Menurutmu, apa yang mutlak dari sebuah hubungan? Ralat, maksud saya: apa yang mutlak dari sebuah hubungan romantis ā katakanlah, āpacaranā?
Ada tak terbatas ragam manusia dan tak terbatas ragam kata yang mendefinisikan sebuah hubungan āpacaranā. Barangkali sekian diantaranya adalah: sebuah fase pasca āpendekatanā, sebuah tanda berkomitmen dengan yang dikasihi, atau yang paling umum akhir-akhir ini, sebagai sebuah langkah menuju pernikahan.
Tentu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah dari definisi-definisi yang dicontohkan di atas. Sebuah hubungan, entah istilah yang digunakan 'pacaranā, 'partner-anā, atau 'jalanin dulu ajaā, semuanya bebas didefinisikan menurut yang melakoni, menurut yang menjalani. Tapi sayangnya, apa-apa yang bebas dan apa-apa yang merupakan wilayah otonom pihak-pihak tertentu, nyatanya memang kerap menggoda pihak-pihak di luar dari yang berkepentingan untuk ikutan nimbrung, ikutan mengatur, ikutan menentukan sang sejoli harus seperti apa dan bagaimana.
Kembali lagi ke pertanyaan awal, apa yang mutlak dari sebuah hubungan 'pacaranā?
Di tengah ketiadaan jawaban pasti nun ilmiah dan selagi tidak ada ilmu mayor khusus yang fokus soal cinta-cintaan dan pacaran-pacaran-an, bagi saya, yang 'mutlakā dari sebuah hubungan romantis adalah 'kesepakatanā alias 'kesediaanā alias 'consentā.
Definisi hubungan pacaran selalu bisa cair dan tersadur akan konteks-konteks yang mendasari terciptanya hubungan itu. Tapi apapun itu, saya percaya, awal mulanya hampir pasti ialah komunikasi. Adalah kesediaan untuk bersepakat, adalah hal-hal yang dilandasi penghormatan terhadap masing-masing individu yang saling terhubung dalam dekat.Ā
Beberapa waktu ke belakang, saya dan si dia menghabiskan sejumlah waktu yang banyak untuk membahas mengenai hal di atas bahkan jauh sebelum akhirnya kami bersepakat menamai hubungan yang kami jalani. Pasca rapat-rapat yang bertebaran di beda-beda tempat sepanjang hari, kejaran laporan atau timesheet demi bisa gajian, file excel yang hangĀ disaat-saat genting, hingga desas-desus penampakan hantu di kantor masing-masing, kami merasa tetap perlu untuk bertemu ā bertatap muka membahas apa yang kami sedang dan akan kami jalani.Ā
Di sela-sela tenggak beer, kopi, atau es teh tarik seantero Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan plus iringan musik yang berganti-ganti dari live ke Spotify, akhirnya kami bersepakat bahwa tidak ada yang 'mutlakā dari sebuah hubungan. Yang 'mutlakā adalah justru 'ketidakmutlakanā itu sendiri, keterbukaan, fleksibilitas, dan yang terpenting: dialog.Ā
Dialog ā dialog terbuka yang tanpa penghakiman lebih tepatnya ā menjadi unsur paling penting dalam hal-hal semacam ini agar tidak berujung se-klise 'mau dibawa ke mana?ā belaka. Kami tiba di titik tak hanya dapat saling memercayai satu sama lain, tapi sama-sama percaya bahwa kesediaan, kesepakatan, keterbukaan dan penghargaan adalah hal yang kudu menjadi standar sebelum kita bicara atau melangkah lebih jauh. Bukan, bukan sekadar sesi saling compare kisah masa lalu, tapi bagaimana dialektika rasional dan logis tentang sebuah peristiwa sosiologis bernama 'berhubunganā ini dapat tercipta. Walau kata orang 'cintaā itu filosofis, tapi bagi kami, 'cintaā atau apapun rasa sejenisnya, tidak hidup di ruang hampa. Dia bergerak, berproses, bukan statis apalagi kedap.
Waktu demi waktu berjalan, selalu ada banyak hal yang saya tidak ketahui akan si dia dan begitu juga sebaliknya. Kami tak ingin mematok waktu kapan dan bagaimana semua rahasia harus diungkap atau tidak, tapi intinya, terbukalah ketika sudah siap dan merasa nyaman. Bila tidak, lebih baik jangan. Singkat cerita, ada beberapa petik 'kisah sensitifā atau yang tergolong 'rahasiaā yang diantara kami berdua coba untuk ungkapkan ā bukan soal formalitas karena kami 'pacaranā ā melainkan karena kami yakin, ini adalah jantung dari apa yang kami namai sebagai proses itu sendiri. Kami hening bersama-sama, membuang muka ke samping bersama-sama, atau menangis bersama-sama, ya, itu proses.Ā
Melangkah lebih jauh, kami berupaya untuk tidak luput saling berterima kasih satu sama lain. Berterima kasih untuk semua yang terjadi, yang terkatakan, bahkan untuk hal-hal yang masih tersimpan di pikiran. Saling berterima kasih, karena telah jujur dengan diri masing-masing, dengan hubungan yang dijalani.Ā
Tentu tidak ada garansi bahwa sebuah hubungan ā tak peduli telah sematang apapun dipersiapkan ā akan selalu berjalan mulus, akan selalu chillĀ layaknya lantunan melodi Sentimental Moods, tidak melulu penuh canda dan tawa. Tentu saja, namanya juga kehidupan, di depan sana akan selalu ada hal-hal absurd penuh kejutan, tantangan-tantangan gila, dan godaan-godaan yang berupaya menjerumuskan kita untuk menyerah atau mengambil pilihan-pilihan tanpa didasari pertimbangan yang mumpuni.Ā
Ingat selalu bahwa alam semesta punya seabreg persoalan dari penyiksaan sampai korupsi, dari penyerebotan lahan sampai penyalahgunaan wewenang oleh pejabat eshol. Yang mana, rasa-rasanya perlu diperjuangkan bersama. Rasa-rasanya perlu jadi battle field selain dengan rekan tapi antara kami berdua, menguji diri bahwa yang namanya 'bersamaā bukan soal pencapaian, tapi mengimani proses sebagai sebuah keniscayaan.Ā
Bila terpaksa harus kembali ke topik 'definisi pacaranā, tentu artinya bagi kami seluas samudera dan hamparan langit: kita selalu punya kesempatan untuk mendefinisikan lagi dan lagi apa itu hubungan ini dan menyusunnya jadi argumen-argumen berbasis fakta tak terbantahkan yang menjelaskan alasan demi alasan mengapa kenyamanan dan sayang ini layak dipertahankan.Ā
Jakarta, 5 & 6 November 2017
untuk Wana Alamsyah, karena saya tak jago foto-videografi apalagi edit video sepertimu :))