Alea dan Lukanya
Oleh Rathi Aulia
“Lo beneran enggak mau ikut, Le?” Hari ini sudah kesekian kalinya Nadine melontarkan pertanyaan itu kepada sahabatnya, Alea.
“Enggak, Na. Gue hari ini mau ke Perpustakaan.”
“Okey deh. kita duluan ya, Bye, Ale-Ale.” Ledek Nadine.
“Bye, Hati-hati dijalan.”
Kalimat terakhir itu menutup obrolan Nadine dan Alea. Nadine segera bergegas mengambil tas selempang miliknya dan berjalan bersama kawannya yang lain menuju angkutan umum yang selalu standby dipinggir jalan kota yang ramai. Meski matahari siang bersinar sangat terik, namun hal ini tidak mengubah semangat Nadine dan kawan-kawannya yang berencana untuk menghadiri konser Artis Impian seluruh Mahasiswa di kampusnya.
Di sisi lain, Alea berhenti di sebuah Perpustakaan yang sering ia datangi. Baru saja ia membuka pintu, buku-buku cantik bersampul warna-warni yang berjajar terpampang di depan muka Alea seakan menyambutnya. Alea merasakan ketenangan ketika mencium bau khas buku-buku itu. Sudah begitu lama ia tak dapat membaca buku Novel karena kegiatan kampusnya yang sangat padat. Dan hari ini adalah hari yang tepat untuknya. Tanpa berfikir panjang, ia pun segera menelusuri deretan buku-buku yang tersusun rapi di rak.
Tak sampai 5 menit, langkah Alea terhenti pada buku kesukaannya. Buku bersampul merah muda dan berjudul; Butterflies karya Alesacakes. Sayangnya, buku itu berada pada rak yang lebih tinggi dari tinggi badannya yang hanya 155 cm. Lelaki berpostur tubuh tinggi dengan headphone yang ada dikedua bahunya tidak sengaja sedang melihat buku dibarisan rak yang sama dengan Alea, mau tidak mau harus membantu Alea untuk mengambil buku yang Alea inginkan. Alea yang tidak sadar dengan kedatangan Kean itu terkejut. Malunya, Alea hampir terjatuh karena tersandung oleh tali sepatunya sendiri namun tertahan oleh tangan Kean. Segera Alea buru-buru membenarkan posisi tubuhnya kembali dan mengambil buku Butterflies itu ditangan Kean.
“Terima kasih.” Ucap Alea.
Suasana yang begitu canggung itupun membuat Alea mempercepat langkahnya untuk pergi meninggalkan lelaki tersebut. Alea berusaha mengabaikan kejadian tersebut dan memilih untuk membuka buku halaman pertama.
5 jam telah berlalu, Alea yang sudah cukup lelah memutuskan untuk pulang. Baru saja ia membuka pintu, tetesan air hujan sedikit demi sedikit jatuh dan tak dalam waktu yang lama mengguyur kota Jakarta. Sial! Handphone Alea mati, ia mengurungkan niatnya memesan taxi. Mau tak mau ia harus menunggu hujan itu merenda, sungguh hari sial memang tidak ada di kalender. Alea pun tak henti-henti melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Jam menunjukan pukul sepuluh lewat lima menit. Di waktu yang bersamaan, lelaki yang ia temui sebelumnya berlari ke arah kendaraan roda duanya dan mengambil dua jas hujan. Tidak disangka, lelaki itu berjalan ke arah Alea.
“Nih pakai.” Kean memberikan jas hujan berwarna pink kepada Alea. “Rumah lo dimana? Gue anterin.” Terusnya.
“Enggak usah, terima kasih.” Tolak Alea. Ia mengernyitkan dahinya. Sebuah kejanggalan untuk Alea ketika melihat orang asing tiba-tiba menawarkan bantuan! Ahh.. apakah aku ingin diculik?
