Dia bilang merindukanku, tapi langkahnya tetap menjauh.
Katanya ingatan tentangku masih melekat, tapi tangannya tak pernah berusaha menggenggam lagi.
Aku belajar bahwa rindu saja tak pernah cukup untuk membuat seseorang kembali.
Andira Wu

seen from Türkiye
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Poland
seen from Türkiye
seen from Yemen
seen from Hong Kong SAR China
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from China
seen from Brazil
seen from China
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Poland
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from China
Dia bilang merindukanku, tapi langkahnya tetap menjauh.
Katanya ingatan tentangku masih melekat, tapi tangannya tak pernah berusaha menggenggam lagi.
Aku belajar bahwa rindu saja tak pernah cukup untuk membuat seseorang kembali.
Andira Wu
Mas, tau ngga? Kenapa aku setega itu memutuskanmu?
Ya, karena aku menyadari, bahwa aku benar-benar ingin dicintai, dan aku tidak mendapatkannya darimu,
Aku tau persis bahwa aku hanya alat untuk mencapai ambisimu, menikah. Makanya, aku memutuskan untuk tidak melanjutkannya.
Kata² manis yang kau ucapkan menjadi hambar perlahan, karena memang jiwamu tidak hadir di dalamnya.
Karena itu, selamat, atas perempuan barumu. Semoga kali ini kau benar-benar tulus mencintainya.
Tak ada lagi binar yang tersisa
Hanya rindu yang masih mengudara
Tanpa rasa
Tanpa makna
Aku pamit pulang
Karena nyonya rumahmu sudah datang
Terimakasih sudah menjamu
Meramuku dengan sempurna
Sekali lagi, aku pamit pulang
Kutinggalkan binar yang kau titipkan
Pada nyonya rumahmu
Jika kedatangan adalah hal yang mutlak, maka kepergian tidak semestinya lahir diantara dua pilihan.
- dari @hanifahdwis
Cinta adalah seni indah dalam melukis luka.
Catatan Teruntukmu yang Mau Mengakhiri “Segalanya” karena Pedihnya Mencintai
― 16 May 2022 by @unicorntyping
Tidak ada usaha yang pernah cukup untuk membuat orang memahamimu, selain dia berusaha mendengarkanmu.
Jangan berpikir hanya dia yang memahami dan bisa membantumu. Percayalah bahwa nantinya ada orang yang mampu memahami dan mendengarkan dirimu.
Semua itu dimulai dari diri sendiri.
Kalau kamu mulai pahami dan dengarkan diri sendiri. Kenali diri sendiri, termasuk apa yang kita pikirkan dan rasakan. Barulah bisa mencari kenalan satu frekuensi sama kita.
Tidak ada usaha yang pernah cukup untuk membuat orang mempertahankan komitmennya denganmu, selain dia memahami pentingnya dirimu dalam hidupnya.
Pada dasarnya, orang berubah itu karena keinginannya sendiri—bukan karena didorong sama pasangan. Jadi, mulailah ubah dirimu sendiri karena kamu tidak bisa menuntut pasangan berubah. Setelah kamu berubah, akan tahu bahwa pasangan ini bisa mengikuti alurmu atau malah gagal dan merasa tidak cocok di jalur perubahanmu.
Tidak ada usaha yang pernah cukup untuk membuat seseorang mencintaimu kembali, selain dia memahami arti cintamu. Tidak perlu berusaha sekeras mungkin untuk memperoleh cinta, karena butuh usaha keras dari kedua belah pihak untuk mempertahankan sebuah komitmen.
Kadang bersama bukan berarti bahagia. Pisah bukan berarti tidak bahagia. Sebab, itu cinta tak harus memiliki. Buat apa saling memiliki, tapi tidak bisa mempertahankan komitmen? Hanya saling berteriak, saling menuduh dan curiga?
Kalau kamu mulai pahami dan dengarkan diri sendiri. Kenali diri sendiri, termasuk apa yang kita pikirkan dan rasakan. Barulah bisa mencari kenalan satu frekuensi sama kita.
Kadang orang bersama-sama itu karena sama-sama terluka sehingga saling memahami—bukan karena saling cinta. Kadang ada juga yang salah mengartikan luka ini dengan cinta. Atau, terlalu berpikir muluk-muluk mau mengubah luka dan mengajarkan cinta pada pasangan. Padahal, kamu sendiri belum paham cinta itu seperti apa.
