Pendidikan atau pengangguran
perkenalkan aku adalah seorang pemimpi yang terus berusaha menggapainya. Banyak mimpi-mimpi yang ingin aku wujudkan menjadi nyata. Tak jarang lingkungan sekitar selalu saja merendahkannya, bahkan anggota keluargaku sendiri mengatakan aku seorang yang aneh dengan hayalan dan impian yang sama anehnya dengan aku.
Patahan semangatku, selalu saja mengelilingi tak terkecuali kakakku sendiri. banyak sayap-sayap indah yang sudah kubentuk namun terbentur sirna dengan kata-kata yang menghancurkan relung hati. Aku sadar dalam menggapai impian dibutuhkan tekad dan kekuatan ekstra. Namun apa daya, aku hanya manusia biasa yang kadang kala remuk bak tulang dimulut singa. Namun, aku selalu menepis semua kata-kata pahit yang terus terngiang dibenakku. menggoroti semangat-semangat impian yang ingin aku bangun menjadi nyata.
Teringat kala aku menyampaikan mimpi ingin Kuliah dihadapan semua Keluarga, namun kata-kata diujung tenggorokan terbantahkan oleh kata-kata dari tenggorokan lainnya. “Hidupmu aja aku yang biaya! dan sekarang mau kuliah? Kerja biar tau rasanya capek cari uang buat makan. Bukan taunya habisan uang. Jadi anak harus berguna bantu aku cari nafkah. Sudah! tidak ada kuliah-kuliah. Sampai kapanpun aku tidak bakalan setuju. Dan jika kamu mau kuiah silahkan! tapi jangan pernah minta satu rupiahpun dari aku dan jangan pernah berharap kami akan bantu”. Betapa sakitnya kala itu, bak dihantam badai namun petirpun menyambar sekalian. Hingga tanpa bantuan dan keputusan bahkan dari seorang Wonder woman bergelar Ibu hanya melihat dengan gelingan air mata tanpa tau bantu seperti apa. Masa tersulitku, Kebahagiaanku sirna Ibu yang sakit, Cita-cita yang terhimpit. Ingin aku berteriak sekeras-kerasnya. Menyalahkan beliau (Ibu) kenapa, kenapa aku tidak boleh kuliah. Namun apa daya? bukankah egois tidak akan berujung manis?. Benar rupanya, mau sebanyak apapun kakak beradik yang kita miliki yang tau diri kita ya hanya kita.
Hingga suatu hari disekolah diadakan seminar dadakan dari Kakak Alumni serta mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Bagaimana mereka menyampaikan enaknya menduduki bangku perkuliahan, mengikuti organisasi sambil menambah relasi, memperpanjang silaturrahmi sampai keluar negeri. Itu semua bisa didapatkan hanya menjadi mahasiswa. Mahasiswa yang berprestasi dan membanggakan bangsa serta negeri, terutama sekali keluarga.
Bermula dari situ, aku beranikan diri mencari tau lebih lagi tentang universitas tersebut. Hingga akhirnya pencerahan dimulai, aku mendapatkan informasi beasiswa bagi yang tidak mampu. Allah sangat baik bukan. Allah tidak menjanjikan kita berhasil tapi Allah menjanjikan bagi siapa yang berdo’a dan berusaha Insya Allah mendapatkan. “Baru Allah jumpakan Sama informasi Beasiswa aku udah senang banget, Terima kasih Allah”.
Hingga semua persiapan sudah terpenuhi, aku beritahu lagi Ibu secara Private dan Alhamdulilah Ibu sangat senang. Dengan berlinang air mata beliau memeluk serta mendo’akan kelancaran bagi aku dalam mengupload persyaratannya. Namun tidak semudah yang dibayangkan, tanpa laptop bagai buku hanya ada sampul tanpa isi. Aku korbankan waktu berjam-jam di Warnet hanya untuk Upload berkas tersebut, ditambah lagi kurangnya pengalaman dan pemahaman membuat aku sangat stress. Hingga masa submitnya tinggal 4 jam lagi, namun berkas yang aku punya belum sempat aku upload semua, dan itu benar-benar blank. Dengan berlinang air mata aku pulang kerumah dan mengunci diri dikamar selama 3 hari tanpa aktivitas maupun sekolah.
