Hi, dear. Sorry that I’ve let you down. I miss your smile like what I’ve seen in this photo.
You know I love you so much, right?
tumblr dot com
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.
cherry valley forever
i don't do bad sauce passes

JBB: An Artblog!
ojovivo
Jules of Nature

blake kathryn
Not today Justin
Stranger Things
occasionally subtle

★

if i look back, i am lost
Lint Roller? I Barely Know Her
dirt enthusiast
RMH

Janaina Medeiros

⁂

shark vs the universe
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Spain

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Brazil

seen from Australia

seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
@primawan
Hi, dear. Sorry that I’ve let you down. I miss your smile like what I’ve seen in this photo.
You know I love you so much, right?
Postingan satu ini, migrasi dari Medium doang.
Di bawah, gue nulis berencana punya anak di November 2019. Eh ternyata ga sengaja dapat rejeki nya di Mei 2019 hehe. Life is beautiful~
It all started in 2017, when she was introduced to me by Hendra Hermadin Rasad; I called him, ‘Adin’. Adin is my dear friend since we are lost together in Bandung lol. He was studying pharmacist at Techniche Hoogeschool Te Bandoeng at that time.
We shared so many stories together, and sometimes talked about ‘jodoh’ xD And at that time, I told Adin that I want to get married in the next year (this convo happened in 2017), but I still don’t have someone to marry with lol. Adin gave a few name, and I chose to get to know a girl named Rannissa Puspita Jayanti.
September 20th 2017, was my first chat with my soon-to-be-wife. Nervous? OF COURSE IT WAS! But the show must go on, mate. Because man got to do the first move!
Yeah, lucky she wants to reply my messages at that time. And even better, she wants to meet up with me!
At September 21st or 22nd 2017, sorry I was kind of forgot lol. We met in Paskal Hyper Square (formerly, Paskal 23), in order to know each other in a serious note. An IT engineer, with a doctor. Those two aliens, what are they gonna talk? Surprisingly, we have a few interest that brings the conversation alive. Rannissa brings up topic about women refugee in a country war (couldn’t quite recall the country), and thankfully I could understand the talk with some of few my experiences in my previous volunteerism activity. Voila! Our conversation is live!
After that initial meeting, I met up with her again few times. And in September 24th 2017, I confess my love to her. Yes, only 4 days after our initial meeting :)
A week after that, in September 30th 2017, their family came to Bandung to meet up with me. They want to know me, and what I’m looks like lol. We met at The Peak at that time.
Two weeks later, at October 15th 2017. I go to Bogor, to met up with her dad. I did ketok pintu to her dad, saying that I want to marry his daughter. We, Javanese people, has a tradition named ‘ketok pintu’. Ketok pintu means, like an engagement thing. But without two big family met up in one place, and without any engagement ceremony.
February 18th 2018, we did the engagement ceremony in Bogor.
And finally, in August 26th 2018 we got married; and also in Bogor.
In case you are wondering why we are decided quite a distance from our engagement day - into our wedding day, it’s because in Javanese, we got our own calendar called ‘weton’. Based on our grandparents sightings, we have two good date to celebrate our wedding. First one is on April, and the second one is on August. We chose August, because we agreed to wait until Rannissa finished her Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI); UKDI is medical doctor examination test after you done a one year internship without getting paid. UKDI is a necessary exam if you want to get your ‘doctor’ title in front of your name.
Those 6 months was really the moment we calibrating our souls to each other. We listened to each other, and we also understands to each other. My wife also pregnant on late October, but the fetus died on December 5th 2018. I’ve felt so sad at that time, and feels like that was my biggest lost in my life.
Our fetus died because he was wrapped around by his umbilical cord. But it’s okay, probably God wants us spend our time together until we are ready to have another kids :) Even so, I don’t think he will survive because of my wife is super hectic on her first month working in RSUD Cibabat. Her first 4 months is in emergency departements (IGD), and it was totally crowded. She even only could see my text by the end of her working hours.
And here we are, ready to step together as a couple to get through this year. We are planning to have another kids by November 2019 :)
Hey, it’s me again :)
It’s been two years since I left this platform. And now I’m back.
