Menangisi Penyesalan
Lantunan lagu di playlist Spotify saya sedang dalam nada minor. Di saat sama kala mengecek e-mail masuk, terlihat sebuah pesan dari employer yang memuat penolakan untuk sebuah posisi yang saya sukai betul, kesekian kalinya.
"Gua harus perbaiki apa lagi, sih?"
Saya merasa frustrasi. Seharusnya saya terbiasa, tapi entah kenapa akumulasi kegagalan membuat penolakan kali ini terasa khusus. Saya berulang kali mencoba menenangkan diri, mencoba segala cara agar suasana hati bisa kembali normal. Namun, saat saya berusaha menenangkan diri, terlintas lagu Sal Priadi tentang Gala Bunga Matahari. Jujur, di antara semua lagu Sal, saya hanya menyukai lagu ini. Saya tidak menyukai lagu "Seandainya kau memang dari planet yang lain ..." itu, meski saya menaruh respek atas karakter suaranya yang tebal tapi polos. Di lagu Gala Bunga Matahari saya merasakan kesamaan. Mungkin lebih karena nadanya yang banyak minor dan cenderung melankoli.
Sambil kembali mengingat pengalaman saya ditolak kerja kesekian kali, seharusnya saya lupakan saja dan lanjut untuk mengerjakan sesuatu sebagai pengalihan, tapi saya memilih melanjutkan ratapan. Entah kenapa, suasananya sesuai. Saya manfaatkan kesempatan itu dengan merindukan orang-orang yang sudah tiada dengan lagu ini. Seperti mamah saya (yang dalam jalur keturunan, seharusnya jadi bibi), yang sudah mengurus dan menumbuhkembangkan saya hingga sebesar ini.
Saya resapi setiap tetes kesedihan, sembari sesekali membuka galeri foto, mengingat momen, mengingat bentuk rumah, mengingat beberapa kali ia ingin memeluk. Hanya romantisasi yang saya pikirkan. Saat pulang ke rumah, ruangan pertama yang saya hampiri adalah bekas kamarnya. Saya tidak mau mengubah atau merapikan kamar itu. Sebagaimana adanya saja, sampai suatu hari saya terpaksa harus merapikan.
Anehnya, tiap sedih yang saya rasakan tidak benar-benar berasal atas rasa rindu. Ibu kandung saya sudah berpulang sejak saya masih berusia 3 bulan. Sebelum bisa menyadari rasa kesepian dan keheningan, mana pernah saya menangis kala meninggalkan makamnya. Saat kecil, hampir semua rasa tangis saya hanya hasil respons iba penjaga makam, "Ini makam ibunya? Kasihan, ya," barulah saya menangis.
Kesedihan pun tidak serta-merta saya tujukan pada keadaan saya, kala kecil saya hanya menangis jika dicampakkan. Saya menangis untuk diperhatikan, sampai saat mamah tidak peduli, saya mencari perhatian ke ibu kandung saya. Ya, ibu kandung saya yang sudah tiada. Saya merintih mencari ibu saya, membayangkan barangkali dia datang menjenguk saat saya sedang terisak.
Tapi, ya ... tidak ada yang datang.
Atas dasar itulah saya mencoba meneliti. Beberapa waktu setelah memahami kesendirian yang saya alami, saban sedih saya menerka, apa benar karena perasaan ini ataukah atas kenaifan lain? Tapi saya tidak pernah menemukan jawabannya.
Sesering itu saya merasa sedih akan diri sendiri, saya tetap berusaha mengetahui alasan kenapa saya harus bersedih. Sampai suatu hari saya berada di dapur tempat mamah memasak dulu, pada akhirnya saya menangis sendiri. Saya membayangkan kala dahulu Beliau rajin memasak, Beliau beberapa kali--tidak sering--mengajak saya untuk membantu memasak. Saya ogah, karena saya masih merasa saya adalah anak paling muda dan laki-laki. Semua kakak sepupu saya dibiasakan untuk membuat makanan sendiri, tapi saya adalah pengecualian. Mungkin karena bukan anak kandung langsung, jadi saya lebih banyak dimanja.
