebih panjang daripada batang aku. Aku menghayun batang aku keluar masuk dalam lubang bontot biras aku, aku mencapai batang jagong terseut dan berkata kepada biras aku,
“Sayanggg………pada biar lubang puki sayang kosong je nanti masuk angin, lebih baik abang masukkan batang jagong ini dalam cipap sayang. Nanti sayang rasa lagi sedap tau” pujuk ku pada biras aku. “Buatlah apa yang abang sukaaa Odah terima saja” kata biras ku yang sedang berahi kesedapan. Aku terus menyumbat batang jagong besar itu kedalam lubang burit nya dan sekarang kedua-kedua lubang bontot dan puki biras aku tersumbat ketat. Disamping menghenjut lubang bontotnya, lubang cipapnya juga disorong masuk keluar dengan batang jagong besar tersebut. Kedua-dua lubang nikmat biras aku sendat dengan dua batang besar. “Abanggggggg cepat banggggg Odah dah nak kemut lagi sedap sangat tak pernah rasa macam niiiiii. Dua-dua lubang Odah sendat sangat macam tak boleh bergerak langsong dan Odah nak rasa mengemut dua2 lubang sekali. Kenapa laki Odah dulu tak buat macam ni kat Odahhhhhhh………Abangggg henjut dua-dua batang ni kuat-kuat dan laju-laju, biar puki dan lubang bontot Odah koyakkkkkkkk pun takpa sedap sangatttt niiiiiiiii. Biar kedua-dua lubang Odah jadi luas ternganga sampai bengkakkkk tak boleh berjalan. Abang rodok saja kuat-kuat biar sampai lubang puki Odah kembangggggg luas, biar sampai perut Odah kembong buncit mengandong anak abanggggg. Cepat banggggg.. Odah dah nak pancutt niiiiiiiiiii bangggggggg” jerit Saodah kuat nyaring. Aku menghenyak kedua-dua lubang Odah dengan kuat dan sekali sehingga bergegar seluruh badan tembam Odah bergoyang kuat. Odah terjerit-jerit mengelinjang disamping diperbuat demikian dan serentak itu seluruh tubuh nya bergetar hebat kerana kedua-dua lubang nya mengemut serentak. Aku pula seiring dengan biras ku, juga telah menyemaikan benih ku dengan banyak sekali dalam lubang bontotnya. Ini lah kali pertama aku melepaskan benih aku dalam lubang bontot berlemak biras aku. Mungkin terlalu banyak air pancut aku, ternampak sebahagian air mani ku memercik keluar dari lubang punggong biras aku walaupun batang aku masih dalam lubang bontotnya. Dan ini juga lah kali pertama aku menghenjut lubang biras aku sambil berdiri. Batang aku masih terasa kemutan dari kedua-dua lubang nikmat biras aku. Sambil Odah ku masih membongkok aku bertanya kepada nya, "Sayang puas tak kita main macam ni. “
"Sedap sangat lah abanggggggg,,,Odah tak pernah rasa sedap macam niiiiiii. Karang lepas kita rehat, abang buat lagi ye kat Odah macam tadi. Kalau boleh biar sampai Odah mengandung anak abangggggggg. Odah dah tak datang sebulan tak datang haid. Tapi takpa kalau Odah mengandung pun masih boleh bin atau binti laki Odah lagi. Jadi Odah nak abang buncit dan mengandongkan Odah semasa laki Odah masih ada. Bolehkan abangggggg sayangggggg.” aku menganggok kerna sudah 2 minggu suaminya masuk wad, tiap-tiap hari kami bersetubuh tak kira samada di hotel atau dirumah nya. Mungkin biras aku termengandong juga dalam masa yang singkat ini atas kehendak dia sendiri
Mungkin terasa kelainan nikmatnya, disetubuhi kali pertama dahulu melalui lubang bontot nya, biras ku kini gemar sangat menyuruh aku menghenjut lubang ontotnya setiap kali kami bersetubuh. Sambil lubang bontot berlemaknya dihenjut, lubang cipapnya mesti aku sumbat juga dengan apa2 benda besar panjang dalamnya. Biasanya botol air mineral lah yang akan aku gunakan supaya lubang apam nya akan menjadi amat sendat dan yang pasti lubang cipapnya akan mengemut tidak kurang daripada 6 kali setiap kali kami bersetubuh. Sambil itu adik ipar ku juga sudah keluar hospital dan keadaan nya sudah ok sekarang ini. “Odah sayang….kenapa sekarang ni sayang suka sangat batang abang jolok lubang bontot Odah? Kan dulu Odah tak bagi abang buat camtu?” tanya aku. “Dulu Odah ingatkan tak sedap batang masuk bontot, lagi pun batang abang besar dan panjang sangat jadi Odah takut lubang bontot Odah akan sakit sangat dan koyak macam lubang burit Odah. Mula2 dulu memang sakit sikit tapi lepas batang besar abang masuk dah anyak kali sampai sekarang, Odah rasa sangat sedap hingga Odah beleh kemut dua2 lubang sekali, bontot dan apam Odah” balas birasku. “Niii… Odahhh, minggu depan abang nak pergi Bangkok 3 hari, sayang nak ikut tak. Anak takyah bawak le, baru kita boleh enjoy betul2. Di sana nanti, kalau Odah ikut, abang cadang nak beli dildo guna bateri, yang boleh berputar dan bergerak keluar masuk lubang puki Odah. Jadi tak perlu lah lagi abang guna botol air untuk sumbat dalam puki sayang. Pasal anak2 Odah tak perlu bimbang, kita minta Mami tolong jaga dan tengok-tengokan. Dia mesti mahu sebab abang dah banyak kali henjut cipap tembam dia, Yang penting Odah tanya Raman dulu, dia bagi Odah ikut abang ke tidak. Kalau dia tak bagi, melepas lah Odah nak ikut abang ke Bangkok. Abang terpaksa lah bawa Kak Yati ikut abang ke sana” kata aku. “Itu abang takyah risau Odah akan bagitau laki Odah, dia bagi ke atau tidak Odah akan ikut abang kesana. Tau lah apa Odah nak buat kalau dia tak bagi. Mana boleh Kak Yati pula yang untung” kata biras ku macam marah mungkin kerana aku akan bawa Mami kalau dia tak dapat ikut bersama. Pada sebelah malam nya, Odah menalipon aku memberi tahu lakinya benar aku bawa dia ke Bangkok. Aku minta nak bercakap dengan adik ipar aku, betul ke dia setuju dan dia kata dia nak uat apa kalau Odah nak ikut sangat aang dan suruh aku jaga bini seksi dia baik2. Mami juga setuju nak jaga anak2 dia dengan syarat lain kali aku mesti bawa dia pula dan aku cakap aku akan bawa dua2 sekali iaitu dia dan biras aku bersama. Sampai di Bangkok kami check in disebuah hotel terkemuka dan setelah berehat sekejap dan mandi kami terus keluar ke Pak Pong Street untukk mencari dildo yang aku inginkan kerana di kawasan itu memang terdapat banyak dijual alat2 sex samada untuk lelaki atau wanita biang. Aku membeli yang terbesar dan panjang yang hampir sama dengan saiz botol air mineral dengan harga hampir RM400. Masa aku berjalan2 di Bangkok banayak sekali mata2 jantan yang memerhati biras ku ini terutama pada bahagian teteknya yang teramat besar itu. Bangga dan malu pun ada rasanya kerana bimbang takut mereka ingat biras ku ini pelacur pula kerana rupanya yang mirip2 perempuan Cina.
Aku pun tak tahu lah apa akan jadi pada cipap Odah nanti apabila dildo besar ini dimasukkan kedalam lubang cipapnya nanti kerana disamping boleh menojok keluar masuk dengan sendiri secara automatik, dildo ini juga boleh mengembang kuncup, mengemut serta memancutkan air pekat khas yang di isikan dalamnya dengan banyaknya kedalam puki biras aku, apabila butang ditekan. Aku rasa menjerit pekik lah biras aku ni nanti kerana terlalu kesedapan. Dia juga berharap aku dapat mengandungkan dia semasa di Bangkok ini. Sebelum sampai kebilik hotel kami bersarapan dulu kerana lepas ini pasti kami tak akan turun lagi dari bilik kami. Besok siang baru kami akan bersiar di sekeliling pekan Bangkok. Sampai kedalam bilik ipar ku terus membuka kotak dildo dan memetik suis nya. Maka berhejut kedepan dan belakang, mengembang dan mengecil alat tersebut dan apabila ditekan salah satu butangnya terpancutlah air pekat yang terdapat dalam nya. “Abang kalau macam ni mau apam Odah mengemut berpuluh-puluh kali nihhhhhhh. Odah takut sikit le sebab dildo ini megembang besar sangat nanti lubang apam Odah jadi lebih luas. Tapi batang ni walaupun keras sangat tapi bahagian luar dia lembut sedap. Abang kena henjut apam Odah dulu sampai abang pancut sebab Odah nak ngandong anak abang tau. Lepas tu baru abang sumbat dildo best ni dalam lubang ap tembam Odah” kata biras aku tak sabar2 lagi. “Ok, sekarang Odah sayang bogel lah aang nak cuba benda ini gesel2 kat alur cipap dan kelentit Odah. Nanti sayang leh tahu dan rasa sedap ke tidak” pinta ku. Biras aku macam belengkas menanggalkan semua pakaianya dan amat sukar sekali untuk mengeluarkan t-shirt nya dari badan kerana tersekat dengan tetek gergasinya. aku juga turut berbogel dan mengusap2 apam tembamnya serta menggentel kelentit panjangnya. Terasa biir puki nya telah mulali basah dan aku suruh dia baring sebab hendak menghenjut puki nya terlebih dahulu sebelum memasukkan dildo besar ini dalam lubang nya selepas ini.
