Menah dan Letupan di Dadanya
Menah tidak pernah percaya dengan potongan harga di mini market di depan jalan kompleks rumahnya. Mini market itu mulai beroperasi sejak dua bulan lalu, lalu mengalahkan pamor warung kelontong Pak Somad -- hanya karena ber-AC. Bagi Menah, harga barang di mini market itu sudah dinaikkan sekian persen, lalu dilabeli warna kuning agar nampak lebih spesial, lebih murah. Menah bahkan sering menemukan harga barang di sana lebih mahal 1000-5000 rupiah. Seperti tadi pagi, Menah mampir untuk membeli sabun cuci piring. "Bah!", kata Menah, sambil menggenggam sabun cuci piring itu. Menah terkejut bukan karena kaget, namun karena harga yang lebih mahal 2000. Menah bersungut keluar dari mini market, dan memutuskan ke warung Pak Somad saja. Pagi ini Menah lupa, bahwa warung Pak Somad selalu menyediakan (hampir semua) kebutuhan hariannya.
Menah tidak percaya dengan polisi-polisi yang menilang di pinggir jalan raya Jakarta. Setidaknya pada polisi yang tidak menunjukkan surat perintah tilang. Menah meyakini bahwa kekuasaan dapat membutakan banyak orang, termasuk polisi-polisi tidak bertanggung jawab. Bagi mereka, jalanan adalah kerajaan tempat mendulang pundi-pundi untuk mencekoki perut-perut buncit itu. Otot-otot mereka tidak lagi sepadat jaman akademi. Bahkan, Menah sempat mengide, bahwa pelajaran mempertahankan bentuk perut seharusnya ada kurikulum di akademi kepolisian.
Menah juga tidak percaya degan jatuh cinta pada pandangan pertama. "Mustahil", katanya. Baginya, cinta bisa datang karena terbiasa. Klise memang. Tapi tak apa menurutnya. Sebab melihat sekali, bertemu sekali, lalu tiba-tiba jatuh cinta, adalah konyol.
Bagaimana Hentakan itu Datang
Menah memandang pria diujung ruangan. Duduk menghadap jendela berbingkai putih. Membaca buku, sambil menikmati es kopi susu atau mungkin es milo, sebab warnanya nampak sama. Di kafe kecil itu, Menah menahan air mata di pelupuk. Sebuah hentakan kecil di dadanya telah berubah menjadi bunga, bermekaran. Menah percaya pada percikan rasa, yang berasal dari hentakan dan luapan itu. Pada akhirnya, itu, akan membuatnya bahagia dalam bentuk kekhawatiran. Pertanda Menah akan memikirkan pria itu setiap waktu, bahkan dalam tidur. Menah merasa, letupan itu berasal dari perasaan terdalam, yang dikhususkan hanya untuk pria itu seorang. Esoknya, Menah memberikan kuliah di hadapan kawan-kawannya. "Beginilah teori hentakan itu bekerja: sebuah hentakan, lalu meletup! kau menemukan dirimu terikat dengannya, cocok dari segala sudut, tak bisa dijelaskan dengan rumus. Ibarat kancing baju. Ibarat sepatu yang berpasangan. Jiwamu melekat pada jelmaannya, rupanya, keberadaannya. Kau kalah dalam kemenangan", begitulah penjelasannya. Selama berpekan-pekan, Menah selalu ke kafe itu. Terkadang pria itu juga hadir, kadang kala tidak. Ia menikmati letupan itu pula berpekan-pekan lamanya.
Reno, seorang kawannya, mengatakan, "Kau jatuh cinta pada pandangan pertama, Nah! Rayakanlah!". "Aku tidak percaya itu. Dan aku bukanlah orang yang konyol!", tegasnya. Menah melanjutkan dengan parau, "Aku hanya percaya pada letupan di dadaku ini".
(c) Depok, 30 September 2018