Bagaimanapun hendak kau sapa dunia, sayangku. Segala cara indahmu tersambut. Menjadi ramahlah selalu dunia padamu. Dalam baluran binar teduhmu, jiwaku jiwamu terpaut.
Selamat bertumbuh, Teduh-ku.
$LAYYYTER
AnasAbdin
No title available

blake kathryn

@theartofmadeline
Claire Keane
we're not kids anymore.
d e v o n
Mike Driver
Keni

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Kaledo Art
todays bird
No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

祝日 / Permanent Vacation

pixel skylines
Alisa U Zemlji Chuda
I'd rather be in outer space 🛸

seen from United States

seen from India

seen from India
seen from France

seen from Malaysia
seen from Pakistan

seen from Malaysia
seen from Spain

seen from Syria
seen from Brazil

seen from Tunisia

seen from United Kingdom

seen from Venezuela
seen from Ecuador
seen from Argentina
seen from Malaysia
seen from Argentina
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
@penanuma
Bagaimanapun hendak kau sapa dunia, sayangku. Segala cara indahmu tersambut. Menjadi ramahlah selalu dunia padamu. Dalam baluran binar teduhmu, jiwaku jiwamu terpaut.
Selamat bertumbuh, Teduh-ku.
Bagaimana harus terburu-buru? Menikmati sajian waktu saja rasanya ingin ku peluk terus menerus. Terkagum pada hadirnya, terbias panorama. Bagaimanapun ini semua hanya tentang dinamika, yang terus bergerak menjadi daya yang kita cipta. Tak perlu lagi retorika-retorika. Sebentar lagi jawabnya.
Persimpangan Jalan
Ok, sayang. Mari kita mulai (kembali). Kapanpun kamu mau, kapanpun kamu ingin. Pena Numa bersedia menuliskan, bahkan nafasmu yang mungkin sedikit tersengal. Karna nafasmu selalu berbicara, meski dalam keheningan.
Menyambutmu hangat dengan penuh kerinduan, Sayang. Apa lagi kata yang bisa ku lukiskan. Karna yang ku tau, dalam tabah, harapan tentangmu selalu menuntunku untuk terus belajar. Mengayuhnya untuk senantiasa berpendar bersama semesta. Bahagia menyentuh jiwa.
Ku tau setelah semua ini, segalanya akan berubah. Berubah menjadi lebih baik dan indah. Itu pasti. Terima kasih.
Aku semacam...ingin sekali berbincang lama denganmu. Sampai kita tertidur. Tapi terkadang, kita sama sama tak bisa. Sehingga kita hanya saling pandang. Tolong katakan padaku adakah kata yang lebih indah selain mencintaimu? Terima kasih :)
Pelukanmu selalu hangat, indah.
Aku terjaga di malam hari. Tidak. Aku tidak sedang memikirkanmu. Aku hanya tercengang pada mimpi yang baru saja. Setidaknya, aku ingin berterima kasih. Walaupun ku cari gelas teh hangat sudah tidak lagi ada. Namun kenangan pada mimpi itu tampak nyata.
Aku sering lupa bagaimana, mengeja baris jingga di kala senja. Sedangkan kamu disana tak menanyaiku perihal makna. Sebab yang ku tau, kamu paham, tanpa ku harus memulainya. Baik sekali.
Bolehkah bergandengan tangan?
Tiba-tiba aku ingat akan harapan-harapan. Dan kita mulai berjalan meski pelan. Tanganmu tak selalu bisa ku jangkau namun ku tau doamu senantiasa menuntunku perlahan. Hingga sore waktu itu kau tiupkan peluh yang tak pernah ku dengar. Lalu, betapa ku tak ingin rasa cintaku memudar.
Dan malam kembali dalam pelukan.
Rinduku telah sampaikah ke pelukanmu, tuan? Sedikit hampa pagiku tanpa membuatkan teh susu hangat. Tapi kau jaga aku dengan doa dan nasehat, hangat pelukan meski tak bisa ku tangkap. Terima kasih.
Selamat menikmati rindu dalam kembaramu. Sampai bertemu.
Dan, kuharap ini selalu cukup untukmu. Sehingga tiada lagi yang perlu kau cari. Sebab tiada lagi yang ku punya. Seluruhku meluruh, untukmu... padamu.
Senja bersamamu.
Aku melihat imajiku bebas dan tenang, sebab berada dalam pelukanmu adalah jawaban. Seperti semesta merangkulku dan kembali mengajak bekerjasama untuk memperluas sisi pandang. Jiwaku kembali lapang.
Sebuah pelukan.
Bagaimana bisa seperti ini, sayang? Bahwa ternyata rindu tidak bisa ku ajak berjalan pelan. Dia memburumu, di jarak yang membuatku tak bisa menyentuhmu. Dia mengejarmu, mengantarkanku menujumu dan menyentuh bibir indahmu. Hingga aku benar-benar bisa mendekapmu tanpa sekat. Rindu ini hendak melekat.
Sepertiga senja sebelum bermuara.
S I K E P A N S I N D U R Sikepan Sindur dilakukan setelah injak telur yaitu membentangkan kain atau sindur kepada kedua mempelai oleh ibu dan di gendong oleh ayah lalu dibimbing untuk kemudian berjalan menuju ke pelaminan. Bagian ini melambangkan harapan dari orang tua agar kedua mempelai selalu erat karena telah dipersatukan dan pantang menyerah dalam mencapai segala harapan. - - - 📷 Satriyo Hanindhito & Agung Dwi Laksono
N G I D A K E N D O G & W I J I K A N Endog Jawa (telur) dimaknai sebagai harapan agar pengantin memiliki keturunan yang merupakan tanda cinta kasih berdua. Setelah menginjak telur, pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria sebanyak tiga kali yang merupakan lambang kesetiaan dan bakti seorang istri pada suaminya. - - - 📷 Satriyo Hanindhito
Memutuskan menikah bukan hanya sekedar soal rasa cinta, melainkan ia sebuah keberanian menggenggam keyakinan untuk berkompromi pada suatu tanggung jawab. Tapi ku rasa, semua itu tidak akan berjalan dengan baik tanpa cinta di dalamnya. Dan, kamulah cinta. Melengkapi separuh hidupku untuk selamanya ❤