"What is your biggest fear?"
"Married to someone whom I don't love but he's the best one Allah has chosen"
Quarter-Life Crisis adalah suatu masa dimana usia kita kira-kira seperempat abad dan di usia genting itu kebanyakan dari kita baru saja menyelesaikan kuliahnya. Nah ibarat lepas ke hutan, kita tuh lagi bingung nih, mau jadi makhluk apa setelah ini. Ya lo tau kan, kalo lo kuliah, jelas lah status lo di mata dunia adalah maha-siswa. Setelah lo wisuda, lo harus bikin sendiri tuh identitas diri lo.
Sebenernya gue penasaran dengan quarter-life crisis temen temen gue yang bukan dari jurusan kedokteran. Apa sih yang paling mereka takuti sekarang? Not having a good job? Unemployed? Jadi perawan tua? I don't know.. But yes, some of them are having their quarter-life crisis right now. Ada sih yang ngerasa, kok gue gini-gini aja ya, kok gue nggak ada prestasi nya, kuliah-lulus-kerja. Kerja kantoran di perusahaan yang nggak terlalu besar, yang penting gue punya pemasukan tetap, yang penting gue punya rutinitas. Tapi ya gini gini aja. Ada yang pada akhirnya sekolah lagi ke luar negeri. Ada yang merasa cukup dengan bekerja kantoran.
Kalau temen temen gue yang kuliah kedokteran, ya kalian tau lah, kuliah kedokteran itu lama. Jadi sekarang mereka masih ada di zona nyaman mereka sebagai maha-siswa. Belum ke hutan. Yang duluan lulus baru gue doang, tau sendiri kan gue lulusan universitas yang paling cepet lulusnya. Sisanya ada yang baru anget anget nya nunggu internship. Jadi gue nggak terlalu banyak ngobrol tentang quarter-life crisis mereka. Yang sekarang lagi internship mungkin udah mulai merasakan.
Gue lagi internship di sebuah rumah sakit di Depok. Alasan gue pilih Depok karna gue pikir gue bakal lebih dekat sama Matahari waktu itu. Secara ya Sawangan dan Bintaro cuma dipisah sama garis tipis kalau diliat dari google maps, tapi entahlah gue ngerasa ada tembok tebal yang memisahkan dua lokasi itu.
So here I am. Setelah 4 bulan gue di stase puskesmas yang cukup bisa bikin gue nggak merasa sendiri melewati masa-masa patah hati gue, gue akhirnya masuk ke dunia pe-rumah-sakit-an yang........ penyakitnya lebih rumit. Kalau di puskesmas kan enak, nggak ngerti dikit, rujuk. Nggak usah pusing. Kalau di rumah sakit.... nggak segampang itu merujuk. Waktu gue di puskesmas gue nggak berminat sih kerja di Puskesmas. Bagi gue, weekend itu terdiri dari 2 hari, sabtu dan minggu. Dari jaman gue sekolah pake seragam, gue nggak pernah tuh dateng ke sekolah di hari sabtu kecuali untuk ekstrakulikuler yang jarang gue hadiri karena gue lebih memilih menjadi pasif ketimbang mengorbankan weekend indah gue. Ya untungnya gue termasuk ke dalam generasi dengan sekolah 5 hari dalam seminggu. Kalau gue kerja di Puskesmas, gue cuma libur hari minggu doang. Tidak, terimakasih.
Sekarang gue lagi di stase IGD, pola nya jaga pagi (6 jam), jaga siang (6 jam), jaga malam (12 jam), lepas, libur. Karena satu grup gue cuma 5 orang, jadi gue cuma dapet libur satu hari. Haduh, ini sih apa bedanya sama puskesmas. Malah lebih capek. Tapi yaudahlah, salah siapa pilih Depok, nggak boleh ngeluh lah. Dan bagaimana pendapat shofi tentang kerja di IGD? Wahgelasih, tiap malem gue nangis. Nggak tau nangisnya kenapa, pokoknya nangis aja. Coba deh bayangkan, otak gue yang se-lemot laptop asus gue yang berusia hampir lima tahun harus dipaksa bekerja cepat secepat laptop lenovo legion terbaru. Ya kayak gitu rasanya. Mau teriak.
Kalau dipikir sih, kasus di IGD RSUD Depok jarang yang aneh aneh. Nggak ada CT Scan juga, apalagi MRI. Jadi palingan gue cuma perlu review materi per-rontgen-an aja sebelum jaga IGD. Nggak ada defib juga. Serba nggak ada. Baguslah, jangan ada dulu ya. Nggak sanggup urang. Tapi tetep aja gue nggak tahan sama ritme nya.