“Udah malem. Perpustakaan juga udah mau tutup. Lo mau sendirian disini? Gue enggak mau jadi tersangka kalau lo diculik atau dibunuh karena gue ngebiarin lo sendirian.” Jelas Kean.
“Terus gimana kalau lo yang nyulik gue?” Tanya Alea dengan serius.
“Gue juga kalau mau nyulik milih-milih kali.” Jawab Kean. “Jadi lo mau ikut atau enggak?” Lanjutnya.
Tidak ada pilihan lain untuk Alea saat ini selain ikut dengan lelaki yang baru saja ia kenal sore tadi dengan pertemuannya yang tidak mengenakan. Segera Alea memakai jas hujan berwarna pink dengan motif polkadot dan berjalan bersama Kean menuju motornya.
• •
Tiga bulan telah berlalu, Alea dan Kean sekarang sudah menjadi sepasang kekasih. Mengagetkan. Itulah emosi yang dialami Nadine saat pertama kali tahu sahabatnya memiliki hubungan special dengan lelaki yang tak ia kenal sebelumnya.
Tin.. Tin..
Bunyi itu langsung membuat Alea melompat dari tempat tidurnya dan segera menuruni anak tangga dengan tergesa. Bunyinya sudah sangat familiar sekali di telinga Alea. Tanpa melihat, ia pasti tahu bahwa pemilik bunyi itu adalah Kean.
“Mau kemana kita hari ini?” Kalimat pertama terlontar dari mulut seorang gadis dengan rambut yang diikat dengan gaya ekor kuda.
“Pantai, mau?” Balas Kean.
“Mauuuu, mauuu banget!”
Alea sangat girang. Sebetulnya, selain Alea menyukai buku, Alea juga sangat menyukai apapun yang berbau dengan Laut. Baginya, suara riuh ombak yang bergemuruh pada laut selalu membuat hatinya tenang.
Motor Kean kini mulai menurunkan kecepatannya, tanda mereka akan segera tiba dipantai yang Kean rencanakan. Setibanya mereka di pantai, Alea menarik tangan Kean dan mengajaknya bermain pasir, sesekali Alea mencipratkan air ke arah Kean.
Cukup lama mereka bermain di atas ribuan butir pasir pantai. Mereka berduapun kelelahan. Alea dengan badannya yang lelah, menggandeng tangan Kean untuk duduk ditepian Pantai. Mereka memutuskan untuk menghabiskan sisa waktunya dengan memandangi lekat indahnya langit sore yang berwarna jingga saja.
“Indah ya, Kean.”
Kean menatap Alea. “Iya, indah.”
Alea yang tersadar bahwa indah yang dimaksud Kean adalah dirinya langsung memalingkan mukanya. Senyumnya yang tak bisa ditahan membuat pipi Alea kini memerah. Sudah setengah jam mereka menatapi langit yang sama. Alea baru sadar akan satu hal, mengapa muka Kean begitu kusut, tidak seperti biasanya?
“Kean, kamu ada masalah?” Alea membuka obrolan kembali.
“Enggak, kenapa?” Balas Kean tanpa ragu.
“Raut muka kamu enggak seperti biasanya, kalau ada masalah bilang, aku khawatir.” Tanya Alea dengan penuh kekhawatiran.
Kean tertawa kecil.
“KOK KETAWA SIH?!?!” ucap Alea sambil mencubit Kean. “Aku lagi serius tau!” Lanjutnya.
“Habis kamu lucu. Aku gapapa, mungkin karena kurang tidur aja, jangan khawatir ya.” Kean tersenyum tipis. Alea menghembuskan nafas. Ucapan terakhir dari Kean sedikit membuatnya lega.
• •
“SELAMAT PAGIIII, ALE ALE!” Sambil teriak, Nadine menepuk bahu Alea dari belakang.
Alea terkaget. “Lo pagi-pagi udah buat gue jantungan aja!” Ucapnya.
