Tidak pernah semuak ini, ya Allah pengen cepat akhir tahun ajaran.
h

Kiana Khansmith
$LAYYYTER

roma★
NASA
wallacepolsom
styofa doing anything
almost home
No title available
cherry valley forever

Janaina Medeiros
Peter Solarz

❣ Chile in a Photography ❣
Today's Document
YOU ARE THE REASON

Product Placement
Cosimo Galluzzi

★

No title available
One Nice Bug Per Day

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Kenya
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Germany
@liyaermawati
Tidak pernah semuak ini, ya Allah pengen cepat akhir tahun ajaran.
GTM
akupun sampai hari ini masih pejuang gerakan tutup mulut pada anak 😆.
Anakku sangat pilih-pilih makanan. Bermacam-macam cara sudah kami lakukan tapi belum sukses 💯.
Tak mengapa, kami tetap mendampingi dan mengupayakan agar dia tetap makan real food.
Jadi aku tidak punya tips untuk gtm ini 😆
Toilet training
Ketika niat toilet training yang pertama kali ku ucapkan "ya Allah bantu Shasa untuk bisa pipis di kamar mandi. Ya Allah bantu kami menjaga kesucian rumah kami aamiin"
Toilet training ini kami lakukan ketika liburan juga, pada saat Shasa usia 30 bulan. Kami butuh waktu luang, waktu senggang untuk menuntaskan misi ini.
Sebelum liburan memang kami coba, kadang berhasil dan sering gagalnya (ngompol). Ketika jeda selesai ujian, suami mencoba membawa Shasa ke sekolah, Alhamdulillah tidak ngompol tetapi baju dan celananya basah kuyup karena main air di sekolah.
Juga sebelum nya kami tidak pakaikan Pampers di sore-malam selama dua pekan berturut-turut.
Setelah kami mengerti ciri-ciri, dan Shasa faham. Ketika liburan tiba kami coba tidak pakaikan Pampers, sehari penuh. Alhamdulillah banyak berhasilnya.
Puji syukur Allah berikan kemudahan untuk kami dan Shasa melewati fase toilet training ini. Terimakasih ya Allah, terimakasih suami, dan shasa.
Menyapih.
Kebetulan aku dan suami seorang guru, yang ketika murid libur kamipun libur. Dulu kami memutuskan untuk menyapih Shasa ketika liburan. Kami ingin ketika dia disapih kami berdua mendampinginya, menemaninya, membuat dia percaya kalau kami begitu sangat menyayanginya meskipun sudah tidak bisa nen.
Atas izin Allah Shasa tidak disapih dengan ditakut-takuti juga tidak dengan diberi rasa pahit yang menimbulkan rasa terpaksa tidak mau. Shasa juga tidak kami sounding dengan kalimat 'sudah 2 tahun, sudah tidak nen ya'. Karena pernah kami terapkan ternyata dia ngamuk, nangis, tantrum.
Yang kami lakukan, ajak Shasa bermain bersenang-senang, diberikan makan sampai kenyang. Dan susu uht kebetulan Shasa ini sejak 17 bulan sudah dibantu susu tambahan. Tidak instan, butuh waktu satu Minggu untuk Shasa merasa baik-baik saja tanpa nen. Setelah masa libur selesai l, selesai juga masa sapih ini. Alhamdulillah terimakasih atas izinnya ya Allah.
Oh ya setiap mata Shasa terlelap kami selalu mendoakan, ya Allah berikan kelapangan hati kepada Shasa untuk sapih ini. Ya Allah berikanlah Shasa rezeki yang halal juga baik aamiin.
