Manusia merupakan makhluk sosial. Itu berarti, manusia akan membutuhkan manusia lainnya ketika melakukan sesuatu meskipun hanya untuk menghilangkan bosan. Tetapi, apakah sebagai manusia kita harus selalu bergantung kepada manusia lainnya? Jika menurutmu iya, itu benar adanya. Tetapi jika menurut orang lain, tidak, itu juga benar adanya. Beberapa orang akan memilih untuk bergantung, dan sisanya memilih untuk berdiri sendiri meskipun tidak dapat dipungkiri ia tetap membutuhkan orang lain. Lalu, bagaimana agar kita bisa berdiri sendiri atau sebutan mudahnya, menjadi mandiri? Jawabannya, beragam.
Menjadi mandiri dapat disebabkan beberapa hal. Salah satunya dapat disebabkan oleh kekecewaan. Ia pernah bergantung lalu dikecewakan. Akibatnya, meminta bantuan orang lain akan sangat jarang terlintas di pikiran mereka bahkan ada yang sangat mengurangi interaksi dengan teman-temannya. Kecewa memang dapat merubah manusia sedemikan rupa, karena kecewa itu lah, manusia dapat lebih memahami dirinya. Apa yang dimilikinya selama ini dapat menjadi lebih baik dan terus membaik. Lantas, bagaimana caranya? Jadilah dirimu sendiri.
Cintailah dirimu agar kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Karena ketika kamu dapat mencintai diri sendiri, maka kamu akan dengan mudah menerima kekurangan yang ada dan meningkatkan kelebihan yang kamu miliki dengan senang hati. Tidak ada beban dalam mengeksplor diri. Tetapi, tidak sedikit yang mengatakan bahwa mencintai diri sendiri itu sulit dilakukan karena adanya standar-standar yang beredar di sosial. Buang standar sosial, dan buatlah standar sendiri untuk dirimu. Jadilah pantas dengan caramu sendiri, bagaimana?
Pahami apa yang kamu suka, kamu suka membaca? Carilah buku, tidak perlu memedulikan selera orang, bacalah semua buku yang kamu mau. Kalau bisa, baca semua buku agar kamu mengerti apa yang terjadi di dunia saat ini, saat dulu, bahkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan karena buku adalah jendela dunia. Atau kamu suka berolahraga? Berolahragalah. Badanmu sudah dianggap bagus? Tetaplah berolahraga agar hal yang bagus itu terjaga. Jangan pedulikan komentar dari teman atau bahkan keluargamu mengenai apa yang kamu lakukan. Lakukan apa yang kamu mampu dan mau. Eksplor dirimu lebih jauh dan jadilah sosok yang mau memelajari hal baru, mau keluar dari zona nyaman yang aman, serta berani dikritik.
Bagaimana rasanya melakukan itu semua tanpa peduli komentar tidak penting? Menyenangkan, bukan? Jika kamu telah berhasil menyenangkan diri sendiri, apakah tidak lebih menyenangkan jika orang lain juga merasakan itu? Bukankah kita yang sebelumnya tidak terlalu mencintai diri sendiri ini lebih sering mengutamakan orang lain dibanding diri sendiri? Lantas, ketika kita sudah mencintai diri sendiri, bukankah akan lebih menyenangkan apabila kita juga mencintai orang lain mungkin dengan cara sederhana seperti membantunya ketika ia butuh bantuan?
Tetaplah bantu orang lain seperti sebelumnya, tetapi utamakan dirimu terlabih dahulu. Jangan lupa pula, pandai memilih dan memilah. Jika kamu merasa tidak mendapat apa yang kamu cari, kamu berhak untuk menolak membantu. Mudahnya, bantulah orang yang kamu rasa pantas kamu bantu. Mungkin ia tidak dapat membalas bantuanmu, tapi ia tahu bagaimana cara bersikap ketika meminta dan setelah menerima bantuan seperti mengucapkan tolong dan terima kasih. Jika kamu rasa itu cukup untukmu, maka bantulah dia. Karena seperti yang sudah-sudah, utamakan dahulu dirimu dan jangan sampai kehilangan dirimu sendiri.
Karena, tidak peduli sebanyak apapun teman dan keluarga yang kamu miliki, pada saat hari berakhir, yang kamu miliki hanyalah dirimu sendiri. Begitu pula jika kamu tidak memiliki siapapun di sekitarmu. Sebanyak apapun teman dan keluarga yang kamu miliki, jika kamu tidak dapat memberi manfaat untuk mereka, untuk apa? Tetapi, jika kamu memang sudah terbiasa sendiri hingga saat ini tetapi kamu dapat bermanfaat untuk orang lain bukankah hidupmu akan jauh lebih berarti?
Maka, jadilah seperti matahari, ia sendiri. Tetapi ia memberi kehidupan untuk sekitarnya, bahkan ia memberikan keindahan kepada bulan yang sering dipuji oleh makhluk bumi ini. Bukankah menyenangkan menjadi pusat bagi alam semesta kita yang megah ini?