Tulisan ini terinspirasi dari permainan Rubiks, jadi ketika kami sedang berberes rumah, dari tumpukan barang, kami tidak sengan menemukan mainan Rubiks, yang dulu entah iseng atau bagaimana, kami beli. Tapi dari dulu sampai sekarang saya tidak mahir-mahir memainkannya. Jadi sampailah satu ketika, saya membolak-balik kotak demi kotak untuk membentuk suatu pola, tetapi karena pada dasarnya saya tidak memahami sama sekali, yang ada hanya membentuk satu sisi, dan mengacak sisi yang lainnya. Dari sinilah saya tiba-tiba belajar trik nya di internet dan ternyata untuk lebih mudah saya harus "mereset" dan memulai dari awal dengan membentuk pola, dan perlahan lahan saya susun untuk menyelesaikan semuanya, dengan cara yang berbeda dari apa yang saya lakukan.
Ini sejalan juga dengan siaran "Business Wisdom" di Radio PasFM pada tanggal 3 Juli 2025, yang berkisah tentang Thomas Alva Edison, sebelum menemukan Gramophone, ketika itu laboratoriumnya terbakar, hasil risetnya pun ikut terbakar, ketika itu anaknya khawatir akan sang Ayah, karena sebagai manusia normal kita pasti frustasi ketika hasil kerja keras kita sia-sia, tetapi Thomas Alva Edison justru memulai dari awal kembali dan pada akhirnya berhasil menemukan Gramophone.
Jadi dari sini saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk merenungkan tentang kegagalan. Kalau kita melihat kegagalan dari seluruh jerih payah yang sudah kita keluarkan semata, pasti kita akan merasa putus asa, tetapi kalau seperti Thomas Alva Edison dan permainan Rubiks, ketika kita bisa memulai semuanya dari awal dengan mindset yang baru, dan memaknai kegagalan sebagai kesempatan kita untuk memperbaiki sesuatu yang sudah terbentuk dan tidak berhasil, disitu kita bisa bertumbuh dan menemukan jalan lain yang semula tertutup akibat pola pikir kita yang lama.
Jadi bagi para pembaca yang saat ini sedang mengalami kegagalan, jangan berkecil hati, gunakan pola pikir baru, melalui kegagalan kita "diizinkan" untuk memilih jalan lain yang belum pernah kita lewati atau coba sebelumnya, karena bisa jadi jalan tersebut mengarahkan kita kepada keberhasilan yang kita nantikan. Semoga bermanfaat!
Orang-orang bilang, fase quarter life crisis adalah fase di mana seseorang banyak merasakan adanya tekanan yang kuat, kehilangan yang hebat dan rasa kurang percaya diri yang meningkat.
Terlebih bagi seseorang yang memasuki usia seperempat abad, gagal dalam karir dianggap hal yang hina, gagal dalam hubungan asmara dianggap si paling durjana, dan gagal mengambil keputusan dianggap si paling tiada guna.
Reminder untuk kita semua yang sedang melewati fase ini; jangan pernah menganggap semuanya berakhir di usia dua puluh lima. Gagal soal karir bisa kita kejar lagi, gagal soal asmara bisa kita perbaiki diri kembali, pun pernah gagal dalam mengambil keputusan masih bisa kita pelajari lagi. Hidup tak akan serta-merta berakhir hanya karena kamu pernah mengalami kegagalan.
Selagi masih ada waktu dan tenaga, selagi masih punya teman dan keluarga yang mendukung segala, maka insya Allah duniamu tak akan runtuh saat kamu sedang dilanda kegagalan yang berlipat ganda. Lagipula, bukankah masih ada Allah yang kau tempatkan di posisi pertama?
Keberhasilan kita adalah bentuk kasih sayang Allah. Bukan hubungan sebab akibat atas usaha kita. Karena hasil tidak bersandar pada amal. Karena ada yang berusaha tapi tidak diberi.
Dan kegagalan kita adalah bentuk pendidikan Allah. Pun, itu adalah kasih sayang Allah. Jangan berputus semangat. Karena tujuan pendidikan adalah akselerasi kapasitas.
Jadi, tenanglah.
Jangan terbang ketika diberi keberhasilan.
Jangan tumbang ketika diuji kegagalan.
