Hai deadliner, masih kuat?
Salah satunya

No title available

tannertan36
taylor price
sheepfilms
🪼
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Show & Tell

★
The Bowery Presents
RMH
hello vonnie
we're not kids anymore.

blake kathryn
will byers stan first human second

gracie abrams
trying on a metaphor
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Noah Kahan

@theartofmadeline

titsay
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore
seen from United States
seen from Australia
seen from Israel
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States

seen from Israel
seen from Singapore
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Australia
seen from Brazil
@liliputzlight
Hai deadliner, masih kuat?
Salah satunya
Bisakah Kita Menahan Diri Untuk Tidak Sembarang Percaya?
Tanggal 10 Oktober adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia. Biasanya, tanggal ini tepat sekali jika dijadikan momen untuk spreading awareness ke masyarakat tentang kesehatan mental. Soal serba-serbi kesehatan mental, saya sudah pernah menuliskannya di tahun sebelumnya dan masih bisa dibaca di halaman ini. Sekarang, meskipun sudah terlambat satu hari, saya ingin berbagi mengenai topik yang lain, yang sejujurnya muncul pertama kali dari keresahan pribadi, yang mungkin juga dirasakan oleh teman-teman yang lain. Tentang apa, sih?
Jadi, saya seringkali bertemu dengan orang-orang yang berasumsi pribadi tentang kondisi dirinya atau orang di sekitarnya hanya karena membaca beberapa artikel yang ditemukannya di internet. Artikel-artikel tersebut, yang seringnya berasal dari situs yang dipertanyakan kebenarannya, sedikit banyak telah membuat mereka menerka-nerka diagnosa yang mungkin teralami. Labeling kondisi menjadi sederhana sekali. Padahal, semua ada tata laksananya, panduan diagnosanya, dan perlu dibicarakan dulu dengan ahlinya.
“Nov, akhir-akhir ini aku tuh suka sedih banget, tapi terus kalau ada sesuatu tiba-tiba aku bisa jadi bahagia. Kata artikel yang aku temuin di xyz (menyebutkan alamat situs) itu tuh ciri-ciri bipolar disorder. Ya ampun, Nov, aku bipolar!”
Tunggu! Apakah benar bipolar disorder? Sudah berapa lama itu terjadi? Dari sekian simptom atau ciri gejala bipolar, ada berapa memangnya yang muncul? Apakah memang sudah mengganggu sedemikian rupa? Bukankah secara umum akan wajar jika sedih membuat menangis dan bahagia membuat tertawa? Memangnya, menurutmu bipolar disorder itu apa?
“Kamu tau engga, aku tuh phobia sama ular. Pokoknya kalau ngeliat ular tuh rasanya pengen lari jauh banget! Eh aku perlu ngapain sih, Nov, supaya engga phobia? Kalau aku baca di internet, katanya perlu terapi gitu, ya?”
Tunggu! Phobia itu sama sekali berbeda dengan takut (yang berlebihan). Kalau takut sama ular wajar dong, toh secara umum semua orang juga serem kalau lihat ular. Kata siapa kamu phobia? Memangnya itu sudah berapa lama terjadinya? Kapan reaksi pertamanya muncul? Apa yang dirasakan ketika bertemu dengan sumber atau objek yang ditakutkan? Phobia itu melibatkan keterbangkitan reaksi fisik, waktu kamu takut itu, reaksi fisik apa memangnya yang muncul? Ada pusing, mual, muntah, gatal, atau lainnya?
“Noooov, Ibuku kayaknya depresi, deh. Dari kemarin ngurung diri terus di kamar, engga mau makan, nangis terus, kalau jalan nunduk-nunduk, gitu deh pokoknya. Aku sampai pusing harus gimana, terus aku cari-cari deh di internet, eh ternyataaaa itu masuk ciri-ciri diagnosa depresi. Parah banget, masa? Menurutmu, boleh engga kalau Ibu minum anti depresan?”
Anti depresan? Tunggu! Depresi berbeda dengan stress. Sebenarnya kamu sudah tahu belum apa itu depresi? Dari sekian ciri-ciri yang kamu baca itu, berapa persen memangnya yang muncul di perilaku yang kamu lihat? Bagaimana memangnya perilakunya, pola sikapnya, pola pikirnya, makannya, tidurnya, dan seterusnya? Sudah terjadi selama dua minggu berturut-turut selalu begitu?
dan seterusnya.