Aku beritahu dia yang aku akan guna dildo ini terlebih dahulu untuk memutarkan dikawasan lurah apam dan kelentitnya supaya ia akan membuat pukinya akan menjadi bertambah ghairah serta melecunkan lubang cipapnya. Tak sampai seminit, air pekat keluar meleleh-leleh dari lubang puki nya dan dia menjerit kesedapan dan kelentit nya tegak keras. Kedua2 belah tangan nya meramas sendiri tetek besarnya dengan badan tembam serta bontot besarnya turun naik. “Sudah bangggg Odah tak tahannnnnnnn cepat abang naik henjut puki Odah kuat2 dan pancut dalam puki tembam Odah. Odah nak anak abanggggggg” Sambil memegang batang aku dia terus mengosok ke kelentit tegangnya dan terus menerik punggung aku supaya batang besar panjang aku menerjah habis kedalam lubang puki miang nya. Menjerit2 sedap dan berdengus biras aku ni dengan bontot besarnya digoyang kuat dan kedua-dua kakinya mendakap erat pinggang aku. Aku menikam sedalam mungkin dan menumpukan sepenuhnya supaya benihku cepat memuntah keluar dalam apam tembam biras gatal aku ini supaya dia mengandung nanti. “Cepattttt bang ..cepat henjut dalam2 dan pancut banyak2 dalam puki Odah biar Odah bunting terusssssssss, banggggggg Odah dah nak kemutttttt niiiiiiii” Badan nya terhenjut2 menahan kesedapan dan aku juga tak tahu bagaimana kali ni cepat pula rasa nak pancut. Mungkin juga kerana agak keletihan berjalan memandu terlalu jauh untuk sampai ke Bangkok. “Kemut kuat2 Odahhhhhhhhh…..abang pun dah nak pancut nihhhhh” menjerit kuat biras aku ini. Tidak pernah dia menjeri begitu rupa sebelum ini. Mungkin juga dia tahu disini tiada siapa yang akan mengganggudan tiada pegawai maksiat yang akan menyerbu. Seraya itu juga aku memancut dengan banyaknya benih aku dalam lubang cipap birasku dan dalam waktu yang sama biras ku juga mengemukan lubang cipap nya dengan kuat dan lama sekali. Kedua2 tubuh badan kami mengejang kuat. Terasa benih2 aku berlumba2 masuk dan memenuhi ruang peranakkan biras aku. Cipap biras aku masih lagi mengemut kuat seperti memerah dan menghisap kesemua benih yang baru aku lepaskan. Setelah keletihan agak lama, kami berdua bangun dan aku menjilat apam tembam nya. Dia pula membersihkan batang aku dengan mengosokkan kedua2 belah tetek besar. “Abangggg sayanggggggg, Odah rasa Odah akan hamil lee kali ini sayanggggg sebab Odah rasa banyak betul benih abang masuk dalam lubang beranak Odah” katanya sambil menjilat batang aku walaupun dah agak kecut.
“Abang rasa pun camtu jugak laaa. Tapi takpa kita ada 3 hari lagi, nanti abang tutuh burit Odah betul2 biar sampai dalam2 nanti ila abang pancut benih abang akan masuk banyak dalam lubag peranakan Odah. Ok” balas ku. Biras ku tersenyum puas dan terus memeluk aku semula sebab sekejab lagi lubang apam dab bontotnya akan menikmati suatu henjutan dan putaran batang dildo yang belum pernah dirasai nya selama ini.
…bersambung
�u��
Bbb
Bohsia Kah Aku 2
Aku pergi ke toilet awam. 20 sen je. Aku kumur-kumur sampai aku yakin bersih. Baunya dah kurang walau pun masih ada. Aku ambik keputusan ke kedai beli gula-gula lepas keluar dari toilet. Biar baunya hilang lepas aku makan gula-gula. Tengah aku beli gula-gula tu, aku nampak ada seorang budak sekolah kelihatan macam tengah pilih buku-buku majalah kat luar kedai. Aku perhatikan dia masih berpakaian sekolah. Budak melayu dan aku rasa dalam tingkatan 4. Apa dia buat kat shopping komplek kpakai uniform sekolah nih. Budak tu aku tengok bukannya tengah pilih buku, tapi matanya syok tengok bontot aku. Aku apa lagi, dengan gaya sundal aku sengaja melentik-lentikkan badan masa tengah bayar gula-gula. Budak tu aku tengok stim semacam je. Menelan air liur tengok body aku yang berpakaian ketat tu. Aku pun blah dari kedai tu. Gula-gula aku makan, biar cepat hilang bau busuk kontol lelaki cina yang aku kolom tadi. Aku kemudian ke kedai handphone. Saja tengok handphone. Aku tengok budak lelaki tadi follow aku. Dia juga buat-buat survey handphone. Aku tahu apa hendaknya. Aku saja nak test. Aku blah dari situ dan terus ke tempat lain. Tengah aku berjalan sorang-sorang, tetiba budak lelaki tu panggil aku. Dia tanya aku nak kemana. Ehh, budak hingusan ni, berani betul, kata hati aku. Aku bagi tahulah aku nak jalan-jalan je. Dia tanya nama aku, aku tak bagi. Dia tanya nombor handphone aku aku tak bagi. Dia nampak macam dah bengang. Aku tahu dia nak ayat aku. Eleh, budak-budak, aku dah tahu pe’el kamu. Lepas tu aku tanya dia kenapa. Dia kata nak berkenalan. Aku kata kat dia kalau nak ikut jomlah. Dia pun suka je. Aku masuk kedai buku MPH. Kat rak-rak buku tu aku pilih buku novel. Aku belek-belek satu-satu. Budak lelaki tu pulak ikut je. Aku jeling, mata dia asyik tengok bontot aku je. Mesti dia geram tengok bontot aku yang bulat ni. Dah lah tonggek, pakai kain ketat pulak tu. Mesti membakar je kontol dia dalam seluar sekolah tu. Aku tahu, bukan dia je, ramai lagi lelaki yang tertarik kat aku. Aku buat dono je. Macam biasa, aku sengaja lentik-lentikkan bontot aku, biar nafsu dia makin terbakar. Aku pilih pulak buku-buku kat rak bawah, maka, terbongkok-bongkok menonggenglah aku kat situ. Budak lelaki tu pulak aku tengook makintak boleh duduk diam. Aku jeling, tangan dia asyik pegang kontol je. Mesti dah keras tu. Ahh.. budak sekolah ni bukan berani nak ayat sangat, eksyen je lebih. Nak kena aku sendiri yang offer baru dia berani. Aku kemudian nak keluar dari kedai buku tu. Aku lalu sebelah dia yang tengah buat-buat baca buku. Dari rak yang terselindung dari orang ramai tu, aku pegang kontol dia dari luar seluar sekolah dia. Hmm.. dah keras. Budak sekolah tu pulak macam nak mengelak tapi macam mahu. Eleh, malu-malu pulak. Aku ramas kontol dia kuat-kuat. Lepas tu aku suruh dia ikut aku. Dia pun terus letak balik buku yang dia pegang tu kat rak dan ikut aku keluar dari kedai buku tu. Aku pergi ke tangga belakang yang menuju ke tempat parking di tingkat atas. Aku tahu, memang tak kan ada orang yang lalu situ. Sebab orang lebih suka guna lif. Tak payah penat-penat turun naik tangga yang agak suram tu. Jadi aku tahulah kawasan tu line clear. Sampai je kat sana, aku terus buka zip seluar budak sekolah tu. Aku keluarkan kontol dia yang keras tu dari celah seluar dalamnya danaku terus lancapkan kontolnya. “Ahh… kak… sedapnya….” dia suka aku lancapkan kontol dia. Mata dia tak henti menjamah seluruh tubuh aku yang berbalut baju t lengan panjang merah dan skirt khakis krim yang ketat tu. “Engkau tak nak ke pagang aku?” aku saja tanya cam tu biar dia berani sikit.Terus dia gopoh mereaba seluruh tubuh aku. Tetek aku dia ramas geram, walau pun saiznya tak sebesar mana, tapi bila dah berbaju ketat camtu, memang meleleh siapa yang nampak. Dia raba perut aku sampai ke tundun. Bontot aku dia raba dan ramas geram. Kuat juga dia meramas bontot aku. Dah geram gila lah tu. “Sedap…?” tanya aku. “Ohhh.. sedap kak…. ohhh…” dia merintih kesedapan. “Bahagian mana kat tubuh akak yang kau suka?” aku tanya dia soalan yang berbaur lucah biar dia cepat klimaks. “Ohhh.. bontot akakkk….” katanya dalam nada kerasukan nafsu. Aku lepaskan kontolnya dari genggaman aku dan aku berpusing memalingkan tubuh ku membelakanginya. Aku mendagu di railing tangga membiarkan bontot aku di tatapnya sepuas-puasnya. “Kak… saya nak cium bontot akak boleh?” tanya budak tu. “Hmmm… ” jawab ku ringkas. Budak sekolah tu terus je berlutut belakang aku dan terus je dia sembamkan muka dia kat bontot aku. Dia hidu dalam-dalam bontot aku. Aku lentikkan bontot aku yang tonggek dabn bulat tu, biar dia makin high. Aku masih ingat, aku juga terasa nak terkentut time tu. “Dik.. akak nak kentut..” aku memberi amaran kepadanya. “Kentutlah.. ” jawabnya ringkas, mukanya masih di belahan bontot aku. Aku pun apa lagi, aku kentutkan muka dia yang rapat tersembam kat bontot aku tu. Biar dia dapat extra servis, cium bontot dapat kentut. Ha ha ha! Padan dengan muka kau kena kentut. tu lah siapa suruh kau nak sangat cium bontot aku, kan dah kena kentut. “Hiisshhh.. bau lah kak..” kata dia sambil berdiri menjauhkan diri dari aku. “Hi hi hi.. sape suruh kau cium. Dah sini…” aku memanggilnya supaya rapat kepada ku. Aku suruh dia berdiri di belakang ku, aku lentikkan bontot aku dan menopang dagu menonggeng di railing tangga. Aku suruh dia tembabkan kontolnya di bontot aku. Dia ikut sahaja kata-kata ku. Kontolnya yang makin stim tu terasa keras bergesel dengan bontot aku. Aku nak dia stim gila. Aku nak lancapkan dia lepas tu. Biar air mani dia terbazir kat lantai tangga tu. Tapi nampaknya hajat aku tak kesampaian. Budak sekolah tu akhirnya terpancut kat bontot aku time tengah syok geselkan kontolnya dengan bontot aku. Habis skirt aku berpalit dengan kesan tompokan air maninya. “Apasal kau lepas kat skirt akak! Kan dah kotor nih! Apalah kau.” kata ku memarahinya sambil membersihkan kesan air maninya yang kental dan semakin menyerap menembusi kain skirt ku. “Kak sori kak.. tak tahan la kak.. sori kak..” katanya gugup sambil menyimpan kembali kontolnya ke dalam