(Sebuah kisah yang terendap rapih di saku kanan ku yang lain).
Terik tak menyurutkan langkahku untuk pergi ke acara diklat terakhir atau disebut mapaba dari rangkaian acara yang telah kesekian kali aku ikuti. Sebagai salah satu peserta diklat aku harus tetap bertahan dengan semangatku sampai akhir kegiatan, karna ini bagian dari akhir peresmianku untuk menjadi pengurus salah satu organisasi intra kampus, ya kau harus tau menjadi bagian dari organisasi ini adalah bentuk ketepatan janjiku di masa lalu.
Waktu menunjuk pukul 20.00 dan kegiatan berlangsung dengan cepat bersama gulirnya waktu dari mulai pemateri yang dihadirkan follow up dan berakhir dengan kesimpulan, kegiatan pertama telah usai harapku semoga apa yang kupelajari tadi bisa kuingat sampai aku terbangun dari lelapku nanti.
Suara berisik dari bawah ruangan tempat aku tidur bersama peserta lain sangat menggangu waktu istirahat kami,sehingga beberapa dari kami memutuskan untuk tidak tidur walaupun lampu telah dipadamkan, kupandangi langit- langit dalam gelap itu sambil terus menginggat- ingat materi apa saja yang telah diberikan pemateri tadi, perihal terbentuknya organisasi, visi dan misi dan lain sebagainya sampai aku merasa kelelahan dan perlahan terlelap.
Tanganku tiba - tiba terasa ditarik, Aku dibangunkan oleh salah seorang perempuan ditengah kedua mataku masih sedikit terpejam dan otakku masih belum sepenuhnya sadar,langkahku sempoyongan meski perlahan aku sadar ini adalah saatnya pembuktian.
Hawa dingin sayup semilir angin menggigilkanku, meski jaket yang kukenakan masih melekat dibadanku, sambil tanpa alas kaki aku dituntun ke pos - pos yang dimaksud perempuan tadi, di pos- pos itu aku sebetulnya menjawab dengan apa adanya yang berarti tak jauh dari kata benar meski seringkali diusili oleh senior yang pura- pura terkejut dengan jawabanku, tidak jarang aku dibuat kebingungan dengan pertanyaanya , sampai di pos terakhir, pos yang sangat-sangat tak lazim atas memanusiakan manusia, kali ini mentalku benar- benar digembleng oleh para senior seperti seorang budak belian yang patuh akan tuannya, benar- benar tak dapat aku tentang, entahlah hanya kepasrahan demi berlangsungnya perjuanganku dalam organisasi ini, meski porak - poranda isi kepalaku aku mencoba bersikeras menahan agar tak tersulut emosi oleh perlakuan seniorku, tak terasa air mataku ingin rasanya tumpah kala aku mulai ditanya tentang apa yang aku bisa, baru aku mulai berorasi tentang keadilan perempuan di depan pohon, air mataku tak bisa terbendung, meleleh bagai deras hujan di pipiku, salah seorang senior mendekatiku dan bertanya
"Loh kok nangis, kenapa nangis ? " Ucapnya tegas dan tepat di telingaku
Sementara aku masih mengusap mataku menyembunyikan air mata itu, dalam diam kupandangi pohon di depanku kucoba beberapa saat tenangkan hati tapi justru air mata itu tak mau henti, entah karna ketakutan akan terjadi apa- apa padaku, senior itu mengajakku duduk beralaskan aspal di samping sungai di bawah temaramnya lampu jalan seadanya, lalu bertanya kepadaku layaknya mengintrogasi. Sambil terus menangis aku ditanya
"Arystya" jawabku menunduk sambil terus menahan tangis.
"Nggak papa" Jawabku seadanya.
"Kenapa? " Ulangnya lagi.
"Nggak papa" Jawabku mencoba meyakinkan.
"Kamu harus kasih alasannya kenapa kamu menangis ? " Sergahnya masih memandangiku.
Pertanyaan kenapa aku menangis itu berkali- kali dilontarkan olehnya membuatku semakin mengeluarkan air mata.
"Kamu dari jurusan apa? "
"Sastra Indonesia" Ucapku masih menghela nafas menahan tangis.
Dia lalu berdiri sambil teriak berpuisi.
