https://www.youtube.com/watch?v=ZPC8Cv27YTk
Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari video khotbah Timothy Keller yang saya tonton di Youtube. Sepertinya video Khotbah ini adalah rangkaian dari buku Timothy Keller yang berjudul “The Prodigal God”, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Allah yang Maha Pemurah”. Saya sudah mendengar rekomendasi mengenai buku ini dari beberapa orang, namun saya belum sempat membeli dan membaca bukunya (karena buku yang belum dan harus saya baca masih menggunung). Tapi segera setelah saya membaca bukunya (semoga segera), saya akan membagikannya juga.
Ketika saya menonton video khotbah yang hanya 30 sekian menit ini, saya merasa otak saya hampir meledak. Firman yang dibagikan begitu… sulit untuk saya jelaskan dalam kata-kata. Saya begitu terharu setelah menonton video ini. Saya sudah mengetahui dan mendengar banyak khotbah mengenai kisah “Anak yang Hilang” dalam Lukas 15:11-32, tapi tidak pernah saya sampai pada kedalaman Firman seperti ini.
Karena itu, saya merasa wajib untuk membagikan khotbah ini kepada semua orang. Saya berusaha sebisa mungkin membantu orang-orang yang mungkin kesulitan mengerti khotbah dalam Bahasa Inggris (kebetulan video ini tidak memiliki subtitle baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia). Namun sebagai seorang amatir, kemampuan bahasa dan kemampuan menulis saya tentu tidak cukup mumpuni. Karena itu saya sangat menganjurkan untuk tetap menonton videonya dan menjadikan tulisan ini sebagai supporting translator saja.
Dalam khotbahnya, Timothy Keller terlebih dahulu menjabarkan observasi dengan interpretasi secara singkat dari Lukas 15:11-32 sesuai pembagian yang dibuat oleh beliau. Kemudian barulah beliau menggali lebih dalam apa pesan yang sesungguhnya dimaksud oleh Yesus ketika menyampaikan perumpamaan ini. Saya akan menjabarkan observasi secara poin per poin.
(Mohon baca terlebih dahulu perikop ini)
Anak bungsu meminta bagian dari harta warisannya berarti mengharapkan ayahnya meninggal dunia. Anak bungsu menginginkan harta ayahnya,tapi bukan ayahnya. Ia menginginkan ayahnya meninggal. Seharusnya, sang ayah mengusir si anak bungsu. Namun sebaliknya, sang ayah memenuhi permintaan anaknya. Hal ini sangat aneh dan tidak lumrah pada tradisi bangsa Yahudi pada saat itu.
Sang ayah kemudian membagikan harta miliknya (ayat 12). Harta (property) yang digunakan dalam ayat ini dalam bahasa aslinya menggunakan kata “bios” yang artinya “the course of life for which by life is sustained”. Artinya sang ayah membagikan hidupnya kepada anak-anaknya. Mengapa hidup? Dalam adat Yahudi, kehidupan sangat melekat dengan tanah. Tanah adalah identitas dari orang Yahudi pada saat itu. Jika orang Yahudi kehilangan tanahnya, maka bisa disamakan ia kehilangan identitas dan status sosialnya di dalam masyarakat Yahudi. Ketika sang ayah membagikan hartanya kepada si anak bungsu, artinya ia menjual sepertiga dari tanahnya untuk diberikan kepada si anak bungsu. Sang ayah kehilangan sebagian tanahnya, yang berarti ia kehilangan sebagian dari dirinya dan status/kedudukannya dalam masyarakat.
Berarti, ketika si anak bungsu meminta sang ayah untuk memberikan kepadanya harta warisan yang menjadi bagiannya, si anak bungsu meminta sang ayah untuk tear apart his life, dan sang ayah bersedia melakukannya.
Setelah menyadari betapa menyedihkan hidupnya setelah menghabiskan hartanya, si anak bungsu pun menyesal telah pergi dari rumah dan ayahnya. Karena itu, ia membuat dua buah rencana (plan). Rencana bagian pertama adalah ia akan kembali ke rumah (home). Rumah yang dimaksud oleh perikop ini bukanlah gedung atau bangunan rumah (house), melainkan (Home is) a relationship, a place where you belong and accepted, loved and cared. Untuk rencana bagian pertama ini, tidak ada masalah (sesuai penjabaran Timothy Keller).