Namun, itulah manusia sedih boleh menyerah jangan. Hingga suatu hari tanpa sengaja aku kembali lagi ke Warnet yang sama untuk mengecek beasiswa-beasiswa lain yang serupa. Namun apa daya, Salah satu mahasiswa Unsyiah berada disana. Tanpa sengaja dan kesengajaan kami mengobrol hingga pertanyaan uptodate seputar beasiswa dan Alhamdulillahnya lagi berdasarkan infomasi dari dia aku mengetahui bahwa pendaftarannya ditrerima juga melalui Manual. Sungguh baik Allah pengatur kehidupan serta Strategi yang super matang. Sungguh Nikmat mana lagi yang aku dustakan. Menghadirkan orang-orang baik serta ditolong baik-baik.
Sampai suatu hari berita kelulusan Beasiswa disampaikan kesekolah dengan segala ketentuan dan aturan. Sungguh Ibuku sangat senang dan bahagia. Tidak ada kebahagiaan selain membuat beliau tersenyum. Itulah cita-cita baruku lagi selain kuliah. Membahagiakan beliau dan selalu melihat beliau tersenyum.
Namun, perjuangannya tidak sampai disitu, Memasuki bangku perkuliahan tidak semudah yang pernah kakak-kakak seminarkan. Nangis jauh dari Ibu, berjuang sendiri di kota orang, Selalu begadang buat mengerjakan tugas di Warnet terdekat Asrama, Makan seirit-iritnya ditakutkan besok tidak ada yang bisa dimakan, Style itu-itu aja, mau mengerjakan tugas jika tidak numpang Warnet ya Pustaka. Sungguh diluar kuasa dan dugaan. Namun sebaik-baik perencanaan Milik Allah. Bukankah aku sudah yakin Allah mengatur sedemikian rupa kehidupanku dengan sangat baik, Lantas apa yang aku ragukan?.
Hingga dipenghujung kelelahanku, dia ya dia yang dulu membantu aku, membawa berkas beasiswaku, yang memberi kata-kata penyemangat untuk tidak berputus asa, bertemu lagi, ya kami bertemu lagi. Setelah sekian purnama yang dulu hanya tau nama dan menyerahkan segalanya kepada Allah dan hanya berharap kepadanya-Nya. Jika memang ditakdirkan untukku tidak akan melewatiku. Sungguh tidak tau mau ngomong apa!
Dulu, iya dulu ketika dipenghujung keputus-asaan aku berjumpa dengan dia dan sekarang hal yang sama berulang kembali. Ada apa dengan jiwa ini Allah. Sungguh hanya kau yang tau. Aku akan menerima baik buruknya perjalanan ini asal engkau selalu membimbing. Ya! hanya itu kata-kata sakral serta penyemangatku. Aku tau ini takdirmu tapi aku akan selalu menjaga marwah diri ini. Hingga tibalah pada pertemuan ini, pertemuan yang berujung istimewa. Dari sinilah kehidupan perkuliahan yang mereka bilangbegitu indahnya bisa dan dapat aku nikmati. jika dulu buat tugas ke Warnet sekarang ada yang tulus membimbing dan meminjami laptopnya buat dipelajari. Sungguh aku sangat bersyukur Allah.
Rupanya, Tidak hanya disitu. Hidup ya hidup. tanpa terkecuali permasalahan, penyelesaian dan pendewasaan untuk kita. Kuliah yang hampir kelar, Beasiswa tiba-tiba ada hambatan dalam penyaluran. Sidang didepan mata, biaya sidang tidak cukup, belum lagi biaya untuk print skripsi. Sungguh Cobaan apa lagi ini Allah?. Itulah manusia, ketika terjepit menjerit-menjerit memanggil Allah, Namun demikian, sungguh Allah sangat mengidamkan, menyukai dan menyayangi Hamba yang datang kepadanya tanpa mau tau lagi terjepit dan sebagainya. Tapi hati ini malu, Sungguh! Apakah aku hamba yang kurang bersyukur? Iya.