Kali ini, akan banyak digunakan untuk menumpahkan rasa rindu yang tak sempat terucap untuk sang istri tercinta, yang sekarang sedang hamil 5 bulan.
Ga tau kenapa Tumblr selalu jadi tempat yang paling cocok untuk bercerita tentang perasaan. Mungkin karena sepi?
Satu do’a yang perlahan terjawab.
Dari sekian do’a yang aku panjatkan, salah satu nya adalah meminta untuk diberikan jodoh yang terbaik. Do’a yang selalu di ulang setelah solat fardhu, qobliyah subuh, tahajud, dan solat sunnah yang lain.
Dikenalkan oleh seorang sahabat SMA, karena awalnya curhat sama doi sekitar satu jam lewat LINE call. Beberapa hari kemudian, tersebutlah satu nama. Seorang dokter koas, yang sedang menyelesaikan masa koas nya di RSUD Soreang, dan in syaa Allah akan selesai di bulan Januari 2018.
Pada awalnya, saya skeptis menyambut tawaran ini. Karena pengen fokus berkarir dulu di akhir tahun 2017 ini. Dan kebetulan karena syarat yang diminta ibu cukup susah; Suku nya Jawa, dan status sosial nya baik. Dan, untuk saya sendiri, sesederhana; nyambung diajak ngobrol. Pencarian hingga tahun 2017 (dari setelah lulus kuliah di 2014), tidak membuahkan hasil yang menarik. Makanya, aku jadi malas, dan ‘yaudah ntar dulu deh, ga usah buru-buru banget.’
Turns out, baru dua kali ketemu, kami sudah merasa ada banyak kecocokan. Obrolan yang dalam, berdiskusi, dan kami sudah menyadari ada perasaan yang sama di hati kami masing-masing. Di hari kedua, saya agak khawatir keputusan ini terlalu terburu-buru. Saya mencoba untuk solat istikhoroh, dan langsung mendapat jawaban malam itu juga. Di hari ketiga berdiskusi dengan orang tua. Orang tua saya menyetujui untuk serius, dan kebetulan keluarga besar doi juga sudah menyetujui perjodohan kami. Sampai keluarga doi yang heboh pengen pake catering ini, dianter pake ini, dan pengen pake adat Jawa .___. Keluarga besar doi, ada yang bisa menerawang dengan hanya melihat foto, katanya. Dan dari foto saya yang disodorkan ke mereka, mereka bilang saya baik, agama nya baik, dan bisa tanggung jawab. Pun dari ibu nya doi, bilang pernah melihat saya di mimpi nya beliau, dulu.
Terlalu banyak kejadian ‘aneh’ dalam waktu yang singkat ini, yang menyiratkan bahwa doi adalah jodoh saya.
Di sisi saya, saya mencoba untuk memantapkan hati, bahwa saya berarti harus siap untuk ber-investasi seluruh hati, pikiran, dan waktu untuk wanita ini. Wanita yang kelak akan menjadi istri saya, semoga.
Khawatir? Jelas iya, apalagi sudah mau menulis curahan hati di tulisan ini. Jodoh cukup Allah yang menentukan. Kita, sebagai manusia hanya bisa berusaha. Kita tidak akan tau takdir kita, apabila kita tidak berusaha, bukan?
Halo :)
Another life episode(s)
Bulan November besok, aku akan menginjak umur 27. Usia dimana seharusnya manusia-manusia seumurku seharusnya mengejar karir, dan (asumsi ku) biasanya tinggal dengan pasangan halalnya, atau bahkan sudah punya anak.
Dan aku mengambil jalan yang berbeda.
Aku belum memikirkan karir, gaji puluhan juga memang pernah didapat. Cuma ya..itu sudahlah, anggaplah konsekuensi karena kapasitas yang telah dibangun, or well, cuma keberuntungan semata. Bahkan aku meninggalkan tawaran kerja di Munich, karena aku ngerasa ada sesuatu yang pengen dikejar dulu di sini.
Sekarang aku ngebantuin Inagri.asia sebagai Chief Technology Officer mereka, kerjaan nya ngurusin engineering + product nya. Startup baru mulai awal 2017 kemarin, dan sudah dapat pendanaan, makanya mereka mau scaling up tim. Untuk awal kemungkinan akan scaling tim engineering dengan anak-anak magang dulu. Aku menerima tawaran ini karena sesederhana masih di Bandung, dan salah satu goal ku tahun ini adalah belajar scaling sebuah aplikasi, ga hanya bikin prototype / MVP mulu.
