Yuri on Ice - fashion illustration style
Instagram: @amarumi_illust
My pop culture account :D
𩵠avery cochrane š©µ
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

pixel skylines
sheepfilms
Not today Justin

izzy's playlists!
noise dept.
Fieri Frames

No title available
Show & Tell
š

No title available
Keni
No title available
$LAYYYTER
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Jar Jar Binks Fan Club
Sweet Seals For You, Always
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

ellievsbear
seen from Spain
seen from United States
seen from United States

seen from Aruba

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Ghana
seen from Iraq
seen from Indonesia

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Ghana

seen from United States
seen from France

seen from Malaysia

seen from China

seen from Colombia
seen from Malaysia
@pepperzee
Yuri on Ice - fashion illustration style
Instagram: @amarumi_illust
My pop culture account :D
WICKED! (One of) my favourite line on For Good from Wicked Musical.
Iāve heard it said that people come into our life for a reason bringing something we must learn and we are led to those who help us most to grow if we let them and we help them in return well I donāt know if I believe thatās true but I know Iām who I am today because I knew you
This song was sung when Elphaba was being hunted by the people of Oz because she was made a scapegoat by The Wizard and Madame Morrible. It was a runaway or being killed situation for her. She sang this beautiful duet with Glinda upon giving her the Grimoire, believing that Glinda will give Oz greater good (pun intended!) by owning the book and learning to read it.
We watched it on March 2015--oh I still remember how cold it was, waiting at the bus stop, heading to Apollo Victoria. Emma Hatton was playing as Elphaba and Savannah Stevenson as Glinda (formerly Ga~linda). Ms. Stevenson was drop dead funny I couldnāt even comprehend, in my opinion her āPopularā rendition is by far the most effortlessly hilarious version. But then again, Iāve watched only a few on Youtube, so this might be an unfair comparison.
Flamboyant Fiyero was played by Jeremy Taylor. He was good and his chemistry with Ms. Hatton was very cute and believable (I only ship several Elphabas x Fiyeros, and they are one of them)... but Iām already biased towards Aaron Tveit ā„ soĀ itās better for me to not give any further commentaries because Iāll start comparing like a blinded fangirl ;_;
Oh how I miss London and its musicals! Next stop will be Les Miserables, for sure. *saves money*
Watercolor exercise after 87943362849 billion years. Yes, I made this while listening to A Great Big World (and Christina Aguilera)'s Say Something.
Siraman (bathing), one of several ritual during the wedding. The reference was GKR Hayu's royal wedding photo.
Good day, nyan!
Mama Goldfish :')
Another fanart of Jingga from Grey&Jingga. This is a style experiment; I always love realism but combined with watercolor... it's just... well... needs practice :/
Fanart of Jingga, a character from an Indonesian indie comic, Grey&Jingga. My love for the series is as big as Toba Lake <3 <3 <3
an overly-beautified self portrait LOL but as you can see those are still my eyes, my crooked nose, and my thick lips! :p
haven't used watercolor for about.. a year, i guess? it's hard to mix and blend the color :( have to improve my skill!
Niat
āSaya ingin terlihat hebat.ā
Itu seringĀ melintas di benak saya, lho. Di benakmu bagaimana?
Main jujur-jujuran yukāeh, jujur beneran maksudnya. Saya sering sekali mengerjakan sesuatu demi pengakuan. Saya membuat benda X supaya bisa pamer ke orang-orang kalau saya seni rupa banget. Saya pakai baju begini-begitu agar di mata teman saya, saya punya ābrandingā yang kuat nan indah terpuji. Saya pernah juga menggambar doodle di perjalanan udara dari Bali ke Bandung agar dipuji bule. Padahal bulenya nggak ganteng dan udah renta juga.
Sebenernya mau saya apa sih?
Memangnya kenapa kalau saya āseni rupa bangetā? Berasa asik, keren gitu? Berasa anti-mainstream di dunia (atau setidaknya, negara) yang menganggap lulusan IPA lebih menjanjikan dari lulusan IPS? Lalu kalau sudah berstempel ālulusan seni rupaā, mau apa? Mau hidup dengan stempel, yang sebenarnya, bukan hasil kerja keras sendiri? Fakultas dan kampus saya tersohor dan keren, oke, tapi memangnya apa sih yang sudah saya lakukan sampai merasa berhak āberasa seni rupa bangetā?
Memangnya kenapa kalau imej saya keren? Hijabers banget, atau syarāi banget, atau terkenal sebagai selebgram? Karena di agama saya berpakaian tertutup begini (seharusnya) adalah bentuk ibadah, jadi kalau saya berpakaian demi pengakuan orang, saya beribadah menyembah orang dong? Menyembah followers di instagram dong? Nabi-nabi saya adalah brand-brand yang saya pamerkan di keterangan gambar yang saya unggah, dong?
Jadi tujuan saya melakukan semuanya, apa? Pengakuan orang, yang sebentar lagi juga dia lupa? Diakui oleh makhluk-makhluk yang berapa taun lagi, atau bahkan detik, udah jadi bangkai, terurai di dalam tanah, menjadi zat hara buat pohon mangga yang katanya banyak penunggunya?