#sapih #workingmom #guru
resign
di usia 29 menginjak 30, ini pertama kalinya aku merasakan karyawan resign di perusahaan aku. bukan resign, ya, sebenarnya. karena kontrak selesai, dia-dia ini nggak dilanjutin lagi. parahnya, ada karyawan yang belum selesai kontrak, dia milih mundur di tengah jalan. padahal nanggung banget kontrak tinggal sedikiiiit lagi. tapi dia memilih untuk tidak profesional. sayang sekali, ya. dia nggak kasihan sama diri sendiri. ckck.
awalnya, respon aku: waduh, kok pada keluar ya.
tapi setelah dipikir-pikir dan sadar, kalau ada karyawan yang resign ya tinggal cari lagi. ngapain pusing-pusing? apanya yang dipusingin? wk.
kehidupan profesionalisme itu simpel sebenarnya. asalkan seimbang antara logika dan perasaan, semuanya aman-aman saja. jadi jangan logis-logis banget, tapi ya jangan terlalu baper juga.
semoga Allah selalu menuntun dan memberi keberkahan di kantor kami. aamiin.
Dengan tetap bekerja.
Aku tetap bangun pagi, memiliki rutinitas yang teratur. Memiliki pola hidup yang pasti.
Aku tetap bisa melanjutkan sekolahku, belajar dan mengajar membuat otakku tetap berputar.
Secara ekonomi, aku tetap bisa memberikan apa yang ibuku butuhkan. Meskipun hanya kecil-kecilan. Seperti hp, tas, kasur. Memang tidak mahal tidak banyak. Tapi ada kalau di meminta.
Secara amal jariyah Aku berharap apa yang ku sampaikan ke anak muridku, bisa difahami diterima dan diamalkan dengan baik. Yang mana kelak menjadi jariyah untukku.
Untuk keluargaku, terimakasih support nya
khusyuk
dalam rangka memperbaiki penghayatan sholat, saya membaca buku tentang sholat khusyuk kembali (judul bukunya Sholat Khusyuk Itu Mudah, karya Mardianto Santoso). ini sekilas ringkasannya.
sholat khusyuk itu, apa penyebabnya? kapan terjadinya? ada yang bilang dengan berkosentrasi, ada yang bilang dengan memahami arti doa dalam sholat, ada yang bilang dengan menghadirkan Allah. akan tetapi, seringkali rumus yang manjur bukanlah itu.
sholat khusyuk biasanya terjadi saat kita ada masalah. kita memohon dan menyerahkan diri kepada Allah sampai air mata bercucuran. padahal saat itu mungkin kita tidak sedang berkonsentrasi, tidak "menghadirkan Allah", tidak paham juga apa yang dibaca. namun, rasanya Allah dekat.
rupanya, penyebab sholat yang khusyuk adalah sikap kita saat menghadap kepada Allah. seberapa rendah kita meletakkan diri kita, seberapa tinggi kita berserah kepada Allah. saat itulah khusyuk itu hadir. oleh karena itulah, sholat khusyuk sebenarnya mudah saja.
dalam suatu kajian Ustad Donny Amir Sagaf, beliau menjelaskan kesalahpahaman kita tentang doa. doa bukanlah aktivitas meminta, memohon, bukan. doa adalah aktivitas menyeru, memanggil.
saat hati kita memanggil Allah, saat itulah Allah menjawab kita. kita kira, Allah menjawab doa kita jika permohonan kita terkabul. padahal bukan. itu urusan lain. Allah selalu menjawab panggilan kita, seruan kita. Allah selalu menjawab doa.
sholat yang khusyuk itu, mungkin adalah sholat yang hatinya benar-benar berdoa. benar-benar memanggil Allah. benar-benar berpasrah di hadapan Allah. benar-benar menundukkan diri kita.
sholat khusyuk itu mudah dan bisa dinikmati siapa saja--tidak harus pemuka atau ahli agama. semoga Allah mengizinkan kita untuk terus sholat dengan khusyuk.
prompt 7.
kapan terakhir kali kamu merasa sholatnya benar-benar khusyuk? sedang seperti apa kondisi hatimu saat itu?
doa untukmu
jika ada, semoga Allah mengangkat semua rasa sedih, marah, kecewa, takut, curiga, dendam, dan khawatir dari dadamu. semoga Allah menggantinya dengan kelapangan dan kesabaran. semoga Allah menghapus dosa-dosamu dari datangnya perasaan-perasaan itu.