Kemudian rencana bagian kedua adalah si anak bungsu meminta untuk dijadikan seorang upahan (hired man). Upahan adalah pembantu yang kemudian digaji oleh majikannya atas pekerjaannya. Maksud si anak bungsu adalah ia ingin membayar kembali sepertiga bagian yang sudah ia minta dan habiskan dari ayahnya. Si anak bungsu berpikir bahwa dia tidak bisa kembali begitu saja kepada masyarakat yang nilai moralnya telah dirusak ketika si anak bungsu meminta bagian harta warisan ketika sang ayah masih hidup. Karena itu ia perlu me-restitusi/mengganti perbuatannya di masa lalu. Si anak bungsu seolah-olah berkata: “saya tidak layak menjadi anakmu lagi, saya tidak menginginkan diangkat kembali menjadi anak dan status sebagai anak, tapi saya ingin mendapatkan cara untuk kembali (earn a way back) menjadi anak. Karena itu, jadikan saya sebagai orang upahan.”
Sang ayah melihat si anak bungsu yang kembali dengan penuh belas kasihan, ia berlari menuju si anak bungsu. Tindakan berlari (yang tentu sambil mengangkat jubahnya) merupakan tindakan yang tidak patut untuk seorang pria yahudi pada saat itu. Pun demikian sang ayah melakukannya karena ia begitu bahagia melihat si anak bungsu kembali.
Ketika si anak bungsu berusaha mengutarakan rencana bagian keduanya, sang ayah tidak peduli. Bahkan sang ayah memberikan segala kemewahan bagi si anak: jubah, cincin, sepatu, anak lembu tambun. Memberikan cincin artinya mengembalikan status si anak (cicin pada saat itu memiliki stempel keluarga sebagai pengganti tanda tangan).
Si anak bungsu tidak ingin dikembalikam (brought back) sebagai anak, ia ingin mendapatkan jalannya sendiri (earn his own way back). Tapi sang ayah tidak mau. Sang ayah-lah yang akan mengembalikan status si anak bungsu kembali sebagai anak, dan semua itu semata-mata karena anugrah.
Banyak dari kita yang seperti si anak bungsu, kita menginginkan hal-hal yang Tuhan sediakan, tapi mereka tidak menginginkan Tuhan. Lalu satu hari, orang-orang ini sadar dan ingin kembali kepada Tuhan. Dan sama seperti yang sang ayah lakukan kepada si anak bungsu ketika ia kembali, Allah selalu menerima kita dan mengaruniakan kasih karunia hanya karena anugrah. Kita mungkin mencoba untuk diterima dengan usaha kita sendiri, tapi kita tidak akan mampu memperoleh jalan kembali dengan usaha kita sendiri. Allah-lah yang menginisiasi segala sesuatu sendiri dan menerima kita tanpa memandang usaha kita.
Inti dari cerita ini bukanlah tentang pengampunan semata, melainkan inti dari cerita yang Yesus sampaikan kepada pendengarnya (orang-oramg Yahudi) adalah segala hal yang mereka pikirkan dan mereka anggap benar tentang pendekatan kepada Allah, sebenarnya adalah salah. Orang Yahudi percaya bahwa segala upaya mereka mematuhi hukum Taurat-lah yang membawa mereka pada keselamatan, padahal Allah memberikan keselamatan sebagai anugrah.
Sang ayah mengadakan pesta dengan menyembelih anak lembu tambun, berarti kembalinya si anak bungsu adalah the greatest day of his life, karena pada saat itu anak lembu tambun sangat spesial dan hanya dikonsumsi pada saat-saat tertentu.
Tapi kemudian datanglah si anak sulung. Ketika si anak sulung mengetahui bahwa ayahnya mengadakan pesta dan menyembelih anak lembu tambun untuk adiknya, ia tidak mau masuk karena ia sangat marah.
Kenapa anak sulung marah? Karena harta yang “dihamburkan” oleh ayahnya dengan mengadakan pesta dan menyembelih anak domba yang tambun adalah bagian dari harta warisan yang akan menjadi bagiannya. Sekali lagi, anak sulung tidak peduli dengan sang ayah, ia hanya peduli dengan milik sang ayah (yang akan menjadi harta warisannya).
Segala milik ayahnya (sisanya) adalah harta anak sulung semata. Karena itu, ketika sang ayah mengeluarkan biaya untuk pesta untuk anak bungsu, maka sumber biaya tersebut berasal dari harta ayahnya yang akan diwariskan kepada si anak sulung.
Dari sini, Timothy Keller membagi umat manusia menjadi dua kelompok besar: anak sulung dan anak bungsu. Anak sulung adalah kelompok orang yang religius (religious), sedangkan anak bungsu adalah kelompok orang yang non-religius (irreligious). Berikut matriks perbedaan di antara keduanya:
Baik anak sulung dan anak bungsu hanya menginginkan apa yang dimiliki ayahnya, bukan ayahnya sendiri. DUA-DUANYA SAMA-SAMA TERHILANG. Kita bisa lari dari Allah dengan imorality and irreligion, tapi kita juga bisa menjauhi Tuhan dengan morality and religion. Anak sulung berusaha untuk hitung-hitungan dengan Tuhan, membuat Tuhan berhutang dengannya, untuk kemudian menjadi juruselamat atas diri sendiri. Inilah gambaran orang Yahudi (ahli Taurat dan orang Farisi) pada saat itu. Di sisi sebaliknya, ada juga kelompok orang yang dengan sadar tidak mencari Tuhan dan hidup memberontak dalam dosa, seperti perempuan sundal, pemungut cukai, dsb.