Kemudian, aku juga gawe part-time di Labtek sebagai Product Owner (PO), dan Research Consultant (RC) mereka. Kenapa jadi PO? Ga jadi engineer? Karena bikin produk itu troubleshooting nya harus bener-bener dengan pengalaman. Kalau engineering, kamu masih bisa nyoba-nyobain, dan bisa nanya ke forum/nanya orang kalau ada masalah teknis, kata si pak bos Saska. Well at some point I agree with that statement. Untuk RC, karena pengen belajar jadi tim sales, yang berhubungan langsung ke client untuk deliver solusi nya dengan negosiasi. Working here is seriously fun, I do enjoy the process :)
Terakhir, aku mengajukan diri sebagai Koordinator Umum Turun Tangan Bandung. Ha! Ini decision yang sebenernya rada ngelawan logika ku sih. Orang umum beranggapan, seharusnya yang megang harusnya yang lebih muda. Wuhuuu harusnya sih begitu, cuma kalau regenerasi nya mati gimana? :v Regenerasi mati itu secondary reason sih Primary reason nya, semata karena aku ngerasa punya rasa memiliki sama komunitas ini. Disadari atau tidak, yang membawa ku ke kondisi hari ini karena Turun Tangan Bandung, dan aku ngerasa harus balas budi. Big thanks to all of my friends out there, and the founder, mas Anies Baswedan :) Sebenernya dari dulu juga gatel pengen push Turun Tangan Bandung ini ke another level. Di masa ku sekarang, aku merumuskan arah gerak menjadi tiga: Professional, Sociopreneur, dan Research-based. Alasan memilih tiga ini, karena aku ngerasa kayaknya sih bisa dibentuk ke arah sini. Kepengurusan baru berjalan dua-tiga minggu, dan aku ngerasa rada terlalu kencang lari nya :v Anyway, Turun Tangan Bandung lagi open recruitment nih! Yang mau ikutan seru-seruan dan belajar bareng, bisa daftar ke http://goo.gl/JkDXwC ya!
Kamu akhirnya tahu kenapa aku bilang mengambil jalan yang berbeda? :D
Sedikit Lebih Empati
Disclaimer: Tulisan ini khusus saya sampaikan kepada kawan-kawan sesama muslim dalam Pilkada DKI
Anies-Sandi Bisa Jadi Tak Sempurna
Bisa jadi Anies-Sandi bukanlah pasangan calon yang bisa memuaskan hati dan perasaan Anda jika dibandingkan dengan Ahok-Djarot. Namun mungkin ini adalah calon terbaik yang telah digariskan oleh-Nya sebagai jawaban kegundahan kita. Walaupun di satu sisi, jika diperdebatkan Anies-Sandi juga memiliki keunggulan yang tidak sedikit dibanding Ahok-Djarot, seperti personality, keberpihakan, program dan tim-tim yang mendukung.
Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau, bisa jadi begitu pula umat Islam ketika melihat Ahok.
Dalam hal ini mari kita coba sedikit berempati, membuka diri untuk memilih Anies-Sandi. Mereka telah memberikan kemampuan yang terbaik yang dimiliki baik itu waktu, tenaga bahkan uang.
Anies memiliki gagasan besar tentang persatuan Jakarta dan keberpihakan kepada warga DKI Jakarta yang selama ini dilupakan dalam proses pembangunan yang dipimpin Pak Ahok. Di sisi lain Anies juga punya concern yang besar untuk pemenuhan barang pokok dan pembangunan manusia di Jakarta. Begitu pula Bang Sandi seorang pengusaha yang mentalnya juara (menurut saya) dengan menanggung sebagian besar biaya kampanye yang dia keluarkan. Bang Sandi memiliki kekuatan dalam ide-ide pengusaha, manajemen transportasi serta reformasi pelayanan publik.
Anies-Sandi adalah pasangan yang tidak perlu sulit bagi Anda untuk memilihnya, jika Anda memiliki empati.