semoga Allah memberimu petunjuk hidup yang terang benderang. semoga hidayah selalu turun kepadamu. semoga kamu mendapatkan undangan dari Allah untuk senantiasa bertaubat.
semoga kamu bisa menerima kenyataan, memperoleh kemenangan. semoga kamu bisa memeluk dirimu sendiri dengan kejujuran---dan menjadi lebih kuat setiap harinya. semoga Allah menyembuhkan semua luka.
semoga kamu bisa memaafkan orang-orang yang menurutmu jahat, yang menurutmu telah merebut kebahagiaanmu. orang-orang yang melukaimu. orang-orang yang kamu tertawakan, kasihani, benci. tolong maafkan (kami) ya.
semoga kamu segera dipertemukan Allah dengan seseorang yang baik, yang menyayangi segalamu dengan segenap jiwa dan raganya, dengan ketaatan dan keimanan yang semestinya. yang menghargaimu dan selalu cenderung kepadamu, hanya kepadamu. yang janjinya selalu ditepati. yang membawamu ke tempat-tempat jauh itu.
semoga semua mimpimu terwujud satu per satu. semoga kamu mencapai semua garis finish. semoga kamu menaklukkan semua puncak. semoga yang kamu cintai tumbuh dan mekar dengan hebat.
semoga kamu menemukan ketenangan dan kebahagiaan. di dunia. di akhirat. selamanya.
lapis-lapis penerimaan
ya Allah. engkau adalah Allah yang maha merencanakan. engkau adalah Allah yang maha menetapkan. engkau adalah Allah yang maha memiliki seluruh pengetahuan. ya Allah, aku beriman kepada-Mu dan kepada takdir-Mu. maka, bantu aku ya Allah.
bantu aku untuk tidak menentang takdir-Mu, ya Allah. bantu aku untuk tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak mendendam kepada siapa-siapa, tidak membenci siapa-siapa. bantu aku untuk tidak berandai-andai tentang hal yang tidak bisa aku ubah. bantu aku untuk tidak mengungkit-ungkit hal yang hanya akan menambah luka. bantu aku ya Allah.
bantu aku untuk menerima takdir-Mu ya Allah. bantu aku untuk memahami bahwa setiap orang beriman pasti diuji. bantu aku menyadari bahwa ada takdir-takdir yang adalah karena ulahku sendiri. bantu aku mengerti bahwa yang terjadi pasti adalah yang terbaik menurut-Mu. bantu aku untuk memeluk setiap perasaan yang hadir bersama dengan ujian ini. bantu aku untuk memaafkan segalanya.
bantu aku untuk mensyukuri takdir-Mu ya Allah. bantu aku menemukan ibroh dan hikmah dari takdir-Mu. bantu aku sampai kepada khidr moment-ku. bantu aku tidak hanya untuk melihat pelangi setelah badai, tetapi juga memahami mengapa badai ini turun ke bumi, kepadaku.
bantu aku untuk mencintai takdir-Mu ya Allah. bantu aku untuk bertaubat. bantu aku untuk menjadikan ujian ini titik balikku, titik kebangkitanku, titik kembaliku. bantu aku untuk keluar dari badai ini sebagai seseorang yang baru, seseorang yang lebih tebal imannya, lebih bertakwa. bantu aku terus bergerak.
ya Allah, kata-Mu, tidak ada ujian yang melampaui kesanggupan penerimanya. dengan imanku yang aku upayakan ini ya Allah, aku yakin bahwa aku akan sanggup——jika engkau membantuku. maka, bantu aku ya Allah. bantu aku tidak menentang takdir-Mu. bantu aku menerima takdir-Mu. bantu aku mensyukuri takdir-Mu. bantu aku mencintai takdir-Mu, mencintai-Mu.
tapi sekarang
ada seseorang bertangan besi yang sudah menghabisi 99+1 nyawa. tetapi Allah menerima taubatnya karena saat meninggal, dia lebih dekat ke kota yang menjadi tujuannya hijrah.
ada seorang wanita yang pekerjaannya menjajakan diri. tetapi Allah mengampuninya karena dia pernah memberi minum seekor anjing yang kehausan.