Hingga hari itu, Hati malu buat minta bantuan lagi pada si Dia. Aku beranikan diri buat pulang kampung dengan harapan Ibuku, Dewiku memiliki 1001 cara untuk anaknya ini. Walaupun aku malu hampir 4 tahun aku kuliah inilah pertama kali pulang dengan membawa beban. Namun apapun itu, aku percaya Ibu pasti memiliki 1001 alasan untuk menolong dan membantu anaknya. Harapan hanyalah harapan. Yang didepan mata itulah yang akan kita lalui. Iya tanpa diduga, baru lima menit berdiri didepan rumah, pintu terbuka sang penguasa berdiri gagah didepannya. Sungguh aku kangen si Dia yang suka ngomel namun ujung tak disangka, belum juga bersua sayapku dipatahkan kembali dengan kata-katanya. Oh dunia Kenapa sangat sadis terhadapku?. Itulah kata pertama yang keluar dari hatiku sebelum terpatahkan dengan kata kakak yang berikutnya. Sungguh inilah akhir dari kepanjangan do’a terbaikku selama ini yang ingin menjaga Ibuku, Dewiku, Sayap penyemangatku. Ternyata Allah mengabulkannya dengan cara agak sedikit berbeda. berdasarkan penglihatan manusia. Namun tidak untukku, dia ibuku, dewiku. Apapun yang terjadi aku siap, siap menerima dan menjaganya seperti arahan kakakku.
Tanpa harapan dan tujuan yang jelas, LIma hari di Kampung aku kembali lagi ke kota tempatku Melanjutkan pendidikan, kerja sambilan dan tempat bertuah yang lagi-lagi Dia membantuku. Ya! Dia lagi-lagi mau menampungku, Ibuku dan membantuku. Sungguh Dialah Titipan Allah untuk menolongku. Sungguh terima kasih Allah atas kehadiran orang-orang baik dalam hidupku. Ya, aku tau kami bukan mahram, Tapi aku tetap tau diri untuk menjaga batasan.
Sebulan penuh dia menampungku dan ibu, Membantu kelancaran Skripsiku sampai dimana hari kelulusanku tiba. Ya lagi aku melihat senyum Ibu, senyum bahagianya bahkan sangat bahagia. Sungguh tidak ada nikmat Allah yang aku dustakan. Terima kasih Allah engkau masih berikan kesempatan untukku membahagian orang tuaku, Princesku. Terima kasih Allah.
Kelulusan adalah kebahagian baru bagiku serta bagi Ibuku. Selain itu, Bahagia ini semakin bertambah ketika si Dia, Ya! Muhammad Zariel namanya mengkhitbahku secara langsung didepan Ibuku. Sungguh anugerah terbesar dalam hidupku dipertemukan dengannya. Dengan bekal Restu Ibu Dua minggu setelah lulusanku kami menikah. Dia suami terbaik menurut versiku, yang Allah titipkan untuk bersanding denganku, yang Allah jumpakan untuk membantuku. Sungguh terima kasih trdalam dariku untukmu. Terima kasih sudah menerima diri yang keras kepala ini, egois, cerewet dan banyak maunya ini. Terima mau menerimaku sekaligus Ibuku. Terima kasih suamiku.. Semoga Allah elalu mudahkan langkah kita..
Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, jika Allah mengatakan KUN maka jadilah. Sungguh Allah maha Pemberi nikmat terbaik. Apapun cita-citamu sertakan Allah didalamnya. Sungguh nikmat dan berkahnya akan beda. Dan ingatlah ridha Orang tua ridhanya Allah. Maka bahagiakan orang tuamu niscaya Allah akan memberikan kebahagiaan untukmu
















