Kurang lebih jam 11 waktu Taipei, kami meluncur ke bandara. Meskipun berangkat berdua, sejatinya kami memiliki rute perjalanan dan jam yang berbeda. Jadi perjalanan dimulai dari Taipei menuju Hongkong. Saya akan berangkat duluan, sementara Ida menyusul beberapa jam berikutnya. Lepas dari Hongkong, perjalanan direncanakan menuju Jakarta. Dari Jakarta, kami dijadwalkan berpisah mengingat Saya lanjut ke Solo dan Ida ke Yogyakarta.
Entah dikarenakan efek mengantuk atau saking bersemangatnya mau pulang ke rumah, kami ngetem di ruang tunggu gate yang salah. Seharusnya kami menunggu di gate sebelah, tapi kami duduk di gate lain. Butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk akhirnya menyadari kami salah ngetem. Awalnya, kami masih sempat ha ha hi hi poto-poto nggak jelas dengan mata panda. Ida yang biasanya teliti to the core, belum merasa ada yang salah. Apalagi Saya yang nggak teliti sama sekali. Santai to the maximum. Malahan, Saya berencana mau tidur sejenak secara ruangan tunggu di gate itu sepi sekali.
Dari kesunyian gate itu, kami mulai bertanya-tanya. Kenapa hanya kami yang ada di sana? Sementara ruang tunggu sudah dibuka dari satu jam yang lalu. Kami pun mengecek kartu boarding pass. Hasilnya positif, kami salah gate. Nyaris ketinggalan pesawat menuju Hongkong karena setelah kami heboh pindah gate, tak berapa lama, pesawat yang membawa saya ke Hongkong sudah parkir manis di Apron.
Saya pun masuk ke pesawat setelah dipersilahkan. Ida sempat menitipkan barang karena kita erjanji bertemu d Hongkong. Pesawat masih saja berputar-putar di Runaway, namun Saya sudah merasa tiba di rumah. Dalam mimpi tentunya. Sleeping beauty. Sedikit ingat ketika dibangunkan mbak pramugari untuk makan. Baru dua sendok makan, ketiduran lagi. Bangun-bangun, meja saya sudah bersih. Makanannya sudah diangkut. Sigh. Lapeer, Kakak. Nggak ada yang jual tahu Sumedang pula di jendela. Zzzzz
Sampai di Hongkong dengan mata 100 watt. Jelas aja, banyak tidur. Ternyata gate untuk penerbangan ke Jakarta lumayan jauh jalannya. Perlu naik kereta kecil dari terminal kedatangan menuju gate yang diinginkan. Sampa di sana, masih menunggu satu setengah jam sebelum berangkat ke Jakarta. Lihat jam di hape, pesawat Ida dijadwalkan akan mendarat 45 menit lagi.
Saya cukup hafal dengan kebiasaan saya, kalau nggak diajak ngobrol, bisa saja saya tidur di ruang tunggu. Berhubung sendirian, maka saya sedikit was-was kalau sampai ketiduran dan ketinggalan pesawat.
Akhirnya saya putuskan untuk berjalan-jalan. Sekilas, sebelumnya saya lihat ada beberapa orang Indonesia di gate lain. Maenlah ke gate sebelah. Riuh rendah terdengar beragam bahasa yang nggak asing. Bahasa Indonesia, aksen khas Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beberapa dari mereka bersekolah, liburan, dan kebanyakan bekerja di Hongkong. I was like in Jakarta already. Seneng denger banyak cerita dari mereka.
Satu jam berlalu, Saya balik ke gate semestnya. SMS saya ke Ida ternyata nggak masuk. Saya coba hubungi nomor IM3nya, ada nada sambung. Tapi nggak ada jawaban. Setengah jam lagi boardng. Saya sedikit khawatir karena perjalanan dari terminal kedatangan ke gate ini lumayan butuh waktu.
Tapi Saya masih berpikiran positif karena kami naik pesawat terusan, Taipei-Jakarta, bukan transfer. Logikanya, jika ada sesuatu di bandara transit, kesalahan bukan ada pada penumpang. Pihak maskapai pasti sudah mempertimbangkan waktu dan sebagainya. So far, Saya sih cukup puas dengan pelayanan maskapai ini. Jadi, Saya pun menunggu kedatangan Ida dengan santai, meski nggak sabar.
Sampailah penumpang jurusan Jakarta dipersilahkan naik pesawat. Saya lupa lewat Tax Way atau nggak. Ada sensasi sendiri yang Saya rasakan ketika melewati Tax Way. Saya bagaikan pemain bola profesional keluar dari ruang ganti, masuk lapangan. *yakali* Pokoknya disuruh masuk pesawat aja. Bersamaan dengan itu, Saya memutuskan untuk panik. Ida belum datang, sementara pesawat sudah mulai berangkat saja. Kami dijadwalkan menggunakan pesawat dengan waktu yang sama. Tapi sampai detik itu, Ida belum menunjukkan ujung jilbabnya sama sekali.
Saya pun berdiri, mendekat salah satu petugas, menanyakan jam berapa pesawat terakhir ke Jakarta untuk hari itu. Dia menjawab “Ini pesawat terakhir”. Pesawat terakhir ke Jakarta? Saya berniat tanya lagi kepada petugas, namun mereka sedang sibuk mengecek boarding pass calon penumpang menuju Runaway.