seluar. “Dah pergi dari sini. Menyampah aku tengok kau lah. ” marah ku. Budak sekolah tu pun dengan rasa bersalah terus pergi dari situ. Maka hari tu aku pulang ke rumah dengan kesan basah kat bontot. Nasib baik bas tak sesak. Jadi dapatlah aku tempat duduk, kalau dibuatnya bas sesak danaku kena berdiri, mesti aku malu gila pasal pasti semua orang dalam bas tu boleh nampak kesan basah kat bontot aku. celaka betul punya budak sekolah. Ssampai hari ni aku bengang dengan dia. Aku pun pulang ke rumah petang tu dengan rasa bengang yang menyeksakan. Dan pada petang itu jugalah, satu kejadian yang benar-benar memberikan aku kejutan. Ianya berkenaan dengan mak aku. Adik-adik aku bersekolah agama, kakak aku macam biasalah, kerja. Dah nak maghrib nanti baru dia sampai rumah. Apa yang mengejutkan? Akan aku ceritakan nanti… Dari jauh aku dah nampak kelibat rumah aku. Ntah apa lah yang mak aku buat sorang-sorang kat rumah tu. Ntah-ntah tengah main dengan indon tu lagi. Aku pun berjalan perlahan-lahan ke rumah. pintu depan tertutup rapat. Kemudian aku terdengar suara mak aku tengah merengek. Hah, confirm tengah main nih. Aku slow-slow ngendap kat tingkap bilik dia. Tak ada orang. kat ruang tamu tak mungkin, sebabnya suara mak aku bukan dari sana. Aku menyelinap masuk ke rumah perlahan-lahan, kemudian baru aku tahu mak aku tengah buat projek kat dalam bilik air di belakang rumah. Bilik air yang terletak kat luar itu selalu menjadi medan pertempuran antara aku dan arwah bapak tiri ku dulu. Aku intai dari lubang yang arwah bapak tiri aku buat untuk mengintai aku mandi sewaktu dia masih hidup dulu. Alangkah terkejutnya aku. Aku nampak mak aku tengah melayan 4 orang lelaki sekali gus. Salah seorang dari mereka adalah orang indon yang aku nampak main dengan mak aku tempohari. Aku ingatkan semua cerita yang kawan-kawan aku ceritakan bahawa perempuan boleh main lebih dari seorang lelaki dalam masa yang sama adalah mengarut, tapi rupa-rupanya ianya betul dan betul-betul terjadi depan mata aku time tu. Aku intai perlakuan buruk mereka ke atas mak aku. Dari lubang itu, aku dapati, mak aku yang masih berbaju t putih dan berkain batik sedang berlutut di atas lantai bilik air yang kering. Di kanan, depan dan kirinya kontol-kontol yang keras diacukan ke arah mak aku. Kesemua lelaki tersebut sudah telanjang bulat. Kontol-kontol memasing kekar gila. Macam cikgu Khir punya. Serta merta aku gian kat situ jugak. Rasa nak je aku masuk dalam bilik air tu dan terus join mak aku hisap kontol-kontol tu. Biar dia orang sembur aku kenyang-kenyang. Biar aku sendawa bau air mani. Tapi aku takut. Ahh.. biarlah mak sorang yang buat. Aku nak jugak tengok apa yang dia nak buat. Lelaki yang main dengan mak aku hari tu tengah rilek bertenggek tepi kolah sambil merokok dan memerhatikan kawan-kawannya membelasah mak aku. Dia pun dah bogel jugak. “Agus, ayuh, kemari kerjain tubuh janda yang sintal ini..” kata kawannya mengajaknya. Baru ku tahu, lelaki yang main dengan mak aku hari tu Agus namanya. “Kerjain dulu puas-puas. Tapi anusnya gue punya. Awas lo kalau berani ngerjain anusnya.” katanya memberikan peluang kepada rakan-rakannya. Mak aku sambil tersenyum melancapkan kontol-kontol yang diacu di kanan dan kiri kepalanya. Kemudian dia menghisap kontol lelaki yang berada di hadapannya. “Ahhh… enak benar mulut janda ini.. waduhhh…. di hisap kuat-kuat ya ibu..” kata lelaki yang kontolnya dihisap itu sambil tangannya mengusap rambut mak aku. Sementara lelaki yang berada di kanan dan kiri mak aku membiarkan mak aku melancapkan kontolnya. Kemudian seorang demi seorang mak aku hisap kontolnya. Agus masih menjadi pemerhati di tepi kolah. Lepas sebatang, sebatang lagi rokok di hisapnya. Kemudian mereka mengarahkan mak aku supaya baring terlentang di atas lantai. Kain batik mak aku di selak hingga menampakkan seluruh bahagian bawah tubuhnya yang putih dan gebu itu. Salah seorang dari mereka menjilat dan menghisap kelengkang mak aku. Aduhh.. macam sedap je rasanya. Menggeliat mak aku kena buat camtu. Lelaki yang lagi dua orang lagi tu masih di lancapkan mak aku. Mereka berdua lebih berminat untuk meramas dan mengusap tetek mak aku yang dah tertayang dari baju t yang tersingkap. “oohhh.. ohhh.. ohhh sedapnyaaa…” mak aku merengek kesedapan bila cipapnya kena jilat lelaki indon tu. “Ayuh, masukkan saja.. dia sudah enak benar itu..” pinta salah seorang rakannya yang dah tak sabar melihat rakannya masih menjilat cipap mak aku. Terus sahaja salah seorang dari mereka membenamkan kontolnya dalam cipap mak aku. Melentik mak aku menikmati cipapnya penuh dengan kontol yang sasa tu. Mak aku merengek sedap. Cipapnya dihenjut semahu hati lelaki indon itu. dari muka mak aku, aku tahu dia tengah sedap sangat tu. Lepas sorang, sorang lagi henjut cipap mak aku dalam posisi begitu. Lepas tu mereka suruh mak aku menonggeng. Yang ini pulak, seorang demi seorang menala cipap mak aku dalam keadaan menonggeng. Yang sedang menunggu giliran, kontolnya akan dihisap oleh mak aku. Agus masih lagi rilek memerhati tingkah laku kawan-kawannya. “Ahh.. indah benar punggung wanita ini. Agus, enak benar rasanya wanita ini… jika dapat selalu alangkah enaknya” kata lelaki yang sedang menyontot mak aku tu. “Mahu selalu ya? Ongkosnya sih… ” jawab Agus yang kelihatan makin stim tengok mak aku tengah menonggeng menikmati cipapnya dibedal dari belakang oleh kawannya. Ohh.. baru ku tahu, rupanya mak aku dilacurkan kepada mereka! Sial betul lah! Tapi mak aku nampaknya suka betul, hmmm.. nampaknya macam mak aku yang nak dilacurkan. Dahsyat betul la. Lepas sorang, sorang lagi menujah cipap mak aku yang tengah menonggeng atas lantai tu. Keadaan mak aku yang masih berpakaian baju t dan kain batiknya yang terselak mempamerkan bontotnya yang gebu berlemak tu betul-betul menyelerakan mat-mat indon tu. “Hey, coba lo tanya sama dia. Mahu muncrat di dalem atau loar. Coba tanya..” kata Agus sambil tersenyum. “Ohhh.. bu…. Enak benar.. Mahu lepas di dalem atau luar ya?” tanya lelaki yang sedang menujah cipap mak aku yang tengah tertonggeng tu. “Lepas je kat dalammm.. ohhh… banyak-banyak tauu… ohhhhh… ” kata mak aku sambil merengek nikmat. Mendengar saja permintaan penuh lucah dan memberahikan dari mak aku itu, lelaki yang sedang menyontotnya itu serta merta kekejangan. Dia tak dapat tahan lepas mak aku cakap benda lucah yang macam tu. Terpancut-pancut dia dalam cipap mak aku. “Ahhhh… panasnyaaa…. air engkauuuu….. ” rengek mak aku bila merasakan lubang cipapnya disembur air mani lelaki indon itu. “Ooohhhhh… enak benar buu…. ” lelaki yang terpancut-pancut itu merengek sedap. “Ahhh.. lagii… pancut lagi sayangggg… pancut dalam-dalammm.. ahhh sdapnyaa…” mak aku memang dah menggila. Cipap dia nampaknya dah ketagih gila nak rasa disembur air mani lelaki. “Haaa.. macam mana lo. Sebab tu lah aku sudah bilang, ini perempuan memang susah mahu cari. Jadi jangan basa basi lagi, teruskan. Aku boleh jamin kontol mu akan puas sampai mati dengan hanya seratus ringgit.” terang Agus kepada rakan-rakannya. “Wahhh… enak gila Agus.. memang kena dengan harganya yang begitu. Kalau bisa seharian sebegini, satu ribu ringgit juga bisa ku beri. Ahhh.. lihat, lihat… kontolku di kemutnya.. ohhhh…. ” kata lelaki indon yang baru sahaja melepaskan air mani tadi. Baru ku tahu, Agus rupa-rupanya bekerjasama dengan mak aku memperdagangkan tubuh mak aku. Sudah pasti Agus yang menjadi bapak ayamnya. Sial punya indon. Kalau aku ada peluang, memang aku bunuh kau. Mak aku pun satu, dengan indon pun jadi. Kalau dah stim gila pun carilah yang ok sikit. Macam cikgu Khir ke.. ehh.. cikgu Khir aku punya.. Mak kena langkah mayat aku dulu kalau mak nak cikgu khir. Kemudian seorang lagi mendatangi mak aku dari belakang. Cipapnya yang penuh dan berciciran dengan air mani lelaki indon yang pertama tadi kembali dibedal oleh lelaki yang kedua. langsung tak ada rasa geli lelaki indon tu bedal cipap mak aku yang penuh dengan air mani kawannya. Berdecit decit bunyi lucah dari cipap mak aku di hentam oleh indon tu. Kain batik mak aku yang tadinya kemas meliliti pinggangnya telah terurai dan tersangkut di pinggangnya. Bontotnya yang berlemak dan putih mulus itu bergegar setiap kali berlaga dengan perut indon yang menyontotnya itu. “Wahh.. lihat.. punggungnya.. hahahaha” kata lelaki yang sedang menonggang mak aku sambil jarinya menunjukkan kepada bontot mak aku yang sedang bergegar di henjut olehnya. “ya… sebab itulah aku tak benarkan lo ambil anusnya. Itu aku yang punya. hahahaha!” kata Agus sambil ketawa macam bapak setan. “Kalau aku kepingin macam mana ya?” tanya indon yang kontolnya masih di hisap oleh mak aku kepada Agus. “harganya ya berlipat ganda lo tau ngak?”kata Agus dengan angkuh. “Berapa sih..” tanya kawannya yang dah terjelupuk kat lantai kepenatan akibat kepuasan memerah benihnya ke lubang bunting mak aku. “Lima ratus! mahu?” kata Agus. “Wahhh.. mahal sihh.. apa tak ada diskon?” tanya kawannya yang sedang di hisap oleh mak aku. “Diskon? Apa