Sebait renjana telah meranum, aku terpana akan wanginya. Ruangku senyap gegap-gempita. Tamanku tegap di pusat kesadarannya. Semerbak cahaya.
: Kau kubaca
Hati-hati dan penuh mawas ku meniti, setiap keping sisimu.Supaya tanpa kiasan, supaya terurai semua cahaya. Terangkum semua warnanya.Hatiku adalah mata yang sepenuhnya terjaga.
: Kau masih kubaca
O mahakarya, padamu keberanian ku terbitkan.Secermin semesta dan seluruh pandang kau ku tujukan. Pusaran nyata. Meramu surga empat mata.
: Kau terus kubaca
Festival kesadaran. Sudikah kau membaca, setiap keping sisiku. Yang tanpa cahaya, yang gila milyaran warna. Sudikah kau merapikan ribuan doa?
: Halamanku terbuka
Inti mu halaman penyembuhku. Memulas rimaku yang berdebu. Sudikah kau merapikan ribuan doaku? Tentang kemaslahatan harap, tentang intuisi, tentang belenggu.
: Bacalah aku!
Yang benderang di kabut rimba. Yang bermekaran di taman jiwa. Kau angin-angin metafora. Kau fragmen-fragmen mahakarya.
: Kau abadi kubaca
Akulah rerumputan yang mulai bersemi, di tanah jelaga selepas pesta api. Akulah kesadaranku dengan pilar-pilar cahayamu. Sebait demi sebait kita saling membaca. Kita tertaut menjadi satu buku di rak-rak tua.
: Kita mencipta