"langit bertabur bintang bulan bersemedi diatasmu tidakkah ini sangat indah sementara mengapa kau hanyut dalam tangismu".
Aku diam saja, tak berani menatap wajahnya.
Dia lalu jongkok di depanku ,lembut bersuara
"Jangan menangis ya, dihapus itu air matanya".
Aku lalu menghapus air mataku walaupun isak tangisku masih menguasaiku.
"Kenapa nangis ?" Tanyanya lagi.
"Nggak papa, aku hanya ingat akan orang tua di rumah".
"Tidak ada hubungannya orang tua dengan orasi ini, itu tidak nyambung!" Tukasnya.
"Aku ingat orang tua yang membiayaiku sementara aku disuruh orasi saja tidak mampu".
Seketika sunyi meski sesaat, lalu dia menyuruhku berdiri.
" Sudah kamu silahkan lanjut ke pos berikutnya dan jangan nangis lagi".
Relungku pun tak menghiraukannya,air mataku entah kenapa tak bisa ku bendung.
Subuh sudah terdengar dari penjuru masjid menguasai sudut pematangan sawah, kami segera dibubarkan dari lingkaran api unggun. Setelah berberes dan mandi aku bersama peserta lain menuanaikan sholat subuh, selepas itu kami istirahat hingga tak terasa siang kian terik menerangi, rupanya aku tertidur cukup lama karna kelelahan, ku paksa kedua mataku terbuka meski perih karna terlalu banyak menangis, kupandangi wajahku dalam cermin, sembab luar biasa, baru kusadari aku banyak mengeluarkan air mata dari tadi pagi, seorang teman lalu bertanya
"Apa kau yang kemarin menangis yang duduk bersama kom Bagas di seberang sungai ? "
Aku terdiam sesat menatapnya lalu mengaguk pelan.
" Kau mungkin sangat lelah, hingga menangislah yang kau bisa" Ucapnya berlalu dari depan toilet umum, meninggalkanku yang tertegun.
Sebentar lagi pembaiatan digelar, namun terlebih dahulu sesi dari pemateri berlangsung, aku tidak terkejut ketika lelaki yang mengajakku berbicara tadi pagi telah berdiri di depanku untuk menyampaikan materi, meski kedua sorot matanya diam- diam mengarah kepadaku, aku menatapnya tanpa ekspresi, aku mendengarnya begitu ramah berbicara pada peserta, kecerdasaannya tidak perlu diragukan, senior yang benar- benar senior itu pantas dijabatnya, kuperhatikan ia lebih dalam, dia tidak jelek dan tidak juga bagus, ranum wajahnya bersinar, meski rambut sebahunya setengah basah, kaos berbalut jas organisasi dan celana jeans robek - robek serta suaranya yang tegas membuat dia layak sebagai aktivis demosntran yang dielu- elukan masyarakat tertindas. Sesi tanya jawab berlangsung, sorot matanya mengarah lagi padaku, tapi lidahku kelu, aku membuang muka padanya sesaat lalu ada peserta lain yang bertanya hingga sesi tanya jawab itu berakhir.
Kini saatnya praktik demo, meski pura- pura menjadi demonstran demi menuntut hak - hak kemanusiaan dalam hatiku aku tak terbersit untuk melakukannya dengan nyata jika suatu saat nanti pembelaan diperlukan, bukan aku mengingkari sumpahku tapi aku berniat membela dengan cara yang lain.
Lagi - lagi dia yang memimpin, kami diarak di jalanan hingga ke pematang sawah tempat tadi pagi kami menyalakan api unggun, lalu pembaiatan pun berlangsung dibawah terik yang menyengat memberontak. Selesainya tangganku dijabat olehnya.
" Jangan nangis lagi" Ucapnya tepat bersamaan dengan jabatnya yang erat.
Aku tak percaya, dia betul-betul mengingat wajahku dalam temaram semalam, ku kira kita hanya akan berbicara seperlunya. Aku tidak tersenyum, hanya memandangi punggungnya yang menjauh.
Sudah sepekan setelah kegiatan mapaba itu digelar aku pun sudah resmi menjadi pengurus organisasi. Banyak kegiatan telah dirancang dan dibebankan pada beberapa ketua yang punya andil kerja keras didalamnya untuk mengontrol setiap pergerakan dari anggotanya.