Kesenjangan dan Penggusuran
Anda mungkin selalu membayangkan bahwa memilih Ahok-Djarot akan menjadikan Jakarta yang memiliki jalan yang bagus dan enak dilewati. Pertanyaan saya kemudian
Anda itu mau memilih kontraktor atau Gubernur? Saya juga bisa kok bikin project jalan yang bagus.
Jika Anda menyampaikan bahwa administrasi Jakarta lebih baik, ya itu biasa aja. Tinggal mengatur ketua yang mengurus PTSP memiliki KPI pelayanan yang sangat baik. Ini baru sebagian kecil perbandingan “hal-hal biasa” yang dikerjakan Ahok namun terlalu dibesar-besarkan (oleh TimSesnya).
Hal lain, yang (selalu) ingin saya soroti adalah bagaimana kesenjangan terjadi begitu nyata di Jakarta. Banyak sekali orang miskin, yang hidupnya susah dan Pak Ahok tidak memberi perhatian besar bagi mereka.
Anda mungkin bisa melihat dari atas mobil (cicilan) mewah Anda bahwa pedagang di jalanan itu mengganggu, namun di sanalah mereka mencari rezeki secara halal. Mereka ga mau digusur? Mereka mau asal ada kepastian yang jelas. Sama seperti Anda yang memikirkan potensi pasar dan market size usaha Anda jika seandainya pindah ke tempat baru, itu pula yang menjadi pertimbangan para pedagang yang tergusur. “Apakah dagangannya masih cuan atau enggak?”, emangnya cuma Anda yang boleh cuan?
Sekali lagi, mari kita lebih empati Saudara-Saudari sekalian melihat hal ini.
Dihargai Sembako
Hal ini yang juga membuat hati kita sesama umat muslim terluka. Apakah layak jika seandainya orang yang telah yang sedang diproses dalam sidang menistakan agama Islam kita lupakan hanya karena sembako yang dibagikan olehnya?
Apakah umat Islam benar-benar terasa tidak ada harganya di mata Anda? Anda silahkan cek dan googling bagaimana pembagian sembako secara massif di Jakarta (bahkan @sosmedBW di twitter menyatakan bahwa ini adalah tindakan koruptif yang dilakukan tim Ahok-Djarot).
Ini adalah masalah mental umat Islam yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Di satu sisi, kita sangat gampang untuk memaafkan dan lupa atas kesalahan yang pernah dilakukan seseorang, hanya karena “sembako”.
Mari sekali lagi saya mengajak Anda untuk sedikit lebih berempati melihat perihal ini.
Empati
Secara teori empati sangat mudah untuk diucapkan, namun pada praktiknya hal ini sulit selalu diterapkan. Empati membutuhkan kedewasaan seseorang untuk melakukannya
Put yourself in their shoes
Meletakkan kaki kita di sepatu orang lain, merasakan apa yang orang lain rasakan, dan berpikir ala orang lain.
Jika Anda telah berhasil melakukannya, maka Anda sudah lebih matang dalam menjalani hidup ke depan.
Selamat melatih empati!
Memberikan kepercayaan pada bapake :”
Owen this morning :D
Some of my daily nutritious food for my brain in the morning.
1. Harvard Business Review
Anything worth to read
2. TED Ed: Lessons worth sharing
Anything worth to watch
3. Quora
My topic lists: a) Artificial Intelligence & Machine Learning , b) Software Engineering , and c) Business
4. Deep Learning
Dude I dunno what this is, but I think it’s worth to learn lel.
Just some daily drama between a brother and sister. Miss yoouu~ @gihando
Those two lovely women always know how to make me laugh 😊
Surat: Agama mah Agama Aja
“Jangan dicampur-campur dong pekerjaan dengan agama, politik dengan agama, bisnis dengan agama, sekolah dengan agama, ilmu pengetahuan dengan agama. Agama mah agama aja.”
Lalu banyak dari kita meng-iya-kannya dengan penuh kebingungan.
Padahal agama ini yang memberikan ruh dan semangat dalam aktivitas-aktivitas seorang Muslim.
Padahal agama ini yang menjanjikan keuntungan yang sangat besar, bagi Muslim yang bekerja dengan professional, yang menjadi ahli dalam bidangnya, yang adil saat memimpin, yang berakhlak baik dengan rekan kerjanya, yang belajar dengan ketekunan, yang tangguh dalam berjuang dan yang paling bermanfaat untuk sekitarnya.