Umar dulunya sangat membenci Islam. tetapi beliau wafat sebagai sahabat Rasul. Ikrimah yang ikut melawan Islam dalam perang-perang, hatinya dibalik oleh Allah.
masih banyak lagi kisah orang yang dalam hidupnya pernah tersandung dosa-dosa besar, tetapi meninggal sebagai syahid. bukan di masa lalu, orang-orang itu ada di masa kini. bahkan, mungkin di sekitar kita. coba ingat-ingat lagi siapa saja.
manusia itu tergantung bagaimana akhirnya. seburuk-buruknya masa lalu, jika Allah mengizinkan dirinya bertaubat, Allah akan menerima karena Allah Maha Mengampuni (Az Zumar: 53).
maka, janganlah kamu menghakimi orang lain atas masa lalunya. sebab bisa jadi, "tapi sekarang"-nya lebih baik darimu. tapi sekarang, dia sholat taubat setiap hari. tapi sekarang, dia bersungguh-sungguh menebus semua kesalahannya. tapi sekarang, dia senantiasa bergegas mendekat kepada Allah.
dan nggak ada yang tahu bilamana di masa depan, "tapi sekarang"-nya lebih baik lagi, lebih banyak lagi, lebih megah lagi. nggak ada yang tahu bilamana di masa depan, amalan kamu justru tidak ada apa-apanya.
kata orang, dosa itu kelihatan tapi tidak dengan taubatnya. itulah alasan kamu harus berhenti merasa lebih baik dari orang lain.
tapi menurutmu, taubat itu justru terlihat dengan sangat nyata dan terang-terangan. dia yang bertaubat, hatinya tenang. dia yang bertaubat, hidupnya bahagia meskipun banyak ujian dan cercaan. dia yang bertaubat, tidak takut apa-apa.
tapi sekarang, dia sudah bertaubat. lantas, kamu mau apa?
Tulisan : Jangan sampai.
Rumah tangga yang dibina saat ini adalah buah dari keputusan kita dulu. Keputusan yang kita ambil sewaktu muda, penuh dengan mimpi-mimpi besar. Mimpi yang kemudian bertemu dengan realita tentang kehidupan berumah tangga yang mulai tampak aslinya.
Mulai urusan soal bagaimana bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah, kendaraan, biaya hidup sehari-hari, biaya kehamilan dan kelahiran anak, biaya keperluan anak, biaya pendidikan, dsb. Sesuatu yang dulu, sewaktu muda, kita pikir, akan mudah saja jalannya. Ternyata, harus bekerja dari pagi hingga malam untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
Bahkan, mimpi-mimpi besar kita untuk bisa bermanfaat bagi banyak orang, meraih aktualisasi diri dengan beragam kegiatan sosial, harus ditunda entah sampai kapan. Karena kita masih harus mendampingi tumbuh kembang anak kita, ditambah, kesibukan dan rutinitas sehari-hari yang mulai memakan sebagian besar waktu kita.
Beberapa di antara kita mungkin ada yang merasa hilang dari kehidupan ini. Tenggelam di dalam aktivitas yang berulang. Kehilangan jati diri karena tidak ada ruang untuk beraktualisasi, me time, ataupun waktu untuk menambah kapasitas diri kita melalui pendidikan ataupun bentuk pengembangan diri lainnya. Anak kita menangis, mencari kita. Keluarga kita, harus kita beri makan dan tempat tinggal yang layak.
Tenyata, kehidupan yang dulu kita inginkan, penuh dengan bayangan keindahan dan hal-hal manis. Tidak semanis itu prosesnya, tidak seindah itu lelahnya. Mungkin kita harus mengalah, mengalah pada keadaan bahwa apa yang menjadi mimpi besar kita mungkin harus ditunda. Sampai saat nanti kita sudah berdikari, keluarga kita sudah cukup stabil dalam banyak hal, dan juga kita memiliki kapasitas untuk melakukan hal-hal yang besar tanpa khawatir lagi keluarga akan terlantar.