Menghadapi hal-hal seperti itu, terkadang saya ingin tertawa geli karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul seolah berbuah menjadi ketakutan yang dibuat-buat sendiri; tapi saya juga sedih melihat sebegitu cepatnya seseorang bisa melakukan premature judgement terhadap dirinya sendiri hanya karena membaca artikel-artikel di internet, atau bahkan di sosial media.
Kemudahan akses informasi memang membuat kita latah untuk langsung mencari apa yang ingin kita ketahui melalui mesin pencari di internet. Tapi, itu tentu tidak selalu bisa menjadi solusi yang tepat. Saya pun merasakannya. Saat ini saya belum profesi sehingga pengetahuan dan kewenangannya juga terbatas. Itulah mengapa saya sendiri pun ketika ingin memecahkan sesuatu atau ketika ada yang menanyakan sesuatu, sebisa mungkin menghindari artikel-artikel tidak jelas yang berhamburan di internet dan lebih memilih untuk kembali mengecek text book/catatan, diskusi dengan sejawat, atau bertanya kepada psikolog senior.
Belajar dari pengalaman, hal yang sama juga semestinya berlaku untuk kasus-kasus kesehatan fisik, yang sebaiknya kita tanyakan pada ahli atau sumber yang terpercaya. Saya pernah sangat penasaran tentang mengapa siklus menstruasi saya mendadak berubah menjadi siklus panjang. Sebagai perempuan, saya panik dan waktu itu impulsively langsung mencari info di internet. Hasilnya, informasi yang didapat malah semakin membingungkan. Akhirnya, saya pun segera menghubungi teman yang memang dokter dan bidan. Jawaban mereka lebih menenangkan, jelas, dan bisa dipercaya. Sejak saat itu, saya prefer untuk langsung bertanya pada orang yang tepat alih-alih mengetikkan pertanyaan di mesin pencari.
Kalau begitu, bisakah kita menahan diri untuk tidak sembarang percaya?
Yuk! Jangan biarkan informasi-informasi yang samar membuatmu berasumsi ini dan itu terhadap dirimu sendiri, ya! Jangan juga jadi takut dan khawatir berlebihan hanya karena sesuatu yang boleh jadi belum tentu terjadi pada dirimu. Tanyakan pada ahlinya, diskusikan dengan orang yang tepat, dan tetaplah berprasangka baik terhadap dirimu sendiri. Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia!
Memang akhir-akhir ini banyak orang yang menjadi dokter “Google”, dikit-dikit “Google”
Banyak yang ingin kuceritakan padamu, dengan bahasaku yang tak kamu mengerti. Lantas, kita saling berkompromi dan mulai membangun tembok masing-masing. Bukan karena ingin, namun agar tidak terluka lebih dalam.
Mahasiswa Tingkat Akhir
Dikit lagi ya geng yang semangat…. tanggal penting kalian juga aku simpen di planner ku wkwkkw
@crepuscarmy dengan judulnya bulan depan. Semoga lancar nak :’)
@tetcotet dengan sidang progresnya Desember ini, you rock cang! Bisaak
@liliputzlight dengan pabrik dan skripsinya semester ini dan semester depan. Mangat puttliii
Yang semangat geng, doaku menyertai :’)))
Love,
Yang pengen nyoba pake toga wisuda kalian satu-satu
Kok cinta-able~ Semoga diberi kemudahan yaaak ♥ Bismillah
Uuuu terbaik.. semoga kokoh kuat dan tak gentar..
Oiya, februari ke dita maa, jan lupa
akuh terharu :’) Ilma juga semangat buat farmako dan skrispi nya ya, doaku menyertai kalian semua geng
Jaga diri ya. Hujan-hujan gini jalanan licin, hati-hati kepleset ke hati lain.
Pegabdi Allah
Simpul
“Eh, ngapain nih?”
Entah kenapa urung juga kulangkahkan kaki menuju parkiran, berpindah haluan menuju dua temanku yang sedang ngemper. Sang lensa menjatuhkan fokusnya pada dia, sosok asing yang tak kukenal. Ah, bukan dia tak terkenal, aku saja yang bukan aktivis kampus.
Yang selalu ada tetap saja bakal kalah sama yang istimewa. Karena dia istimewa, dia tak selalu ada :)
Yang Istimewa, LR
An A. I deserve it. I know that I deserve it. I think it's me that think I deserve it. Argh.
AB-Almost is never enough.