—
Beginilah kami, seorang Muslim.
Dengan bangga kami tunjukkan identitas kami tidak hanya di sekat-sekat Masjid, tapi juga di ruang-ruang publik.
Identitas kami, yang kami usahakan untuk terejawantahkan tidak hanya sebatas simbol-simbol, tapi pada kontribusi yang konkret disetiap aspek terkecil dalam kehidupan bermasyarakat.
Tenang saja kawan, kami sangat berusaha untuk tidak mencintai dunia–yang seringkali menyilaukan pandangan. Oleh karena itu, kami tidak rakus seakan-akan di sinilah tempat tinggal kami yang kekal. Dunia bukanlah rumah kami.
Beginilah kami, seorang Muslim.
Islam adalah cara hidup kami, pandangan hidup kami, dan cita-cita terbesar pada saat kami mati nanti. Mati dalam keadaan berislam.
Maka dengan segala kerendahan hati, kami memohon maaf. Bahwa bekerja, belajar, berpolitik, berbisnis dan segala aspek dalam kehidupan dunia ini adalah bagian dari cara kami beragama, tidak ada dikotomi, tidak bisa dipisah-pisahkan.
Izinkan kami untuk berusaha konsisten, berkontribusi, dan memberikan pembuktian-pembuktian nyata. Insya Allah. Mohon doanya :)
— Tangerang, 1.38am
Ngeliat tulisannya Wahyu ini, jadi penasaran kultur di tempat kerja nya gimana. Can I join? :3
28 Butir Pengingat tentang “Komitmen terhadap Al Quran”
Dari Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc:
1. Sebaik baiknya liqo adalah ketika hadir bertambah keimanan, bertambah rindunya kepada Allah dan bertambah prestasinya.
2. Jangan sampai sekedar hadir liqo menjadi prestasi.
3. Kader dakwah bisa menjadi ruhul jadid bagi dakwah jika Al Quran akrab dengan mereka.
4. Jangan ada dalam pikiran kita bahwa Al Quran adalah penghalang aktifitas kita.
5. Jangan malas menghafal Quran karena usia.
6.Lihat Surah Azzumar 23 tentang manhaj interaksi dengan Al Quran yang benar.
7. Luaskanlah hati kita untuk menerima Al Quran, yaitu senang ketika membacanya , bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, ia sudah merasa senang. القرآن مأدوبة اللّٰه "Al Quran adalah hidangan Allah “
8. Tidak akan bisa berinteraksi dengan Al Quran kecuali mereka yang berusaha membersihkan hatinya.
9. Jangan duakan Al Quran, yaitu membaca Al Quran sambil melihat gadget.
10. Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah meyakininya bahwa membacanya mendatangkan keutamaan.
11. Manusia yang bersama Al Quran hampir hampir menandingi kenabian ,hanya wahyu tidak diturunkan kepada nya ( Alhadist ).
12. Berinteraksi dengan Al Quran adalah terus membacanya setiap hari.
13. Jangan karena sudah membaca Al Quran 10 juz hari itu, lalu tidak membaca di hari yang lain, karena 10 juz itu jatah hari tersebut dan hari yang lain mempunyai jatah juga.
14. Waktu membaca Al Quran itu harus definitif, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran ,maka kita tidak akan mendapatkannya.
15. Adukanlah surat surat yang sulit kita hafal, kepada Allah, maka Allah akan memudahkannya.
16. Al Quran adalah ahsanal hadist ( perkataan terbaik ), hadist nabi saw tingkatannya hanya hasan ,sedangkan perkataan yang lainnya di bawah itu.
17. Kita sering takjub dengan ciptaan-Nya, namun kita jarang takjub dengan perkataanNya.
18. Siapa yang sering berhubungan dengan perkataan yang terbaik, maka ia akan menjadi manusia yang terbaik.
19. Al Quran itu mudah dihafal karena banyak kata yang sama dan diulang. Kalau kita sudah hafal “fa bi ayyi alai rabbikuma tukadziban ” dalam surah ar-rahhman ,maka ayat yang lain di mana redaksinya sama itu sudah hafal secara otomatis. Berinteraksi dengan Al Quran itu harus berulang ulang.