Ketika menangisi kehilangan, saya gusar karena seharusnya saya bisa membuat momen yang lebih indah untuk dikenang. Saya bisa saja membantu dan berlatih untuk memasak saat itu, dan dari situ saya membayangkan momen kehangatan saya dengan mamah. Mungkin suasananya bisa lebih cair, sehingga kami bisa tertawa bersama, atau saling menolong. Begitupun saat beralih ke taman, kami sama sekali tidak mengubah denah taman, beberapa kali mungkin rumputnya dibersihkan, tapi sudah ada beberapa tanaman yang mati dan kering, mungkin karena perawatan kakak sepupu saya tidak sepiawai mamah. Andai saya bisa menggantikan dengan sebaik dan sejago mamah dalam merawat bunga, mungkin saya bisa membawa kenangan ini jauh lebih praktikal. Meski saya peduli dengan pohon, saya tidak pernah merasakan kenikmatan saat merawat tanaman. Mungkin karena tidak dibiasakan. Kala duduk di ruang tamu pun saya membayangkan percakapan kami yang hampir selalu timpang. Kadang saya memutuskan untuk mengakhiri percakapan sepihak, atau saya membiarkan mamah untuk terus mendominasi percakapan. Saat itu, saya tidak benar-benar bisa menanggapi secara aktif apa pun yang dikatakannya. Andai saya bisa bertahan dengan lebih baik, saya mungkin bisa menciptakan kenangan yang lebih indah lagi. Mungkin setelah kami berbicara, kami bisa saling menangis atau berpelukan.
Fakta yang lebih menyedihkan lagi, saya menangis atas imajinasi saya sendiri.
Baru saat itu saya sadar bahwa, tangisan ini bukan karena kerinduan, melainkan penyesalan akan kenangan-kenangan yang tidak sepenuhnya saya bangun baik-baik.
Saya merasa gagal saat berkali-kali mendambakan rumah. Rasa pendambaan itu, bagi saya, hanya sebatas angan-angan. Apa daya, saya tidak pernah memiliki nilai yang teguh untuk saya pegang sehari-hari, yang berangkat dari "rumah" itu. Saya tidak memiliki nilai khusus bawaan keluarga yang bisa saya ajarkan pada anak saya. Saya menyesali itu. Dan, meskipun, bisa dimaklumi karena dahulu saya masih muda dan tidak tahu diri, tapi melihat saya sekarang yang tidak kunjung produktif, belum lagi gagal terus-menerus, saya merasa hidup ini sia-sia. Saya merasa marah, ingin mati atas perlakuan-perlakuan bodoh, dan menyumpahserapahi semua orang yang membuat gusar. Semua bagi saya hanya rasa dendam. Tidak pernah stabil, dan apa pun yang saya bisa andalkan dalam melanjutkan hidup hanyalah nostalgia akan momen-momen, yang itu pun tidak saya syukuri.
Saya selalu belajar memerhatikan setiap kata yang keluar dari mulut saya. Setiap wawancara kerja, selalu saja ada kata-kata buah dari ego yang saya--tidak secara langsung--rawat. Dan itu jadi blunder acap kali pewawancara menjelaskan evaluasi atas jawaban-jawaban saya. Mau memperbaiki sebaik apa pun, saya selalu dicap sebagai orang yang "kurang bisa mengendalikan emosi", "tidak cukup baik dalam emotional management dan terlalu perfeksionis," atau bahkan "ego Anda terlalu tinggi saat mengucap kata tersebut." Saya frustrasi, mau mati rasanya. Setiap saya ingin memulai sesuatu pun, saya tidak kunjung konsisten, entah karena kecilnya otak, karena uang, atau karena mental bertahan yang tidak kuat.