Kalau pun lelah, jangan sampai keluar kata kasar, hardikan, ke pasangan, ke anak. Memang, sejak awal tidak mudah, tidak ada yang menjanjikan bahwa segala sesuatunya akan mudah sekalipun kita menikah dengan orang yang kita cintai, sevisi, semisi. Tapi, paling tidak dengan menikah dengan orang yang tepat, sebagian besar beban itu terangkat.
Bayangkan jika kita harus menjalani pernikahan dengan realita yang demikian, tapi pasangan kita bukanlah orang yang bisa diajak bicara, tidak bisa menerima masukan, sibuk dengan dunianya sendiri, tidak peduli dengan anak atau pasangan, dan merasa sudah menjalankan kewajiban hanya dengan bekerja dan memberi uang.
©kurniawangunadi
lapis-lapis syukur
baru-baru ini saya mendapat nasihat tentang syukur dari ibu. materi ini diperoleh ibu dari suatu kajian. hati saya terketuk untuk melihat seberapa dalam saya sudah bersyukur. begini kira-kira catatan ibu.
yang kita sebut dengan syukur tidak cukup jika hanya sampai pada lisan saja. "Alhamdulillaah..." "Terima kasih..." ya, itu syukur tetapi baru permukaan saja.
yang kita sebut dengan syukur harus kita buktikan dengan memanfaatkannya. tidak boleh ada yang mubazir, yang tidak terpakai sia-sia. entah waktu kita, energi kita, harta kita. lalu kesempatan, kesehatan, kehadiran orang-orang di sekitar kita.
tapi, rupanya itu juga masih lapisan luar. yang kita sebut dengan syukur adalah menghasilkan sesuatu dari yang kita manfaatkan itu. entah menjadi energi baru, harta baru, kesempatan baru, pengalaman baru, pemahaman baru, karya baru. sesuatu yang kita manfaatkan menjadi sesuatu yang ada hasilnya.
cukup? masih belum. yang kita sebut dengan syukur adalah berbagi, meninggalkan sedikit saja jejak amalan atau ilmu kita. agar yang kita dapatkan, manfaatkan, dan hasilkan itu bisa bermanfaat bagi orang lain pula. sesuatu yang berwujud hasil itu menjadi sesuatu yang ada dampaknya.
terakhir, yang kita sebut dengan syukur adalah melakukannya dengan istiqomah. karena hanya keajekan dan keteguhan amalan yang bisa membuahkan hasil atau perubahan yang ajek dan teguh pula. inilah lapis syukur yang paling dalam. sesuatu yang ada dampaknya itu menjadi sesuatu yang langgeng.
prompt 5.
bagaimana denganmu? seberapa rutin kamu mengucapkan syukur? apakah kamu sudah memanfaatkan hidupmu dengan optimal? apa yang sudah kamu hasilkan dari kesempatan itu? apakah kamu sudah membaginya? apakah kamu sudah istiqomah?
Dunia Kerja
Rahasia umum kalau dunia kerja itu penuh dengan drama, pressure, politik kepentingan, circle²an, pokoknya banyak hal yang out of the box.
Untuk terbebas dari semua hal rumit itu kamu hanya perlu fokus dengan dirimu sendiri, fokus dengan apa yang dapat kamu kendalikan, tanggung jawabmu, serta perlakuanmu kepada orang lain.
Selebihnya bukan tanggung jawabmu; respon orang lain, sikap orang lain, kamu tidak bertanggung jawab akan hal itu.
Satu pesan pentingnya adalah; jangan pernah ikut andil dalam ghibah, terlepas dari apapun alasannya.
Suatu kemustahilan ketika kamu inginkan ridha dari semua manusia. Tak akan bisa.
Sesederhana meluaskan hati, memanjangkan sabar, menjaga lisan, fokus dengan apa yang ingin dicapai, dan itu CUKUP:)
Datang - Kerja - Pulang - Lupakan.