20. Orang yang membaca seratus kali sebuah surah, dan ia belum hafal, maka ia tetap mulia , dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah berulang ulang bersama Al Quran bukan hanya sekedar mendemostrasikan kekuatan hafalannya.
21. Siapa yang sudah hafal juz 30 ,maka ia sudah punya hidayah untuk menghafal juz 29 , dan seterusnya.
22. Jangan remehkan ketidakhadiran kita bersama ikhwah.
23. Mungkinkah rizqi kita berkurang ,karir kita menurun ketika bersama Allah dengan berinteraksi melalui firman-Nya ?
24. Tidaklah kita jauh dengan Al Quran kecuali ketika itu kita jauh dengan Allah.
25. Jangan menolak kebaikan untuk mempertahankan kebaikan yang lain.
26. Jangan membenturkan satu amalan dengan amalan yang lain , karena manusia itu mampu melakukan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu.
27 .Siapa yang lelah untuk Allah di dunia ini maka Allah akan mencukupkan lelahnya di akhirat.
28. Siapa yang tidak mau lelah di dunia untuk taat kepada Allah ,maka ia akan merasakan lelah di akhirat .
Allah mudahkan…
Terimakasih, 2016!
Awalnya kupikir 2016 ini tidak begitu berkesan. Karena bisa dibilang, tahun ini ga ada menang lomba; ga ada berangkat ke luar negeri; atau sederhananya, bisa dibilang tidak ada sesuatu yang bisa dipamerkan ke yang lain.
Tapi ternyata, setelah kontemplasi singkat hari ini. Ada sesuatu yang tahun ini saya dapat, dan harga yang ditebus untuk mendapatkan ini sangatlah mahal.
Apa itu?
Habit. Kebiasaan.
Ngebentuk habit baik itu sangatlah menyakitkan. Proses nya ga bisa dibeli dengan uang. Ada proses jatuh bangun hingga di satu titik di hari ini, melakukan hal-hal itu bukan karena paksaan (seperti dikejar target, diancam hukuman, diiming-imingi hadiah, dan yang lain), malas karena mood ga pas, waktu nya ga ada, dst.
Di proses pembentukan habit sebelum postingan ini, saya sempat nulis tentang prioritas di http://primawan.tumblr.com/post/153266680665/catatan-seorang-pembelajar-1-edisi-prioritas . Dulu, karena soal prioritas. Sekarang, yaa sudah begitu saja. Aku melakukannya karena memang butuh. Kalau ga melakukan kebiasaan yang sudah terbentuk ini, serasa ada yang aneh aja. That’s it!
Saat kamu merasa butuh, kamu tidak akan segan untuk menyempatkan waktu untuk melakukan kebiasaan ini. Contoh sederhana nya, ini badan saya kerasa 'gatel’ kalau ga dilatih ototnya (karena udah dibiasain nge-gym tiap dua hari sekali), jadi saat ‘gatel’ yaudah we push-up sekian seri, plank sekian menit di kosan/kantor. Sampai rasa ‘gatel’ ini hilang :D Tilawah juga, belum kekejar satu juz, dan kondisi udah jalan keluar kosan. Karena kebetulan udah nyiapin Al-Qur’an di tas, yaudah baca pas lagi ngantri, nunggu orang, dst. Eh tau2 udah dapat 1 juz lul. Yang ini agak ‘ekstrim’ sih, buka Al-Qur’an di tempat umum, dan dibaca. Malu? Enggak sih. Ini sama aja kayak kamu main hape di tempat umum. Orang-orang main hape saat nunggu karena sudah kebiasaan, ya ini saya baca Qur’an saat nunggu karena emang butuh aja buat dibaca :D
Soal rutin ikut kajian, tengkyu pisan buat Nastain udah ngajakin ke DT sekitar bulan lalu, dan sekarang udah kayak kebutuhan sendiri. Kajian manajemen qolbu nya Aa Gym sangat cukup untuk menyegarkan kembali hati yang keruh. Karena sekarang udah ga liqo lagi, jadi perlu memelihara diri sendiri supaya ga terlalu jauh dari Alloh :D
-------
Menyambut 2017, apa target yang dikejar buat menumbuhkan kebiasaan lagi?