Bagaimana cara pulang ke rumah, baik bagi anak sulung dan anak bungsu?
The initiating love of God.
Learn to repent for something besides our sins. Repent for the very reasons they ever did anything rights. Repent for your righteousness in God alone.
Melted and moved by the price to bring us home.
Cerita dari perumpamaan ini berakhir pada jawaban sang ayah atas kekesalan si anak sulung. Namun kita tidak tahu apa reaksi si anak sulung atas jawaban sang ayah. Ceritanya terkesan menggantung. Mengapa? Because Jesus wants us to long for something that missing in this story: a true and better elder brother.
Apa konteks perumpamaan ini?
Sebelumnya ketika Yesus duduk bersama pemungut cukai dan “orang berdosa” lainnya, datanglah Ahli Taurat dan orang Farisi bertanya mengapa Yesus duduk bersama kumpulan orang berdosa (Lukas 15:1-2). Yesus kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan tiga perumpamaan. Perumpamaan yang pertama tentang Perumpamaan Domba yang Hilang dan Perumpamaan Dirham yang Hilang. Kedua perumpamaan itu punya pola yang sama. Ada domba atau dirham yang hilang, namun kemudian ada seseorang yang mencari hingga menemukannya.
Tapi dalam perumpamaan anak yang hilang, tidak ada yang mencari si anak bungsu. Maka pertanyaannya adalah: “Siapa yang seharusnya pergi mencari si anak bungsu?” Orang pada jaman itu tahu jawabannya, yaitu si anak sulung. Seharusnya si anak sulung mempertahankan keluarga mereka, tanah mereka, status keluarga mereka dalam masyarakat dengan mencari, menemukan, dan membawa si anak bungsu pulang walaupun itu akan merugikan dia dan membuat si anak sulung mengeluarkan biaya untuk itu. Sang ayah juga tidak akan bisa mengembalikan si anak bungsu, memberikan dia jubah, sendal, dan cincin, maupun memberi makan anak bungsu dengan tidak mengeluarkan biaya yang berasal dari bagian si anak sulung.
Begitu juga kita, para anak bungsu yang berdosa. Ketika Allah menerima kita kembali menjadi anak-Nya, ada harga yang harus dibayar dan harus ada Pribadi yang membayar harga itu. Dia-lah si anak sulung yang sesungguhnya, the true and better older brother. Siapakah Dia? Hanya satu nama yang bisa menjadi the true and better older brother bagi manusia yang terhilang: Tuhan Yesus Kristus. JESUS IS THE TRUE AND BETTER ELDER BROTHER.
There is One who loved and obeyed the Father completely, One who came to earth and loved God with all His heart soul strength, loved His neighbor as himself, One who earned everything: the robe, the ring, everything. But in the end, what do we see? He doesn’t get royal robe, He got stripped. He does not get the fattened calf, He got vinegar. He does not get a ring of honor, He gets a crown of thorns. And this true elder brother comes to us and says, “I did it all for you. You could not be clothed unless I was stripped. You could not get the robe and the ring, unless I lost them. I’ve earned them all, they’re mine. But I freely give them to you.”
Keselamatan sepenuhnya diberikan kepada kita secara cuma-cuma, namun harga yang harus dibayar oleh-Nya amat sangat mahal. Dalam Perumpamaan Anak yang Hilang, Yesus mencontohkan anak sulung yang jahat agar kita merindukan kehadiran anak sulung yang sejati.
Sudahkah kita sadar akan apa yang Sang Anak Sulung yang Sejati telah lakukan bagi kita? Have we ever been melted and moved by the price He paid for a debt that we owe? Jika kita sudah sampai pada kesadaran ini, maka seluruh pola pikir dan pola tindak kita akan sepenuhnya berbeda, barulah kita akan menjadi sepenuhnya Kristen. Pengalaman terhisap dalam kasih karunia akan membuat kita melihat keselamatan, perbuatan baik, dosa, pelayanan, dan jutaan hal lainnya menjadi berbeda. Bukan karena kita, tetapi karena kasih karunia.
So, have you ever been melted and moved by the price He paid for a debt that we owe?
credit pic: http://quotescite.com/book/prodigal-god/846