Entah kenapa selepas dari acara itu, aku tak lagi bersemangat seperti saat pertama kali, ambisi itu terkikis tapi masih ku emban tanggung jawabku sebagai pengurus sekaligus anggota dengan setulus hati, meski begitu berasa ada yang hilang dari diriku. Aku sering kali lelah dan tidak bisa bercerita maka kulakukan hobby ku dengan menulis mengeluarkan pemikiran yang kadang hanya bisa mandek dalam benak .Kurangkai kata- kata kupilih diksi yang seirama tapi pikiranku tak karuhan kusadari aku bukan hanya memotivasi tapi perlu dimotivasi, siapa kiranya mau mendengar ceritaku ya, aku berpikir sesaat sebelum akhirnya kuputuskan menghubungi aktivis demonstran itu, tuturnya memberikan nomer yang bisa peserta hubungi pada saat dia mengisi materi terakhir yang lalu.
Tak ada keraguan untuk menyapanya duluan, sembari rebahan aku menatap layar ponselku yang redup selama beberapa menit hingga layar itu menyala, tak ku duga begitu cepat dia membalas pesanku, aku terlonjak sembari tersenyum simpul akan perlakuannya yang ramah lalu berlanjut hingga ke berbagai topik sampai larut malam, setiap hari kami saling bercerita satu sama lain meski akulah yang sering memulainya, sampai akhirnya aku merasa nyaman akan kehadirannya, aku bahkan memintanya untuk tidak pernah jauh dariku, jika berjauhan komunikasi harus tetap berjalan ujarku menaruh harap padanya, ternyata kenyamanan itu berbuah manis, aku mengakuinya lebih dari rahasia cinta, maka kuharapkan dia punya rasa yang sama dan kuberanikan diri untuk mulai duluan mengungkapkan perasanku padanya, dan dia menerimanya sebagai hubungan yang akan berjalan semestinya.
Aku tipikal orang yang tidak melulu menanyakan kabarnya,kami hanya berkabar pada pagi dan malam sebelum tidur, sampai suatu ketika aku merasa hubungan ini tak ayalnya aku yang berjuang sendirian,kusadari apa yang dia ucapkan hanyalah manis sesaat dan aku masih mempercayainya sebagai ketulusan.
Hingga kudapati aku ingin menyerah, tapi anehnya tiap- tiap aku ingin pergi dari kehidupannya, aku dihadapkan pada permasalahan dirinya yang kerap membuat alam bawah sadarku merasakan kejanggalan pada hidupnya, ketepatan intuisi mungkin jadi salah satu penyebabnya, dia bercerita akan masalahnya, lalu ku beri saran sesuai dengan kata hatiku, begitu seterusnya hingga usai bebannya. Dia begitu percaya bahwa aku memiliki intuisi kuat meski sejak awal sebetulnya aku hanya menebak, tapi lama kelamaan terpatri dalam sanubariku, tentang radar yang hanya mengarah kepadanya. Aku bertahan sebab disamping aku mencintainya, kurasa dia adalah rumah yang aku cari.
Senja masih menguning jingga dilangit depan kamarku, aku menikmatinya bersama rindu yang tak pernah jemu menghias ku dengan doa - doa dan sebilah harapan.
Komunikasi yang dijanjikan itu tak lagi bersiteguh dengan harapan, aku dibuatnya menanti kepastian yang berujung pada ketersakitan, hingga semesta berbicara, ku dapati dirinya bersama orang lain kekasihnya yang selama ini disembunyikan, aku masih mengingat betapa aku dan dirinya seperti dua orang yang tak ingin dipisahkan, sikap dan rayuan manisnya mesti kulumat dalam sanubariku, aku mengingat tiap- tiap kepingan dan kenang itu merajai isi kepalaku, lantas dia tak memberiku sepercik harap bahwa aku benar- benar menunggunya, bahwa aku mencintainya, hingga kusadari aku salah berharap. Hingga kupahami dia bukanlah rumah, intuisi itu hanya firasat alam bawah sadar yang sesat, teringat ucapnya yang tak kupercayai " Aku bukan lelaki baik- baik" dan kini memang benar, kau memang bukan lelaki baik meski terlamabat kusadari.