Pada beberapa waktu, aku memilih untuk berbaring di atas kasur. Tak ada yang kulakukan kecuali menatap langit-langit kamar. Teriakan anak-anak memantul dari dinding-dinding ruangan, bersaing dengan suara langkah kaki-kaki kecil yang tidak lelah berjalan, berlari, dan melompat-lompat ke sana ke mari. Tidak, rumahku tidak sunyi. Rumahku begitu ramai. Tapi, anehnya, aku merasa kesepian. Kepalaku penuh, tapi mulutku kehilangan kata-kata.
Terkadang, menjadi orang tua yang bertanggung jawab itu sulit. Sesuatu dalam diriku berkata aku bukan ibu yang baik. Aku tidak mengurus anak-anak dengan cakap. Aku gagal menyelesaikan tugas rumah tangga di pagi hari. Aku bahkan lebih memilih berbaring di kasur daripada menemani anak bermain.
Melihat wajah lugu nan memelas itu, air mataku tambah meleleh. Mengapa harus selalu aku? Mengapa mereka selalu menempel padaku? Mengapa mereka terus memanggil-manggil namaku? Aku tidak pantas mendapatkan anakku.
Aku bangkit dari tempat tidurku untuk melihat separah apa kekacauan yang harus kubereskan di ruang-ruang. Mainan, makanan berceceran, furnitur bergeser, piring-piring menumpuk, cucian kotor di keranjang. Aku melihat wajahku di cermin, di situ aku melihat kekacauan yang lebih parah. Oh, Tuhan. Aku buru-buru memalingkan muka, tak ingin melihat wajahku sendiri.
Anakku masih berlarian ketika aku memasuki ruang depan alias ruang bermain, alias ruang untuk menampung semua kekacauan. Anakku melihat kehadiranku dengan girang, tak kalah girangnya, seolah aku adalah bintang idola paling cantik, paling keren, paling hebat, yang paling ia nantikan kehadirannya. Tak ada yang melihatku seperti itu, selain anakku.
“momy sini!” ujarnya memberi tempat di antara kekacauan itu, bak fans yang memberi karpet merah untuk menyambut idolanya.
Mereka tak mengatakannya, tapi, matanya terlihat sangat berbahagia dengan kehadiranku. Binar matanya seperti bintang yang paling terang. Tak ada yang menatapku seperti itu, selain anakku.
Mereka anak dan lelakiku tak mengatakannya, tapi, ia tidak peduli pada kekacauan di ruangan ini, tidak juga pada kekacauan yang ada padaku, ibunya. Ia tidak butuh aku yang cantik, tidak butuh aku yang pandai menyelesaikan pekerjaan rumah dengan sempurna, ia tidak peduli aku jago bikin mainan atau tidak, masakanku indah dipandang atau tidak, ia hanya butuh aku. Perhatianku. Kehadiranku. Aku yang apa adanya.
Terkadang aku berbaring di kasur dan menangis sendirian, merasa aku adalah ibu yang gagal dan tidak berguna. Tapi, aku salah. Aku tidak gagal, aku hanya tidak sempurna–dan semua orang pun demikian. Sesekali aku lelah, sesekali aku ingin menghilang di kamar mandi–yang disusul oleh tangisan dan teriakan dari balik pintu, lima detik kemudian.
Tapi, ketika melihat wajah anakku saat iaa terlelap, mendengar tawanya atas kekonyolanku, merasakan pelukan mereka di punggungku (yang mendadak dan membuatku meringis kesakitan), mendengar mereka bersahut-sahutan memanggilku, meminta bantuanku untuk semua masalah mereka: mencari mainan; sisir; sikat gigi, aku sadar, karena mereka, hidupku punya alasan.
Tuhan mempercayaiku untuk menjadi seorang ibu, untuk mengurus makhluk kecil yang sangat bergantung padaku. Makhluk yang tidak peduli pada wajahku, amarahku, kegagalanku. Makhluk yang menganggapku sebagai semestanya, sekaligus mataharinya. Makhluk yang membuat hidupku jungkir balik, terbang dan jatuh, mendaki dan meluncur, tertatih dan tersungkur, tetapi sekaligus mengubahnya menjadi jauh lebih bermakna.