“Hehehe, anyway, gimana sama cowo lo?” Nadine bertanya dengan memasangkan mukanya yang penasaran. Pasalnya, Alea jarang sekali bercerita tentang Kean ke Nadine.
“Kita baik-baik aja.” Jelas Alea.
“Syukur deh.” Balas Nadine.
Alea dan Nadine kembali menyelesaikan kesibukannya masing-masing. Nadine membuka handphonenya, mencari beberapa referensi untuk tugas penelitiannya, sedangkan Alea membuka laptop, mengetik powerpoint pada layar laptopnya. Hari ini jadwal Alea ialah membuat presentasi kegiatan program kerja yang akan dilaksanakan bulan ini.
• •
Hari yang cukup melelahkan. Waktu sudah menujukkan pukul 20.00. Alea segera menghubungi Kean untuk menjemputnya seperti biasa. Namun, entah mengapa Kean tidak dapat dihubungi dari pagi tadi. Lantaran menunggu lelakinya yang entah kapan akan membalas, Alea memutuskan untuk pulang sendiri dengan berjalan kaki karena kampusnya tidak terlalu jauh dari apartementnya.
Diperjalanan, Alea melihat begitu banyak motor-motor yang melaju lalang sangat kencang, mungkin sebab mereka ingin segera pulang menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya atau mungkin menyaksikan acara televisi sepakbola kesukaannya atau bahkan ingin segera melakukan aktivitas terakhir yaitu beristirahat. Entahlah. Namun yang jelas, Alea harus berhati-hati karena takut terserempet. Alea yang sedang memperhatikan sekelilingnya, tiba-tiba mendapati lelaki yang sangat familiar dimata Alea. Ya, betul saja itu Kean. Alea yang berdiri dipinggir trotoar melihat dengan jelas Kean tengah bergandengan tangan dengan seorang perempuan di sebuah Toko Kue. Alea menghampiri.
“K-Kean..” Gugupnya.
Kean segera membalikkan arah tubuhnya. “Alea?”
“Alea aku bisa jelasin..” Ucap kean dengan penuh penyesalan.
“Enggak ada yang perlu dijelasin lagi, Kean. Kita putus.” Alea langsung berlari meninggalkan Kean dan perempuan itu.
Pikirannya kacau sekali. Air mata pun menetes membasahi kedua pipi Alea. Sungguh, tidak ada persiapan Alea untuk menghadapi situasi ini. Alea menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Baginya, Kean tidak akan mendua jika Alea tidak melakukan kesalahan. Tapi, apa kesalahan Alea?
Alea tidak tahan lagi untuk berdiri. Kakinya sangat lemas. Ia pun memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman. Malam ini adalah malam berat baginya.
Tring.. Tring..
Kesunyian malam terganggu oleh nada dering dari handphonenya yang tertulis ‘Tante’ berfikir panjang, Alea segera menghapus air mata dan mengangkat telfonnya. Harapan Alea saat ini semoga ada kabar gembira yang dapat menghapus kesedihannya.
“Ale, Ayah sudah tidak ada. Dan akan dimakamkan besok pagi.” Alea terkejut mendapati berita yang terlontar dibalik suara telfon itu. Ia menangis histeris. Alea benar-benar kehilangan arah.
Tuhan, mengapa kenyataan selalu terbalik dengan apa yang kita harapkan? Mengapa dunia begitu mengejamkan untuk Alea? Apakah Alea tidak ditakdirkan untuk bahagia? Apakah kehilangan satu orang yang Alea cintai belum cukup? Itulah yang ada dipikiran Alea saat ini.
Malam ini mungkin menjadi malam bersejarah bagi Alea. Malam yang tidak akan pernah dilupakan. Lampu dan bangku taman pun menjadi saksi bisu betapa sakitnya Alea pada malam ini.
Alea pulang sesegera mungkin. Meraih koper yang ada di atas lemarinya. Mengambil barang bawaan secukupnya. Setelahnya, ia membuka Handphone-nya untuk memesan tiket Kereta Jakarta ke Bandung pukul 01.00 WIB.