Bicara soal mencintai diri, bisa dimulai dari hal sederhana: berikan perhatian pada diri sendiri—makan tepat waktu, minum air cukup dan tidur cukup. Kembali menekuni hobi lama atau eksplor hobi baru.
Ketika kamu tidak punya cinta dalam diri, bisa diibaratkan seperti orang yang kelaparan akan melahap habis makanan apa pun yang ada di hadapannya. Begitu pula kamu.
Kamu akan “mencicipi” kehadiran siapapun yang kamu pikir bisa memberikan cinta padamu. Kenyataannya? Belum tentu.
Sementara, kalau kamu sudah kenyang, pastinya kamu akan lebih selektif memilih makanan pencuci mulutmu. Seperti kamu yang akhirnya bisa selektif memilih siapa yang berhak memenangkan hatimu dan diperbolehkan masuk ke dalam kehidupanmu.
Kamu tidak akan pernah bisa memberi, jika kamu sendiri saja tidak memiliki apa pun.
Mungkin kamu berbelas kasihan pada seorang pengamen, tapi ketika kamu tidak mempunyai uang sepeser pun, apakah bisa kamu memberikannya? Tentu tidak.
Hei, mungkin orang menganggapmu terlalu mudah kasihan atau mudah sayang pada orang lain. Tapi itu artinya kamu mempunyai kapasitas mencintai orang lain yang sangat besar. Itu adalah anugrah. Tapi bisa menjadi kutukan di saat kamu tidak bisa mengelolanya.
Di saat kamu sudah punya kasih yang cukup untuk dirimu sendiri, bagikanlah energi tersebut pada orang di sekitar—orangtua, keluarga, teman, tetangga, bahkan orang asing. Jangan terfokus untuk memberikan hanya pada satu orang saja—gebetan, mantan atau pasangan saja.
Kamu perlu juga memahami mencintai seseorang tak harus mendapatkan kembali cinta dengan jumlah yang sama. Misalnya, kamu bisa mencintai keluargamu “dari jauh” dan tidak perlu menuntut keluargamu perlu memahamimu seutuhnya.
Tidak ada usaha yang pernah cukup untuk membuat orang memahamimu, selain dia berusaha mendengarkanmu. Tidak ada usaha yang pernah cukup untuk membuat orang mempertahankan komitmennya denganmu, selain dia memahami pentingnya dirimu dalam hidupnya. Tidak ada usaha yang pernah cukup untuk membuat seseorang mencintaimu kembali, selain dia memahami arti cintamu. Tidak perlu berusaha sekeras mungkin untuk memperoleh cinta, karena butuh usaha keras dari kedua belah pihak untuk mempertahankan sebuah komitmen.
Kadang bersama bukan berarti bahagia. Pisah bukan berarti tidak bahagia. Sebab, itu cinta tak harus memiliki. Buat apa saling memiliki, tapi tidak bisa mempertahankan komitmen? Hanya saling berteriak, saling menuduh dan curiga?
Pada dasarnya, orang berubah itu karena keinginannya sendiri—bukan karena didorong sama pasangan. Jadi, mulailah ubah dirimu sendiri karena kamu tidak bisa menuntut pasangan berubah. Setelah kamu berubah, akan tahu bahwa pasangan ini bisa mengikuti alurmu atau malah gagal dan merasa tidak cocok di jalur perubahanmu.
Kehilangan dia artinya kehilangan makna untuk bertahan hidup?
Apa sih arti hidup? Pernahkah kamu merenungkan, 'Kenapa Tuhan menghadirkanku di dunia ini?' Sering, tapi tak menemukan jawaban?
Maka, temukanlah jawabannya. Di dalam hidup, kamu perlu mengeksplor berbagai hal untuk tahu apakah kamu suka atau tidak suka. Di sanalah, nantinya kamu akan menikmati makna hidup.
Mulailah menikmati hidup dengan sederhana. Masih bisa bernapas. Masih bisa berjalan dengan nyaman. Bisa makan dengan sehat.
Jika terasa sulit, setidaklah hidup untuk sehari ini saja. Berikanlah kesempatan untuk dirimu melakukan segala hal seolah-olah hari ini adalah hari terakhir hidupmu. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan?