Saya menyesal atas masa lalu saya, karena mungkin di masa kini saya masih seorang yang gagal dengan masalah yang tidak selesai-selesai. Saat ada selebtwit yang mengetwit "Gaji 100 juta gak bisa menyelesaikan masalah hidup," nya-nye-nyu ... kalau begitu berikan saja, cepat. Saya punya rencana dengan uang sebanyak itu. Dan saya yakin saya bisa menyelesaikan paling tidak setengah dari masalah hidup saya. Bahkan saya bisa memberikan kontribusi untuk anak-anak di satu sekolah dengan uang sebesar itu. Bagi Anda, 100 juta itu tidak menyelesaikan masalah hidup Anda, bukan? Then, fine. Saya mau buktikan itu. Transfer sekarang ke rekening saya. Sekarang!
--- Menyebalkan sekali membaca tulisan ini, ya?
Dalam setiap tulisan saya selalu memberikan sisi bijak dari diri saya. Tapi kali ini saya hanya ingin berikan sisi sedihnya saja. Saya malas terlihat sok bijak atau apalah-apalah. Sudah pasti, bukan barangkali lagi, saya menangis atas penyesalan. Saya merindu momen-momen manis, tentu. Rasa skeptis yang membuat itu berbeda. Saya tidak bisa mengubahnya. Bahkan saya skeptis untuk mengulang momen-momen manis di masa lalu bersama kawan-kawan yang pernah dekat dengan saya karena, berdasarkan pengalaman, saya selalu mengingat kesalahan mereka pada saya. Dan saya tidak pernah benar-benar memaafkan mereka semua.
Jadi, siapa pun kalian yang membaca tulisan ini, maafkan saya atas segala kesan jelek dan rata-rata yang sudah saya hadirkan pada kalian. Jujur, saya ingin sekali mengumpati kalian satu per satu dalam tulisan ini, dari yang wajahnya ke-Arab-Arab-an, yang kacamataan, sampai yang bermewah-mewahan dalam kata-katanya. Saya berpikir akan terlalu kejam jika kalian kembali menaruh kesan yang tidak baik terhadap saya. Saya yakin sebagian kalian juga tidak peduli, ya. Jadi ... lebih baik umpatan ini saya pendam dalam hati.
Saya pun menyimpan penyesalan pada mamah dan ibu kandung saya. Andai lagu Gala Bunga Matahari itu jadi kenyataan, saya ingin menyaksikan suatu kebetulan yang tampak indah di mata. Mungkin dengan bunga yang mekar di antara semak-semak, atau dari orang asing yang tiba-tiba menanyakan kabar. Saya rindu bertemu kebetulan-kebetulan itu. Saya rindu untuk tidak melulu merencanakan duluan. Kalau bukan karena Syir dan istri saya, Dewi, saya tidak mungkin tetap berada di sini. Saya ingin mencurahkan sebaik-baiknya ingatan pada mereka. Sebaik-baiknya kenangan yang bernilai sesuatu, hingga akan terus mereka bawa hingga akhir hayat.
Terkhusus bagi Syir, dialah bunga matahari saya yang paling indah. Dialah satu-satunya yang menahan saya untuk memperbaiki masa lalu. Karena, andai saya mampu time travel dan memperbaiki segala kesalahan di masa lalu, belum tentu saya akan mendapatkan Syir kembali.
She's my sunflower. My whole world.
Tapi tunggu dulu, kenapa saya tidak sadar, ya? Bunga matahari itu mungkin adalah Syir, anak saya. Mungkin Tuhan memberi saya kesempatan untuk memperbaiki segala kenangan yang saya sesali melalui dia. Mungkin mamah dan ibu kandung saya menitipkan harapan itu pada dia, agar saya bisa lebih baik sebagai manusia.
Tapi kenapa saya bisa berpikir egois begini, ya? Kenapa malah saya tumpukan anak saya beban yang tidak seharusnya dia emban ini, ya?
Maafkan aba, ya, Syir. Maafkan juga nenek-nenekmu yang menitipkan harapan pada kamu, ya.
Ini lagunya. Semoga kita semua tidak hidup dalam penyesalan.