Sesampainya di Stasiun, ia berjalan menuju ruang tunggu stasiun. Setidaknya satu kopi Hazelnut Cokelat yang ada ditangan Alea akan mampu menahan rasa kantuk Alea sekitar satu jam di ruang tunggu pemberangkatan ini.
Kereta pun datang. Ia segera menduduki kursi sesuai dengan nomor di karcis yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia menyempatkan untuk beristirahat, karena perjalanan Jakarta ke Bandung membutuhkan waktu yang lumayan bisa dipakai untuk beristirahat sejenak.
“Penumpang yang kami hormati, sesaat lagi kita akan tiba di stasiun tujuan akhir kita, stasiun Bandung.”
Mata Alea terbuka ketika ia mendengar pemberhentian selanjutnya adalah rute tujuannya. Ia mempersiapkan dirinya. Mengambil koper sambil menunggu pemberhentian yang ia nantikan itu.
Ayah, aku pulang. Batin Alea.
Waktu menunjukkan pukul 04.00, baru saja ia sampai di depan rumah, bendera kuning yang mengibar membuatnya meneteskan air mata. Alea berlari. Melihat tubuh sang Ayah berbaring tak bernyawa. Alea mencium kening Ayahnya. Ciuman kali ini rasanya berbeda untuk Alea. Dahulu Alea selalu menyium ayah saat ingin tertidur namun sekarang Alea harus terpaksa menyium ayah karena ayah akan tertidur selamanya di rumah baru Ayah.
Menunggu menjelang pagi, Alea memutuskan untuk menuju kamar tidurnya. Matanya yang menahan kantuk kini membuka buku diary harian miliknya.
Dear diary,
Hari ini aku kehilangan cinta pertamaku, Ayah.
Ayah terbaikku sepanjang masa. Ayah yang mengajarkanku banyak hal. Ayah mengajarkanku untuk terus kuat. Kalau bukan karena Ayah, mungkin pundakku tidak akan sekuat sekarang.
Aku masih teringat saat aku sedang tertidur dipangkuan Ayah, Ayah berkata kepadaku, “Nak Alea, mungkin hidup tidak akan selalu berjalan dengan baik, tapi Alea harus ingat, Ayah akan selalu ada buat Alea.”
Ayah, Apakah engkau masih teringat juga dengan kata-katamu itu? Ayah, mana buktimu bahwa engkau akan selalu ada untukku? Mengapa engkau meninggalkan aku bersama Bunda sendirian?
Anak cantik Ayah, Alea.
Lelahnya tubuh Alea membuat kelopak mata Alea sedikit demi sedikit menutup.
“Ale, bangun. Ayah mau dimakamkan 5 menit lagi.” Alea terbangun. Ia mencoba mencubit pipinya untuk memastikan semua ini hanya mimpi. Ayah, Alea belum siap kehilanganmu.
Pemakaman pun selesai. Alea kembali pulang ke rumahnya, menyambut beberapa orang yang masih mendatangi rumah Alea untuk sekedar mengucapkan duka cita. Hari sudah mulai gelap, Alea segera merapihkan kembali barang bawaannya karena ia akan kembali ke Jakarta pagi besok. Alea memang masih berduka cita, namun, mau tidak mau Alea harus tetap menjalani harinya seperti biasa.
Pukul 07.00 WIB Alea mulai berpamitan kepada penghuni rumah termasuk Bunda. “Bunda, Alea pamit ya. Sayang bunda.” Teriak Alea sebelum meninggalkan rumah itu.
• •
Dua bulan sudah berlalu, Alea sudah mulai berhenti menyalahkan dirinya dan menerima kenyataan. Nadine masih menjadi sahabat terbaiknya dan menjadi support system Alea.
“Ale, kantin yuk?” Ajak Nadine.