tidak cukup ku beri wanita bahenol sebegini rupa kepada kamu?” kata Agus. Rakan-rakannya faham akan maksudnya. Kalau nak juga bontot mak aku, nilainya tinggi. Tak sangka aku, tinggi juga nilai bontot mak aku tu. Hampir sama dengan gaji aku sebulan kalau tak ada OT. “Ayuh.. apalagi dong.. tanya sama dia, mahu muncrat di mana.. hahaha!” kata Agus. “Ohh iya… buuu… mahu lepas di mana ya?” tanya lelaki yang sedang menyontot mak aku. Mak aku seperti faham. Dia seperti tahu lelaki itu mahukannya bercakap sesuatu yang lucah supaya lebih menaikkan nafsu. “Ohhh… lepas dalam ye sayanggg… ” kata mak aku sambil menonggekkan bontotnya yang memang tonggek tu. “ohh.. buuu.. punggung muuu… aku tidak tahan lagi.. sialannn…” kata lelaki itu tak tahan. “ahhhh.. akak pun dah tak tahannnn… lepas dalam tubuh akakkk.. .. aarrghhhhh!!” mak aku benar-benar high gila. Mak aku menggeliat nikmat. Bontotnya semakin melentik, menikmati kontol lelaki indon tu lebih dalam. Mak aku klimaks. Pehanya yang gebu tu bergegar, menggigil menikmati betapa sedapnya lubang sundalnya di sumbat kontol indon yang dah nak terpancut tu. “Aaahhhhh… sialan lo wanita sundallll….. aaahhhh.. ku muncrat dalam tubuh muuu… ahhh” menggigil lelaki indon tu memancutkan air maninya sedalam-dalamnya. Tertonggek-tonggek mak aku menahan tujahan kasar lelaki indon yang tengah isim tu. Mak aku yang sedang enak menikmati klimaks itu menghisap kontol lelaki yang masih belum menceroboh lubang mak aku. sementara lelaki yang baru sahaja kepuasan itu terus mengeluarkan kontolnya dan seperti yang aku duga, berciciran air maninya keluar dari lubang cipap mak aku. Aku tak tahu, adakah mak aku akan mungkin mengandung kali ni. Kalau dia mengandung, alamat teruklah jawabnya. Ye lah diakan janda. Mesti orang kampung akan persoalkan siapa punya angkara. Cipapnya yang dah tak dapat menampung air mani yang di lepaskan oleh dua kontol tadi kelihatan menderu dengan air mani yang meluncur keluar hingga meleleh ke pehanya. “Waduhhh.. kok bisa begini sih… aku tidak dapat tahan lagi donggg….” kata lelaki yang kontolnya sedang dihisap oleh mak aku. “Kalau lo muncrat dalam mulutnya, lo bayar saja 5o ringgit. Itu harga kontol mu di hisapin. Apa lagi? teruskan loh..” kata Agus. Mendengar saja kata Agus, terus sahaja lelaki itu memancutkan benihnya di dalam mulut mak aku. Mak aku terus menghisap kontol lelaki itu. Malah hisapannya semakin laju dan dalam. Ianya benar-benar memberikan sensasi yang sukar untuk digambarkan oleh lelaki itu. Aku juga terangsang melihat perlakuan mak aku tu. Nak saja aku offer untuk hisap kontol lelaki tu. Terasa rindu kepada kontol cikgu Khir benar-benar meluap-luap. Lelaki itu kemudiannya mengeluarkan kontolnya dari mulut mak aku. Aku tak perasan pulak macam mana rupanya mak aku lepas hisap kontol yang tengah memancut kuat tu. tapi yang pasti, tak ada satu pun sisa yang keluar dari mulutnya. hmmm. selera kita sama.. “Loh.. lo dapat 50 ringgit saja. Ok la.. lo kan bocah baru lagi di ladang.. bagi saja lebihan uangnya kepada kami.. hahahaha” kata kawannya yang terkulai pertama tadi bergurau dengan rakannya yang baru lepas kepuasan di mulut mak aku. “Ya.. kalau kamu mahu lagi, berikan sahaja uangnya kepada ku sekarang.. ” kata Agus. “Ohhh.. memang hangat gila wanita ini, tapi rasanya aku sudah puas bener sih. Lain kali sahaja ya kita lakukan lagi.” kata kawannya dan yang lain pun bersetuju. “Ok, tapi ingat ya, aku sudah menjemput beberapa orang untuk melanggan malam ini di sini. kalau lo mahu lagi silakan saja. Tapi malam ini, dia akan hisapin saja konotolnya. Murah saja 50 ringgit. kalau mahu datang ya bersama uangnya.” kata Agus. “Pukul berapa dong” tanya kawannya. “Pukul 3 pagi ya, setakat ini sudah 8 orang kepingin dan udah bayar. Kalau mahu awal, pantas di bayar ya.” Agus memberi penerangan. Ahh.. gila! Memang bisnes betul mak aku dan si Agus tu. Dah 8 orang booking. Tak sangka mak aku rupanya pelacur. Aku nak tengok malam ni. Aku sanggup bersengkang mata nak tengok punya pasal. Tak pe nantilah. Kemudian giliran Agus menghentam bontot mak aku. Tapi sebelum tu, mak aku kolom kontol Agus cukup-cukup. Lepas tu, mak aku bangun dan berdiri di tepi kolah, tempat Agus bertenggek tadi. Kain batik yang tadinya telah lucut dan terlondeh kembali di ikat kemas dipinggangnya. Tangannya memaut tebing kolah dan mempamerkan bontotnya yang ketat dibalut kain batik kepada Agus. “wahhh.. cantik bener punggungnya. layak benar harganya yang sebegitu mahal…” kata salah seorang indon yang memerhati mak aku bergaya menonggek di tepi kolah. “nak? Sinilah… jolok bontot akak, pancut dalam-dalam…. Tapi….. bayar dulu kat Agus ye… ” kata mak aku mengghairahkan mereka. “Ohh.. tidak mengapa bu, lain kali saja. Bila udah ada uangnya kami pasti mahu nanti…” ujar salah seorang dari mereka. kontol masing-masing dah stim je tengok mak aku menonggekkan bontotnya. “Agus… cepatlah sayanggg… lobang ayang dah gatal… ” mak aku merengek meminta Agus masukkan kontolnya dalam bontot mak aku. Agus terus menyelak kain batik mak aku ke pinggang. Mak aku menurunkan tubhnya menonggeng di tepi kolah supaya senang kontol Agus dapat masuk lubang jubornya. Sikit demi sikit kontol Agus tenggelam dalam lubang bontot mak aku. Mak aku merengek sedap. matanya terpejam menikmati kontol agus masuk perlahan-lahan lubang bontotnya. Agus tenggelamkan kontolnya sedalam-dalamnya dan kemudian mereka mula beraksi. Mak aku menikmati bontotnya dibedal kontol agus. Tubuhnya yang melentik menonggeng di tepi kolah bergerak-gerak menerima henjutan dari Agus. Lama juga Agus hentam bontot mak aku, sampailah Agus akhirnya terkejang-kejang membenamkan kontolnya ke dalam bontot mak aku sedalam-dalamnya. Mak aku tersenyum dengan matanya yang terpejam, pasti dia tengah sedap merasakan air mani Agus mencurah-curah dalam bontotnya. tubuhnya melentik dan semakin menonggek. Agus kemudian memeluk mak aku. kontolnya masih terbenam di dalam jubor mak aku. Mak aku menoleh ke belakang dan mereka berkucupan mesra. Aku terus sahaja blah dari situ. Acara semakin tamat. Sebelum dia orang sedar aku ada kat situ, baik aku blah. Yang pasti, malamnya aku mengntai mak aku menjadi penghisap kontol dan mani lelaki. Keji betul mak aku. Aku betul-betul tak sangka… Malamnya, aku tidur awal. Jam lonceng aku set kepada 2.30 pagi. Nak standby la katakan.. Bila dah dekat pukul 3 pagi, aku dengar ada banyak bunyi tapak kaki kat luar rumah. Sesekali aku dengar suara orang berbisik. Hah, pelanggan sudah mari. Macammana pula dengan ratu? Dah ready ke nak bersiram? Pelan-pelan aku keluar dari bilik. Senyap-senyap je aku menatap, takut kakak aku terjaga. Adik-adik aku yang lain tidur berkongsi sebilik. Aku tengok bilik mak pintunya dah terbuka. Tetiba, aku dengar bunyi pintu dapur dibuka perlahan-lahan. Aku intai, nampak kelibat mak keluar rumah. Dengan berkain batik merah dan berbaju t hijau, dia menuju ke bilik air di luar rumah yang kelihatan dah terang di hidupkan lampunya. Bahagian belakang baju t mak tersingkap ke atas, sebab saiz bontot mak yang besar dan tonggek. Jadi nampaklah bontotnya yang sendat dengan kain batik tu bergegar bila dia jalan. Hmmm.. pasti menggigil jantan-jantan kat luar sana tu tengok mak aku yang gebu dan montok tu. Lepas mak dah tutup pintu, aku dengar dia kunci pintu dari luar. Aku terus menuju ke meja kabinat sinki dapur. Ruangan yang biasanya menjadi tempat kita orang siang sayur dan ikan sebelum masak. Aku panjat, ahh.. lega ruang gelegar yang memberikan ruang sekitar 2 inci untuk aku intai ke dalam bilik air. Nasib aku baik, pintu tak di tutup. Nampaklah kelibat mak aku tengok berbisik dengan Agus. Sesekali Agus raba-raba perut dan cipap mak aku. Tangan mak aku pulak tengah menyeluk ke dalam seluar Agus, meraba sesuatu. Mak aku yang dah cantik bergincu tu nampak miang gila. Ada beberapa orang lelaki yang aku tak cam sebab keadaan agak suram tengah menunggu kat luar bilik air. Ada beberapa orang lagi tengah menyangkung kat kaki lima. Kat bawah pokok sana tu pun ada lagi beberapa orang. Nampak je bara rokok dia orang menyala. Huuiii… lebih dari lapan orang ni.. gila la! Kemudian Agus keluar dari bilik air, dia panggil seorang peserta pertama yang telah mendaftar untuk mengambil bahagian. Seorang lelaki yang hanya berkain pelikat dan berbaju singlet putih masuk dan nampaknya macam mat indon. Pasti budak-budak kotai dia nih. Lelaki tu tersengih-sengih je. Kain pelikat dia dah menonjol. Stim gila lah tu. Mak aku senyum kat lelaki tu. Dia rapatkan badannya dan tangan mak aku merocoh-rocoh kontol lelaki indon tu yang menonjol dalam kain. Syok je mamat indon tu. Mak aku lancapkan laju, mat indon tu berdiri sampai terjingkit-jingkat, sedap gile lah tu kena lancap. Lepas tu mak aku berlutut kat depan dia. Lelaki tu selak kain pelikat dia ke atas. Terjojol kontol dia yang tegang gila menghala muka mak aku yang tengah berlutut depan dia. Mak aku senyum je. Tangan mak aku capai kontol indon tu, dia lancapkan dan