Indarwati dan Indrawati
Stereos caffee, 25 Desember 2022
Namanya Indarwati, putri pertama Ibu (Almh) Elizabeth Suliah. Terlahir, tumbuh, besar, menikah, bahkan membesarkan anak sebagai seorang Katholik. Ketiga anaknya muslim, aku yakin itu bukan hal yang mudah.
Aku, Indrawati, putri bungsu yang dikata orang "copy-paste" wajah ibu Indarwati.
Sepanjang hidup aku (dan aku yakin kakak-kakaku) mendoakan hal yang sama. Kami sekeluarga bisa sholat berjamaah dengan lengkap.
Membicarakan perbedaan agama adalah hal yang tabu di rumah. Aku tidak tahu dengan mas mba, tapi aku tidak pernah sekalipun bertanya. Kelu rasanya lidah.
19 September 2019, Kala itu Ayah baru saja keluar dari ICU, belum juga sebulan, dan beliau meminta izin anak-anaknya untuk ke Mekkah. Tentu saja kami khawatir, salah satu dari kami harus ada yang menemani.
Keluar kalimat dari lidahku dengan mudahnya "Ya kalau ibu mau nemeni Ayah ke Mekkah ya pindah sekalian, sayang duitnya kalau cuma nemani." Saat itu juga, dengan mudahnya pula keluar dari mulut ibu
"Ya, tapi kamu yang minta izin ke Mbah Putrimu. Ibu ngga tega."
Setengah jam aku ajak ngobrol nenekku, seorang Khatolik taat yang teguh pada prinsip dan omongannya. Yang mengagetkan adalah kisah perjalanan spiritual mbah Putri dikisahkan padaku, tidak semua cucunya tau kisah ini. Kala itu, sambil berbaring, beliau mengatakan bahkan masih ingat lantunan Al Fatihah, dan melantunkannya di depanku. Tapi tidak tergerak hatiku untuk mengulik lebih dalam, karena aku paham benar, seperti apa ketaatan beliau. Yang penting izin sudah aku kantongi.
Kedua kakaku aku hubungi. Terkagetlah mereka, "kok koe iso?" keduanya melontarkan pertanyaan yang sama. Dan apabila aku pikir betul-betul, aku juga tidak tahu. Semuanya spontan, cepat, dan tanpa strategi. Hari itu juga mereka pulang, kami berkumpul, dan menjadai saksi syahadat ibu.
Kini, kami tidak lagi mengantarkan ibu ke gereja ditanggal 25 Desember. Alkitab itu sudah tidak ada lagi di rumah. 25 Desember 2022 tadi, ibu telfon, mengenakan jilbab coklat beliau bertanya, "sarapan apa tadi?" "Gimana kerjaan? Masih suka lembur?".
Bercerita tentang Jilbab Biru Muda
Waktu itu aku masih kelas 4 SD. Ibu mendadani aku untuk berangkat TPA dengan jilbab warna biru muda beraksen kuning. Biasanya aku pakai jilbab yang langsung pakai, dan ini adalah jilbab persegi pertamaku. Ibu lipat dan sematkan peniti dijilbabku. Sampai di masjid, aku diolok-olok karena cara pakai jilbabku aneh. Setelah pulang, aku bilang ke ibu makasih jilbabnya, tapi itu adalah hari pertama dan terakhir aku mau pakai jilbab itu. Kenangan tidak mengenakan itu terbawa sampai aku besar. Tapi kini aku paham, bisa jadi memakaikan jilbab itu hal yang mudah bagi ibu lain, tapi tidak dengan beliau.
Dan ini adalah foto pertama ibu pakai jilbab. Jilbab warna biru muda. Ibu mengirimkan wa ke aku dan tanya pendapatku. Tentu aku jawab cantik. Ibu kesulitan kalau memakai jilbab berpeniti. Kami ter-connected. Jilbab biru punya kisah bagi Indarwati dan Indrawati.
