seen from Malaysia
seen from United States
seen from Switzerland
seen from Germany
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Australia
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from T1

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from China

seen from T1

seen from United Kingdom
seen from China
seen from Australia

seen from United States

seen from United States
"Nak, memang tidak semuanya harus berbalas..."
Tak semua senandung harus menemui gema, tak semua seruan akan dibalas oleh gaung yang merdu. Ada doa yang terbang tinggi, memecah langit dengan rindu, namun layu sebelum sempat mencapai singgasana-Nya. Ada pinta yang mengalir, lembut seperti sungai, namun tenggelam di pusaran sunyi yang tak berbatas. Tidakkah kau mengerti? Tidak semua yang kita titipkan pada malam, akan sampai pada bintang.
Kita ini, makhluk yang menabur harap seperti petani menebar benih di ladang yang asing. Tapi apakah setiap bibit mesti tumbuh? Tidak semua tanah ramah, tidak semua musim bersahabat. Ada yang jatuh di tanah tandus, diserap oleh hampa, lalu menguap menjadi angin tanpa arah.
Dan bukankah hujan pun tak selalu menjadi berkah? Di tempat yang kering, ia adalah nyawa. Namun, di bumi yang telah basah, ia bisa menjadi beban. Begitu pula doa, ia tak selalu menjelma jawaban. Kadang, ia hanya menjadi riak kecil di lautan takdir, tak cukup kuat untuk mengubah arus.
Tuhan, yang Maha Mendengar, kadang memilih diam, bukan karena lupa, tapi karena tahu. Ia tahu kapan kita perlu dilimpahi, kapan kita mesti belajar kekurangan. Sebab, tidak semua kehilangan adalah celah, dan tidak semua penolakan adalah luka.
Maka, jika pinta kita seperti embun yang terhapus mentari sebelum sempat menyentuh bumi, mungkin bukan karena ia sia-sia, melainkan karena Tuhan sedang menyusun hujan di waktu yang lebih tepat. Jika doa kita seperti burung yang terbang, hilang di cakrawala tanpa arah, mungkin ia sedang mencari sarang yang lebih baik untuk hinggap.
Tidak semua yang tak berbalas adalah penolakan. Kadang, ia adalah cara semesta mengajarkan ikhlas tanpa syarat, dan keyakinan tanpa perhitungan. Sebab, cinta yang tulus pun tak selalu harus diterima. Dan di situlah, manusia belajar bahwa berharap adalah seni mencintai, bahkan ketika jawaban tak pernah datang.
Semuanya tidak harus terwujud sekarang, tapi semuanya butuh di perjuangkan dari sekarang. Kemana kamu berpulang, seperti apa akhirnya kamu berpulang perihal akhirat bergantug pada kebiasaan kamu sekarang.
Kita tidak bisa memilih bagaimana kita lahir, tapi kita punya andil besar dalam membentuk bagaimana kita berakhir.
Sebab, akhirat bukanlah sebuah kejutan yang datang tiba-tiba, melainkan muara dari ribuan keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Kita seringkali terlalu sibuk memikirkan "kapan"sampai, hingga lupa memperbaiki "bagaimana" cara kita berjalan. Padahal, setiap tarikan napas adalah kesempatan untuk memperbaiki arah kompas kehidupan.
Jangan remehkan kebaikan kecil yang kamu lakukan secara sembunyi-sembunyi, karena mungkin saja itulah yang akan menjadi lentera saat duniamu mulai meredup. Jangan pula abaikan dosa kecil yang terus diulang, karena ia ibarat tetesan air yang perlahan-lahan melubangi batu keteguhan imanmu.
Pada akhirnya, tempat berpulangmu adalah cermin dari apa yang paling sering kau peluk dalam hidupmu. Jika kau memeluk kedamaian dan ketaatan dalam setiap perjuanganmu hari ini, maka kepulanganmu pun akan disambut dengan pelukan yang paling menenangkan. Berjuanglah sekarang, agar kelak kau tidak hanya sekadar "sampai", tapi sampai dengan keadaan yang sebaik-baiknya.
Setinggi apa pun menara pengetahuan didirikan, ia tak pernah menjual adab di lantai mana pun. Karena sopan santun bukan barang yang dibeli, melainkan jejak sunyi dari kesadaran yang matang.