sesekali dia main-mainkan kepala tedung mat indon tu dengan lidah dia. Lepas tu mak aku suap kontol tu dalam mulut dia. Macam sedap je mak aku hisap kontol indon tu. Sampai terpejam mata dia menyonyot kontol indon tu sedalam-dalamnya. Mat Indon tu aku tengok ghairah semacam. Meliuk-liuk badan dia menikmati sedapnya kontolnya dihisap mak aku. Lepas tu dia nak terpancut, dia pegang kepala mak aku. Dia tujah mulut mak aku dalam-dalam. Mak aku cuma biarkan dengan matanya yang terpejam. Akhirnya mat indon tu terkujat-kujat, menandakan kontol dia dah meletupkan semburan air mani yang sudah pastinya hangat menyirami tekak mak aku. Bergerak-gerak tekak mak aku semasa indon tu mengeluh nikmat. Mak aku telan semua air yang keluar memenuhi mulutnya. Dahsyat… Ini baru sorang! Ramai lagi yang tengah tunggu kat luar tu. Kenyanglah nampaknya mak aku malam ni.. Lepas indon yang pertama tu blah, masuk sorang lagi. Indon yang tadi tu nampaknya menuju ke bawah pokok rambutan. Kelihatan kawan-kawannya tengah menunggu giliran dan semestinya menantikan cerita panas yang bakal kawannya ceritakan. Indon yang baru masuk bilik air tu nampak macam dah tak sabar. Cepat je dia bukak seluar. Mak aku pulak sambut bukan main lagi. Siap pimpin ke tepi kolah. Dia suruh mat indon tu duduk kat tepi kolah. Kontolnya yang dah mencanak tu mak aku usap dan lancapkan lembut. Indon tu ambik kesempatan raba-raba bontot mak aku. Tangannya menyelak baju t hijau mak aku dan mulutnya sedap je hisap tetek mak aku yang mengkal gebu tu. Memang sah mak tak pakai sebarang pakaian dalam. Indon tu mintak mak aku pusingkan tubuhnya membelakanginya. Mak aku menurut sambil tersenyum. Mat indon tu cium bontot mak aku. Nampak syok je dia sembab muka dia kat celah bontot mak aku yang masih sendat berkain batik. Dia melancapkan kontolnya sendiri sambil berselera mencium bontot mak aku. Lepas tu mak aku berlutut depan dia. Indon tu masih duduk kat tebing kolah. Mak aku hisap kontol mat indon tu. Sesekali dia memandang muka mat indon tu. Mat indon tu nampak makin gelisah. Mulut dan tangan mak aku yang enak merocoh kontolnya buat dia semakin tak keruan. Aku nampak dia macam cakap sesuatu kat mak aku dan mak aku mengangguk. Mak aku berdiri sekali lagi membelakangi mat indon tu. Mat Indon tu meramas-ramas bontot mak aku. Dia bediri dan terus memeluk mak aku dari belakang. Aku nampak dia menekan-nekan kontolnya kat bontot mak aku. Makin lama makin kuat tekanannya. Lepas tu dia jarakkan tubuh dia dari tubuh mak aku. Pandangannya tertumpu kepada bontot mak aku yang berbalut batik merah yang sendat. Baju t hijau yang terselak di bahagian belakangnya membuatkan bontotnya yang tonggek dan besar tu menjadi tatapan penuh nafsu buat mat indon tu. Mat indon tu melancap penuh nafsu. Mak aku mencapai kontol mat indon di belakangnya. Mak aku lancapkan kontol indon tu laju. Bontotnya semakin dilentikkan supaya makin hampir dengan kontol indon yang sedang dilancapkannya. Mat Indon tu semakin tak tahan. Mukanya berkerut menikmati tangan mak aku melancapkan kontolnya. Tangannya meramas erat bontot mak aku dan akhirnya, aku nampak, berdas-das air mani mat indon tu memancut ke atas bontot mak aku. Dah lah banyak, pekat gila lak tu. Ntah stok berapa tahun punya dia simpan aku pun tak tahu. Kain batik yang sendat di bontot mak aku serta merta bermandian dengan air mani pekat mat indon tu. Mak aku terus merocoh kontol yang tengah memancut. Dia biarkan mat indon tu pancut banyak-banyak atas bontotnya. Lepas kontol mat indon tu makin lembik. Mak aku sengaja tembab bontot dia kat kontol mat indon tu. Menggeliat mat indon tu. Hehehe.. baru kau tahu, betapa dahsyatnya mak aku menyundal. Lepas sorang, sorang lagi masuk. Masing-masing memang puas gila dipuaskan oleh mak aku. Walau pun cuma dilancap dan di hisap, indon-indon tu nampaknya puas hati dengan servis yang mak aku beri. Aku pun stim jugak tengok mak aku hisap kontol-kontol yang kekar-kekar cam tu. Rasa nak je join hisap kontol dia orang tu. Tapi takut lain pulak jadinya nanti. Tak pasal-pasal aku jadi ayam Agus nanti. Hiii.. tak nak aku. Macam-macam pe’el aku tengok. Ada yang nak lepas kat muka la, ada yang lepas kat tetek la, ada yang lepas kat peha la, kot bontot jangan cakap la, basah kuyup gila kain batik yang sendat kat bontot mak aku dengan air mani dia orang. Tapi yang paling ramai lepas dalam mulut la. Mak aku macam tak kisah je telan air mani dia orang. Hii… ramai tu… Kenyang betul mak aku.. Siap sedawa lagi tu.. Hihihi… Lepas dah orang yang ke 13, aku dah mula mengantuk. Aku tengok masih ada ramai lagi yang menunggu giliran kat luar sana tu. Walau pun dalam kegelapan, tapi aku dapat nampak kelibat dia orang. Ahhh.. malas la nak ikuti siaran langsung tu.. Aku terus turun dari meja kabinet sinki tu dan terus menuju ke bilik. Ngantuk. Tidur.. Lagi kisah pasal mak aku. Malam tu aku balik kerja cikgu Khir ambik aku dari kilang. Biasalah, lepas dah penuh bontot aku dengan air dia, dia pun hantarlah aku balik. Kat rumah aku tengok yang ada kakak dan adik-adik. Mak takde. Aku tanya dia orang mana mak. Dia orang cakap mak pergi kenduri dari lepas maghrib. Mak aku pesan kat dia orang pintu jangan kunci sebab dia balik dalam tengah malam nanti. Aku tengok jam baru pukul 8.00 malam. Aku syak mesti dia pegi menyundal nih. Aku tengok, lampu bilik air tak menyala. Kemana pulak lah perginya mak aku ni. Ntah-ntah kat kebun belakang rumah. Aku keluar rumah ikut pintu depan. Aku bagi tahu adik beradik aku yang aku nak ke kedai. Aku pun jalanlah dalam gelap-gelap tu ke belakang rumah. Sunyi. Tak ada kelibat manusia melainkan diri aku sendiri. Aku tengok rumah kak Mariah kat sebelah. Rumahnya yang dalam jarak 50 meter dari rumah aku tu dipisahkan kebun kecil pak Ajis. Nampak gelap je rumah dia. Kereta datsun pak Ajis ada kat garaj. Tapi kenapa gelap semacam je rumah dia. Biasa tak macam tu. Ntah-ntah kak Mariah tak ada. Ahhh… jangan mak aku menyundal kat pak Ajis sudahlah. Aku terus hayun kaki ke rumah pak Ajis. Aku dapati yang terang cuma bahagian dapur je. Aku pun mengendap kat celap dinding kayu yang berlubang sana sini tu. Hah! Tepat sekali sangkaan aku. Aku nampak pak Ajis tengah duduk kat kerusi meja makan dengan kain pelikatnya dah ntah kemana. Mak aku tengah berlutut depan pak Ajis. Tangannya tengah berpaut pada peha pak Ajis sementara kepalanya nampak turun naik, seiring dengan kontol pak Ajis yang keluar masuk mulut mak aku. “Hooo… sedapnya mulut kau Timah… Kan bagus kalau kau jadi bini aku..” kata Pak Ajis. “Alah abang Ajis ni.. abis kak Mariah macam mana?” Tanya mak aku sambil melancapkan kontol pak Ajis yang berlendir dengan air liurnya. “Alah… jadi bini kedua aku lah Timah.. Boleh yee…” pujuk Pak Ajis cuba memancing mak aku. “Alah… kalau abang ajis nak Timah, tak payah kawin laaa.. Bila-bila pun Timah boleh bagi…. “ kata mak aku sambil terus menghisap kontol pak Ajis. “Ohhhh… Timahhh.. sedapnyaa… Bagi aku jolok lubang sedap kau Timah.. Aku dah tak tahan..” pinta pak Ajis. Mak aku pun bangun berdiri di hadapan pak Ajis. Pak Ajis pulak, sambil dia melancap kontolnya, dia menonton seluruh tubuh mak aku yang lengkap berbaju kurung biru dan bertudung putih. “Memang sedap betul badan kau ni Timah. Tengok ni, sendat dah baju ni sarung bontot kau..” kata pak Ajis sambil meramas-ramas bontot mak aku. “Baju ni biasa je pak Ajis, tapi bontot saya ni ha yang besar, tu yang nampak sendat je baju ni..” kata mak aku sambil menayangkan seluruh tubuhnya kepada pak Ajis. “Kamu nak berapa ringgit tadi? 200? Aku dapat apa je kalau aku bagi kau duit tu?” Tanya pak Ajis. “Pak Ajis nak yang mana? “ Tanya mak aku pula kepada Pak Ajis. “Ohhh.. mana-mana pun boleh ke Timah? Kau ni biar betol?” Tanya pak Ajis macam tak percaya. “Iyee… pak Ajis balunlah cukup-cukup. Esok kak Mariah kan balik, nanti dah susah nak rasa Timah..” jawab mak aku. “Ohhh.. ok.. errr.. kau tonggeng kat meja tu Timah.. geram lah aku kat bontot kau… “ kata pak Ajis sambil menepuk-nepuk bontot mak aku. Mak aku menurut sahaja. Dia menonggeng di tepi meja makan. Badannya meniarap di atas meja sementara kakinya dibiar berdiri mencecah lantai. Bontotnya macam sengaja di biarkan mengadap pak Ajis. Pak Ajis aku tengok berkali-kali menelan air liur. “Tunggu apa lagi bang.. cepatlah.. Timah nak rasa abang Ajis punya…” rengek mak aku macam sundal murahan. Pak Ajis pun terus berdiri. Tangannya melancapkan kontolnya laju dan terus je menyelak baju kurung mak aku ke atas pinggang. Kain mak aku pulak di tariknya ke bawah. Terdedahlah sudah bontot mak aku tanpa memakai seluar dalam ke arah pak Ajis. Stim gile pak Ajis tengok bontot janda sebelah rumah yang besar dan tonggek tu menyerah untuk di tutuh kontolnya yang gatal tu. Bontot mak aku yang gebu dan putih berseri itu di ramasnya berkali-kali dan akhirnya pak Ajis pun menyumbat kontolnya ke dalam cipap mak aku. Bergegar meja makan akibat di hentam dua tubuh yang sedang nikmat seks itu. Pak Ajis hentam betul-betul. Memang