Alasan Mengapa Kita Berteriak saat Marah
Seorang ulama sedang berjalan-jalan. Ia lalu melihat ada keluarga yang sedang bertengkar, saling berteriak. Ia berpaling ke murid-muridnya dan bertanya: "Kenapa orang suka saling berteriak kalau sedang marah?" Salah satu menjawab: "Karena kehilangan sabar, kita berteriak." "Tetapi, kenapa harus berteriak pada orang yang ada di sebelahmu? Kan, pesannya bisa juga sampai dengan cara halus?", tanya sang alim ulama Murid-muridnya saling adu jawaban. Namun, tidak ada satu yang mereka sepakati. Akhirnya sang alim ulama bertutur: "Bila 2 orang bermarahan, hati mereka sangat menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar terdengar. Semakin marah, semakin keras teriakan karena jarak ke 2 hati pun semakin jauh." "Apa yang terjadi saat 2 insan jatuh cinta?", lanjutnya. "Mereka tidak berteriak pada satu sama lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati tidak ada atau sangat dekat." Setelah merenung sejenak, ia meneruskan. "Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi bicara. Hanya berbisikan dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisikan. Mereka cukup saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah 2 insan yang saling mengasihi." Sang alim ulama memandangi murid-muridnya dan mengingatkan dengan lembut: "Jika terjadi pertengkaran, jangan biarkan hati menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak lagi bisa ditempuh." *copasgrupwa*
The Clicking Monkeys
Kemarin ini sempat beredar luas di media sosial perkara kabar yang menyebutkan ajakan meletakkan baskom berisi air garam di luar rumah untuk membantu turun hujan, sehingga diharapkan jika hujan turun, asap bisa berkurang dampaknya.
Pesan broadcast ini menyebar heboh mulai dari sms, bbm, linimasa Line, group2 wassap, facebook, bahkan beberapa blog menyampaikan hal serupa. Begitu banyak orang yang me-repost itu dimanamana.
Sebagai salah satu penghirup asap di Palembang, gue mengucapkan terimakasih untuk kepeduliannya yang begitu besar kepasa kami. Tapi sungguh, percayalah, upaya baskomisasi itu HOAX adanya.
Pihak BMKG dan tim meteorologis sudah mengonfirmasi bahwa berita itu murni HOAX. Palsu. Konyol. Mereka justru kecewa karena pembuat pesan itu sudah mencantumkan nama mereka seenaknya untuk kabar yang ngasal.
Dibutuhkan ratusan juta baskom untuk mendapatkan jutaan meter kubik uap air, itupun kalo semua air di baskom itu menguap sempurna. Lagipula, hujan bukan proses secetek itu. Bukan uap air naik terus jadi hujan ujug2. Sumatera Kalimantan ga hujan2 juga bukan karena kekurangan uap air sampe harus dibantu dari baskom2. Yaelah, sungai, danau, laut, bahkan samudera sekitar pulau udah kurang luas apa sih?
Hujan butuh awan, butuh angin. Lautan sekitar kami tuh masih menghasilkan uap air, tapi ga semuanya bisa jadi awan yang bisa menghasilkan hujan. Pun bisa, pola angin mengakibatkan uap air itu ketiup ke utara dan timur laut, jadi awannya terbentuk disana, hujannya juga terjadi disana.
Ya menurut ngana aja, samudera seluas apa itu pun masih gabisa menghasilkan awan yang terkondensasi di wilayah berkabut asap, apalagi air garam seluas baskom?
Mending garamnya buat kalian masak aja ya, guys.
-
Seriously, kabar2 hoax semacam ini sebenernya ganggu betul.
Gue beberapa kali pengen leave dari beberapa group wassap—salah satunya grup rohis, astaghfirullah—gara2 sering bener anggotanya mem-post broadcast kabar tidak jelas sumbernya dan tidak masuk akal isinya. Kzl bgd. Seenaknya banget repost2. Hanya dengan sedikit imbuhan “dapet dari grup sebelah nih” atau “cuma share aja” atau “izin copas ya” atau “ini bener ga yaa”. Terus abis itu lepas tangan. Gausah bangga nyebarin berita ga jelas. Karena lo ga ada bedanya sama,
,monyet.
Dalam sebuah artikel di tempo.co tanggal 15 november 2013, seorang Daru Priyambodo menuliskan terminologi jenius untuk menyebut orang2 penyebar hoax ini: The Clicking Monkeys.
Clicking monkeys adalah orangorang yang dengan riang gembira meng-klik telepon selulernya untuk menyebar hoax kesana kemari di berbagai media sosial. Menurut om Daru ini, mereka seperti sekumpulan monyet yang saling melempar buah busuk di hutan.
Yang geuleuh, begitu info yang benar sudah keluar, para monkeys ini tidak lagi antusias menyebarkan. Persis monkeys di hutan tadi, kalo sudah tau buahnya tidak busuk, ya ngapain dilempar2. Makan sendiri aja.
