You’re doing fine
Menjadi dewasa adalah tentang bagaimana kejujuran itu bergerak, untuk jujur dengan keadaan, jujur dengan pikiran, pada jiwamu sendiri, keingininan, realitas, persinggungan, kebohongan, rahasia, pandangan, semua itu tentang menerima momen untuk tetap berdiri. Seringnya untuk memahami diri sendiri meski sendirinya mungkin kurang paham, atau pemahaman yang memerlukan petunjuk untuk meluruskan paham sendiri bahwa aku benar, aku baik - baik saja, atau aku sedang membaik, atau aku baik namun dunia memang seperti ini, atau aku mungkin baik, atau tidak baik namun tidak tahu, atau mungkin kali ini bingung, karena aku tidak merasakan apapun. Mati rasa sepertinya, mungkin, jauh di dalam sudah terlanjur kecewa namun sudah terbiasa hingga rasanya biasa.
“Kau mau apa?” sebuah pertanyaan pada diri sendiri. Simple. Tapi tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.
“Apa kau dengar suara angin yang berhembus dimuka bumi?” Kalimat yang pernah terdengar.
“Apakah yang berada disana, diujung awan yang membara?”
“Kau tahu masa depan telah menantimu dibalik hutan ini, percayalah” mungkin lirik yang sedikit berkait.
Kau bisa melihat biru langit dari bawah hutan, namun tak bisa melihat akar dari atas awan. Diatas tanah kamu bisa bermimpi pada langit namun masih tak tahu apa yang ada dibalik hutan setelah berjalan jauh. Percayalah? Kurasa mempercayai diri sendiri terlalu naif. Kurasa untuk melaju pada hal - hal yang kau mau bisa dengan mempertanyakan “Kau mau apa?” sebagai pencarian petunjuk awal. Namun kembali tersesat dengan situasi hutan dimana kamu berdiri sekarang. Aku mau hidup yang lebih baik, mungkin semua orang selalu ingin menjadi lebih baik dari keadaan yang dialami, kemana aku melangkah mungkin perlu berpegangan pada tongkat, dan tongkat yang ku bawa patah. Kemana aku berpegangan? Sebenarnya tidak perlu tongkat untuk berjalan, namun perasaan ada yang hilang, sedikit kekosongan karena tidak akan ada yang membantu dirimu. Meski hanya tongkat, atau sekedar batu loncatan. Diri ini hanya memerlukan tenaga untuk melangkah, untuk tetap mengambil gerakan menjauh dari tempat semula. Tenaga itu datang dari harap. Apa yang lebih kuat dari harapan mungkinkah kepercayaan? Kurasa mempercayai diri sendiri tetaplah naif. Namun kenapa saat melangkah berpegangan pada tongkat meski bisa berjalan sendiri? Mungkin saja karena tangan ini kesepian sampai perlu berpegangan. Untuk tetap berharap.
Apapun yang ada dibalik hutan itu, entah yang buruk atau yang baik, selangkah demi selangkah, entah langkah ini berjalan kemana, kurasa dari fenomena tongkat itu sedikit menjawab pertanyaan. Melepas beban pada tengkuk kepala, jujur dan menerima, meski kehilangan arah, kau akan baik - baik saja. Mungkin.









