Bagaimana bertahan tanpa kembali histeris?
Kalau kamu tahu, hal yang paling aku tidak suka adalah ketidakpastian. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak tahu apa yang harus dipersiapkan. Tidak tahu apa yang akan dihadapi. Tidak tahu bagaimana harus menanganinya. Tidak tahu apa penyebabnya. Tidak tahu bagaimana cara mengontrolnya. Semuanya penuh kebingungan dan hanya bisa menerka-nerka.
Kalau kamu tahu, hal paling buruk yang terjadi setelah kamu pergi adalah aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Sekadar bernapas dengan teratur pun aku kebingungan. Bingung mengapa rasanya begitu sesak dan sedih. Semua emosi itu muncul bersamaan dan tidak bisa dibendung lagi.
Rasanya sangat sedih. Tanganku sudah tidak bergetar, melainkan kaku seketika. Secara fisik pun aku lumpuh sesaat. Sekadar menarik sehelai tisu pun aku tidak mampu. Rasanya seperti pecundang. Apalagi saat harus mempertemukan bibir dengan ujung gelas. Akan menjadi gelas kosong dalam sekejap jika bukan pertolongan rekanku. Saat itu siang hari dan aku menjadi manusia paling tidak berdaya.
Hari itu aku begitu takut. Benar-benar takut. Kesedihan menyelimuti dan aku tidak lagi punya kendali atas diri sendiri. Gelisah apakah aku bisa menahannya sekali lagi atau semua insan di gedung itu akan melihatku histeris?
Semua yang datang dan menenangkan memiliki pertanyaan yang sama. Apa penyebabnya? Dan satu jawaban yang sama aku ucapkan pada semuanya adalah aku tidak tahu. Aku sudah sampai pada titik tidak mengetahui apa yang aku rasakan. Nyatanya aku memang tidak pernah benar-benar memproses apa yang aku rasakan. Itu salahku. Usaha untuk tidak merasa sakit justru berbalik menyakiti diriku sendiri begitu dalam. Tidak hanya batin, tetapi ragaku pun sangat sakit. Dan semua itu adalah salahku.
Tiga jam paling melelahkan dalam hidup. Duduk yang paling melelahkan, bahkan dibandingkan dengan bediri di bawah mentari siang hari.
Tidak mau aku melewati hari seperti itu lagi. Aku pun tidak mau kamu merasakannya juga. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa selama ini aku tulus, tidak seperti dugaanmu yang menyakitkan kala itu. Aku tulus. Aku berusaha menghargai apa yang menjadi keputusan dan penilaianmu, hingga aku menjadi lumpuh pun aku akan tetap menjaga jarak agar kamu nyaman. Padahal rasanya aku sangat ingin kamu menolongku. Dan seperti biasa, orang sepertimu akan berlalu lalang kembali setelah segala cara aku lakukan untuk bertahan.
Kalau kamu tahu, aku sudah hampir merasa tidak apa-apa. Tidak apa-apa tanpamu. Tidak apa-apa tidak melihatmu. Tidak apa-apa, asalkan kamu bahagia. Bangga dan senang rasanya melihat kamu mencapai berbagai hal. Aku memang nekat, tapi kala itu aku tidak mau kamu tidak nyaman. Teman-temanku lah saksi bagaimana aku begitu bangga dan ingin memberi selamat padamu. Tentu, aku tahan agar aku tetap bisa bertahan jika kelak kamu tidak sendiri lagi dan mencapai impianmu yang satu itu. Dan lagi, kamu muncul dan merusak semuanya. Semua pertahanan yang tidak hanya diriku sendiri coba bangun, tetapi juga ada andil dari mereka yang peduli padaku. Semuanya sudah tidak ada lagi saat ini. Dan lagi, setelah kamu berhasil menerobos semua itu, kamu lenyap kembali.
Dan lagi, aku pun kembali tersadar bahwa sakit yang kembali terasa adalah salahku lagi. Lagi-lagi itu semua salahku. Aku memahami semua teori dan konsepnya, tapi aku menolak untuk paham. Aku menolak semua kemungkinan hingga akhirnya tidak ada lagi kata kejutan atas semua langkahmu. Namun, tetap saja ada air yang mengalir tanpa disadari.
Dan rasa sesak kembali hadir. Berjam-jam merasa sesak karena aku sendiri yang sengaja mencari penyakit itu. Menyakiti diri sendiri. Semalaman bahkan harus dihadapi sendirian.
Kombinasi emosi itu menjadi hal yang tidak mau lagi aku hadapi. Tapi semua itu tidak bisa ditebak akan kapan datangnya. Bahkan dipagi hari seperti hari ini pun aku kembali merasakannya. Sesak, berdebar, mual, dan yang paling aku takutkan adalah perasaan sedih tak terkendali. Semuanya muncul bersamaan dan aku takut.