Bercerita tentang Mukena Coklat
Pada saat kuliah aku pernah merasa kecil hati karena temen-temen kosku yang dikirimi mukena, sajadah, atau Al Quran oleh orangtuanya saat Ramadhan. Kala itu aku bilang pada Allah, "Ya Allah hamba iri." Waktu itu mukenaku adalah mukena yang sama sedari aku SMA, mukena "lungsuran" dari mba Nita. Aku yang merasa mukena itu sudah tidak layak akhirnya menyisihkan uang bulanan kosan. Mukena pertama yang aku beli adalah mukena parasut berwarna coklat seharga Rp60.000,-. Sudah tidak aku pakai lagi karena Alhamdulillah sudah bisa beli yang lebih bagus. Namun, mukena itulah yang menjadi kesayangan ibu dirumah. Kami belikan mukena yang harga ratusan ribu juga ibu tetap balik lagi ke mukena itu. Mau aku buang tidak boleh sama beliau.
Ini foto sholat Idul Fitri 2020, di rumah sholatnya karena pandemi. Mukena coklat yang dipakai ibu sudah sangat "tidak layak" tapi kok ya beliau ngga mau lepas. Dihari besar pun pakainya tetap itu.
Mukena coklat yang aku pakai? Oh itu mba Nita yang belikan, dan akhirnya tetap saja, aku yang pakai. Kok ya ceritanya tetap saja sama pakai lungsuran mba Nita.
Kembali lagi. Allah bayar tuntas rasa sedihku kala itu. Ya walaupun perlu waktu yang lama. Tapi caranya itu lho... diluar nalar.
Indarwati yang Baru
Menerima diri sebagai seorang muslimah bukan secepat itu juga. Karena beberapa hari setelah menjadi muslim, untuk pertama kalinya ibu menolak aku peluk. Mungkin batin ibu masih "bertengkar" kala itu.
Tapi semua memudar karena ayah dan ibu harus menyiapkan banyak hal untuk berangkat ke Mekkah di bulan Desember.
Ini saat Ibu dan bapak di Mekkah. 2 Januari 2020, saat itu ibu ulangtahun, dan Ayahku mengucapkan selamat ulangtahun didepan para jamaah lain.
Ayah yang berangkat dalam masih pemulihan ternyata kuat dan sehat selama di sana. Tentu karena ada ibu yang menguatkan beliau.
Selama di Mekkahlah ibu menemukan Allah. Ayah bercerita kalau selama di Mekkah ibu menangis terus. Bukan menangis sedih, tapi menangis haru. Ibu yang selama puluhan tahun tidak tahu apa itu Alif Ba Ta, tapi dalam hitungan hari bisa berubah. Sungguh besar Kuasa Allah. Dan syukur luar biasanya diriku karena Allah sebegitu sayangnya dengan Indarwati. Allah mudahkan prosesnya, Allah sentuh hatinya, dan Allah gerakan langkahnya. Sejatinya seluruh hati manusia adalah milik Allah, jika bukan karena ridho-Nya, tidak akan ini semua terjadi.
Kebahagian itu ternyata tidak hanya milik keluarga kami. Begitu kabar itu tersebar, silih berganti saudara dan tetangga berdatangan, bahkan dari luar kota, beberapa tokoh agama dari daerah lain pun berkunjung. Mengucapkan selamat, membawakan baju, jilbab, dan buku-buku agama.
Indarwati, yang dahulu mengajaku ke gereja, yang dulu tidak suka suara ceramah, yang menegurku karena datang ke acara keluarga memakai hijab. Saat ini menjadi orang yang paling bawel ketika anaknya tidak segera sholat setelah mendengar Adzan, yang akan memaksa anaknya "Pakai rok ibu aja" jika melihat baju anaknya kurang sopan, yang akan tanya "keluarnya begitu?" jika melihatku mau ke warung tanpa jilbab, yang sholat tahajjudnya menjadi kebiasaan, yang sholat subuhnya jamaah ke masjid.
Start login-nya duluan Indrawati, tapi sepertinya Indarwati ngebut. Kalah lho aku, dalam banyak hal. Selalu begitu.
Setelah semua ini, aku kembali meyakini, bahwa doa pasti terkabul itu benar adanya. Tidak ada doa yang tidak terkabul. Dulu aku pernah bertanya pada Allah, "Jika dikabulkannya bukan di dunia, lalu bukankah sudah jadi terlambat ibu berucap imani pada-Mu ya Allah." Allah uji kesabaran kami, Allah jawab disaat yang tepat, tidak terlambat, pun tidak terlalu cepat, dengan skenario yang tepat. Melebihi dari yang pernah kita minta.















