Pandemi mengharuskan orang-orang tinggal di rumah. Mereka, termasuk saya harus belajar lebih bersabar untuk menahan diri mengurangi aktivitas di luar rumah selama itu tidak penting.
Momen mengharuskan orang di rumah inilah yang banyak dimanfaatkan orang-orang mengeksplorasi bakat-bakat terpendamnya. Atau coba bereksperimen dengan hal-hal baru, misalnya, masak, berkebun, membuat konten video, melukis, dan banyak lagi.
Namun hal itu tidak terjadi pada saya. Ternyata di rumah dengan aktivitas yang rutin membuat saya cepat bosan. Membaca buku salah satunya, aktvitas yang harusnya membutuhkan waktu ini tidak berjalan mulus seperti yang orang lakukan di masing-masing postingan media sosialnya.
Tantangannya semakin berat. Rasa malas semakin menjadi-menjadi. Rebahan menjadi virus mematikan bagi diri saya sendiri. Menunda, tidur, dan bermain gawai menjadi godaan yang tidak terhindarkan.
Imajinasi bangun pagi baca buku; menulis hal-hal yang baru, menjadi sesuatu yang utopis. Bahkan menulis ini saya lakukan di gawai dengan bergelut dulu melawan diri sendiri.
Saya terjangkit virus. Sungguh virus yang nyata itu hadir di dalam tubuh saya sendiri. Yang juga sebenarnya mematikan jika tidak bisa melawannya.














