Satu: Bagian Dua.
Aku kembali membuka lembaran kedua, lelah dan kantuk yang kurasakan hilang terganti rasa penasaran yang sangat, seakan aku perlu menyelesaikan bacaanku. -------------------------------------------------------------------- Mengapa kau begitu penasaran? Padahal ini hanyalah cerita tentang sebuah pohon yang belum tentu kau mengenalnya. Belum pasti kau mengetahui pula apa jenisnya, yang jelas angin pada pohon ini terus menerus mengganggunya. Lalu apa hubungannya dengan mu? Setelah lama angin bertiup-tiup, naik-turun, mengusik pohon itu. Seketika pohon itu terbangun, tangkainya melambai lambai, ranting nya menekuk kecil, daunya memekar seperti jemari yang membuka kepalannya. Dan mengisyaratkan, agar angin yang bertiup manja menjauh untuk membangunkan yang lainnya. Namun angin pun memberitahu bahwa setiap pohon memiliki angin nya sendiri, dan ia tidak berhak mengganggu yang lainnya. Pohon itu melambai kembali, kali ini lambaiannya seperti menunjuk sesuatu yang datang padanya. Bahwa ada langkah yang terasa olehnya sedang menuju kearahnya. Akar pohon itu bergetar, bukan karena dinginnya angin. Namun oleh derap langkah kunjungan yang sedang menuju ke arah pohon itu. Siapakah? Siapakah? Sepagi ini? Siapakah? Datang di pagi yang bahkan belum nampak sinar mentari? Siapakah? -------------------------------------------------------------------- "Tuk, tuk, tuk, tuk." Aku mendengar suara dari arah atapku, seperti ada yang terjatuh dari atas, mungkin semacam kerikil. Namun sebelum ku menduganya, suara tersebut dilanjutkan oleh gemuruh yang ramai berbondong. Hujan turun. Aku masih duduk diatas sofaku. Suasana yang nyaman. Angin hujan memasuki ruanganku, menusuk sedikit demi sedikit kulit lenganku. Berisik dan mengusik. Aku membesarkan api didepanku untuk menghangatkan pagiku dengan buku. Sebenarnya aku malas untuk beranjak dari sini, Bersambung W Irsyad H