Apa pun itu, lakukanlah dengan hati gembira. Mau bersih-bersih rumah? Lakukan dengan senyuman. Mau kuliah atau kerja? Lakukanlah dengan hati yang tulus. Buatlah dirimu berguna untuk orang lain
Kalo bahas tujuan hidup, mulailah menikmati hidup utk hari ini. Cobalah hidup untuk satu hari aja. Hari ini mau bersih bersih rumah? Lakukanlah dengan hati gembira. Mau kerja? Lakukanlah kerjaan itu dengan hati.
— @welcometomywords
Sebuah Luka
Tulisan ini saya tulis untuk meluapkan perasaan saya yang sedang tidak baik-baik saja.
Kurang lebih 1 bulan yang lalu, saya berpisah dengan kekasih saya. 4 tahun saya menjalin cinta dengannya.
Saat pertama kali dia datang dalam hidup saya, dia datang bagaikan cahaya dalam kehidupan saya yang sangat gelap gulita. Saat itu dunia saya sedang tidak baik-baik saja, berbagai masalah kehidupan sedang menimpa saya. Umur saya di kala itu baru 20 tahun, masih muda dan polos, namun harus berteman dengan kejamnya dunia, dipaksa untuk menjadi sangat dewasa.
Saat saya berada di titik terendah saya, di saat itu lah dia datang, menjadi penenang saya. Saya bisa survive karena bersama dengannya. Dia ada menemani saya melewati semuanya. Selama 4 tahun bersama, hidup saya memang sangat tidak stabil, seperti roller coaster yang tidak pernah stabil, penuh adrenalin, dan dia tetap setia menemani saya di saat hidup saya tidak pernah baik-baik saja.
Bagi saya, dia adalah cahaya. Bagi saya, dia adalah dunia saya. Bagi saya, dia adalah poros hidup saya. Bagi saya, dia adalah rumah. Dia adalah tumpuan saya. Dia adalah senyuman saya. Dia lah kebahagiaan saya. Dengannya, dunia saya yang gelap terasa terang benderang. Dengannya, dunia saya yang hitam putih terasa penuh warna. Dengannya, saya menjadi orang paling bahagia di muka bumi.
Karena itu, rasa sayang saya ke dia sangat lah besar, melebihi apapun. Dan saya tau, ini salah. Saya ketergantungan, saya tidak bisa hidup tanpanya, saya sangat mencintainya, sangat amat teramat. Saking cintanya, rasanya seisi dunia akan saya berikan untuknya.
4 tahun bersamanya, kami berjuang bersama dari 0. Berjuang saat preklinik, saat di organisasi, saat skripsi, dan saat pendidikan profesi, semua saya lalui bersamanya. Hari-hari saya selalu saya lalui bersamanya. Semua titik di kota ini bahkan selalu mengingatkan saya tentangnya.
Dia adalah tempat paling nyaman untuk saya. DI depannya, saya adalah saya yang sebenarnya saya. Dia menerima saya, dengan segala kekurangan saya, dengan segala peliknya kehidupan saya, dan dengan segala emosi saya yang kadang tidak stabil.
Namun, ternyata takdir berkata lain. Hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, hadir di kehidupan saya. Hubungan saya dengannya tak mendapat restu. Saya pikir tidak apa-apa, karena saya akan melalui bersamanya dan berjuang bersama dengannya. Tapi, saya salah, ternyata perjuangannya sesingkat itu. Saya tau, dia sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tidak lama, terlalu singkat.
Dia pergi, meninggalkan saya. Dia pergi karena tidak ingin menyakiti hati orang tua nya. Dia pergi dengan membuka luka lama saya dan menimbulkan luka baru yang jauh lebih dalam. Sakit, sungguh sangat sakit rasanya. Bahkan, selama hidup saya, kepergiannya adalah hal yang paling sakit yang pernah saya rasakan. Saya kehilangan tumpuan saya, saya kehilangan orang yang sangat saya cintai. Saya kehilangan kebahagiaan saya. Saya kehilangan rumah saya. Tanpanya, saya kehilangan arah.
Mengikhlaskannya adalah keterpaksaan yang belum bisa saya lakukan. Merelakannya adalah hal yang paling tidak saya inginkan. Dan saat ini, saya harus berjuang, melawan rasa sakit ini, menyembuhkan luka saya, dan survive dengan semuanya, sendirian, tanpa dia.