Yah, gitu deh. Ada yang mau membenahi niat juga bareng saya? Yuk.
Pengamen
Pengamen: Permisi semuanya. (mulai nge-rap) Negeri ini mulai rusak! Masa depan dipertanyakan! Korupsi di mana-mana! Pahlawan tanpa tanda jasa pun tak ada! Seribu! (menengadahkan tangan)
Orang-orang di angkot: .................................
ASDFGHJKLAAAAAAAAAAAAAA
āKalau Tuhan saya masuk di akal saya, berarti Tuhan saya kecilālebih kecil dari daya muat akal manusia. Bagi saya, Tuhan harus tidak masuk akal.ā
Fahd Djibran (via widyarifianti)
"Apakah Anakku Harus Ranking 1?"
Si Ranking 23 : āAku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalanā
Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kamiĀ menerimanya dengan senang hati.
Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji āSuperman cilikā di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.
Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: āAnakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?ā Anak kami menjawab: āItu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasaā. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.
Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.
Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: āSaya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintangā. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.
Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?
Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?
Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.
Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.
Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah āHumor anak-anakā dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.
Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.
Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.
Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.
Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.
Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.
Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.
Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.
Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.
Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.
Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.
Dia memberi pujian: āAnak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satuā.
Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: āGuru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.ā
Dia pun pelan-pelan melanjutkan: āIbu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.ā Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.
Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.
Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.
Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.
Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?
Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?
Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?
Anakmu bukan milikmu. Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri, Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau, Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu. Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah untuk raganya, Tapi tidak untuk jiwanya, Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi. Kau boleh berusaha menyerupai mereka, Namun jangan membuat mereka menyerupaimu Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, Pun tidak tenggelam di masa lampau. Kaulah busur, dan anak-anakmulahāØAnak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya, Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap. - Khalil Gibran
New rule: Everybody getās to wear whatever the fuck they want to.
Seconded.
This kind of strikes a lot of fear into me. Mostly because growing up, my father would beat us if we pulled off our sisterās hijabs. It was stressed to the utmost that it was equivalent to pulling down her pants, and that we were never allowed to touch it, not even if they were wearing it at home and no one would see if we tugged it off.
Many Muslimahs I know have confided in me that they fear that people who discriminate against Muslims might harass them if they wear the hijab, to the point where they tug it off. I myself have this fear when I present feminine. Itās unsettling.Ā
This is the morning of reblogging shit I had not thought about.
I am not Muslim and honestly it never occurred to me that women who wear the hijab would be afraid of having it pulled off of them by someone who objects to their beliefs. Probably because I donāt think it would ever occur to me to violate another persons space and tear off their clothes. Thatās just well, violating.
I have my own fears when interacting with people who object to me and my beliefs and Iām sorry that anyone has to have a legit fear of their own clothes being pulled off by another person.
So reblogging this for anyone else who might not have thought of this.
14 year old Korean JHS Student's Last Words before he committed suicide.
Read More