Dan tak lupa, tanamkan mindset ini:
1. Jangan berharap apapun dari tempat kerjamu. Lakukan saja tugasmu dengan baik dan sukai pekerjaanmu.
2. Bersikaplah netral dan sewajarnya, karena sikap too much akan membuat mereka sewenang-wenang, seolah tak ada batasan apapun.
3. Jangan meludahi sumur tempatmu minum. Sesederhana kalau sanggup lakukan, kalau tidak silahkan resign~
Rumit yaa, namun begitulah realita kehidupan dewasa. Semoga kamu kuat yaaa!
Catatan:
Buku Yang Berbahagia ini berisi catatan persiapan dan perjalanan menikah. Meskipun bukan buku how-to, di dalamnya cukup banyak nasihat praktikal. Meskipun bukan buku agama, isinya mengandung sentuhan Islami.
Oya, bagi yang ingin membaca buku saya yang lainnya, Bertumbuh dan Teman Imani bisa dipesan melalui Tokopedia, yaitu di toko buku LangitLangit.YK.
Sekali lagi terima kasih karena berkenan membaca tulisan-tulisan saya. Semangat dari teman-teman sangatlah tak ternilai.
Bismillah perkenalan nama saya Liya Ermawati. Sya ingin berkesempatan membaca buku yang berjudul, yang berbahagia. Alasannya sederhana, ingin jadi orang yang berbahagia mendapatkan buku itu. Karena saya percaya di dalam buku ituu ada pesan kesan yang disampaikan untuk mentransfer energi bahagia ke pembacanya.
Terimakasih Allah untuk banyak kebaikan di Mei ini. Semoga bulan-bulan selanjutnya juga sama. Banyak kebaikan dan keberkahan yang Allah hadirkan.
Wanita Sebagai Pewaris Peradaban
25 Oktober kemarin, almamater saya, ISLAH (Ikatan Silaturahmi Alumni Husnul Khotimah) sempat mengadakan acara sekolah ibu di Mesir, dengan mengundang pak Cahyadi Takariawan sebagai pematerinya. Beliau adalah seorang konsultan pernikahan dan keluarga. Materi yang beliau sampaikan sangat menginspirasi, oleh karena itu sayang sekali jika hanya segelintir orang yang mendapatkannya.
Tulisan ini saya buat, dengan menambahkan beberapa opini saya di banyak perkataan pak Cah untuk mewakili keseluruhan materi acara sekolah ibu. Sekedar sharing, semoga bisa diambil manfaatnya.
-------------------------------------
"Menjadi akhwat harus kuat dan pintar, kamu tidak hanya akan menjadi seorang pendamping, melainkan partner sesosok manusia lain untuk membangun peradaban. Sebagai seorang teman ibadah, teman mengokohkan diri pasanganmu yang akan menemukan garis finish bersama yaitu membangun generasi yang gemilang."
Sekolah ibu; layaknya sekolah kehidupan yang prosesnya memakan waktu setiap hari, namun berpotensi memberikan dampak besar bagi peradaban.
Berbicara dengan kata peradaban tentunya bukan hanya perjuangan menghasilkan bibit unggul untuk mengubah dunia setahun kedepan, melainkan sampai seratus tahun kedepan.
Ketika kita memakai konteks akhwat (agar beban dan tujuan akhirnya terasa lebih besar) sebagai pewaris peradaban, tentunya kita sudah harus selesai dengan urusan diri sendiri seperti beban-beban masa lalu, serta beberapa hal yang masih dirasa kurang dari pribadi.
Agar nantinya setelah menikah kita bisa memikirkan hal yang lebih besar seperti mendidik dan menciptakan generasi yang potensial dalam membangun peradaban islam.
Mengutip perkataan pak Cahyadi Takariawan, bahwa strong person itu lahir dari strong family, dan adanya strong family juga salah satunya karena peran seorang ibu yang sangat besar dan visioner.