"Dok, nggak boleh lemot kalau di IGD"
Yang tadinya gue mau pilates ke bintaro karena nyeri pinggang kelamaan duduk di kursi dokter puskesmas, sekarang sih gue berasa keliling veldrome selama 6 jam tiap hari. Boro-boro pilates, sekedar basa-basi ke tetangga kosan aja muak banget rasanya. Tiap selesai jaga yang gue mau cuma guling-gulingan di kasur, atau beraktivitas di meja belajar gue. Ya, having my me time.
Tapi ada suatu masa gue pernah bengong di kamar kosan. Merenung. Kalau IGD kecil kayak gitu aja gue ngeluh, gue nggak suka, gimana nanti kalau jadi residen. Terus gue mau jadi dokter yang kayak gimana. Ting. Tiba-tiba gue sadar kalau gue terdiagnosis mengalami quarter-life crisis.
Yap, dokter pun juga bisa crisis: gue mau jadi dokter yang kayak gimana. Gue pernah sih mikir pokoknya gue nggak mau kerja di Rumah Sakit ataupun Puskesmas. Mungkin kerja di perusahaan asuransi. Atau kerja di mall hahahaha tau kan kerja macam apa itu. Tapi di sisi lain gue suka sih sama pekerjaan gue. Ketemu banyak orang orang yang kurang beruntung seolah menampar gue tiap kali gue ngeluh. Dan gue orangnya sering mengeluh, jadi pas lah ya. Ada perasaan bahagia setiap kali gue bisa membantu mereka yang kurang beruntung itu. Jaga di Rumah Sakit dari jaman gue koas sampai sekarang selalu jadi jalan buat gue lebih deket sama Allah. Dari dulu gue selalu deg-deg an tiap pintu IGD kebuka, itu sih yang bikin gue jadi sering sholat malam dan lebih banyak berdzikir. Karena dengan kemampuan otak gue yang sangat minimal, gue sangat amat membutuhkan bantuan Allah. Tapi kalau dada berdebar terus tiap pintu IGD dibuka lama-lama gue EKG diri sendiri deh ini. Gue nggak bisa sih kalau harus kayak gini selama nya.
Satu lagi, berapapun gaji gue, gue nggak pernah merasa miskin ketika gue jadi dokter. Gue merasa kaya dengan ngeliat badan gue utuh dan bisa berfungsi sempurna, gue merasa sehat, gue nggak perlu minum obat. Gue sariawan aja ngeluhnya udah kayak pasien rawat inap, ya Alhamdulillah, gue terlahir sebagai orang yang harus menolong mereka yang menderita jauh lebih menderita daripada sekedar sakit sariawan.
Tapi ini tuh bener-bener keluar dari zona nyaman gue. Gue dituntut harus belajar, sepanjang hidup gue. Tau sih, pasta yang enak tuh nggak dibuat dengan bumbu pasta instan. Peribahasa gue tuh, hahaha. Jadi jangan cuma makan mie instan di akhir bulan sambil berimajinasi makan ramen lengkap sama bento-bento nya. Ya walaupun gue lebih suka jadi mie ayam. Karena gue suka mie, dan gue suka ayam. Dan mie ayam adalah perpaduan dua makanan favorit gue yang berduet dengan sempurna di sebuah mangkuk. Okey, itu nggak nyambung. Ngaco banget, Shof.
Ngebahas kegalauan gue tentang pekerjaan emang nggak ada habisnya. Untuk saat ini sih yang bisa gue lakukan adalah bekerja dan belajar sebaik mungkin, sampai internship beres. Ntar kalau internship udah beres, ya lanjutin lagi galau nya hahaha. Sebenernya ada yang jauh lebih gue takuti ketimbang masalah pekerjaan, gue takut pada akhirnya gue menikah sama orang yang nggak gue cintai, tapi orang itu adalah laki-laki terbaik yang sudah Allah takdirkan untuk gue.
Menikah tanpa dasar cinta? Nggak mungkin.
Iya gue pun setuju, itu nggak mungkin. Menikah lho. Bahkan gue memutuskan pacaran pun selalu dalam kondisi gue yakin gue lagi jatuh cinta. Antara percaya nggak percaya tapi mama gue bilang mama nggak cinta sama papa. Tapi gue yakin banget papa gue adalah laki-laki terbaik yang dijodohkan untuk mama. Mama sendiri yang selalu ngajarin gue untuk memilih segala sesuatu berdasarkan keputusan Allah, makanya gue selalu berdoa sebelum membuat keputusan penting. Dan berarti, mama pun juga sebelumnya pasti udah berdoa minta jodoh yang terbaik. Walaupun yang terbaik nya mama bukan yang mama inginkan.