Ilmu mengasah pikiran agar tajam, namun etika menumpulkan kesombongan. Tanpa adab, kecerdasan hanya gema kosong nyaring, tapi hampa makna.
Pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita tahu yang membuat kita manusia, melainkan seberapa halus kita memperlakukan sesama saat merasa paling benar.
@lartikriyadisworld
Kuliah Taker-Giver di Bengkel
“Denger ya, Jo…” kata bapak-bapak bengkel sambil mulutnya nyepit baut 10 dan tangannya item blepotan oli.
"Manusia tuh ada dua jenis. Ada yang doyan ngambil… sama ada yang suka ngasih.”
Krek! Rantai motor dikencengin.
"Yang suka ngambil biasanya hidupnya keliatan enak. Makan fancy. Nongkrong estetik. Story-nya ‘healing terus’.”
Saya ngebatin, "Kayaknya bener apa kata orang-orang. Bapak ini dulu pernah kuliah filsafat, walopun cuma sampe semester empat.."
Dia nyemprot karburator, batuk sedikit, lanjut ngomel.
"Nah, yang suka ngasih? Ya kayak knalpot begini. Kerjanya di bawah terus, panas, berisik, kadang batuk-batuk sampe keluar asap.”
Saya cuma duduk di bangku plastik bengkel, ngangguk-ngangguk sok paham.
Bapak itu lanjut lagi,
“Motor juga sama. Yang paling sering dipuji tuh body-nya. Padahal yang bikin jalan mah jeroannya.”
Dia ketawa kecil. Ketawa khas orang yang sering kalah sama hidup. Terlalu sering malah, sampai akhirnya akrab.
“Makanya jangan silau sama orang yang keliatan enak. Belum tentu mereka tidurnya nyenyak. Bisa jadi kepalanya bunyi terus kayak mesin belum turun.
Krek! Baut terakhir dipasang.
"Udah beres nih, Jo..”
“Berapa, Pak?”
“Tujuh puluh ribu.”
Saya kaget. "Lho, kemarin-kemaren gocap doang, Pak?”
Bapak itu nyeruput kopi dingin yang entah kapan dibuat.
“Itu sebelum hidup makin mahal, Jo..”
Lalu dia nambahin pelan..
"Dan sebelum anak saya minta sepatu futsal.”
Ia mendayung bukan menuju tepian, melainkan menjauhi tata peta. Langit di atas kepalanya kosong sebagaimana lumrahnya langit; namun di bawah lambung perahunya, air menyimpan konstelasi yang tak pernah ada di atas. Bukan pantulan. Ia terlalu jernih untuk sekadar meniru. Maka ke manakah haluan hendak disauhkan, bila kompas hanya mengenal utara yang telah direkayasa jari-jari yang berkepentingan?
Manusia menamai ini: mencari.
Padahal yang berlangsung ialah sesuatu yang lebih tua dari pencarian itu sendiri, semacam ingatan ragawi akan sebuah daratan yang tak pernah benar-benar dipijak, namun senantiasa dirindukan seperti seseorang merindukan bahasa pertamanya, bahasa sebelum kata, sebelum nama, sebelum ada yang memutuskan bahwa sesuatu harus disebut ada.
Barangkali tersesat bukan suatu kemalangan. Barangkali ia adalah satu-satunya cara semesta mengizinkanmu melihat konstelasi yang tak akan pernah kau temukan bila kau tiba tepat waktu.
The Way He Look at Me
"Gimana kalau saat itu aku pilih kamu?"
Senyum Damar masih sama, ia hanya menarik bibirnya tipis tetapi itu sudah cukup memberitahu bahwa ia tak melakukannya dengan perasaan getir, sebagaimana caraku sering tersenyum saat bersamanya, dulu.
"Mungkin," aku menatap lautan yang membentang di hadapan kami lalu menoleh, melihatnya yang menatapku dengan—sial aku masih tidak paham caranya menatapku sampai sekarang. "Aku mungkin akan menjadi perempuan paling bahagia di dunia."
"Kamu nggak bahagia sekarang?"
"Perempuanmu nggak bahagia sekarang?"
Damar melepaskan senyumnya. Mungkin satu yang masih sama, setelah sebelas tahun kami tak bertemu. Ia menunjukkan ekspresi yang terasa jujur, nyaris tanpa kebohongan. Kebaikannya di masa lalu juga bukan kebohongan, ia melakukan semuanya karena peduli tanpa intensi lain sebagaimana aku memberi karena mencintai.
"Aku berharap dia bahagia."
"Tapi dia enggak, makanya kamu di sini sekarang."
"Dan kamu juga nggak bahagia, makanya di sini kamu sekarang."