Menjadi seorang calon ibu/ibu di masa kini, tentunya kita harus bisa menyelaraskan antara urusan rumah dan membangun peradaban. Anggapan seperti, "Ah, boro-boro ngurusin peradaban, mikirin besok masak apa aja udah pusing.", jika kita telaah dari fungsi seorang ibu, tentunya ini anggapan yang sangat tidak relevan. Sebab, mengurus rumah dan membangun peradaban adalah dua hal yang tidak saling meniadakan, melainkan saling selaras.
Oleh karena itu untuk tetap menjaga agar kedua hal ini selaras, dalam berumah tangga perlu adanya 3 lapis yang harus dipahami. Lapis pengetahuan, lapis kesadaran, dan lapis aplikasi. Pertama, seorang ibu harus mengetahui dengan benar visi dan misinya untuk membangun sebuah peradaban. Kedua, seorang ibu harus sadar bahwa pengetahuan harus dibarengi oleh kesadaran, bahwa ia tetaplah seorang ibu yang meski dengan tugas mengurus rumah, ia tidak bisa mengabaikan mendidik anaknya sendiri. Sebaliknya, walaupun ia memiliki keaktifan di luar rumah, ia juga harus sadar bahwa rumah tetaplah tempat ia pulang dan membangun peradaban. Ketiga, adalah aplikasi dari seluruh pengetahuan dan kesadaran yang ia miliki.
Menelaah dari sebab-sebab keluarga menjadi kuat, ada beberapa prinsip strong family yaitu diantaranya adalah hubungan suami istri yang kuat menjadi sentral dalam membangun keluarga. Anak-anak akan tumbuh optimal jika memiliki lingkungan dan keluarga yang bisa memberikan efek baik baginya.
Sebagai calon ibu, kita perlu mengerti bahwa ada beberapa fase dalam sebuah keluarga. Fase pertama, saat hanya berdua dengan suami. Fase yang sedang senang-senangnya, waktu hanya untuk berdua. Lalu datang fase kedua, saat sudah dikaruniai seorang anak. Fase inilah yang menuntut seorang ibu harus bijak dan pintar mengetahui perannya. Ia harus tetap sadar, meski telah menjadi seorang ibu, ia juga adalah seorang istri bagi suaminya. Sehingga ketika seorang ibu sudah paham peran, maka kewajiban sebagai seorang istri juga masih dia tunaikan dengan baik.
Fase ketiga adalah ketika anak sudah mulai memasuki sekolah. Disini diperlukan kerjasama yang baik antar ayah dan ibu, sebab waktu tidak lagi hanya milik berdua lagi, tetapi juga milik si buah hati. Fase keempat, fase yang banyak disalahpahami dan banyak ujiannya; ketika anak sudah mulai remaja. Disinilah diperlukan konsentrasi penuh dalam mendidik anak remaja. Salah satu yang harus diketahui para ayah dan ibu adalah ketika seorang anak remaja menolak sebuah perintah atau kebijakan yang telah ditetapkan, itu bukan berarti ia membangkang. Melainkan ia hanya menggerutu, oleh karena itu diperlukan konsentrasi besar dalam memahaminya.
Fase kelima, selanjutnya ketika anak sudah menikah. Diperlukan pemahaman juga ketika melepaskan anak yang ingin menikah, senagai ayah/ibu, ketika sudah memiliki visi misi membangun peradaban, maka mereka akan siap kapanpun untuk melepas anaknya. Sebab, nilai-nilai baik sudah tertanam di pribadi anaknya tersebut. Fase keenam, adalah ketika seluruh anak sudah menikah dan kembali menghabiskan waktu berdua sebagai kakek dan nenek. Fase terakhir, adalah fase dimana salah satu dari pasangan sudah kembali lebih awal menuju Tuhan. Seluruh fase ini, perlu dipahami dan dimengerti dengan baik, perlu disiapkan visi misi membangun keluarga, agar siap kapanpun dengan perubahan yang terjadi.