(c) syifayaqorina
(sebuah tulisan pengingat kepada diri untuk hasil apapun di depan nanti)
Mungkin memang ada kegagalan, keputusan yang salah atau hal-hal lain yang membuat menyesal. Tapi menurutku, jika fokus ku di perjalanan ini adalah hal itu, maka rasanya aku akan bermudah-mudah memberikan label pada diri sendiri sesuatu yang kurang baik. Efeknya bisa pada menunda pekerjaan, malas mengerjakan sesuatu, capek, dan beragam hal lain yg mungkin saja bisa timbul.
Lalu aku belajar, kalau tidak ada kegagalan. Yang ada adalah pembelajaran. Tidak ada salah keputusan yang ada hanyalah pembelajaran. Dengan kata pembelajaran, maka aku rasa lebih mudah menerima hal-hal yang ada di luar kendaliku. Hidup jadi lebih bermakna. Kalaupun iya ada kemungkinan kegagalan, salah jalan, salah mengambil keputusan maka aku lebih mudah menerima dan merakit kembali cita dan asa yang ingin ku gapai. Kurang lebih demikian.
Siap atau tidak siap roda kehidupan ini akan terus berputar. Tidak selamanya kita ada di posisi yang Allah gariskan saat ini. Roda akan terus melaju, tidak peduli kita dapat mengikuti ritme atau tidak.
Sering aku berharap bahwa Allah akan memberikan takdir yang sesuai dengan rencanaku. Berharap bahwa hal-hal yang aku inginkan akan berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Tetapi pada hari itu, ada perasaan begitu menyesakkan dada ketika harapan yang diinginkan tidak sesuai dengan realita yang seharusnya. Untuk kesekian kalinya aku dijatuhkan oleh ekspektasi yang tak sesuai. Sesak, kecewa dengan diri sendiri, menyalahkan takdir, padahal merasa sudah berusaha semaksimalnya usaha. Namun takdir menuntunku untuk berhenti dari pengharapan tersebut. Yah memang, terkadang dibutuhkan air mata untuk melewati episode takdir yang Allah gariskan.
Aku sering lupa bahwa takdir ini milik Allah. Perkara aku akan mendapatkan apa yang ingin aku tuju atau tidak bukan menjadi kendaliku, aku lupa bahwa hasil ini milik Allah. Aku sering kali lupa bahwa yang tertakar tidak akan tertukar. Hari ini ataupun besok tetaplah yang tertulis di Lauhul Mahfudz Allah. Aku sering kali lupa bahwa apa-apa yang aku perjuangkan haruslah berlandasan keinginan Allah bukan hanya keinginanku.
Dan kini, aku masih mencoba ikhlas bahwa seberat apapun takdir, pasti yang terbaik menurut-Nya. Barangkali Allah memutar takdir lain untukku karena akan digantikan yang jauh lebih baik atau maksud Allah ingin menghindarkan diriku dari hal-hal yang sebenarnya tidak baik untukku namun belum ku ketahui.
Aku percaya bahwa segala peluh juang tidak akan Allah sia-siakan. Bila belum terbalas saat ini, mungkin esok hari. Dan pada semua pengharapan yang belum berjalan semestinya, sebab itu bukan yang terbaik. Karena yang terbaik tidak pernah ada dalam takaran manusia. Semoga kita bisa menerima setiap ketetapan takdir-Nya. Semangat berjuang kembali dan menjaga keberkahan di setiap usaha yang kita lakukan.
Jujur, saya tidak pernah niat macam-macam saat berurusan dgn sesuatu. Tidak pernah tertarik berbuat kekerasan, dan kalau datang orang yang menyebalkan hendak berlaku normal seperti biasanya, ya, sudah, terima saja. Sedikit saya rasa saya kerepotan, tapi ya, selama saya tidak kena getahnya, untuk apa saya permasalahkan?
Kadang dalam beberapa kesempatan, saya hanya bertanya saat saya penasaran, tanpa pernah ada niatan memprovokasi siapa-siapa. Jawaban-jawaban seperti "Tolong jangan memprovokasi, ya, Bung," atau "jangan bocor lu!" begitu tersurat menyalahartikan niatan saya. Orang-orang ini mungkin mengadukan atau mendoakan saya macam-macam. Diam-diam barangkali saya jadi bahan omongan. Tapi itu repotnya saya mengelola asumsi: jika ada yang janggal, otak saya sibuk kasak-kusuk. Duh, bagaimanapun tidak bisa saya kendalikan; silakan saja, deh, saya pikir, sambil menyimpan kekecewaan yang saya yakin hanya 30 mikrometer, setara PM 2.5 😩
Dahulu, jika saya lelah atau dongkol, siapa pun itu harus saya konfrontasi. Kini semakin usia bertambah, semakin saya tahan diri. Remah-remahnya kebanyakan saya kunyah dan saya telan. Saya meyakini saja, remah-remahnya akan larut oleh asam lambung dan terbuang di kloset rumah. Saya pikir, dengan menyimpan sedikit demi sedikit kekecewaan, tidak akan berefek apa pun terhadap kehidupan saya.