Kan 💩
Kurangkuranginlah jadi monkeys. Iya, tau, niatnya baik. Mau berbagi informasi. Tapi alangkah bijaknya kalo sebelum menyebar ya dicaritau dulu benar tidaknya, konfirmasi dulu kesahihannya, jangan sembarangan di-repost2 sekehendak hati hanya atas nama label mau berbagi itu tadi. Kalo kabarnya sesat, sealaihumgambreng umat ikutan sesat. Tau sendiri kan, kecepatan media sosial dalam menyampaikan kabar itu gimana? Kita akhirnya dituntut untuk langsung bereaksi saking cepetnya, ga ada waktu lagi untuk mikir.
Dulu sempet ada tuh kabar hoax yang bilang orang stroke kalo kumat tusuk jarinya sampe berdarah. Nanti aliran darah jadi lancar. GIMANA CERITANYA COBAK. Kan gue emosi kan -.- Lo bayangin kalo lo repost kabar sampah itu ke monyet lain yang percaya2 aja. Stroke sembuh nggak, tangannya infeksi iya.
Kalo mager caritau, yaudah diem aja kenapa sih, telen sendiri gausah sok2 mau berbagi. Tuhan juga lebih suka orang yang diam daripada bicara tapi isinya sampah, kan. Kalo yang lo bagi malah mencelakakan orang kan malah salah. Kalo emang lo gatau, belum tau, dan males caritau, yaudah, diem.
-
Belum lagi di linimasa Line. Makin banyak hoax bertebaran. Line rame bener cem pasar bedug. Berisik.
Yang lagi musim banget tuh ada yang ngepost foto2 anak2 korban perang yang kurus2, pucet, gembel, tidur di tanah, terus captionnya: Like kalo peduli. Atau foto anak kecil lucu, captionnya: Like kalo mau punya anak kayak gini Atau foto ibu2, captionnya: like kalo sayang ibu Atau foto suami kece, captionnya: like yang mau suami kayak gini
Anjislah. Itu “like” apa superpower? Bisa semuanya banget? Logikanya gimanaaa astaghfirullaaah.
Dan semua itu viral banget. Di-repost sana sini banget sampe timeline penuh. Yang nge-repost juga bukan alay2 kurang kerjaan, bahkan dokter2 dengan intelejensi yang seharusnya tidak diragukan.
Apalagi, oknum2 yang bikin post itu pertama kali ga mencantumkan sumber foto sama sekali. Main comot aja terus taro caption semau2.
Aku lelah. Pulangkan aku ke planet uranus…..
-
Ini masih hari sumpah pemuda kan ya. Jadi, coba, dicoba sedikit sedikit. Belajar mikir sebelum klik. Jadilah pemuda yang kritis. Jangan jadi pe-mudah. Mudah ditipu, mudah dipengaruhi, mudah dihasut. Mudah juga menyebarkan apaapa yang belum jelas juntrungannya.
Internet bisa segalanya. Info didalamnya beranekarupa yang kadang cuma Tuhan dan pembuat info yang tau kebenaran dan kesahihannya. Tapi kita tetep punya expert2 yang bisa kita tanya, buku2 di perpus yang bisa kita baca, atau artikel2 di google yang jelas sumber dan literaturnya, apapun lah yang bisa kita datangi untuk mengonfirmasi kebenaran setiap kabar.
Ribet ya? Nggak lah. Kita kan pemuda. Ini 2015. Cuma konfirmasi kabar dan mencegah penyebaran hoax doang kok, bukan disuruh bikin perkumpulan ditengah pengawasan penjajah.
Berhentilah saling lempar buah busuk. Kita bukan monyet.
Oh, gue sih bukan.
Lo sih terserah.
Matter is neither created nor dstroyed
Material Balances, Basic Principles and Calculations in chemical Engineering 6th Edition
ARGH
!!!
Sempurna
Kamu yang bilang, “Buat apa sempurna kalau terlambat?” Namun kenyataannya, kamu tetap saja menanti yang sempurna, berusaha sesempurna mungkin, dan tentu saja mengharapkan yang sempurna. Dan sekarang lihat, jarum jam tak memerdulikan itu semua, pun mereka tak acuh dengan segala ke-sempurna-anmu itu. Kamu hanya menjebak dirimu sendiri, memasung, dan menjarakannya di perangkap tak berujung bernama kesempurnaan. Dan lihat, apa yang kamu dapat? Di mana dirimu yang dulu? Aku ingin bertemu dengannya. Kamu, diriku yang dulu. 14102015 19:29
Mencintai Orang Baik
Kebaikan itu magis. Kita senang melihat perbuatan baik. Kita senang pada orang yang berbuat kebaikan. Orang baik punya daya tarik.