Aku tersenyum, senyum tipis itu lagi. Bagaimana caranya tersenyum dengan lebar, tanpa getaran yang nyaris membuatku menangis setiap menarik bibir.
"Dam, kita nggak selalu memiliki makna bahagia yang sama di setiap momen. Aku bahagia dulu, saat kamu masih ada di sisi aku. Aku bahagia sekarang, saat aku bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan. Meski perasaannya terasa berbeda, tapi aku tahu aku bahagia untuk keduanya. Ada kamu dan tanpa ada kamu."
Damar membuang wajah, menatap lautan. Angin laut membelai wajahnya. Aku membenci mengakui, wajah itu masih yang paling mempesona yang pernah kutemui.
"Kamu tahu apa yang paling aku benci dari kamu?" Aku nyaris tak percaya mendengar ini dari Damar. Benci? "Kamu selalu memenangkan apapun, sejak dulu, sejak pertama kali kita bertemu."
Aku tertawa, tidak percaya. "Aku nggak pernah memenangkan kamu, Dam."
Damar menoleh lagi, menatapku, dan sekali lagi aku tak pernah bisa menerjemahkan dengan baik cara Damar menatapku.
Memorabilia 2: Yang Tak Pernah Kami Datangi
Bertahun-tahun lalu, aku mengenal seorang lelaki bernama Ju. Selama hidup, sebenarnya bukan sekali dua kali aku terlibat romansa beda kiblat. Ju bahkan tidak benar-benar yang terakhir.
Sebagaimana hubungan beda kiblat pada umumnya, kami membicarakan masa depan seperti orang yang sudah tahu jawabannya ‘tidak’, tapi tetap ingin melihat sejauh apa ‘tidak’ itu bisa ditunda.
Berdiskusi ringan tentang ayat, tafsir, kisah inspiratif yang relevan, menemaniku berbuka puasa. Ju pernah bercanda akan menyelundupkanku ke gereja saat aku begitu penasaran dengan abu di dahi yang dia pamerkan di satu-satunya Rabu di mana ia terjebak skenario Budenya. Aku tertawa, meski tidak pernah benar-benar yakin bagian mana dari itu yang seharusnya terasa ringan. Seolah-olah yang perlu kami lewati hanya pintu, bukan keyakinan.
Waktu itu, cara berpikir Ju terasa seperti jawaban dari apa yang selama ini kucari. Meski sekarang, aku pun tidak lagi yakin itu benar-benar yang kuinginkan.
Pernah suatu hari, dalam perjalananku, aku menemukan beberapa tempat. Satu di antaranya sebuah taman rosario di sebuah dataran tinggi. Tempatnya sunyi, indah, dan entah kenapa langsung teringat dia. Kusarankan dan aku berjanji akan menghantarnya sampai gerbang. Meski aku tahu dia tak cukup tertarik melakukan hal-hal bersifat religius macam itu, namun dia menerima saranku dengan dalih pemandangan. Tapi hubungan kami selesai lebih dulu—dikembalikan paksa ke kenyataan yang sempat kami lawan, meski sejak awal kami tahu kami tidak akan menang. Dan tempat-tempat yang ingin kutunjukkan padanya, akhirnya hanya jadi daftar yang ikut terkubur.
Sebagaimana hubungan kebanyakan, seringkali yang kita sesali bukan hubungan yang berakhir, tapi runtuhnya dunia kecil yang sempat kita bayangkan, sebelum sempat disentuh sepenuhnya.
Namun, aku tidak menulis ini untuk mencoba menghidupkan kembali apa yang sudah jelas tidak bisa hidup. Hanya mencoba memisahkan dua hal—dia sebagai seseorang, dan apa yang dia bangunkan dalam diriku. Karena yang kedua itu masih bisa kubawa ke mana pun.
Kemarin, aku melewati taman rosario itu lagi. Tidak secara khusus. Bertepatan saja aku sedang berada tak jauh dari tempat itu. Jadi, kubawa kakiku mendekati gerbangnya. Aku sama sekali tak membayangkan kalau seharusnya aku datang ke tempat itu bersamanya. Aku hanya datang sebagai diriku yang sekarang.
Iseng? Setengah, ya. Setengahnya lagi karena aku suka closure simbolis. Kurasa, ini hanya bagian dari simbolisme aku mengakhiri versi diriku yang mungkin saja—mungkin s a j a masih terikat pada kemungkinan itu.
Rupanya, saat berdiri di depan gerbangnya yang tinggi, dadaku tak lagi merasa sama.
Kubisikkan entah kepada siapa, “Bahagialah, Ju.” Aku tertawa pelan, lantas meninggalkannya di sana.