Hati-hati saat meminta orang lain pergi.
Kesuksesan ini bukan milikmu seorang diri!

No title available
Cosmic Funnies
todays bird

bliss lane
No title available

pixel skylines
The Stonewall Inn
Interview Vampire Daily
No title available
★
KIROKAZE
𓃗
I'd rather be in outer space 🛸
Misplaced Lens Cap

ellievsbear

if i look back, i am lost
hello vonnie
macklin celebrini has autism

titsay
ojovivo

seen from France
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Albania

seen from Malaysia
seen from Austria

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from Belgium
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from Nigeria
seen from Malaysia
seen from Slovenia
seen from Bangladesh
seen from Norway

seen from Norway
@ljbarany-blog
Hati-hati saat meminta orang lain pergi.
Kesuksesan ini bukan milikmu seorang diri!
Suatu kali, di sekretariat organisasi yang gue tekuni, terjadi perbincangan dengan kawan sejawat.
T: “Yuk, nonton XXXX tanding basket.. kita udah janji tau sama dia.”
R: “Gue pergi kalau XXXXX pergi.”
T: “Ngapain bergantung sama orang lain kalau bisa dikerjain sendiri.”
Penghuni sekretariat yang lain: “waduuuh... Sakit.”
Mengingat betapa seringnya R berlaku tidak tegas dan bimbang, gue kembali menimpali: “Lo tuh cowok. Dan lo kayak gitu?!”
F: *nunjuk gue* “heh kok lo sexist banget sih?!”
Saat itu, gue ga mengerti sexist itu apa dan kenapa itu penting. Gue juga tidak pernah berencana untuk mencari tahu. Tapi, respon yang tegas dan cukup keras F terus terngiang di benak gue. (Omong-omong, bersikap kritis satu sama lain adalah hal yang lumrah dilakukan di organisasi ini, termasuk menegur dan menyatakan ketidaksetujuan di depan umum. We agree to disagree. And that’s totally okay). Apa yang salah dari mengharapkan cowok bertindak lebih tegas sehingga terlihat lebih jantan?
Hm. Belakangan, gue merasa ini ekspektasi yang keliru. Gue termasuk salah satu produk kebudayaan dan pemikiran yang berkembang di masyarakat bahwa laki-laki harus ‘lebih’ bisa memutuskan. Sampai akhirnya, gue ‘merasa’ ini memberikan kesan bahwa segala beban kehidupan diserahkan di pundak laki-laki dan seringkali perempuan tidak memiliki otoritas untuk memutuskan sesuatu terkait tubuhnya sendiri.
Isu megenai kesetaraan gender adalah sesuatu yang masih gue pelajari. Namun, hingga saat ini, setidaknya gue mulai tercerahkan bahwa ketimpangan gender bukan hanya masalah perempuan, tapi seluruh manusia. Setidaknya, dengan memberikan kesempatan yang sama-sama untuk perempuan, misalnya untuk melanjutkan sekolah, berkarir dan memilii properti, akan berdampak pada perekonomian secara keseluruhan dalam jangka panjang. Adapaun untuk laki-laki, hal yang paling sederhana adalah dengan adanya kesetaraan, pandangan bahwa laki-laki harus lebih ini itu semakin berkurang. Sebab melihat laki-laki sama seperti manusia lainnya, bukan makhluk superior. Kalau kata bandnya Al El Dul pas masih kecil: “aku bukanlah superman. Aku juga bisa nangis.” So, it’s ok to feel sad, dude. It doesn’t make you less gentle than before.
Love ya,
((yang lagi belajar gender equality karena skripsi))
Tary
Teras kosan, 16 Desember 2017
....dan perasaan seperti ini datang kembali.
Orang-orang mungkin mulai muak dengan betapa seringnya saya membatalkan janji. Ketiduranlah, sakitlah, dan beragam alasan lainnya. Sampai saya muak dengan diri sendiri. Tidak benar-benar tahu apa yang terjadi belakangan ini, kinda stress I think. The moment I promise myself to build a good habit, and then I break my own promises. The moment when I think I have so many things to say, but no one wants to listen. I guess they get bored with all of my complaints and insecurities. I feel failed.
When I have the chance to be with a lot of people, I get confused. I don’t know what to say. I don’t know how to react. I hate myself for being like this. Why it happen at time like this? In the middle of final exam. I have failed at mid-test. I don’t want the same things happen.
To all the pain, the sickness, please go. I’m tired. I dont want to ruin my heart..and my soul.
The real truth Our real existence is more than what we are able to understand. Only the deepest part of us knows the real truth. How can your mind understand this entire existence, all dimensions and beyond, when it can only perceive this one physical dimension? Can the finite understand the Eternal? Wake up and feel. Start to remember through your heart. Your heart knows. You are merely a speck of dust in this grand universe, but for more than millions of years, you have been coming back here many times on your journey. So, why are you still here?
Happy birthday, beloved self! #FirstSongon21st
“..Impianmu terbangkanlah tinggi. Tapi slalu pijakkan kaki dibumi ..”
