Kapitalisme Industri Peternakan, Teror Bagi Lingkungan
Well, semakin berkembang selera makan dan gaya hidup manusia, semakin berkembang juga industri makanan di dunia ini. Mulai dari menengah ke atas hingga yang paling bawah. Nyatanya, banyak cara dilakukan agar semua masyarakat tetap bisa menikmati makanannya dan bertahan hidup dengan biaya yang terjangkau. Khusunya buat masyarakat yang berdompet tipis tapi tetap bisa menyantap daging. Misalnya saja, sekarang semua orang bisa menikmati makanan dengan bahan baku daging ayam. Ya apalagi ayam sejenis boiler yang disuntik-suntik itu kini bisa di konsumsi dengan harga yang murah.
Dengan alasan sebagai pemenuh banyaknya kebutuhan (high demand), peternakan menjadi industri makanan yang paling menghasilkan. Tentu saja hal ini menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Namun sayangnya, kerusakan lingkungan juga dapat terjadi akibat semakin banyaknya jumlah peternakan. Ada lebih dari 200.000 liter air yang perlu dikeluarkan untuk memproduksi 1 kilogram daging sapi. Dan, kotoran sapi ternyata mengandung karbondioksida (CO2) yang justru menyebabkan global warming. Dikutip dari Pemanasanglobal.net, selain global warming ada banyak dampak buruk lainnya seperti, kehilangan keanekaragaman hayati, hutan gundul, beberapa penyakit; virus flu burung, flu babi, HIV, TBC, kerusakan lautan, polusi, eksploitasi SDA hingga kekurangan air.
Bahkan, peternakan pun menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca yang paling besar. Dilansir dari Tempo.co, sumber terbesar emisi gas rumah kaca di sektor pertanian adalah fermentasi enterik (fermentasi di tubuh hewan ternak). Metana diproduksi ternak selama proses mencerna makanan dan dilepas melalui sendawa ke atmosfer. Jumlah metana dari ternak pada 2011 tercatat 39 persen dari sektor pertanian. Terdapat peningkatan emisi dari fermentasi enterik sebesar 11 persen antara 2001 dan 2011.
Jujur, saya merupakan seorang yang karnivora sampai saat ini. Entah kenapa beberapa hari ini kerap menemukan hal-hal yang mendorong saya untuk berpikir “udah vegan aja!”. Yang namanya merubah pola makan menjadi vegan itu sama kayak ngumpulin niat buat skripsi, ‘susah’. Lalu menemukan beberapa film yang ngomongin soal bagaimana sih sebenarnya industri peternakan lambat laun bisa merusak lingkungan kita.
source: imdb.com
Kedua film tersebut memperlihatkan kejamnya industri peternakan hanya untuk keuntungan. Pertama saya akan bahas Cowspiracy terlebih dulu. Film ini disutradarai oleh Kip Andersen yang juga merupakan vegan, pecinta hewan dan punya gaya hidup sehat. Di film ini pun, Kip bekerjasama dengan berbagai LSM pecinta lingkungan, salah satunya Greenpeace. Bahkan disebutkan juga, kalau beberapa hutan hujan tropis di daerah bagian Brazil mulai hilang hanya untuk menjadikannya sebagai lahan peternakan. Tekad Kip diakhir film ini adalah untuk mengurangi, bahkan menghilangkan produk makanan berbasis hewani dan mulai mengonsumsi nabati. Artinya, demi mencegah kerusakan lingkungan, manusia harus menjadi vegetarian.
Agak cukup berbeda dengan Cowspiracy. Meski tidak mempersuasi kita untuk menjadi vegetarian. Okja menjadi film yang cukup menggambarkan bagaimana gilanya industri peternakan saat ini. Bahkan di film ini juga diceritakan kalau suatu perusahaan industri ternak mengambil keuntungan dengan cara merekayasa genetik percampuran antara kuda nil, gajah dan lembu laut. Hewan rekayasa genetik ini diciptakan sebagai sumber makanan yang ramah lingkungan dengan feses yang sedikit, namun masih dipertanyakan keamanan pengonsumsiannya. Intinya, Okja akan berakhir menjadi hidangan yang dapat dijual di kelas-kelas yang mahal maupun murah. Namun seorang gadis bernama Mija yang dibantu dengan Front Pembebasan Hewan mencoba untuk menyelamatkan Okja agar bebas dari industri peternakan Mirando Corporation yang gila itu.
Kapitalisme industri peternakan memang sangat jarang dibahas sebagai isu penting. Ketimbang korupsi atau terorisme. Tapi isu inilah yang sebenarnya akan menghancurkan bumi secara perlahan. Karena industri peternakan bukan hanya menguntungkan si individu peternaknya saja, tetapi juga negara. Dan, belum banyak makanan yang menjadi meat subtitutes atau pengganti daging dengan pembentuk asam amino (protein). Alhasil, peternakan masih dianggap sebagai sumber keberlangsungan hidup manusia yang utama.
Industri pertanian pun juga mesti membenahi diri. Tak jarang mereka masih menggunakan pestisida dari bahan kimia yang justru melahirkan limbah baru dari tanah yang dibuang ke laut. Dan pastinya terus akan merusak lingkungan. Pada akhirnya, saya tidak memihak siapapun. Atau memutuskan menjadi vegan. Tapi, lebih pada refleksi diri bahwa sebenarnya mengonsumsi makanan yang hewani dan nabati diperlukan keseimbangan. Karena keduanya memiliki manfaat yang baik bagi tubuh kita. Cara terbaiknya adalah bagaimana negara mampu memberdayakan limbah-limbah industri peternakan menjadi berguna. Masyarakat juga perlu memiliki kesadaran sendiri soal bagaimana memilih makanan mereka, it way better to consume only green or meat. Atau justru menyeimbangkan keduanya dan memilih 4 sehat 5 sempurna. So, become a vegan or not is depend on yourself!