Kenyataan itu terasa makin nyata waktu gue pertama kali mengalami patah hati. Jadi setelah gue di php-in om om residen urologi, gue berdoa, gue nggak mau lagi jatuh cinta sama orang yang bukan jodoh gue. Waktu itu gue baru selesai sekolah, gue mau sendiri dulu karena mau fokus mempersiapkan internship. Gue ketemu Matahari waktu itu, udah kok udah gue tolak. Tapi sahabat gue kekeuh ngenalin Matahari ke gue.
Kalau nasib gue sama gimana? Gue harus menghabisi sisa hidup gue sama orang yang gue nggak cinta? Nggak mau. Contoh lainnya tante gue, beliau beda sih dari mama gue, dia nikah sama orang yang emang dia cintai (pada awalnya) karena emang dia nggak pake berdoa-doa kayak mama. Tapi tante gue pernah bilang ke gue "Yang namanya nikah, yang tadinya cinta bisa nggak cinta, ya bisa aja cinta itu hilang, apalagi kalau suami nya pengangguran, makin nggak cinta lah"
Gue berasa abis bangun dari negeri dongeng.
So marriage is not about "...and they lived happily ever after" just like what happened in every ending story of princess life. Gue kebanyakan nonton film princess kayaknya waktu kecil, dan momen yang paling gue suka adalah ketika sang putri dan sang pangeran menikah, trus ada kata kata itu di akhir cerita. Gue bisa nggak sengaja senyum ngeliatnya. Semakin usia gue matang, semakin gue justru tau bahwa kenyataan nggak seindah itu.
Gue cerita ke mama gue. "Ma ada dua orang lagi deketin aku, yang satu mau jemput aku di bandara, orang jawa, lebih tua satu tahun, lucu, rame orangnya. Yang satu lagi mau jemput aku di stasiun, orang sunda, seumuran, punya mimpi jadi pengusaha. Harga tiket nya sama, waktu tempuh kurang lebih sama. Aku pulang naik apa?"
Mama gue bilang, "Kalau gitu pilih orangnya, bukan transportasi nya. Tapi feeling mama yang bandara cuma cocok buat dijadiin temen aja. Yang stasiun orangnya baik."
Itu awal mula gue pilih Matahari. Gue kenal lebih dekat sama dia, dan emang sih kita banyak perbedaan. Bener-bener beda banget. Ya gue sih ngerasa nya jadi bisa saling melengkapi. Gue ngerasa nyaman banget deket sama dia. We shared our dreams. Menurut gue, dia orang yang berani bermimpi, jadinya gue pun ikut berani bermimpi. Gue bener bener mengalami 4 bulan terindah. Tadinya gue nggak mau tuh berdoa ke Allah, kalau gue berdoa biasanya langsung putus. Gue belum mau ngerasa sedih, belum mau nerima kenyataan kalau dua orang yang saling menyayangi ternyata nggak berjodoh. Tapi karena gue tiba-tiba diajak umroh, gue jadi berdoa. Dan ya tau kan jawaban doa nya, kita nggak berjodoh.
Gue mulai khawatir tuh, perasaan gue udah berdoa deh kalau gue nggak mau jatuh cinta sama yang bukan jodoh gue, trus kenapa nggak lama setelah itu Matahari muncul. Alasan Matahari lewat di hidup gue itu apa. Gue mulai kesal.
Jadi kali ini gue nggak akan segampang itu buka pintu. Gue nggak peduli mama gue bahas bahas masalah cucu atau jodoh atau pernikahan. Gue kecewa. Kecewa sama semua hal. Walaupun iya gue ngerasa kesepian, tapi gue rasa itu lebih baik daripada gue harus membunuh sebuah perasaan. Lo tau kan, betapa gue sebenernya masih sayang, gue masih peduli, gue masih khawatir, gue masih rindu, tapi semua itu harus gue bunuh pakai logika. Setiap hal itu muncul, gue harus tusuk tusuk pakai kenyataan bahwa orangtua gue nggak setuju, adek adek gue nggak setuju, sahabat gue nggak setuju. Gue harus membekap perasaan itu dengan kenyataan bahwa gue nggak berjodoh sama dia, dia udah sama yang lain. Nggak gampang.
Untungnya lagi stase IGD. Yayaya. Lumayan. Gue bisa sedikit menyibukkan pikiran gue, dan waktu entah kenapa berputar lebih cepat kalau lagi stase IGD. Mungkin kebanyakan hibernasi nya.
Nggak usah khawatir Shofiii... kali ini berdoa nya lebih spesifik. Jangan yang terbaik aja. Tapi yang gue juga sayang dan dia juga sayang sama gue. Dan lain lain nya yang spesifik sebutin aja nggak usah nanggung nanggung. Kalau yang dateng nggak sesuai deskripsi lo ya tolak aja hahahaha.
Begitulah pada akhirnya gue menyikapi quarter-life crisis gue.