1. One Month, One App
Target : ngeramein Github, explore tech baru Nambah porto iseng, dan menumbuhkan niat buat tinkering tech. Rencana sampai hari ini bakal pake Javascript aja buat bikin macem-macem, ga tau kalau ntar bakal nyobain bahasa baru, semacam Rust, misalnya. Ini misalnya lho... hahaha. Partner : Firyal, sang master Javascript.
2. One Week, One Book.
Target : Ngilmu, mengembangkan pola pikir, menambah kosa kata. Baca buku masih seneng sih, cuma udah ga pernah lagi wkwk. Ini di trigger sama mas Nastain yang ganteng, yang baru saya sebut di atas untuk mengajak saudara (tjiye saudara) nya ke arah yang lebih baik. Jadi, tiap Kamis malam in syaa Alloh kami akan selalu ketemu di kajian nya Aa Gym. Nah, selepas kajian, wacana nya kita akan review buku, bab, atau apapun yang sudah dibaca selama seminggu ke belakang. Yang ga setoran buku bacaan, wajib nraktir makan malam wahahaha :D Partner : Nastain, ustadz ane.
--------
Dan malam minggu terakhir di 2016 ini, ditutup dengan bahas ebook ‘Proyeksi Ekonomi Indonesia 2017′ sama Putri :D
Here I come, 2017!
Edisi nostalgia di malam minggu, dengan teman yg dulu sempat sekosan.
Dulu pas tahun pertama kuliah masih bener, setelah lulus makin kesini jadi makin rusak karena salah gaul lel.
Halo, Desember!
Ini postingan tentang kontemplasi lagi, sih. Di umur 26 di bulan November kemarin, aku baru dapat teguran lewat naik gunung, dan lewat seseorang. Inget pas ceramah aa gym kmrn, "Hidup sederhana. Biasa aja. Kalau dikatain orang jelek, coba bertafakkur (introspeksi diri), siapa tahu benar. Kalau ternyata salah, yaudah gpp." Pernah baca hadits juga, "bila kamu ingin mengetahui karakter seseorang, ajaklah dia di perjalanan jauh." Cerita naik gunung pertama kali kemarin, alhamdulillah dibilang ga rewel sama temen-temen haha. Ga kebayang kalau udah capek naik gunung, terus ada yg protes mulu. Nah, disini karakter jelek ku kelihatan. Aku orang nya ternyata tinggi hati, dan kurang bisa menghargai orang lain. Kondisi kaki udah terkilir karena dari pos 4, di pos 1 udah bawaannya pengen istirahat. Ada satu teman kami, Gagas yg ngurusin laporan kami udah turun. Aku udah istirahat di warung. ...Gagas balik, dan tiba-tiba bawa sertifikat. Semacam sertifikat telah menyelesaikan pendakian gunung Ciremai. Aku langsung komentar dengan nada cukup tinggi, dan suara cukup keras, "YA ELAH NGAPAIN COBA DAPAT SERTIFIKAT BEGINIAN?" Langsung ditegur sama Gagas, "Prim, ga usah keras2 kali." ....... Okay, I'm stupid.. ...... Di titik ini, aku menyadari bahwa hati ini begitu angkuh. Mungkin orang lain juga berpikir demikian, 'ini sertifikat mau buat apa coba?'. Bedanya, mungkin mereka bisa menahan. Aku langsung mengucapkan, dan menyakiti hati yg bikinin sertifikat. Jadi, solusi nya, coba inget ceramah aa gym terakhir kmrn. Dan sering-sering 'recharge hati', dengan ikut kajian ma'rifatullah nya Aa Gym *oke ini promo :3
Yesterday I lost a fight. Cheer up, get up, and fight again!
Allahumma arinal haqqa, haqqa, warzuqnattiba’ah, wa arinal bathila bathila, warzuqnajtinabah. Ya Allah, tunjukkanlah yang kebenaran itu sebagai kebenaran, dan kurniakanlah kami kekuatan untuk mengikutinya (memperjuangkannya), dan tunjukkanlah yang batil itu sebagai batil dan kurniakanlah kami kekuatan untuk menjauhinya
Jaman sosmed, jaman penuh fitnah. Baru ngerti makna dari do’a ini apa :D