Sempat terpikir bakal jadi orang yang ignorant pada politik dan pemerintahan untuk selamanya. Tapi kemudian tersadar kalau, meskipun sekarang gak bersinggungan langsung dengan keputusan pemerintahan hari ini, bisa jadi nanti hari-hari kita terjungkir balik dalam sehari, karena orang lain yang punya kekuasaan—yang katanya sih kuasanya kita yang berikan—dengan bebas merdeka menggunakan kekuasaannya sesuka hati tanpa perlu hati-hati.
Katanya dasar negara kita itu Pancasila. Katanya keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Katanya semua punya kesempatan sama. Katanya semua suara penting adanya. Kita tau gak pernah ada penting yang sama, tapi semua yang penting bisa didengarkan dan diperhitungkan. Bukan cuma dihitung.
Sebagai anak tengah dengan middle child syndrome, aku pikir aku begitu terbiasa soal kepentinganku yang gak pernah dianggap penting orang lain. Jadi kurasa aku akan baik saja. Tapi rupanya cukup mematahkan hati untuk tau, seberapa penting pun kepentingan warga masyarakat hari ini, semua gak ada artinya lagi.
Banyak orang memang gak ngerti, ada hak-hak yang sebenernya punya mereka, tapi gak mereka dapet karena gak tau itu harusnya punya mereka. Kadang orang malas memperjuangkan, karena tau konsekuensinya tidak sepadan, padahal aturannya jelas tertulis di undang-undang.
Iya, dari dulu kita memang sudah trust issue. Tau betul gak bisa banyak taruh harap pada orang-orang yang ada di jajaran pemerintahan—meski gaji mereka dibayarkan dari pajak kita. Tapi setidaknya, masih ada aturan sah tertulis dan disepakati untuk melindungi dari banyak dzalim yang mungkin menimpa diri. Lalu aturan-aturan itu satu per satu dilanggar, tanpa tahu malu, tanpa juga ada yang mengadili, oleh orang-orang di barisan paling depan yang kita amanahkan. Mereka yang sebenar-benarnya figur publik.
Katanya we get the leader that we deserve. Dan gak pernah sedikit pun terlintas di kepala, kalau akan datang hari di mana aku merasa begitu resah gelisah, akan fakta bahwa mayoritas rakyat Indonesia rupanya lebih peduli menari, nonton sedikit durasi dari video yang tak sampai satu menit, glorifikasi bocah-bocah kosong dan dJ remix funky.
Kadang ada juga sedihnya ngelihat yang lebih muda, yang punya akses lebih baik untuk cari tau malah kebawa arus dan berdiam diri dengan nyaman di eco-chamber-nya masing-masing (damn you, algorythm!). Benar salah jadi nyaru, lalu dianggap new normal.
Ini tentu juga berlaku untukku. Karena andai aku merasa setidaknya punya kesempatan dan harapan akan adanya perubahan, mungkin aku akan memaksa diri mengurus administrasi, menerobos birokrasi. Dari pada hanya diam sambil ngomel sendiri, soal pesta demokrasi yang diadakan tengah minggu dan proses pengurusannya yang memakan banyak energi dan waktu.
Disclaimer, aku gak fanatik sama paslon mana pun. Aku tau semua juga cuma umbar janji di masa promosi pemilihan umum kali ini. Pencitraan, basa-basi, dan kampanye memang terkesan palsu dan memuakkan karena kita tau, semua yang berlomba jadi orang paling berkuasa pasti punya agenda dan kepentingannya masing-masing juga. Tapi setidaknya, aku apresiasi bagi yang masih mau berlelah membangun citra dengan adab, adil, dan sewajarnya.
Aku pamit ya habis ini akan balik posting soal k-pop, drakor, dan curhat curhat receh aja. Selamat makan siang. Wassalam.