Sekarang saya tahu pikiran itu keliru.
Belakangan, saya mudah meneriaki anak, memukul kucing, mendebat istri, meneriaki Tuhan sambil motoran, dan dengan sombong mengeklaim bahwa saya bukan orang yang taat. Saya seringkali memang meminta maaf akan sesuatu yang dipandang salah oleh orang-orang, tetapi saya tidak pernah benar-benar merasa bersalah. Saya tetap menumpahkan kesalahan itu kepada mereka yang saya rasa menzalimi saya. Meski kata praktisi positif, jangan bermental korban. Ya ... tapi kalo sudah kalah dan tidak ada penghargaan, mau gimana? Tentu saya akui, tapi untuk berdamai, aduh, tunggu dulu. Sampai sekarang saya masih berhasrat ingin hadapi dan pukul manusia-manusia "pemenang" yang mewah berkata-kata di media sosial, tapi saya tahu selubung dunia nyatanya seperti apa. Saya tidak zen. Sudah puluhan tahun saya berusaha mengelola perasaan kalah, tapi selalu ada seserpih demi seserpih kekecewaan, yang saya tumbuk dan pendam, tanpa sadar menumbuh jadi dendam.
Empat pekan lalu, air rumah saya kering sehingga tiap hari kami harus ambil air dari musala. Maju sepekan, saya kehilangan ponsel kala berjalan kaki menuju stasiun. Sepekan berikutnya, kontrak kerja saya habis sehingga saya harus cari-cari klien freelance lagi. Terakhir, sepekan setelahnya lagi, kami tertabrak motor: motor Revo yang saya andalkan sejak SMA cedera parah, dan rasanya mau saya ikhlaskan saja saat membayangkan biaya servisnya di bengkel. Padahal otak kami masih ngebul soal gimana caranya melunasi uang kontrakan bulan ini.
Saya tersadar saat mengobrol dengan istri soal ketidakberuntungan ini, saya pikir, barangkali semua ini rentetan peristiwa penghapus dosa. Namun, dia timpali dengan segera, "Kayaknya kita yang harus kontemplasi."
Saya paham apa itu kontemplasi. Namun, tidak sepraktis itu saya gunakan dalam setiap momen. Sadar, nggak sadar, saya sering pakai kata kontemplasi setiap kali bicara atau menulis. Culas sekali, saya pikir, diri saya ini.
Apakah ini pernyataan bahwa kini saya telah bermetamorfosis menjadi sepenuhnya berpikiran terbuka? Oh, tentu tidak. Siapa pun, bahkan Rasulullah saja pernah mengutuk seorang pendosa. Apalah saya yang derajatnya lebih rendah ini? Saya bukan ular atau tikus, dan rasanya, nggak ada satu pun manusia yang berhak menyebut diri paripurna. Saya juga masih berusaha bercermin. Bahwa ini masih proses menuju. Sampai mati barangkali, saya masih menuju, belum sampai.
Lagi dan lagi, yang bisa saya lakukan cuma bersikap baik. Entah pada siapa pun, demi menyediakan ruang-ruang yang terang. Betul, saya memang pendendam. Namun, boleh jadi ini pelajaran bahwa mengkhidmati kenyataan tidak semulus perkiraan. Saya, melalui media sosial ini, hanya mengungkapkan pengalaman, serta pikiran saya sekeras-kerasnya, di depan sebanyak-banyaknya orang—yang peduli.
Kalaupun sesekali saya bergumam atau menggerutu di lapak sendiri, alasannya cuma satu: realitasnya bikin saya capek. Kalo sudah capek, saya marah.
Maafkan, ya, jika tulisan saya terlalu suram. Tapi siapa pun kamu yang sedang melalui ini, sadarilah kita gak pernah sendiri. Sebagai orang yang biasa merasa kalah, saya sering kecewa. Yang terpenting, jangan pernah merasa sendiri. Perasaan sendiri adalah sesulit-sulitnya perasaan.