Saya pun memutuskan duduk lagi. Saya akan bertanya kepada petugas setelah mereka tidak repot. Saya masih belum beranjak dari ruang tunggu dan masih berharap lihat Ida. Saya yakin Ida belum sampa di gate ini. Sambil mengedarkan pandangan, mata melakukan akomodasi sempurna, lagi-lagi saya lupa memakai kacamata. Alih-alih menemukan sosok Ida, Saya hanya melihat ruang tunggu sudah semakin sepi, hanya menyisakan dua orang. Saya dan seorang bule paruh baya yang baru saja datang. Melhat perawakannya, Saya menduga dia berasal dari benua biru.
Saya pun mendekat petugas lagi, kali ini Saya mencoba bertanya dan menjelaskan dengan pernyataan panjang. Saya pikir mereka tidak keberatan, toh mereka tak lagi sibuk. Awalnya, Saya menanyakan apakah pesawat yang berangkat dari Taipei pukul sekian sudah mendarat? Selanjutnya menjelaskan bahwa seorang teman belum menunjukkan tanda akan sampai di gate ini ketka pesawat yang akan membawa ke Jakarta berangkat.
Intinya Saya menanyakan dimana posisi pesawat Taipei Ida sekarang? jika memang terlambat terbang sejak dari Taipei dan mengakibatkan terlambatnya datang di Hongkong, kapan Ida bisa berangkat ke Jakarta mengingat ini pesawat terakhir? Mereka menjawab belum ada info. Saya juga jelaskan berat rasanya harus meninggalkan teman tanpa ada kepastian dimana.
Bule paruh baya yang ada di belakang Saya rupanya menyimak pembicaraan saya dengan petugas. Dengan gaya khas seorang bapak, beliau menyuruh Saya untuk segera masuk pesawat. “Dont worry about your friend. She’ll be fine. This airline know how to serve its the passengers”.
Melihat kerutan di wajahnya, mengingatkan Saya dengan foto Eyang Kakung. Memang sepertinya Saya nggak terlalu ingat memori dengan Eyang Kakung. Saya Cuma hidup dari cerita keluarga tentang Eyang Kakung. Namun, Saya suka berlama-lama melhat foto Eyang Kakung dalam diam. Kerutan di wajah mereka mirip. Kerutan tegas yang melembutkan. Seolah tersihir pesona keriputnya haha, Saya kemudian masuk pesawat dan yakin maskapai ini tidak akan menelantarkan penumpangnya, termasuk Ida. Masuklah Saya ke pesawat, melintasi kursi yang seharusnya ditempat Ida. Kosong, Lengang.
Sampai Jakarta, kalo nggak salah ingat, sekitar pukul 00.00 W. Sementara penerbangan ke Solo masih pukul 08.00. Nomor M3 Ida sudah nggak bisa dihubungi. Sementara Saya, lagi-lagi mengantuk. Entah harus bersyukur atau enggak, Saya rasanya ditakdirkan mudah tidur di mana saja. Lihat ruangan lega dikit, pules deh. Akhirnya numpang tidur di Mushola bandara setelah sebelumnya minta dibangunkan orang rumah. Nggak lucu kan sudah sampai di Jakarta, masih ketinggalan.
Singkat cerita, sesampainya di Solo, Ida masih belum bisa dihubungi. Menjelang senja, saya telepon lagi. Eh nyambung, Pemirsa! “Doooooooolll, kemana aja? Nunggunya capeeek tauuk,” sambil teriak-teriak cempreng.
Ida: “ini Ida masih di bandara Jakarta, mau balik Yogya.”
Aku: “Ehhhh, masih di Jakarta?”
Ida: “Ceritanya panjang. Ida kemarin nginep semalam di Bangkok.”
Kayaknya lebih seru kalo yang bersangkutan cerita sendiri :p
Dan setahun kemudian, kami ditakdirkan untuk tidak menggelandang dari bandara ke bandara. Hari ini kami memenjarakan diri di asrama. Jadi penaga kamar masing-masing. Menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Selain itu, di luar cuaca juga dingin seruuuu dan berkabut.
Tadi sore, Saya sempat berpapasan Ida. Saya lihat muka Ida: pucat, lemes, dan tak bersemangat. Padahal tahun ini, dia dinobatkan sebagai The most beautiful student. *Penting* Apalagi Saya, kacrut se-kacrut kacrutnya. Hari ini, masih ada dua makalah yang harus diselesaikan. Hari ini kami masih sama-sama sakit. Beberapa waktu lalu, kami saling mengobati satu sama lain. Saya rasa sakit ini karena merindu bandara. Merindu banyak hal dan orang terdekat di sana. Setelah urusan semester kelar, masih ada thesis yang harus dirampungkan kalau mau angkat kaki dari asrama.
Frankly speaking, I got mixed feeling at the moment, sad and Happy at the same time. So happy today though I can’t figure out what makes me feel this happiness. For sure, I’m happy finally enjoying my winter break here as after all, I‘ll be missing Taiwan. :)