Selain fase-fase keluarga yang sangat penting untuk dipahami, ada 4 hal yang harus dihindari dalam kehidupan berumah tangga, yaitu saling mengritik, saling mencela, saling menyalahkan, dan membangun benteng. Ketika sudah memiliki 4 hal ini, perlu adanya kesadaran dan kedewasaan yang dibangun. Ketika tidak bisa mengembalikkan ke kondisi semula yang harmonis, ada baiknya jika meminta saran dari anggota keluarga/bahkan teman yang dirasa memiliki kekuatan dalam menjalin komunikasi.
Memahami pasangan, memahami mertua, memahamkan orang tua sendiri tentang bagaimana kehidupan rumah tangga yang nantinya akan dijalani, seperti apa visi misinya, apa saja tujuan dan targetnya tentu tidak serta merta bisa dibangun dalam waktu yang cepat. Perlu pemahaman yang dalam untuk bisa berkomunikasi dengan semua pihak keluarga, terkhusus pasangan sendiri. Atas sebab ini, kita perlu memahami apa itu 'Bahasa Cinta' dalam keluarga.
Bahasa Cinta adalah cara mudah berkomunikasi, cara simpel memahami satu sama lain agar bisa meminimalisir hal yang tidak menyenangkan terjadi. Ada 5 bahasa cinta, diantaranya adalah affirmasi/kata-kata, pelayanan, quality time, hadiah, dan sentuhan fisik.
Jika kita bisa memahami apa bahasa cinta pasangan kita, maka tidak akan ada anggapan, "Suamiku/istiku tidak romantis.", tapi ketika kita sudah paham, maka kita akan menjadi sosok paling romantis di hidup pasangan kita.
Seorang suami yang bahasa cintanya adalah pelayanan, ia tidak nyaman ketika sepulang dari kerja istrinya belum menyiapkan apa-apa untuk dimakan. Namun, suami yang bahasa cintanya adalah quality time, ada/tidak adanya makanan di atas meja tidak akan berpengaruh. Sebab, suami dengan bahasa cinta quality time sudah sangat bahagia apabila istrinya menemaninya kemanapun dia pergi. Berada disampingnya, sebagai istrinya sudah sangat cukup bagi suami dengan bahasa cinta quality time.
Lain halnya dengan suami yang bahasa cintanya hadiah. Seorang istri harus sering memberikan hadiah, karena menurut suaminya itulah hal paling romantis dalam suatu hubungan. Sehingga, hadiah menjadi momen untuk menambah tangki cinta suami yang memiliki bahasa cinta hadiah. Seorang suami yang bahasa cintanya adalah kata-kata, ia sangat senang jika diberikan puisi-puisi indah dan gombal dari istrinya. Ia tidak butuh hadiah, pelayanan dan quality time karena yang paling dianggapnya penting adalah kata-kata dan rayuan istrinya. Versi lain lagi, ketika suami memiliki bahasa cinta sentuhan fisik, maka dia akan sangat senang saat sepulang kerja ia bisa merasakan istrinya ada disampingnya, menggait tanggannya, dan menyandarkan bahu padanya.
Begitupun sama halnya bahasa cinta yang dimiliki oleh seorang istri yang harus dipahami oleh suaminya. Jika bahasa cinta pasangan sudah kita ketahui, maka akan lebih mudah untuk berkomunikasi. Tentunya bahasa cinta ini juga bisa diaplikasikan ketika ingin berkomunikasi dengan orang tua, mertua, dan lain-lain.
Dari pemaparan-pemaparan terkait edukasi menjadi seorang ibu yang ideal dan bisa mewarisi peradaban, begitu pentingnya kita terus belajar sedari muda akan hal-hal yang bisa menjadi bekal rumah tangga nantinya. Oleh karena itu, sekolah ibu sama sekali bukan hanya untuk mereka yang sudah menikah, melainkan sangat bermanfaat jika diikuti oleh mereka yang belum menikah. Agar bisa banyak mengevaluasi diri sendiri sebelum nantinya menjadi manusia dengan dua peran; seorang istri dan seorang ibu.
Selamat belajar, para calon ibu pewaris peradaban!
Oleh: Faramuthya Syifaussyauqiyya
Sumber: pak Cahyadi Takariawan
Kairo, 28 Oktober 2019 || 1.48 am