Alea mengangguk. Merekapun langsung berjalan ke arah kantin.
“Na, gue tiba-tiba kangen Kean.”
Emosi Nadine meluap mendengar kalimat itu.
“Woi! Gila aja lo kangen cowok kayak Kean!” Teriak Nadine. Tanpa sadar ternyata teriakan itu nyaring dan terdengar oleh seluruh warga Kantin. “Jangan keras-keras.” Ucapnya sambil menyubit Nadine. “Lagian lo-” belum Nadine menyelesaikan kalimatnya, gadis berambut kepang menyapa Alea. “ — Eh, Alea, bukan?” Alea menengok. Tidak membutuhkan waktu lama Alea langsung mengenali gadis itu. Ya, gadis yang kemarin berduaan dengan Kean!
“Lo ngapain kesini?” Alea terbangun, kesal itulah yang ia rasakan. “Enggak cukup lo jadi perusak? Hah?” Alea mengambil minuman yang ada di mejanya, belum ia menumpahkan ke gadis itu, tangan Nadine sudah duluan menahan. “Le, mending lo tenang dulu. Mungkin dia mau menjelaskan sesuatu.”
“Iya. Disini gue enggak ada niat jahat. Gue mau menjelaskan sesuatu tentang gue dan abang gue.” Jelas Amara.
“Abang?” tanya Alea dengan suara pelan. Amara mengangguk. Merekapun duduk untuk menenangkan suasana. “Okey, jadi, nama gue Amara, Amara Nazeea Argantara. Gue 4 bersaudara. Kean adalah abang gue yang ke-2, Kean Narendra Argantara. Kita dari keluarga Argantara. Maksud dan tujuan gue kesini, karena gue mau ngasih tahu kalau abang gue udah enggak ada. Iya. Lo enggak salah denger. Kean mengidap penyakit kanker udah lumayan lama dan mencapai stadium akhir.” Amara yang tengah menjelaskan perlahan-lahan mulai meneteskan air matanya.
“Amara, kok lo enggak bilang dari dulu.” Ucap Alea sambil menahan tangisan.
“Abang enggak mau lo sedih, Alea.” Balas Amara.
“Oh iya, sebelum dia pergi, dia nitipin ini buat lo.” Lanjutnya. Amara segera mengeluarkan sebuah amplop berwarna kecokelatan bertulis ‘untuk Alea’ dari dalam tasnya. “Abang juga suka cerita tentang diri lo ke mama papa, intinya dia sayang sm lo.”
“Amara.. Terima kasih.”
“Sama-sama, kak. Turut berduka cita ya. Anyway, gue duluan ya. Gue ada kelas abis ini.” Amara segera meninggalkan kedua gadis itu.
Alea membuka isi suratnya.
Hai, Alea.
Mungkin kamu akan membaca ini disaat aku sudah tidak ada lagi disampingmu, dan aku yakin kamu pasti kecewa sama apa yang telah terjadi saat ini, tapi kamu harus tahu bahwa aku melakukan semua ini supaya kamu tidak merasakan sakit atas kepergianku.
Alea,
Barangkali peluk hangatku tidak bisa lagi ku berikan atau kasih sayangku sudah tidak mampu lagi kamu rasakan, tapi aku akan selalu menjagamu dari sini. Aku akan menjagamu meski caranya berbeda.
Tetaplah menjadi Alea yang kuat. Menjadi Alea yang selalu bahagia. Menjadi Alea yang aku kenal.
Alea,
Jika memang kehidupan selanjutnya itu nyata, mari bertemu dengan kita yang akan hidup bersama selamanya. Mengabulkan satu persatu keinginan kita yang belum terwujud di kehidupan saat ini.
Terima kasih sudah menjadi cinta pertama dan terakhirku. Alea Belvina Ayu.
K.
Sampai bertemu dikehidupan selanjutnya, Kean Narendra Argantara.












