Agama, Golput, dan Indomie
Undang-undang mengatur kebebasan beragama. Artinya, siapa pun kita — baik yang sudah lahir dengan agama tertentu, anak pemuka agama, siapa pun — bebas memilih agamanya sendiri setelah dewasa. Orangtua, calon mertua, atau (sekali lagi!) siapa pun, nggak berhak melarang kita untuk berpindah keyakinan.
Yang nggak elok adalah ketika ada yang memaksa orang lain untuk berpindah agama. Yang sangat nggak asyik adalah ketika ada yang merasa agamanya yang paling baik dan benar. Tapi, melakukan amal atas nama agama itu adalah perbuatan baik, dan sangatlah sempit kalau ada yang menganggap sebagai upaya islamisasi, kristenisasi, atau sejenisnya. Perbuatan baik adalah baik. Titik.
Orang baik memilih agama yang baik.
Ini yang lucu. Baik atau nggaknya seseorang hanya Tuhan yang menentukan, bukan diri sendiri. Lagi pun, baik atau nggak itu sifatnya sangat relatif. Yang menurut kita baik, belum tentu menurut orang lain baik. Baik terhadap kita, belum tentu baik kepada orang lain. Bukankah kita juga nggak akan pernah bisa baik kepada semua orang di saat yang bersamaan?
Lalu, selain orang yang beragama, ada juga orang yang memilih untuk nggak beragama. Ini pun menurut saya nggak masalah. Perjalanan setiap orang berbeda; pemahaman, dan kepercayaan setiap orang juga berbeda. Selama dia nggak menertawakan orang yang beragama, menurut saya ya sudah, biarkan saja. Toh belum tentu di mata Tuhan mereka tergolong kaum yang jahat. Yang mengatakan mereka sesat juga sesama manusia...
Dalam lingkup keagamaan, orang yang nggak beragama disebut free-thinker, agnostik, atau ateis. Sementara dalam politik di Indonesia, yang memutuskan untuk nggak memilih disebut "golput" atau golongan putih. Golput ini menurut saya agak-agak mirip dengan agnostik, meski pun konteksnya berbeda. Mereka sama-sama memilih untuk nggak memilih, lalu banyak yang menghakimi dan menganggap mereka sesat. Dan mereka justru yang seakan dipaksa untuk memilih, karena kalau nggak memilih artinya mereka angkuh, nggak tahu diri, nggak berterimakasih, dan sebagainya.
Mereka berbeda, tapi belum tentu mereka lebih buruk dari yang punya pilihan capres tertentu. Sama halnya, nggak semua Muslim pasti baik, nggak semua Nasrani, Hindu, Buddha, pasti baik — meski pun mereka beragama.
Orang baik memilih orang baik.
Katanya, bangsa ini adalah bangsa yang (harus semakin) toleran, tapi ketika ada yang berbeda keyakinan dalam berpolitik nggak bisa ditoleransi. Ini kan aneh?
Saya sangat setuju bahwa bapak kita adalah orang yang baik. Meski pun nggak bisa dibandingkan, tapi Tuhan juga amat sangat baik. Namun, kebaikan Tuhan nggak membuat semua orang memilih untuk beragama. Sebagian (kecil) memutuskan untuk tetap percaya pada Tuhan, tanpa menyandang agama tertentu. Kenapa ya?
Ya mungkin karena mereka pernah mengalami trauma dengan agama, atau mungkin karena pemikiran mereka berkembang ke arah yang berbeda: bahwa mencintai Tuhan nggak harus melalui agama (tertentu). Dan adalah kesombongan jika menganggap mereka ini kaum yang sesat.
Mencintai Indonesia nggak harus melalui pilihan capres tertentu. Golput bukan anti nasionalisme, seperti halnya agnostik bukan anti Tuhan. Golput dan kaum agnostik punya idealisme sendiri mengenai cinta untuk bangsa, cinta untuk Tuhan. Bukan berarti mereka lebih baik, juga bukan berarti lebih buruk.
Presiden bukan Tuhan. Tuhan saja kadang dianggap mengecewakan, apalagi manusia? Presiden memang bukan mahluk sempurna, dan dalam pemilu kita nggak memilih yang sempurna, tapi yang paling mendekati sempurna, yang paling mengakomodasi kebutuhan kita sebagai rakyat, juga idealisme kita.
Saya percaya, yang memilih untuk menjadi golput juga menganggap di antara 2 capres yang ada, salah satu lebih baik dari yang lain. Tapi kadang baik saja nggak cukup. Mungkin yang paling baik di antara 2 pilihan itu membuat pilihan yang membuatnya nggak dipilih oleh para golput. Meski pilihan yang "nggak tepat" tadi doesn't make him a bad guy, tetap saja hal itu dianggap krusial bagi idealisme mereka yang golput.
Golput itu minoritas, seperti halnya beberapa "kriteria" lain yang membuat seseorang masuk ke dalam kategori "minoritas". Toleranlah terhadap mereka. Meski pun menurut mayoritas Indomie itu makanan dari surga, ketika ada yang nggak suka ya jangan dipaksa untuk makan...
Siapa pun presidennya nanti, Indonesia akan tetap jadi yang tercinta, pembangunan pasti akan terus berjalan. Hidup akan tetap baik-baik saja, karena ada Tuhan yang teramat baik dan mencintai bangsa ini. Amin.