Kita pun boleh jadi mencintai seseorang karena dalam pandangan kita, orang tersebut baik. Tak peduli jika orang lain tak sepakat dengan kita. Kita selalu bisa melihat sisi baik dari orang yang kita cintai. Dan berharap kita bisa membuat orang lain juga bisa melihat sisi baik tersebut.
Mencintai orang baik seperti mudah. Ada banyak hal yang bisa kita kagumi darinya secara spontan. Semua orang akan berpikir kita begitu beruntung memilikinya sebagai seseorang yang dicintai.
Tapi, pada kenyataannya tidak selalu semudah itu.
Mencintai orang baik berarti memahami bahwa kebaikannya dibutuhkan oleh banyak orang. Bukan hanya oleh kita. Sebagai konsekuensi dari menjadi orang baik, tentu ia juga disayangi oleh banyak orang. Bukan hanya oleh kita.
Kita tahu bahwa ia baik bukan hanya pada kita. Tetapi pada semua orang. Itu berarti selain ia sebagai kekasih, atau suami, istri, ayah atau ibu yang baik, ia pun seorang anak yang berbakti pada kedua orang tuanya, teman yang suka membantu, pelayan masyarakat yang mengayomi, pekerja yang profesional, juga pemimpin yang berdedikasi.
Mencintai orang baik berarti memahami bahwa di hatinya bukan hanya ada kita. Hatinya memiliki banyak ruang untuk mengasihi banyak orang. Waktunya dibagi kepada banyak orang yang membutuhkan. Akalnya digunakan untuk memikirkan banyak orang.
Mencintai orang baik juga berarti memahami bahwa kita tak bisa egois dan berpikir bahwa ia milik kita. Karena akan selalu ada celah-celah yang dimanfaatkan para penggoda untuk menghembuskan perasaan iri dan cemburu.
Sejak detik pertama, mencintai orang baik berarti rela. Rela untuk tidak selalu jadi yang utama. Rela untuk mendukung tanpa keluh kesah. Rela untuk mendoakan tanpa lelah.
Berharap dipersatukan dengan orang baik ibarat mendambakan hujan. Kita tak bisa memintanya untuk jatuh di halaman rumah kita saja…
Tentunya, mereka yang berhasil memenangkan hati orang baik, adalah orang baik :)
Pengen shalat bareng kamu, iya, kamu.
Selamat Idul Adha 1436H
Manusia itu seperti panci dan wajan. Cara membersihkannya ada yang pakai spons sudah cukup, ada yang harus dibersihkan dengan sikat kawat.
Yang dibersihkan dengan spons biasanya yang mudah tergores, seperti wajan atau panci anti-lengket. Sensi, dia. Tapi memang tanpa sikat kawat pun, dia sudah cukup bersih.
Sementara wajan dan panci tradisional cenderung lebih susah dibersihkan. Keras kepala, karenanya harus dibersihkan dengan sikat kawat.
—
Manusia ada yang seperti spons yang lembut, ada yang keras seperti kawat. Ada yang kata-katanya menyejukkan, ada yang kadang melukai karena keras. Tapi keduanya sama-sama punya tujuan yang baik: memperbaharui.
Masalah baru timbul ketika wajan atau panci tradisional bertemu dengan spons. Mereka memang nggak bisa diperlakukan dengan lembut, hasilnya… mereka tetap dekil dan berkerak. Juga ketika pembersih kawat bertemu dengan si anti-lengket. Bersih sih, dan saking bersihnya sampai lecet dan rusak.
Jadi, yang manakah kamu dan saya? Kalau kita tergolong si tradisional yang keras kepala, apakah lalu kita mengamuk saat si sikat kawat membersihkan? Atau kita si sikat kawat yang sering memaksakan diri “berurusan” dengan si anti-lengket, sehingga kita malah merusak sesuatu yang sebenarnya bisa diperlakukan dengan cara yang lebih lembut?
(Renungan saat mencuci piring barusan. Orang Virgo memang sering memikirkan hal-hal yang nggak penting, jadi abaikan saja.)
~ – View on Path.
Cuci piring yang bermanfaat
Life
"Kamu udah ga kayak dulu lagi!" Emang udah ga seperti dulu, keadaannya berbeda. Di situlah pentingnya kompromi. Time flies, world moves, people must change. Putri Lilia Rosa 19/09/2015