Be Happy for What You Choose
Bicara soal karir, saya pernah mengecap sebagai wanita karir ketika masih single. Hampir banyak pekerjaan yang saya lakoni sepanjang tahun kesendirian saya mulai sekretaris proyek, administrator event, Call Center perusahaan seluler (walau sebentar), kepala toko sebuah pabrik dan tas brand lokal kenamaan, wartawati lepas, penerjemah lepas, scriptwriter radio, keuangan (kasir kantor ๐
), serta mengajar di sekolah alam dan perguruan tinggi.
Ketika menikah, pekerjaan terakhir saya adalah mengajar. Lalu ketika hamil, dokter menyarankan saya untuk tidak melakukan perjalanan jauh selama hamil karena di trimester pertama saya sering mengeluarkan flek. Kenapa disebut pekerjaan terakhir? Ya, karena mengajar adalah pekerjaan terakhir yang saya jalani di luar rumah. Lalu apa pekerjaan saya sekarang? Ibu rumah tangga.
Ketika Hariang Ibnu lahir, banyak yang menyayangkan keputusan saya berhenti mengajar dengan berbagai alasan. Banyak yang bilang, โMengajar kan cuma sebentar, neng.โ atau Ga sayang sama otak,Tu.โ โ Yakin kamu bisa tahan di rumah? Di rumah bosen, loh!โ bahkan ada yang lebih sarkas, โWah bisa degradasi nanti jadi ibu rumah tangga itu!โ
Saya akui, saya memang sempat mengalami masa-masa bimbang. Ingin kembali bekerja. Ketika saya kemukakan kebimbangan ini pada pak suami, beliau berkata, โPilih pekerjaan yang paling bubu minati, supaya bubu bahagia.โ Dan kata-kata itu tertanam dalam hati. Lalu saya mulai memilih dan memilah, dari semua pekerjaan yang pernah saya jalani (termasuk ibu rumah tangga), pekerjaan mana saja yang pernah membuat saya bahagia dan membuat saya sedih.
Walhasil, mungkin memang sudah takdir Tuhan karena setelah berpikir panjang, saya lebih bahagia bersama Hariang Ibnu. Pekerjaan ini tidak menuntut target-target yang membuat saya underpressure. Pekerjaan ini juga membuat saya jauh dari gesekan sesama rekan kerja, jauh dari kegiatan menggosip mendiskreditkan sesama rekan kerja dan sebagainya yang justru membuat sedih dan kinerja menurun. Saya juga bebas dari tuntutan angka-angka kredit dan silabus-silabus serta tuntutan jenjang pendidikan. Artinya perkerjaan menjadi ibu rumah tanggalah yang membuat saya bahagia. Saya bebas menentukan kurikulum apa yang akan saya berikan untuk Hariang Ibnu, saya bebas memilih kapan saya ingin melanjutkan pendidikan,apa jurusan bidang studinya dan pelajaran apa yang saya minati, termasuk menjahit, menulis, dan lain-lain.
Ya, memang pekerjaan ini super duper multitasking. Tapi mereka tidak membebani saya harus selesai dalam kurun waktu tertentu dan saya bebas mau mengerjakan yang mana dulu. Gaji? Hehehehe, alhamdulillah gaji yang saya dapatkan dari suami lebih besar daripada yang saya dapatkan dari perusahaan-perusahaan mana pun ๐๐ (sombongnyaaa hahaha). Liburan pun saya bebas kapan pun saya mau, tinggal pergi (walau rempong harus gotong bayi ๐). Kecuali sabtu dan minggu ya, itu hari-hari saya bareng suami, maklum kita LDR-an.
Banyak juga yang bilang, apa saya nggak stress tinggal terus bersama bayi? Hmm, adakalanya saya kesal karena Hariang Ibnu susah makan, stress karena Hariang Ibnu sakit, cape karena Hariang Ibnu tidak mau diam dan lain sebagainya. Tapi jika dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan saya yang lama, bersama boss kecil yang satu ini, saya hampir tidak pernah menangis. Saya lebih sering berbahagia melihat dia tertawa ceria, mengejarnya yang berlarian dengan riang, mendengarnya berceloteh dan bernyanyi walau masih babling, memandangnya kala tidur dan sebagainya.
Dan apa saya menjadi bodoh? Atau sering teman-teman saya menyebutnya Degradasi alias kemunduran intelektual (๐
). Justru enggak (menurut saya sih ๐ haha). Saya tetap bisa mengasah kemampuan bahasa inggris saya. Saya bisa bernyanyi berbagai nursery rhyme dengan boss kecil saya, mengajaknya berhitung, menggunakan imperative sentences sedikit demi sedikit dan sebagainya. Boss kecil saya ini sudah jagoan bilang โNoโ, โokayโ, โLetโs goโ, dan โpleaseโ, lho ๐ hehehe. Dia juga sudah bisa menunjukan warna blue dan yellow. ๐
Kemampuan memasak saya juga bertambah, mulai dari resep mancanegara (karena bumbunya lebih sederhana ๐) sampai beberapa resep nusantara. Kesempatan untuk membaca beraneka buku juga bertambah walau waktunya nggak bisa ditentuin (tergantung ketahanan bos kecil on air di area bermain ๐
). Saya nggak melulu baca silabus atau buku-buku yang berhubungan dengan materi pekerjaan. Saya sempat membaca koran, membaca novel (sedikit-sedikit tapi tamat), buku-buku parenting, kurikulum PAUD, montesorri dan lain-lain. Eh, bahkan saya bisa bercerita dari soft book-soft book Hariang yang isinya hanya gambar. Hebatkan! Artinya, saya bisa mengarang dongeng. Yaaiiy ๐๐๐๐. Saya juga bisa memindahkan bahasa Ensiklopedi ke dalam bahasa yang sederhana untuk boss kecil saya, dalam dua bahasa (inggris - indonesia). Bernyanyi pun saya bisa sambil menari-nari. Jaman dulu kalau nyanyi ya nyanyi aja. Tambah lagi, list lagu saya kebanyakan lagu-lagu curhat ๐๐๐ hahaha. Sekarang semua lagu anak Indonesia dan Inggris, hampir hapal di luar kepala lwngkap beserta gerakan tariannya๐. See, happy-kan jadi ibu-ibu? Lihat kan, bagaimana boss kecil saya ini selalu memotivasi saya agar terus berkreatif. Iya, kan? Hehehe.๐๐
Sekarang saya tidak pernah menyesal dengan pilihan saya ini. Jadi bubu Hariang Ibnu atau bubu adik Hariang Ibnu kelak, insyaa Allah Iโd be happy to continue my life journey.
Buat kalian ibu-ibu yang berkarir di luar rumah atau di rumah, just be happy for it. Kalianlah yang menentukan pilihannya. Jangan sampai deh kalian membanding-bandingkan lebih susah jadi ini, lebih susah jadi itu. Kamu enak gini, kamu enak gitu, atau kalimat ngehits semacam โda aku mah apa atuhโ, dan lain-lain. Youโre the one who decided yourself what you want to be, so just be happy for it and be support to others. ๐