dia nak balun mak aku cukup-cukup. Mak aku pulak sedap je menerima tusukan kontol tua pak Ajis yang meradak cipapnya. “Timah… aku tak tahanlahhh…. Ohhhh….” Kata pak Ajis tak tahan. “Abang nak keluar keee….” Tanya mak aku. “Ohhhh… Ye Timahhh… Mahhhh…..” Pak Ajis semakin hampir. “Lepas dalam je banggg…. “ pinta mak aku birah. “Oooooo… Rosyatimahhhhh….. Ohhhh….” Dan akhirnya tewas juga pak Ajis di tangan mak aku. Lepas dah puas, mereka duduk di kerusi meja makan. Pak Ajis aku nampak keluarkan beberapa keping not 50 ringgit dan di baginya kat mak aku. Mak aku suka je. Aku yang dah tahu kemana misteri kehilangan mak aku pada malam tu terus balik rumah dan mandi. Lepas mandi, aku nampak mak aku tengah duduk kat meja makan sambil berbual dengan kakak aku. Dengan tudungnya yang dah ditanggalkan, dia berbual dengan kakak aku tentang kerja kakak aku. “Mak.. dah balik? Tadi kakak cakap mak balik malam sikit. Awal pulak?” Tanya aku sengaja nak uji dia. “Alahh.. kenduri tak ramai orang yang datang.. Tak ramai orang yang tahu. Tu yang mak balik awal tu. Kau dah lama balik?” bohong mak aku. “Lama jugak, cuma tadi pergi kedai kejap.” Kata ku dan terus meninggalkan mereka berbual. Hai… kenduri betul mak aku….. hehehe… “Lina.. ini seluar track yang biasa Lina pakai kan?” Tanya cikgu Khir. “Ha’ah.. nape bang?” Tanya ku. Cikgu Khir memerhati peha ku. Tangannya mengusap-usap pehaku yang kelihatan sendat dengan seluar track yang ku pakai. Dia terdiam seketika. Usapan tangannya semakin bertukar kepada ramasan. “Saya kesian tengok awak ni Lina… Awak tak kisah ke.. buat selalu dengan saya macam ni…. “ Tanya cikgu Khir. “Selagi abang sayang kat Lina, selagi tulah Lina sedia untuk abang… “ kata ku sambil tangan ku meramas bonjolan yang begitu jelas di seluar slacknya. “Abang nak sekarang sayang…. Jom… “ kata cikgu Khir sambil terus keluar dari kereta. Aku juga turut keluar dari kereta dan menuju ke bonet belakang. Di sana kami berkucupan dengan penuh nafsu. Tangan cikgu Khir terus meramas bontot aku yang digeramkannya. “Saya cintakan awak Lina…” ucap cikgu Khir romantis. “Ohhh.. abanggg… “ aku semakin lemah dalam dakapannya. Aku buka seluar cikgu Khir. Kontolnya yang tegang itu aku usap dan belai. Aku terus berlutut di atas tanah. Aku hisap kontol cikgu Khir semahu hati ku. Cikgu Khir mengerang nikmat di tengah kebun sawit yang gelap dan sedikit cahaya bulan yang mencuri masuk dari celah pelepah menyuramkan suasana. “Sayanggg… sedapnyaaa… “ rengekkan lelaki kesayangan aku itu menambah berahi kepada ku. Mulut aku penuh dengan kontol cikgu Khir yang aku hisap. Bunyi hirupan mulut ku sesekali memecah kesunyian. Sambil tu, aku gentel cipap aku dengan jari. Basah seluar track aku kat kelengkang dengan air cipap aku. Aku dah tak dapat bersabar lagi. Aku bangun dan terus berdiri membelakangi cikgu Khir. Aku tarik kontolnya yang keras tu dan terus sumbat dalam lubang bontot aku. Seluar track yang sendat membalut bontot aku tu berlubang di bahagian bontot. Memudahkan lagi kerja kami tanpa perlu membuka seluar. Aku tonggekkan bontot aku dan aku hayun tubuh aku ke depan dan kebelakang. Cikgu Khir yang bersandar di bonet keretanya hanya berdiri menikmati enaknya kontolnya menikmati lubang bontot aku. Tangan cikgu Khir kuat meramas bontot aku. “Ahhhh…. Sedapnya bontot Linaaa… Abang suka bontot Linaaa” rengek cikgu Khir. “Sedap banggg? Abang suka bontot Linaaa.. ohhh..” aku merengek sedap. “Ye sayanggg… abang sukaaa… ohhh… bontot Linaaa…” cikgu Khir semakin kuat rengeknya. “Abang nak cipap Linaaa?” Tanya ku dalam keghairahan. “Ohhhh.. apa salahnya….” Jawab cikgu Khir. Aku pun keluarkan kontol cikgu Khir. Aku lorotkan seluar track aku ke bawah. Bontot aku yang tak de sehelai benang tu cikgu Khir ramas lembut. Dalam keadaan yang sama, aku tarik masuk kontol cikgu Khir ke lubang cipap aku. Aku sumbat sampai ke pangkal cipap aku. Ohh.. sedap gila rasanya merasakan kontol kekar tu berkubang dalam cipap aku yang banjir tu. Aku terus hayun tubuh aku ke depan dan belakang. Kontol cikgu Khir yang padat menerobos cipap aku memberikan aku kenikmatan yang hakiki. Akibat cinta yang amat sangat, aku semakin tak dapat bertahan. Aku semakin hampir kepada klimaks. “Abanggg… sedapnya banggg….. “ aku merengek sedap. “Ohhh… sedap sayanggg….. abang nak Linaaaa..” Cikgu Khir ghairah dilancapkan cipap ku. “Abangggg…. Kawin dengan Lina banggggg….” Aku merengek kerasukan nafsu. “Ohhhhh…. Linaaaa…. Buah hati abanggggg….. “ cikgu Khir semakin tak dapat bertahan. Air maninya akan meledak bila-bila masa sahaja. Aku kuatkan tujahan bontot aku ke tubuh cikgu Khir. Kontol gagah cikgu Khir semakin kuat menerjah lubang cipap ku. Aku hampir kemuncak. “Ahhhhh… abanggggggg!!!! Ahhhhhhh!!!! “ aku merengek kuat. Aku klimaks. Kerinduan yang tak terbendung membuatkan aku hilang pertimbangan. Aku tekankan bontot ku supaya kontol cikgu Khir kuat menekan dasar cipapku. “Linaaaa…… sedapnyaaaaa……. Ahhhhhhh!!!” cikgu Khir merengek kuat seiring dengan ledakan air maninya yang kuat dan panas memenuhi segenap ruang cipap ku. Tubuh aku tersenggut-senggut akibat tubuh cikgu Khir yang menggigil-gigil mencapai puncak kenikmatan. Aku bersandar ke tubuh cikgu Khir. Lubang cipap ku yang di penuhi kontol dan air mani cikgu khir mengemut dan menekan kuat kontol cikgu Khir agar tengelam lebih dalam. Denyutan kontolnya aku rasakan kuat memenuhi lubang cipap ku. “Ohhhh… sedap bang lepas dalam perut Linaaa…uhhhh..” aku berbicara manja dengannya. “Ohhhhh…. Sedap sayanggggg… Sedapnya lepas dalammmm Linaaaa…. “ cikgu Khir mengeluh nikmat melepaskan benihnya memenuhi lubang peranakan ku. Aku dapat rasakan air mani cikgu Khir mengalir keluar dari lubang cipap ku yang masih tersumbat kontolnya. Dapat aku rasakan air maninya meleleh ke peha dan terserap di seluar track ku yang tersangkut di peha. Cikgu Khir mengucupi kepala ku yang bertudung. Pelukannya erat di tubuh ku yang masih berbaju t itu. “Lina… awak tak menyesal?” Tanya cikgu Khir. “Lina tak menyesal kalau dengan abang… Lina hak abang…. “ jawab ku sambil kontolnya yang masih keras di lubang cipap ku itu ku tekan lagi sedalam-dalamnya. Selepas tu, cikgu Khir semakin gemar lepas dalam cipap aku. Hasilnya, selepas 1 bulan aku dah mula muntah-muntah. Aku ambik MC, doctor cakap aku mengandung. Sukanya aku bukan kepalang. Aku bagi tahu cikgu Khir, kelam kabut dia. Bulan ke dua aku mengandung, aku akhirnya di ijab kabulkan dengan cikgu Khir, kekasih ku yang juga bekas guru ku. Selepas aku berkahwin, aku terus tak stay dengan mak aku. Aku balik kadang-kadang je. Lepas aku bersalin, aku balik ke rumah sendiri bersama dengan baby aku yang comel tu. Suami aku, cikgu Khir, tak ikut sebab dia mengajar. Adik beradik aku sekolah manakala kakak aku kerja. Sampai kat rumah, aku tengok sunyi sepi. Aku tak bagi salam. Aku masuk dan perhatian aku tertumpu kepada sekujur tubuh yang terbaring pulas di atas katil mak aku. Aku tengok mak aku terlena tak sedar diri. Satu bilik bau dengan air mani. Kat atas lantai bersepah dengan kesan air mani. Alas katil dah bersepah tak tentu hala. Aku nampak beberapa not duit bersepah kat atas bantal. Banyak juga nilainya kalau dikira. Aku hampiri mak aku. Dia terlena betul. Kepenatan agaknya. Mukanya berselaput penuh dengan air mani yang masih basah. Kain batiknya yang terlonggok di atas lantai aku angkat. Koyak rabak kain batik mak aku, ganas gila. Kesan air mani yang berkental bersepah-sepah membasahi kain batiknya. Baju t mak aku tersidai di kepala katil. Aku tengok mak aku terbaring pulas di atas katil dengan tubuhnya yang sana sini bersisa air mani. Tudungnya yang hampir renyuk masih di kepalanya cuma dah melorot ke belakang kepala. Melambak air mani di tudungnya. Dalam keadaannya yang berbogel, aku intai kelangkangnya, mak oii… meleleh air mani keluar dari cipap dia… gila la.. sampai basah cadar.. Lubang bontot dia pun nampaknya meleleh dengan air mani. Bukan setakat lubang bontot dia.. Belakang badan dia, bontot dia, peha dia.. huh… senang kata seluruh badan lah… nampak bulat je mak aku tertonggeng atas katil tu. Tubuh montoknya yang berisi tu jelas menjadi habuan lelaki dan apa yang aku syak, pasti lebih dari seorang. Aku periksa duit yang diperolehinya di atas bantal. Ini mesti penat gila sampai dah tak larat nak simpan. Aku kira, hampir nak pengsan aku bila aku dapati, nilainya hampir mencecah 4500 ringgit! Aduh… entah berapa orang yang bedal mak aku tuh.. Kemudian aku tertumpu kepada sisa air mani yang melekat di perut mak aku. Aku bukan tertarik kepada air mani itu, tetapi perut mak aku. Nampak semakin buncit. Ahh sudah… teruk ni… mak macam mengandung je… Teruk lah kali ni…
KAKAK ISTERIKU
Cerita yang aku paparkan ini bukan niat untuk berbangga diri tetapi sekadar hanya berkongsi pengalaman.. Aku percaya bahawa, nafsu seksual bukan mudah dikawal. Samada kita ni lelaki atau pun perempuan. Sekiranya terdapat situasi yang mendorong untuk bertindak diluar batas, maka nafsu boleh menguasai kita.