Jangan ekspektasi apapun dari orang lain
Jangan..
Jangan..
Karena
Kamu melihat apa yang tidak mereka lihat,
Kamu memikirkan apa yang tidak pernah mereka pertimbangkan.
...and for many reasons, you cry again.
When was the last time you cry, Tar?
This afternoon, just right after the class.
Seringkali kita hanya melihat keberhasilan seseorang dan mengabaikan cerita di balik kesuksesannya.
Selama saya menjadi mahasiswa, tidak jarang teman-teman saya terkejut saat tahu bahwa saya tidak berasal dari Jakarta, melainkan merantau dari Makassar. Kata mereka, "gue pikir lo SMAnya di Jakarta, Tar. Soalnya logat lo lancar banget. Bahkan gue pake aku-kamu, lo balasnya masih lo-gue."
Puji Tuhan, sekarang gue tidak lagi terbata-bata menggunakan lo-gue. Apakah itu seketika? Jelas tidak. Bahkan untuk hal sesederhana cara bicara pun, saya perlu latihan.
Teringat pertama kali saya ke Jakarta adalah tahun 2012, yaitu saat mengikuti OSN. Kala itu saya sungguh anti-sosial, pemalu, sungkan untuk berkomunikasi dengan orang-orang. Lidah saya seringkali keluh ketika hendak membalas pertanyaan orang. Bahkan untuk sekadar menjawab, "aku mau mandi" dan "saya makan duluan ya".
Setelah itu saya terus-terusan latihan. Berbicara dalam benak saya, berbicara sendiri, menulis postingan blog dan twitter, semuanya sering sekali menggunakan gue-lo dan aku-kamu. Padahal, followers saya kebanyakan pakai saya-kau. Mungkin waktu tidak sedikit yang mengira "sok banget ni orang. Sok logat." But yes it was for the sake of exercising myself. Beberapa hal bahkan sampai memengaruhi kehidupan akademis saya. Misalnya, saat sedang berpresentasi untuk sebuah mata pelajaran di kelas, saya menjadi sangat formal dari segi tata-bahasa. Seorang teman bahkan sempat berbisik ke teman lainnya, katanya, "ea tawwa Tary anak UI ji" tentunya omongan-omongan kecil seperti itu membuat tidak nyaman. But the show must go on. I have a purpose, before they have their opinions.
Entah mau dibilang sok karena berlogat, terlalu formal, cari muka, atau apapun itu. Hal-hal tersebut bukan tujuan saya. Tujuan saya adalah untuk melatih diri agar terbiasa. Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk mulai terbiasa dengan cara bicara yang seperti ini. Dan apa yang menurut teman-teman saya terlihat alamiah, exactly not. It is all about training and training, for years.
Dan melalui apa yang saya alami, saya berusaha menghargai pencapaian orang-orang. Semakin hari, semakin banyak prestasi orang sekitar yang saya temui, and I know for sure that they invested their time, effort, and money for what they already achieved now. Hanya mungkin apa yang saya ketahui adalah apa yang nampak dipermukaan.
Di saat sedang makan di warung tenda pinggir jalan.
Tary: *membuka print an bahan ujian*
Mama: Tary ko nda bosan belajar?
Tary: mama, baru ka belajar ini..
Mamaku tidak tahu bahwa sudah 3 hari ini saya berleha-leha di tempat tidur, nonton film di HOOQ, dan bahkan rela nonton film sendiri tengah malam di bioskop hanya karena penasaran Blade Runner 2049. Mama pikir saya anak yang belajar 24/7. Padahal, lebih sering buka sosmed daripada bahan kuliah.
Jadi merasa bersalah :(
bagian terbaik dari nongki di Starbucks ini adalah mengamati mahasiswa pertukaran dari Korea. Setiap hari mereka selalu ada hehehe
Let me go home
” And I've been keeping all the letters, That I wrote to you, Each one a line or two, I'm fine, baby, how are you, Well I would send them but, I know that it's just not enough, The words were cold and flat, And you deserve more than that. “
Kuki Store and Cafe, Bogor
15 Oktober 2017
“Pekerjaan tidak akan selesai hanya dengan dipikirkan, Tar,” kata hati terus-terusan. Memang dasar kepala batu. Sekalipun pikiran punya power and we have no idea about the capability about our thoughts, our action are still playing an important role.
Berangkat dari Santika Botani segera lantaran mau berproduktif ria di salah satu cafe dengan konsep bookshop di Bogor. Sayangnya, sesampai di lokasi, kafe tersebut terlalu penuh. Tersisa bangku-bangku di smoking area, tentunya bukan pilihan yang oke di saat udara sedang panas-panasnya. Untungnya, masih ada beberapa kafe di sekitarnya. Jadilah saya di kafe lucu ini.
Menyenangkan. Menenangkan.
Imajinasi melambung, menembus batas-batas. Mengabaikan bisikan hati tentang pikiran yang tidak menjadi nyata.
Kuseruput kopi. Ini cangkir ketiga siang ini. Mengantuk sekali, padahal saya tidak begadang semalam. Mungkin lagi-lagi saya harus berhadapan dengan rasa malas?
What if my greatest disappointments or the aching of this life is the revealing of a greater thirst this world can't satisfy? What if trials of this life, the rain, the storms, the hardest nights are your mercies in disguise?
Laura Story’s Blessings