Kenangan dalam Kotak
Beberapa waktu lalu saat aku merasa sedang tidak baik-baik saja, aku menghibur diri dengan mencoba melakukan aktivitas yang bisa menepikanku sejenak dari pikiran-pikiran negatif di kepalaku. Lalu aku putuskan untuk memulai membersihkan kamar yang sudah beberapa hari terlihat kacau seperti pikiranku saat itu. Di momen itulah aku menemukan sebuah kotak kecil yang tertumpuk rapi di dalam kontainer di bawah kolong tempat tidurku.
Kotak itu terbuat dari kertas karton berlapis kertas hias bercorak biru—warna favoritku saat itu, kurang lebih berukuran A5. Sengaja aku beli dari toko ATK untuk menampung kenangan kecil yang berserakan. Karena aku yakin hal-hal kecil itu akan berharga suatu saat nanti. Dan benar, saat aku buka, kotak itu berisi beberapa macam surat, memo, dan pesan-kesan dari orang-orang yang pernah bertemu denganku di kampus dulu. Aku baca satu persatu semua tulisan itu dan tiba-tiba air mataku mengalir pelan. Aku yakin Allah sudah menghadirkan waktu yang tepat untuk aku membacanya saat itu juga.
Dulu aku tidak pernah menyangka bahwa masa depan akan seperti ini. Bahkan aku sendiri tidak berani membayangkan ingin seperti apa atau menjadi apa nanti. Memori yang kurang baik di masa kecil hingga remaja menjadi pembenaran bagiku untuk tidak apa-apa tertinggal oleh teman-temanku. Dan aku tahu itu salah. Banyak hal terlewatkan begitu saja tanpa aku berusaha keras menggapainya.
Di usia yang sudah tidak muda dan tidak banyak yang bisa aku capai saat ini, membuatku merasakan ketakutan-ketakutan lain dan itu membuatku semakin merasa tidak baik-baik saja. Aku mudah insecure dengan pencapaian orang lain, dan selalu menyalahkan diri sendiri. Tapi Allah ingatkan aku lewat pesan- kesan indah yang saat itu aku baca.
Banyak sekali kata-kata baik yang dituliskan orang-orang untukku. Mulai dari pujian, doa-doa indah, nasihat-nasihat manis, candaan menggemaskan, juga curhatan dari hati. Aku ingat, dulu aku merasa senang sekali membaca ulang pesan-kesan itu saat waktu luang atau saat beres-beres untuk pindahan kos, dan sekarang perasaanku tidak berubah.
Kadang aku ingin membalas semua pesan-kesan itu dengan mengatakan “aku tidak sebaik dulu”, atau sekadar mengatakan “aku tidak sebaik yang kalian pikirkan”. Tapi aku ingat bahwa tidak semua orang melihat kita dari kekurangan yang kita miliki. Bisa jadi orang lain melihat kita dari kelebihan-kelebihan yang kita punya, yang tidak pernah nampak pada penglihatan kita sendiri.
Hal-hal kecil kadang memang luput dari pandangan kita, sekalipun itu adalah hal yang berharga. Siapa sangka, Allah menggerakkanku untuk membuka kotak kenangan yang sudah mulai usang dan berdebu itu untuk membangkitkanku kembali dari perasaan dan pikiran yang sedang kacau. Allah telah mengingatkanku bahwa sebelum mencintai orang lain, aku harus mencintai diriku sendiri. Aku harus berdamai dengan diriku sendiri, menerima segala kekurangan dan mengapresiasi hal-hal baik yang mungkin orang lain belum bisa melihatnya.