Begini ceritanya, namaku Zam. Aku berumur dalam 28 tahun, mempunyai seorang isteri yang jelita, lemah lembut dan telah ku kahwini tiga tahun yang lalu. Aku dan isteri memang cukup bahagia sepanjang perkahwinan kahwin. Namun kesibukan didalam kerjaya membataskan hubungan seksual kami.Isteriku seorang wanita berkerjaya, dia amat cemerlang dalam bidangnya.
Namun bukan niatku untuk mencari ‘makan luar ‘ (aku ralat nak sebut curang!). Perkara nie hadir tanpa diminta olehku.
Dipendekkan cerita, pada suatu hari, aku pulang awal ke rumah. Kira-kira dalam jam 3.00 petang. Mungkin kerana terlupa, aku tidak menelefon isteriku untuk memaklumkan kepulanganku. Sampai sahaja di rumah, ku dapati Perdana V6 milik isteriku berada di perkarangan rumah. Mungkin dia sudah pulang awal. Maklumlah kerjaya isteri sebangai Perunding Pelancongan membuatkan dia pergi dan balik kerja tidak tentu masa. Aku terus memasuki rumahku, dan terus ke tingkat atas rumah untuk menuju ke bilik beradu . Niatku hanya untuk mandi dan tidur sekejap. Maklumlah, semalam aku pulang lewat ke rumah untuk menyiapkan tugasan kerja. Hari itu, boss aku berbaik hati membenarkan aku pulang awal.
Di tingkat atas , terdapat 3 bilik tidur, 1 bilik utama, 1 bilik kusediakan untuk tetamu dan satu lagi ku biarkan kosong. Semasa ingin membuka bilik tidurku, aku sempat menoleh kearah pintu bilik tamu yang separuh terbuka. Aku menyedari kelibat seseorang di dalam bilik itu. Mungkin isteriku, getus hatiku. Entah macamana aku menuju kearah pintu bilik tersebut. Rupa-rupanya ‘isteriku’ yang berada di dalam bilik itu. Dia membelakangiku. Mungkin dia tidak menyedari kehadiranku. Yang menariknya, ketika itu ‘isteriku’ hanya berkemban kain batik merah yang agak lusuh dan disimpulkan tuala di kepalanya. Tiba-tiba nafsu syahwatku mula memuncak. Maklumlah, dah lebih seminggu aku tidak ‘bersama’ isteriku. Terlintas dibenakku isteri pernah bersetuju saranan aku sekiranya dia berkeinginan melakukan hubungan seks, dia perlu berkemban kain batik. sebenarnya kain yang dipakai oleh ‘isteriku’ ketika itu adalah kain yang dibeli olehku ketika kami belum berkahwin. Kain itu telah diubahsuai olehya menjadi terlalu singkat dan hanya mampu menutupi sebahagian dada dan pahanya apabila dipakai secara berkemban.
Aku mula merapati ‘isteriku’ dari arah belakang. Kelihatan dia asyik mengemas cadar pada katil bersaiz queen. Perlahan-lahan aku merapati dirinya dan terus memeluk dari arah belakang. Tangan kiriku meraba-raba tetek kirinya, manakala tangan kananku pula menjelajah di perutnya dan seterusnya ke bawah. Bibirku mula menjelajah di sekitar lehernya. Dia menggeliat manja. Aku yang semakin ghairah terus menyerang lehernya, sambil tanganku meraba bahagian depan badannya. Perlahan-lahan teteknya ku raba, sambil kutekapkan batangku yang mengeras ke punggungnya. Kugeselkan perlahan-lahan batangku di punggungnya. Dia memusingkan tubuhnya dan kami berhandapan. Maka barulah aku sedar dia bukanlah isteriku. Rupa-rupanya dia adalah kakak isteriku, Kak Ida. Aku sedikit tergamam…serta merta aku lepaskan pelukkan ku.
Kak Ida @ Kak Da berumur 30 tahun, belum berkahwin . Dia berkerja sebagai Guru di Sekolah Agama di negeri asalnya, Kelantan. Berkulit putih mulus, betubuh montok dan ramping perwatakan lemah lembut sesuai dengan kerjayanya, sedikit rendah berbanding isteriku yang berketinggian 160cm. Body sedikit chubby berbanding isteriku. Part tubuhnya yang menawan adalah teteknya dan punggungnya yang tonggek. Bermata bulat dan bersinar, bibirnya yang mekar dan cantik pasti menawan hati sang lelaki. Walaupun Kak Ida sering berbaju kurung atau berkebaya longgar, bentuk tubuhnya yang montok pasti akan terserlah. Tidak keterlaluan kukatakan yang rupa Kak Ida sungguh ayu dan menawan disamping perlakuannya yang manja.
Berbalik kepada situasi itu,
Aku yang tergamam, berundur sedikit ke belakang. Kak Ida merenungku, wajahnya tergambar seolah-olah terkejut dengan tindakan aku tadi. “saya minta maaf, Kak Da. Saya ingat Ina tadi,” aku bersuara memecah suasana yang hening. Masing-masing terkejut.
Kak Ida mula tersenyum. “ Ha.. itu la tak tengok orang dulu, main terkam jer,” bibirnya mula menguntum senyuman..
“saya tak sengaja tadi” Kak Ida tersenyum lagi dan dia bergerak merapati katil dan terus duduk menghadapku. Kak Ida masih lagi berkemban.Mataku meliar melihat pangkal dadanya yang putih melepak yang masih diselimuti kain batik. Dia mula menyilang kaki sambil tangannya membetulkan simpulan tuala berwarna merah jambu di kepalanya. Kedudukan Kak Ila sedemikian membangkit ghairahku. Ditambah pula, kedua belah pahanya yang gebu dan putih melepak menjadi santapan mataku. “Kak Da, sampai bila dari Kelantan?” soal untuk berbicara lanjut. “Kak Da dah seminggu ada di KL ni, ada kursus. Lusa balikla, lagipun hari ini Kak Ila free itu yang datang sini” “Ina tak bagitau ker yang Kak Da datang,” sambungnya lagi “ Takla pulak,” jawabku. “takperla Kak Da buat la apa yang patut, sorry la bilik ni berselerak sikit,” ujar ku lagi. Dia tersenyum sambil menjeling padaku. Walaupun berat langkah kaki untukku beredar dari situ, tetapi aku teruskan jua. Sempat aku menjeling kea rah Kak Da yang membetulkan simpulan kain batik di dadanya. Mungkin ia longgar akibat rangkulan ku tadi. Aku memasuki bilik tidurku, lantas membuka kemeja ku. Fikiran ku mula menerawang liar, alangkah sedap kalau permainan tadi diteruskan. Hati ku meronta-ronta ingin ke bilik Kak da lagi Selang beberapa minit, aku terdengar jeritan Kak Ila. Tanpa berbaju aku bergegas menuju ke biliknya. Ku lihat Kak ida sedang berdiri sambil tangannya seolah menguis sesuatu di bahagian pahanya. Kelihatan kain batik yang dipakainya disingkap ke pangkal pahanya. Rambutnya kelihatan mengurai melepasi paras bahunya. Dalam keadaan sedemikian, Kak Ida sungguh menawan.Aku menahan nafas. “Kenapa Kak Da?” soal ku “Umm, lipas ni masuk dalam kain,” jawab Kak Ida selamba. Aku tergelak sedikit.. “Eh, zam ni, orang takut lipas la,” balas Kak Ida sambil memuncung bibirnya. “gatal lipas tu masuk dalam kain orang yee,” aku tergelak lagi. Dia menjeling padaku dan kemudian matanya melihat disekitar lantai. “Mana lipas ?” “dah ilang kot,” balas Kak Ida.
Aku memerhatikan tindak tanduknya yang masih mencari lipas dan tangan kirinya memegang simpulan kain batiknya yang terlerai.
“ Kak da, tadi Zam minta maaf betul-betul tak sengaja,” “Alaa, Zam tadi kan kira accident” balas Kak Ida sambil mengemas ikatan kain batiknya “Accident” balasku “Kalau betul-betul, zam lakukan..macamana?” aku bersuara lagi “Hah, kalau berani cubalah” balas Kak Ida perlahan seperti mengejekku. Kemudan bola mata kami bertatutan.Aku merenung wajahnya yang ayu lantas membuatkan nafsuku mula memuncak, dadaku berdebar kuat. Fikirku Kak Ida seolah-olah memberi respond padaku untuk bertindak lanjut. Aku merapati tubuhnya yang duduk di birai katil. Pahanya yang putih dan gebu membuatkan aku semakin tidak menentu
“Kak da..” aku menarik nafas dan terus aku memeluknya. Tubuhnya rebah ke katil, separuh badanku menindihnya. Bibirku mula mencari pipinya yang mulus. Kak da mengelengkan kepala mengelak perlakuan aku. Aku tidak berputus asa, lantas ku cari bibir mungilnya. Dia melarikan bibirnya. Tangan kanan ku meramas teteknya. Dia meronta perlahan. Serelah beberapa percubaan untuk meragut bibirnya gagal akhirnya bibirnya betautan dengan bibirku, kami berkucupan dengan rakus sekali. Kugigit bibirnya perlahan-lahan, kak ida mula terdiam, tubuhnya tidak lagi meronta-ronta, dia mula beri reaksi positif. Kak Ida pandai bermain lidah. Dia merebahkan badannya ke katil. Sambil itu aku bergerak menindih tubuh pejalnya. Kak Ida membuka kangkangnya. Kain batik masih menyelimuti badannya yang montok.
“Zam, jangan..uhhh “ rengus Kak Ida sambil menggeliat kenikmatan. Tanganku meraba-raba di kawasan dadanya yang montok dan pejal
Perlahan-lahan aku mengusap teteknya yang masih dibaluti dengan kain batik, pada mulanya Kak Ida menepis tanganku tetapi ramasan tanganku semakin padu membuatkan dia berbaring terlentang menahan getaran nafsunya.
