Perihal Jatuh Cinta, dan Cinta.
Aku pernah membenci hidup, tidak berhenti berfikir kenapa dan apakah harus ada alasan untuk segala selamat tinggal dan kepergian tiba tiba.
Aku pernah berhenti mencoba, seperti membiarkan seonggok lily yang layu meratapi ingin segera diperciki air dan disentuh matahari.
Aku pernah berpura pura menjadi parasit, ingin tidak terlihat namun tetap merambat mencari tempat untuk bertahan.
Aku pernah gagal, pada intinya.
Hingga semua pintu dan jendela rumahku terkunci tanpa ada gembok yang bisa membuka, ketika sudah kucoba, terlambat dan berkarat. Aku pun terjebak tidak bisa keluar.
Kata ibuku, rumah yang aku tempati itu seperti labirin tidak berujung yang berisi air. Aku tenggelam tanpa mau berenang. Aku mencoba bernafas tapi jiwaku terlalu lemah untuk membuka karat kuncinya.
Padahal, mungkin saja rumahku itu terbakar. Runtuh. Ambruk. Tidak ada sisa. Semua orang bertanya tanya kenapa aku seperti gelandangan saja, berdiri di rumah yang hancur mencoba mencari setitik bata yang utuh.
Hingga akhirnya, ku tinggalkan rumah itu dan berpindah.
Aku menemukan rumah baru yang cukup kuat untuk menopang hati dan jiwaku. Rumah yang cukup nyaman sebagai tempat untuk pulang dan berenang. Akhirnya, aku tidak tenggelam.
Kabar Baik di Jalan Pulang
Sudah empat bulan pertama sejak aku menempati rumah baruku. Meski kadang rindu melihat sudut rumah lama yang telah terbakar itu. Tapi rumah baruku lebih menjanjikan.
Setiap saat sejak detik pertama aku mengenali rumah baruku, hatiku tenteram.
Karena di titik terdalam kepala, ada bayangan sepasang mata yang hilang dikala ia tersenyum. Ada suara riuh tawa menyenangkan setiap kali ia menghidupkan sekitarnya. Ada hangat peluk dan tetes air mata yang juga mengenaliku sebegitu dalamnya. Aku terdiam dan terhenyak. Semua yang pernah aku ucapkan, tepat berada di depanku.
Di sepanjang jalan pulang, aku melihat kebahagiaan sekarang.
Aku pernah takut jatuh cinta, tapi Heintje merubah segalanya.
Terima kasih untuk kesabaran yang luar biasa.
















