Apa yang harus dimulai, oleh keadaan yang tak pernah selesai. Sejatinya hidup, hanya dijalani satu kali. Yang satu kali tersebut bisakah menjadi berarti? Tentu saja semua orang akan berpikir 'semua yang kamu jalani sudah tertulis dalam surat nasib'.
Dan kita, apakah harus berpatok pada nasib yang tak terbaca itu. Menjalani hari, terpaku pada rutinitas klise. Mencintai orang lain, kemudian dilupakan? Seperti angin dingin yang bertiup pada musim kemarau, kering dan menerbangkan banyak harapan?
Manusia tak selesai dalam lembaran takdir, melanjutkan garis yang entah ke mana bergulir?
Orang bijak mengatakan, "Apa yang kamu lakukan dulu, ialah yang kamu jalani sekarang." Sungguh gila rasanya jika memikirkan kalimat tersebut. Lantas, bahagia dan cukup apakah teramat mewah bagi seorang pendosa.