Tanpa berlengah dengan perlahan aku melucutkan kain batik yang dipakainya sehingga melurut ke kakinya. Kak Da mengangkat tubuhnya untuk memudahkan aku melucutkan kain batiknya Sekujur tubuh yang mulus betelanjang di hadapanku. Kak Ida terlentang di katil, kakinya dirapatkan. Wajahnya mula kemerah-merahan menahan ghairah. Matanya sekejap terbuka dan sekejap dipejamnya. Bibirnya sekejap terbuka apabila aku mencium teteknya. Teteknya yang bulat dan mekar ku isap dengan rakus.
Aku mula menjilat di sekitar perutnya, Kak Ida merengek manja. Sambil itu, Kak Ida mengeselkan burit Kak Ila pada dada ku yang berada di celah kangkangnya. Aku membuka kangkangnya , ternampakla burit Kak Ida yang temban dan mulai basah dek kerana air mazinya. Kak Ila betul-betul ghairah ketika aku menjilat di sekitar alur buritnya. Dia mengerang dan merengek apabila kuteruskan jilatan ke dalam lubang buritnya.
“Zam, sedap..sedap ..lagi,” dia mengomel beberapa kali, suaranya tersekat-sekat.
Zakarku yang menegang keras dibelai oleh tangannya. Ku pusingkan tubuhku supaya zakarku dihala kemukanya, tanpa dipinta Kak Ida memasukkan zakarku ke dalam mulutnya, Kak Ida seperti sudah ada pengalaman, mengulum zakarku. Kemudian dia menjilat disekitar testis. Kulumannya semakin menggahairahkan aku. Seperti kali pertama kurasakan zakarku dikulum oleh seorang wanita. Bibir Kak Ida yang mekar itu menjelejah perut dan dada ku .
Aku bergerak ke celah kangkang Kak Ida, kuhalakan zakarku ke bibir farajnya. Kulihat tubuh Kak Ida bergerak sedikit memberi keselesaan kepadanya untuk menerima tujahan zakarku ke buritnya.
Perlahan-lahan aku tekan zakarku kedalam burit Kak Ida, dia mengerang kuat.. burit kak da mengeluarkan cecair likat tandanya sedang berahi. Terasa sedikit ketat, apabila kepala zakarku menembusi farajnya. Aku teruskan dorongan hingga keseluruhan zakarku ke dalam buritnya. Mmm.. Kak Ida seperti pernah melakukan seks sebelum ini. Aku mencabut separuh zakarku membiarkan kepala zakar terbenam didalam buritnya. Kak Ida memegang zakarku dengan tanggannya dan menolak-nolak zakarku ke dalam buritnya. Dia seperti tak keruan apabila ku henjutkan zakarku kedalam buritnya “Kak Ida pernah ke…?” aku sempat bertanya padanya.
Dalam keadaan mengerang Kak Ida menjawab, muka nya comel mula kemerah-merahan, matanya yang bulat semakin kuyu menahan penahan asmaraku.
“Alaa..Zam, kiter pernah la.. uhhh, Zam kuat lagi arghhh..arghh,”
Aku mempercapatkan dayunganku, terasa burit Kak Ida mengemut zakarku. Dia pandai melayan permainan, sekejap punggungnya digoyangkan. Aku semakin ghairah menghenjut Kak da yang terlentang. Sesekali jari-jemari lembut menahan dadaku
Kak Ida mengerang kemudian tubuhnya mula mengejang.. ku teruskan henjutan sehinggakan aku mulai klimaks. Kupancutkan air azimat ke dadanya yang bulat dan mekar itu. Nafasnya semakin mengendur, dadanya yang tadi berombak kuat mulai perlahan. Kak Ida terbaring kelesuan.
Kak Ida tersenyum, manik-manik peluh membasahi muka dan sebahagian dadanya. Aku kelihatan, seperti pertama kali bertarung dengan wanita. Aku merebahkan diri disebelahnya.
“ Kak Ida puas?” Dia mengangguk dan tersenyum manis. Dia menghadiahkan ku kucucupan di pipiku. “Zam, Kak da betul-betul puas, tapi rasa nak sekali lagi,” aku memeluknya erat. “Kak da, pernah main ker?,”
Barulah aku tahu bahawa Kak Ida selalu mengadakan hubungan seks, dia telah kehilangan dara ketika umurnya 21 tahun.
Hubungan dengan Kak da tidak berakhir disitu, kami sekali lagi bersetubuh pada Jam 8.00 malam itu. Sekali lagi Kak Ida beraksi dengan lebih hebat. Isteriku memaklumkan bahawa dia pulang lewat kerana menghadiri dinner bersama clientnya. Kali ini, kami seolah-olah lebih bersedia untuk melakukanya. Aku meminta Kak Da menggayakan fesyen kebaya nyonya merahnya dan bertudung seperti yang selalu dipakainya. Memang menjadi idaman ku untuk merogol kak da dengan berpakaian begitu. Mendengar cadanganku, kak da tersenyum manja, dia mula menyoal ku dan berkata aku mempunyai keinginan yang pelik. Aku terus memujuknya dan akhirnya dia bersetuju.
Memandangkan kami hanya berdua di rumah itu, aku menunggu di ruang tamu sambil hanya bertuala sahaja, manakala Kak Ida bersiap di bilik tamu. Kemudian hamper setengah jam menunggu dengan penuh debaran. Kak da muncul dengan kebaya nyonya berwarna merah dan kain batik jawanya dan betudung sedondon. Dia merapati diriku dan duduk disebelahku. Kak Da sungguh menarik sekali. Aku beberapa kali memhamburkan pujian kepadanya menyebabkan dia tersenyum tersipu-sipu. Aku memegang jari-jemarinya dan kemudian terus member ciuman mesra ke pipinya. Dia tidak mengelak dan seolah menanti perlakuan aku lagi. Kak da tersenyum manis, kemudian memberi ciuman mulut kepadaku. Batang zakarku mula berdiri menegakkan. Perubahan itu disedari olehnya, lantas tangan mulusnya membelai zakarku yang mula timbul disebalik tuala yang dipakai ku. Tanpa dipinta Kak Da menundukkan kepalanya dan memasukkan zakar ku ke dalam mulutnya. Dia menngulum zakarku dengan asyik sekali. Sungguh enak kurasakan sehingga badanku terangkat dari dudukku. Sesekali Kak Da menyapu bibirnya yang dengan kain tudung yang dipakainya dek kerana air mazi telah bercampur dengan air liurnya. Kak da masih mengulum sambil tangannya mengocok kuat zakarku sesekali dia menjilat kepala zakarku yang bersinar kemerahan. Aku bersandar ke sofa manakala, Kak Ida melutut di kangkangku sambil mengulum zakarku. Aku mula hilang kawalan, tubuhku mula diresapi kenikmatan dan akhirnya tanpa sedar aku melepaskan pancutan cecair maniku ke rongga mulutnya. Kak Da terkejut setelah merasakan cecair pekat menerjah di segenap mulutnya, lantas mengeluarkan zakarku dari mulutnya, terdapat lelehan mani di sekitar biibirnya yang merah. “kenapa tak cakap, nak keluar,” mata Kak Da merenungku sambil tangannya mengelap lelehan air mani dibibirnya. “kak da kulum best sangat, tak boleh nak tahan,” jawabku selamba. Dia beralih duduk disebelahku serentak mencubit pinggangku. “Nakal,” katanya Aku tersengih.. “Macamana nak main, dah game nie?” soalnya sambil bibirnya memuncung manja. “Kejap lagi , kita relax dulu” Sementara menunggu tenaga batinku kembali pulih, Kak Da menghidangkan air tongkat ali kepada ku, kami berbual-bual tentang pengalaman seks masing-masing.
Kak da mengaku bahawa kali terakhir dia melakukan hubungan kira-kira enam bulan lepas dengan kawan seuniversitinya. Dia mengaku yang dia terlalu berkeinginan dan kesempatan bersamaku dia gunakan untuk memuaskan nafsu batinnya.
Seambil itu Kak Da terus menggodaku dengan membelai lembut zakarku yang lembik..sesekali kami berciuman dengan hangat. Aku mengajak Kak Ida ke bilik, namun dia enggan. Katanya ingin melakukan seks di ruang tamu. Aku merebahkan tubuh Kak Da yang masih lengkap bepakaian di permaidani. Ku mulakan aksi dengan menindih tubuhnya. Tubuh bogelku diraba oleh Kak Da dengan penuh berahi. Sengaja ku suruh Kak Da tidak melucutkan pakaiannya, kerana menjadi idaman ku untuk bersetubuh dengan Guru yang berkebaya ini. Perlahan-lahan kusingkap kain batiknya ke atas dan menampakkan seluar dalam merah jambu. Terdapat tompokan cecair putih di seluar dalamnya. “Kak Da dah basah yer..” Dia menggeliat sambil tersenyum manja. Tanpa berlengah kulucutkan seluar dalamnya dan terlihat belahan burit Kak Da yang sedikit terbuka seolah-olah menunggu jolokan zakarku. Aku merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Kak Da bertindak memegang zakarku menghala ke buritnya. Perlahan-lahan kujolok masuk ke dalam buritnya. Dia tersentak nikmat. Henjutan zakarku yang perlahan mulai laju. Keringat mula membasahi tubuhku.
Kemudian, kami bertukar posisi. Kini giliran Kak Da berada di atasku. Zakarku masih melekat didalam buritnya. Masih ampuh dan tegang. Kak Da bertindak memulakakan rentak permainan. Daripada henjutan perlahan, Kak Da mempercepatkan henjutan. Sesekali dia menjerit manja. Buah dadanya bergegar disebalik kebaya ketatnya. Sesekali dia memegang dadaku. Setelah hamper 20 minit, kami bertarung akhirnya, zakarku memuntahkan air nikmat ke dalam lubang buritnya dan serentak dengan itu, tubuh Kak Da mulai lemah dan menindih tubuhku. Kami sempat berkucupan sementara zakarku masih berada di dalam buritnya. Perlahan-lahan zakarku mulai mengecil dan kukeluarkan dari burit Kak Da. Kak Da merengus perlahan dan kelihatan agak keletihan. Setelah beberapa ketika kami masih berciuman, kak da masih memeluk diriku. Kemudian, kedengaran deruan enjin kereta berhenti dihadapan rumahku. Kami tergesa-gesa melepaskan pelukan, Kak Da pantas berlari ke bahagian atas rumah. Isteriku terpancul di pintu rumah..Nasib baik sempat ku sarungkan baju dan seluar ke tubuhku. Isteriku kelihatan amat keletihan, namun sempat menyapaku dan terus berlalu ke tingkat atas rumahku.. aku tersenyum..
rabak