Teruntuk Perempuan yang saya yakini masih memiliki ketulusan dalam hatinya,
Saya tidak memahami rasa sakit yang kamu rasakan. Yang saya tahu, rasa sakit merupakan bagian dari menjalani kehidupan.
Saya tidak punya alat ukur seberapa jauh seseorang berproses, yang saya tahu, semudah - mudahnya proses, selalu terdapat hikmah disetiap kejadiannya.
Kehadiranmu tidak pernah saya sangka kan dalam kehidupan saya, begitupun dengan benang merah diantara kita. Tak pernah setetes embun pun saya mengira bahwa saya akan berada di titik dimana hadirnya dirimu mempengaruhi kegiatan sehari - hari saya.
Puan, kita sama sama tahu, belajar itu wajib, bahkan peribahasa mengatakan kita harus mengejarnya meskipun ke negeri orang. Lagi, saya tidak punya alat ukur seberapa banyak pelajaran yang telah diterima seseorang. Ah bicara pengalaman saja, kata mereka. Belum tentu. Belum tentu orang dengan pengalaman menahun pelajarannya lebih banyak daripada orang yang baru dua hari belajar. Sepakatkah kamu dengan hal - hal relatifitas seperti demikian?
“Waktu adalah uang”, kata mereka. Namun waktu juga adalah rahasia Tuhan, bagi saya. Lalu apa arti waktu menurutmu? Untuk ukuran perempuan dengan pendidikan tinggi sepertimu, saya pikir pendapatmu soal waktu mestilah hal yang berharga pula, bukan?
Puan, belajar berkasih sayang yang saya jalani tidak mudah. Mungkin juga sebagaimana tidak mudahnya dirimu menerima keadaan yang menurutmu sulit dipahami. Meskipun takaran setiap orang dalam memandang sesuatu selalu berbeda. Saya mencoba memahami, rasa ketidakterimaan dalam dirimu ketika sesuatu terasa direnggut dari genggamanmu. Saya mencoba memahami betapa sakitnya sesuatu yang kita sayangi tidak dapat kita miliki. Apalagi seseorang, bukan?
Puan, saya bukan hakim yang dapat memutuskan mana yang benar dan mana yang salah. Saya hanya meminta sedikit bantuanmu untuk mengutarakan mana yang semestinya. Saya bukan pula kepala negara yang memiliki hak istimewa, bahkan demi menyenangkan beberapa pihak. Saya hanya meminta sedikit bantuanmu untuk memahami keadaan yang terjadi.
Puan, saya bukan saudagar kaya yang dapat membeli berlian seluas dermaga. Saya tidak dapat menggantikan rasa sakitmu dengan apapun yang saya miliki. Namun dapatkah kamu berfikir demikian juga? Bahwa kamu pun tidak bisa mengganti semua hal yang telah terjadi dengan apa yang kamu miliki.
Puan, saya sadar dengan sepenuh hati, saya masih memiliki Tuhan yang saya yakini. Saya masih dapat memanjatkan permohonan kepadaNya, dan saya sadar mungkin hanya melaluiNya saya dapat berkomunikasi denganmu. Entah dengan cara apa Dia berkehendak.
Puan, sebagai makhluk yang sedang belajar memahami apa yang terjadi, sebagai seseorang yang sedang berikhtiar melalui sabar, Saya menahan diri untuk tidak mengutarakan secara langsung apa yang saya inginkan, apa yang saya harapkan terhadapmu.
Namun Puan, jika saja kamu berkenan mendengar, akan sangat berharga pelajaran ini untuk saya. Saya mohon mengertilah, saya mohon pahamilah dan saya mohon terimalah, apa yang kita hadapi saat ini. Sebagaimana saya pun belajar menelan proses pembelajaran ini, dimana suatu hari nanti akan menjadi pengalaman berharga bagi saya. Dan tentu tidak lepas dari bantuanmu. Semoga, ya, hanya semoga yang dapat saya utarakan saat ini, Semoga apapun yang menimpa mu yang mengakibatkan rasa sakit yang begitu dalam, akan Tuhan balaskan dengan rasa kebalikannya segera mungkin. Saya tidak sama sekali membencimu, Saya akan belajar bersyukur, Tuhan hadirkan kamu ditengah perjalanan hidup saya. Semoga Tuhan senantiasa melindungimu,ya.
Saya yang hampir lelah menyaksikan berprosesnya seseorang yang sangat saya sayangi.